28 Mei 2015

Oregairu Jilid 10 Bab 8

Bab 8
Dengan begitu, masa lalu dan masa depan mereka menjadi satu dan tersirat dalam keadaan saat ini.
Saat matahari sepenuhnya tenggelam, suhu udara menurun dan hembusan angin menjadi lebih kencang. Saat kami berjalan di sekitar taman kota menuju ke stasiun dari sekolah, pepohonan yang daunnya berguguran mulai bergetar terkena hembusan angin utara.
Aku mengatur ulang kerah jaketku dan membenamkan sebagian wajah di syalku. Yukinoshita, Yuigahama, dan Miura berjalan di depanku. Kegiatan klub sepulang sekolah hari ini ditiadakan agar kami bisa memberikan laporan tentang permintaan yang kami terima dari Miura dan saat ini kami menemaninya menuju pesta penutupan.
Saat syal tartan dan rambut ikal kebanggaan Miura berayun terkena angin, dia berkata, “Oh... jadi Hayato-kun memilih Ilmu Sosial.”
“Um mm. Setidaknya kami pikir seperti itu,” kata Yuigahama dengan gelisah sambil memainkan sanggul rambutnya.
Yaah, itu cuma berdasar informasi verbal, jadi sumbernya bukanlah sesuatu yang benar-benar bisa dipercaya, sih. Jadi wajar kalau tidak yakin, yep.
Setelah mendengar hal itu, Miura menendang tanah dengan pelan dan acuh menatap langit. “Baiklah, mungkin aku juga akan memilih itu.”
“Apa tak apa kalau kamu memilihnya begitu saja seperti itu?”
Perkataan Yukinoshita meskipun lembut tapi juga terdengar tajam. Tanpa menoleh pada Yukinoshita dan tetap menatap ke gelapnya langit, Miura terus berjalan seakan sambil mengamati bintang.
“Maksudku, aku tidak punya apapun yang ingin kulakukan. Aku bisa saja, itu lah, mengambil les jika aku memang ingin belajar Sains, kan?”
Aku pikir itu hanya akan berhasil jika kamu memiliki kemampuan akademis selevel Hayama, tapi bagaimana dengan Miura? Bukankah kamu sedikit terlalu percaya diri? Aku bukan satu-satunya yang berpikir seperti itu. Yukinoshita juga terlihat cemberut. Ngomong-ngomong, Yuigahama menganggukkan kepalanya. Orang yang seharusnya paling mengkhawatirkan kemampuan akademisnya adalah kamu, tahu...
Tapi sepertinya kekhawatiranku tidak ada gunanya.
“Aku bisa saja meluangkan waktu untuk persiapan ujian... Tapi aku tidak bisa melakukannya dalam hal ini,” kata Miura. Dia berhenti, mengangkat kakinya seakan meregangkan punggungnya dan dan menaruh kedua tangannya di punggung. Aku tidak bisa melihat seperti apa ekspresinya dari belakang. Tapi, aku rasa matanya setransparan langit musim dingin.
“Asal tahu saja, masih ada hal yang perlu kamu cemaskan jika kamu memilih itu.”
“Hikki, shush!” Yuigahama menyenggolku dengan sikunya seakan sedang mencaciku.
Miura hanya menggerakkan lehernya dan menatap tajam padaku. “Hah? Aku tidak ingin mendengarnya darimu, Hikio.”
“B-Begitu...”
Waah... Miura-tan, kamu sangaaat menakutkan... Sesaat Miura menatap tajam padaku, tapi segera menahan tatapan tajamnya dan melangkah maju. Dia berkata dengan pelan sepertinya untuk menjawab perkataanku.
“Itu hanya... yaah... itu lho, walaupun ada hal yang menjengkelkan,” kata Miura, berbalik sambil berputar. Lengan jaket dan rambut pirangnya berayun. Saat tubuhnya masih berputar, dia sedikit tersenyum malu. “Aku pikir tidak masalah.”
Tak terelakkan lagi, aku terkagum saat dia mengatakannya dengan senyum indah seperti itu. Tak kukira kamu bisa mengatakannya semudah itu. Aku terkagum semata karena kata-katanya terdengar sangat sederhana, sangat singkat dan sangat terus terang.
Dalam sekejap, tanpa kusadari aku terus memperhatikan senyum itu. Saat dia menyadari tatapanku, Miura menarik senyumannya dan segera mulai berjalan dengan jengkel.
“Oh... kalau begitu, tak ada masalah. Jadi seharusnya takkan ada masalah kalau semuanya menjadi lebih sederhana...”
Saat aku menoleh ke arah suara itu, Yuigahama sedang menekan jaket di dadanya. Yukinoshita yang berdiri di sampingnya sedang menatap Miura dengan ekspresi bingung.
Tapi, seharusnya itu bukanlah hal yang mengejutkan. Bahkan saat Karyawisata, Miura mengetahui rencana Hayama dan Ebina-san. Mungkin, perasaan lembutnya itu bisa disebut murni... Jangan lupa kalau Miura juga memiliki aura keibuan!
Miura berbalik menyadari bahwa kami masih terhenti.
“Yui, terima kasih.” Dia menatap Yuigahama dan menepuk bahunya dengan pelan. Lalu, dia hanya menggerakkan lehernya dan menatap padaku. “Ahh, Hikio juga.”
Dia bahkan tidak peduli... Aku diperlakukan seperti hanya sosok tambahan, dan juga namaku bukan Hikio. Yaah, begitu juga tak apa.
“Dan juga... Yukinoshita-san? Itu... Um, itu lho, seperti...” Miura memalingkan pandangannya dariku menuju Yukinoshita. Dia berkata dengan gugup, tapi segera setelah terlihat yakin, dia menatap langsung Yukinoshita dan segera menundukkan kepalanya. “Maaf.”
Yukinoshita terlihat terkejut, tapi setelah menghela nafas dengan senyum kecil, dia mengibaskan rambut di bahunya dengan tangannya yang dilapisi sarung tangan.
“Tak masalah. Malahan, aku ingin memujimu karena berani menantangku secara langsung.”
“Tch, apa-apaan dengan sikap sombongmu itu? Sangat menjengkelkan... Sia-sia aku meminta maaf.”
Perkataan mereka cukup tajam, tapi keduanya terdengar lembut.
Yuigahama menatap mereka dengan gugup, tapi karena tidak bisa menahannya lagi, dia melompat pada Yukinoshita dan Miura. “Baiklah! Ayo kita semua pergi ke pesta penutupan.”
“Aku...”
Digandeng Yuigahama, Yukinoshita menggerakan tubuhnya seakan ingin menolak undangan itu. Miura, yang juga sedang digandeng Yuigahama, menatap pada Yukinoshita dan berkata, “Bagaimana kalau kamu juga ikut?”
“... Aku pikir tak apa. Baiklah, sebentar saja.”
Keraguannya hanya bertahan sekejap. Yukinoshita tersenyum dan menjawabnya, Miura memalingkan pandangannya.

×    ×    ×


Tempat pelaksanaan pesta penutupan yang kami tuju berada di sebuah toko yang terlihat indah dan modern, sebuah cafe gaya Inggris.  Disana, para siswa berkerumun di sekitar kelompok Hayama dan Isshiki sedang berbincang dengan ramai.
Berdasar dari keramaian ini, itu terlihat lebih seperti pesta perayaan kemenangan Hayama daripada pesta penutupan. Selain kelompok Hayama, ada Isshiki, Totsuka dan kelompoknya, dan entah kenapa, Zaimokuza juga ada disana.
Setelah memasuki toko, Miura segera menuju Hayama. Yuigahama bingung dengan apa yang harus dilakukannya, tapi saat Yukinoshita mengangguk padanya, dia tersenyum ragu dan berjalan mengikuti Miura.
Dengan kami berdua yang tersisa, Yukinoshita dan aku segera memesan minuman kami dan bersandar di ujung toko.
“Terima kasih atas kerja kerasmu.”
“Mm, yeah.”                                
Yukinoshita yang berdiri di sampingku mengangkat gelasnya dan aku juga mengangkat gelasku setinggi miliknya. Kami tidak terlalu terbiasa dengan suasana ramai seperti ini, tapi seperti itulah Yukinoshita dan diriku. Bisa dibilang kalau memperhatikan mereka dari pojokan adalah jarak yang ideal bagi kami.
Untuk beberapa saat, kami terus memperhatikan mereka dengan tenang, tapi seakan menyadari tatapan kami, Hayama yang agak jauh dari kami berjalan menuju kami. Melakukan tindakan formalitas sebagai tokoh utama sepertinya cukup berat...
“Hey kalian... Terima kasih sudah mau datang.”
Yukinoshita menggelengkan kepalanya menandakan hal ini bukanlah masalah besar dan aku juga mengangguk setuju. Saat aku bingung untuk mengucapkan selamat atau tidak, Hayama sedikit menundukkan kepalanya.
“Maaf... tentang berbagai hal yang terjadi... seperti tentang rumor aneh itu. Itu pasti sangat mengganggumu.”
Yukinoshita terdiam dalam bingung. Tapi itu hanya untuk sesaat dan dia segera bersikap tegas dan mengatakan apa yang pernah dikatakannya saat di ruang klub.
“Hal ini bukanlah masalah bersar. Dibandingkan kejadian saat itu, ini hanyalah masalah sepele.”
“Saat itu, kah?” Hayama mengatakannya sambil terlihat malu.
Melihat hal itu, ekspresi Yukinoshita juga menjadi muram.
“... Rasanya sekarang aku sedikit mulai memahaminya. Aku yakin ada banyak cara yang lebih baik untuk mengatasinya dulu. Itulah kenapa aku pikir aku juga menyebabkan banyak masalah untukmu... Maafkan aku.” Kali ini, Yukinoshita menundukkan kepalanya. Saat dia mengangkat kapalanya, dengan tatapan yang seakan mengenang kejadian di masa lalu, dia berkata, “Tapi aku bersyukur kalau sebenarnya kamu bersikap perhatian padaku.”
Hayama terlihat sangat terkejut. Saat kembali sadar, dia menatap pada Yukinoshita. “... Kamu sedikit berubah.”
“Entahlah. Itu hanya karena ada banyak yang berbeda dari yang dulu,” kata Yukinoshita, dia menatap Yuigahama. Lalu menatapku.
Merasa canggung karena mendengar sesuatu yang tak seharusnya aku dengar, tanpa kusadari aku memalingkan pandanganku.
Yukinoshita menghela nafas lalu tersenyum dan menatap Hayama. “Aku pikir kamu juga tidak perlu membiarkan masa lalu terus membayangimu... Kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk berlari mengejar punggung seseorang.”
“... Itu jelas termasuk diriku juga,” kataku.
Hayama tersenyum, terlihat agak lega.
Yuigahama berjalan dari belakang Hayama. Totsuka mengikuti sedikit di belakangnya. Mengikuti keramaian dalam ruangan, Yuigahama memeluk lengan Yukinoshita.
“Yukinon, makanannya ada di sana! Di sana ada, seperti, banyak daging ayam! Semuanya dipanggang sempurna!”
“Itu sangat luar biasa! Ayo Hachiman, kamu harus ke sana juga!” Totsuka tersenyum lebar.
Aku sangat menghargai undangannya karena aku merasa sedikit canggung disini. “Yeah!” Aku menjawabnya dua kali dengan semangat, dan saat aku akan pergi ke sana bersama Totsuka, Hayama sedikit menahanku dengan tangannya.
“Kami akan segera ke sana... Benar kan. Hikigaya?” kata Hayama, lalu menatap pada Totsuka dan Yuigahama dengan senyum lembut.
Yuigahama mengangguk. “Baiklah, kami akan menunggu kalian di sana!”
Lalu dia memaksa Yukinoshita mengikutinya. Totsuka sedikit melambaikan tangannya dan kembali duduk di kursinya. Ahh... aku juga ingin memakan ayam itu bersama Totsuka...
Saat aku memperhatikan kepergian mereka bertiga, Hayama menggoyangkan gelasnya yang diikuti suara benturan es.
“Yeah, dia sudah sedikit berubah... Sepertinya dia sudah tidak lagi mengejar bayang-bayang Haruno-san.” Pandangan Hayama yang terus memperhatikan Yukinoshita menyipit dan menjadi tajam. Suaranya setelah itu terdengar muram. “... Tapi, cuma sebatas itu.”
“Sepertinya tak masalah untukku,” jawabku, tak sedikitpun memikirkannya. Untuk Yukinoshita, aku yakin itu bagian dari pertumbuhannya. Sepertinya sejak dulu dia terus dibandingkan dengan sosok yang melebihi dirinya. Terus mengejar bayang-bayang Haruno-san dan mencoba untuk menguasai seuatu yang berbeda dari Haruno-san adalah bagian dari usahanya. Kalau begitu, aku rasa itu adalah sesuatu yang patut dibanggakan.
Tapi Hayama menatap bingung padaku. Dia memaksa meminum isi gelasnya dan bertanya dengan serius, “... Kamu tidak menyadarinya?”
“Menyadari apa?”
“Yaah, jika kamu tidak menyadarinya, begitu juga tak apa...”
“Cara bicaramu sangat menjengkelkan.”
“Aku juga sering dibilang seperti itu dulu, jadi hal itu hanya terus terjadi sama seperti biasanya.” Hayama tersenyum kecut.
Cara bicaranya memang menunjukkan bagaimana orang itu berbicara.
Saat Yuigahama dan yang lainnya duduk di kursi mereka, Miura dan Isshiki melambaikan tangannya pada Hayama. Mereka mungkin mengisyaratkannya untuk segera ke sana. Hayama sedikit melambaikan tangannya dan sesaat sebelum dia kembali ke sana, dia berkata “ah” seakan teringat sesuatu dan kembali ke posisi semula dan berkata padaku.
“Oh ya. Aku lupa untuk memberitahumu sesuatu.”
“Hah?”
“Ini adalah kelanjutan dari penjelasanku. Tentang alasan kenapa aku tidak memberitahu siapapun tentang pilihanku antara Sains dan Ilmu Sosial. Itu bukan karena aku ingin memutus hubunganku. Suatu hubungan takkan menghilang hanya karena kamu naik kelas maupun pergi ke universitas.”
“Tidak, itu pasti akan terjadi.”
“Itu hanya berlaku untukmu, Hikigaya. Aku berbeda darimu.”
“... Yeah, itu benar. Yaah, kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu?”
Saat aku bertanya pada Hayama yang mengangkat bahunya dengan nada mengejek, dia menelan isi gelasnya dan menghela nafas. Seakan sedang berdoa di depan makam dengan ekspresi muka kesepian, dia berkata perlahan.
“Aku tidak bisa menyebut satu-satunya pilihan yang bisa aku pilih adalah keputusanku.”
Saat dia mengatakan hal itu lah, aku akhirnya paham. Bukan karena Hayama tidak mengatakan apapun tentang program jurusannya.
Itu karena dia tidak bisa. Bahkan tidak mengatakan apapun juga bukanlah kehendak pribadinya.
Setelah terus memenuhi harapan semua orang, dia hanya bisa mengartikannya sebagai tindakan yang seharusnya. Dia tidak boleh memilih apapun selain pilihan terbaik. Meskipun dia berkata pada Tobe kalau dia akan menyesal jika tidak menentukannya sendiri, satu-satunya yang sebenarnya menyesali pilihannya, tidak diragukan lagi adalah Hayama. Itu benar-benar suatu penyesalan.
Kalau begitu, Hayama akan terus memenuhi harapan setiap orang. Mulai sekarang, dia akan melakukannya karena keinginannya sendiri.
“Itulah kenapa, aku akan menjadi satu-satunya orang yang tidak menolaknya.” “Aku harus menunjukan kalau ada seseorang yang tidak memaksakan harapan.”
Karena dia merasa bahwa penolakan seenaknya itu adalah apa yang dimaksud dengan benar-benar memahaminya, sedangkan keacuhan itu adalah bagian dari kebaikan untuknya. Baginya, pengakuan dari mereka yang tidak memahami dirinya hanyalah sebuah belenggu baginya.
“Aku juga lupa untuk memberitahumu sesuatu... Aku juga membencimu,” kataku sambil memalingkan wajahku.
Hayama menatapku bingung untuk sesaat, tapi dia segera tertawa.
“Begitu. Mungkin ini pertama kalinya seseorang berkata seperti itu padaku secara langsung.” Hayama menahan tawanya dan mengatakannya dengan puas. Tapi, kali ini, dia maju satu langkah dari tengah kasir toko. “Tapi, meski begitu... Aku takkan memilih apapun. Aku ingin mempercayai itu adalah jalan terbaik.”
Saat aku berkata, “Itu hanyalah kepuasan pribadi.” Hayama tersenyum dan kembali ke kursinya.
Tapi aku tidak bisa tersenyum.
Jika jawaban yang Hayama Hayato berikan dianggap sebagai jawaban yang tidak jujur, maka tidak salah lagi, orang itu akan memberikan jawaban yang memuaskan. Dia pasti akan memberikan jawaban yang berbeda dari jawaban Hayama Hayato.
Aku meneguk ginger ale yang aku pegang sambil menatap ke arah tempat duduk mereka.
Yang tersisa di tenggorokanku hanyalah rasa pahit yang tajam.


×    ×    ×

Oregairu Jilid 10 Bab 8 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

3 komentar:

  1. Bisa melihat senyum indah Yumiko-tan , cukup sepadan untuk usahamu Hikio-kun XD

    Terima kasih atas terjemahannya h-kim sensei XD

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.