Kamis, 21 Mei 2015

Oregairu Jiid 10 Bab 7

Bab 7: Kapanpun, Hayama Hayato akan memenuhi harapan.
Aku menutup bukuku dan menjatuhkan diri di sofa.
Suara gesekan pegas menggema di ruang keluarga yang sepi. Kamakura tertidur di bantal di dekat kotatsu dan telinganya berdiri.
Komachi sudah berangkat ke tempat les dan orang tuaku pulang larut seperti biasanya. Dalam ruangan yang gelap ini, sosok yang tampak hanyalah kucing kami tercinta, Kamakura dan diriku.
Sambil tiduran, aku menolehkan wajahku ke jendela karena terangnya cahaya. Di luar sudah sangat gelap dan angin musim dingin terkadang berhembus membentur jendela.
Beberapa hari sudah berlalu sejak konsultasi pendidikan dan karir, tapi aku masih belum tahu apapun tentang program jurusan Hayama. Aku beberapa kali mencoba bertanya tapi tak mendapatkan jawabannya.
Aku membiarkan waktu terlewat percuma, dan tanpa kusadari besok adalah hari maraton. Sehari setelah itu adalah hari terakhir penyerahan angket program jurusan. Akhir bulan adalah batasnya.
Aku menggerakkan tubuhku yang tergeletak dan merangkak menuju kotatsu. Angket program jurusanku yang sudah kuisi tergeletak di atas meja.
Program jurusanku sudah lama kutentukan.
Aku memilih Ilmu Sosial tanpa sedikitpun ragu memilih antara Ilmu Sosial dan Sains. Sekolah lanjutan yang kuinginkan adalah sekolah swasta bidang Ilmu Sosial, jadi aku juga menuliskan bidang yang kuinginkan sesuai dengan kemampuanku.
Sebenarnya apa yang kulakukan dalam memilih program jurusan? Sebenarnya itu hal sederhana. Aku memilih Ilmu sosial karena itu adalah bidang yang aku kuasai. Aku payah dalam bidang Sains, atau malahan bisa dibilang kalau aku mengabaikannya.
Untungnya, meskipun aku tidak yakin bisa berkata sampai seperti itu, tapi kemampuanku sudah tergambarkan dengan jelas dari nilaiku, jadi aku bisa memilih program jurusanku tanpa sedikitpun keraguan.
Malahan, aku tak punya banyak pilihan lain. Itulah kenapa aku bisa memutuskannya dengan proses eliminasi.
Di sisi lain, bagaimana dengan orang yang memiliki banyak pilihan ?
Contohnya Yukinoshita Yukino.
Bagaimana caranya untuk memilihnya?
Kalau dipikir lagi, seharusnya aku bertanya padanya saat ada kesempatan. Kalau hanya berkaitan tentang bakat, orang yang paling mendekati Yukinoshita adalah Hayama Hayato.
Meski begitu, aku mengabaikan kemungkinan kalau pilihan Yukinoshita bisa digunakan sebagai referensi. Tentu saja, memikirkan hal itu sekarang sudah tak ada gunanya. Berpikir untuk menggunakannya sebagai alasan sepertinya akan membuatku mengalami banyak masalah yang lebih rumit.
Tapi sekarang, apa yang harus kupikirkan adalah pilihan Hayama antara Ilmu Sosial dan Sains.
Memangnya bagaimana cara Hayama mengambil keputusan? Jika aku mencoba untuk menyebutkan semua pilihan milik Hayama, itu pasti akan sangat banyak. Dia tidak bisa memilihnya dengan proses eliminasi atau apakah dia punya sisi negatif untuk mengeleminasinya.
Semakin banyak aku mendengar pendapat orang, hal ini menjadi semakin rumit.
Bukan cuma menguasai bidanng Ilmu Sosial dan Sains, dia juga pantas mendapatkan rekomendasi bidang olah raga. Dengan kemampuan seperti itu, berarti ujian langsung maupun rekomendasi sekolah bukan hal yang mustahil.
Jika dia mirip seprti Totsuka yang memikirkan bidang yang disukainya, aku bisa saja menyelidikinya. Tapi, aku bahkan bukan orang yang pantas untuk menanyakannya. Lain halnya dengan Zaimokuza yang sadar dengan ketidakmampuannya menangani orang asing, tapi Hayama juga tidak seperti itu.
Memperhitungkan Hayama dari sudut pencapaian pendidikan dan sekolah itu hampir mustahil.
Kalau begitu, aku harus fokus pada sisi lainnya.
Contohnya, seperti keadaan keluarga yang dialami Kawasaki. Pilihannya adalah berasal dari perasaannya pada keluarganya. Sebaliknya, untuk Hayama, dia punya banyak pilihan dan tidak ada satupun yang akan menghambatnya.
Aku sama sekali tidak melihat adanya kekhawatiran atau kekurangan dari Hayama. Itu adalah hal sudah aku dan Tobe setujui. Jika aku mengingat perkataan Ebina-san, dia adalah orang yang takkan menunjukkan kelemahannya, tidak melukai siapapun dan memenuhi harapan semua orang.
Tidak peduli siapa yang aku tanya ataupun yang berkata tentangnya, Hayama punya sangat banyak pilihan.
“Dia bisa melakukan apapun”, itulah Hayama Hayato.
Manusia super yang keren, baik, selalu tersenyum dan dilengkapi dengan pengetahuan dalam pendidikan dan bela diri.
Semuanya punya pendapat yang sama tentangnya. Semua orang menganggap Hayama Hayato sebagai orang yang baik.
Semua orang?
Apa benar seperti itu?
Ada satu orang. Ada satu orang yang jelas tidak berpikir seperti itu.
Ada satu orang yang dengan jelas mengatakannya padaku.
~aku bukanlah orang yang baik seperti yang kalian pikirkan.
Jika aku bisa mempercayai kalimat itu, maka dia sendiri yang merasa khawatir dengan keadaannya. Satu-satunya orang yang tidak menganggap dirinya sebagai orang baik adalah dirinya sendiri.
Pujian dari semua orang terasa memuakkan. Bahkan lebih menjijikkan saat semua orang memujinya hanya sebatas etika. Meskipun sangat memahami kalau itu semua hanyalah sandiwara, tipuan licik dan hanya untuk kepuasan pribadi, mereka terus berusaha memenuhi harapan semua orang. Itu semua benar-benar menjijikkan.
Seseorang pernah berkata: “Berhentilah menjadikan dirimu menjadi korban.” Jangan bodoh. Melakukan sesuatu hanya untuk memenuhi harapan dan agar tidak melukai siapapun tidak lain adalah tindakan pengorbanan diri.
“Sudah seperti itu dari dulu,” katanya. “Tidak ada yang berubah dan semua tetap sama,” katanya.
Ada orang yang menjalani hidupnya tanpa pernah menolak harapan dari orang lain termasuk orang tuanya dan melakukan semua itu dengan sempurna. Memangnya bagaimana cara mereka memilih? Masih menanggung harapan, diandalkan dan terus memenuhi harapan mereka, memangnya seperti apa masa depan yang mereka tuju?
Yeah, itu sangat tak bisa dipercaya.
Jika itu diriku, aku takkan sanggup bertahan. Aku akan mengabaikan semua hal merepotkan itu, menghancurkannya dan membuat semuanya sia-sia. Aku bakal merasa kalau harapan dari seseorang yang aku bahkan tidak kenal itu menyebalkan. Aku takkan sedikitpun bertindak untuk orang yang sama sekali tidak aku kenal atau tidak dekat denganku. Entah itu harapan maupun pujian, aku mungkin akan menolak semuanya.
Tapi, Hayama Hayato takkan melakukan hal seperti itu. Dia akan mencoba menjadi Hayama Hayato sampai saat terakhir, semuanya demi memenuhi harapan dan agar tidak melukai siapapun.
Banyak orang memaksakan anggapan bahwa mengharapkan kemampuan, kebaikan, dan candaan dari Hayama Hayato adalah hal yang normal, memaksakan untuk menjadi korban. Kebanggaan dan kebaikannya juga dipenuhi dengan tuntutan. Sayangnya, Hayama Hayato dikaruniai kemampuan untuk memenuhi semua itu.
Tapi, ada satu hal yang tak bisa digoyahakn darinya.
Yaitu menolak mengatakan pilihannya antara Ilmu Sosial dan Sains pada siapapun.
Meskipun menjadi orang yang selalu memenuhi harapan semua orang.
Kenapa Hayama Hayato tidak mau mengatakannya pada siapapun?
Sambil tiduran, aku melihat ke jendela yang samar-samar memantulkan bayangan ruangan yang terang. Kaca itu transparan, tapi aku tidak bisa melihat apa yang ada dibaliknya, pandanganku hanya tertuju pada bayangan cermin yang tak berguna.
Karena gelapnya malam, aku pikir bayangan mukaku terlihat kurang bagus. Aku menggerakkan tubuhku dan mendekatkan mukaku ke jendela.
Saat itu, aku teringat sesuatu yang pernah kualami dulu. “Jika kamu diminta melakukan sesuatu yang bertentangan, apa yang akan kamu lakukan?” Tidak salah lagi Hayama pernah bertanya padaku. “Bisakah kamu berhenti melakukan hal yang merepotkan?” katanya.
Pada akhirnya, baik Hayama maupun diriku menanggapinya dengan jawaban yang ambigu saat itu. Satu sisi menundanya sampai keesokan harinya, sedangkan yang satu memainkannya dengan senyum ramah.
Tapi sepertinya ini adalah hal yang sama. meskipun caranya berbeda, tapi pilihannya untuk tidak memilih tetap sama.
Kalau begitu, jawaban Hayama sudah pasti.
Aku mengambil HP yang tergeletak diatas kotatsu.
Aku menemukan orang yang kucari dalam daftar kontakku yang sedikit dan menekan tombol panggil sambil mengangkatnya.
Suara deringnya terdengar beberapa saat.
Saat aku menunggu pihak lain untuk mengangkat, aku beberapa kali ragu dan berpikir untuk membatalkan panggilan itu. Aku tidak yakin apa boleh kalau aku memintanya. Aku mungkin akan dibenci. Aku mungkin akan dihina.
Tapi, meski begitu, aku tidak bisa memikirkan jawaban lain dan ini adalah satu-satunya jalan yang bisa kutempuh.
Tak lama kemudian, aku bisa mendengar suara terangkat dari pihak lain.
[... Halo?]
“Hey, ini aku. Maaf menelfonmu selarut ini,” kataku.
Di sisi lain, Totsuka Saika, menjawabnya dengan ceria.
[Ah, tidak, tak apa. Rasanya jarang mendapatkan telfon darimu Hachiman, jadi aku sedikit terkejut.]
Aku pikir begitu. Karena mungkin ini pertama kalinya aku menelfonnya. Tapi aku penasaran apa dia akan lebih terkejut saat mendengar apa yang akan kukatakan.
Aku menghembuskan napas dengan pelan agar Totsuka tak bisa mendengarnya dan menundukkan kepalaku meski aku tahu dia takkan bisa melihatnya.
“... Aku ingin minta tolong sesuatu.”

×   ×   ×



Keesokan harinya setelah aku menelfon Totsuka, cuacanya cerah dengan sedikit angin.
Di taman yang digunakan sebagai titik permulaan maraton terlihat sekumpulan anak kelas satu dan dua. Rute yang ditempuh anak laki-laki adalah jalur pesisir pantai dan kembali kesini melalui Jembatan Mihama.
Jarak tempuhnya jauh, sangat jauh. Berapapun nilai yang lebih dari tiga itu termasuk banyak bagi Hachiman-kun yang payah dalam aritmatika!
Yaah, bagaimanapun juga, jumlah kilometernya takkan mempengaruhi apa yang harus kulakukan.
Saat kami disuruh untuk berkumpul, kami segera berbaris di belakang garis putih tanda permulaan.
Aku bergerak melewati kerumunan menuju barisan depan dengan menggerakkan tubuhku dengan licinnya seperti belut. Entah kenapa, semua orang membuatkan jalan untukku. Kenapa ya? Apa karena aku berlendir atau semacamnya?
Memang seperti inilah maraton khusus sekolah. Kegiatan yang tidak terlalu penting dan juga takkan mempengaruhi nilai kita. Dipaksa untuk berlari di cuaca dingin seperti ini, kelihatannya tak banyak anak yang semangat melakukannya.
Semuanya, kecuali satu orang.
Dengan harapan memenangkan maraton tahun ini, Hayama takkan membiarkannya berakhir mengecewakan. Dia tidak boleh terlihat santai.
Dia berada di barisan depan, terpaut beberapa orang dariku. Bisa dibilang itu adalah pole position.
Saat dia meregangkan tubuh lenturnya, para gadis yang melihat keberangkatan kami mulai berteriak.
Tiga puluh menit setelah keberangkatan siswa laki-laki adalah saat permulaan untuk siswa perempuan. Sebelum itu, sepertinya mereka akan mendukung dan melihat siswa laki-laki.
Hayama sedikit melambaikan tangannya pada mereka yang mendukungnya. Di sisi yang dilihatnya, sedikit terpisah dari kelompok para gadis yang menjerit dengan semangat adalah Miura.
Terlihat gugup karena para gadis disekitarnya, Miura hanya menatap kepadanya. Ebina-san dan Miura berada di sampingnya. Yukinoshita juga ada disana, agak sedikit kebelakang.
Dan Isshiki terlihat berjalan ke arah mereka.
Saat menyadari keberadaan Miura, Isshiki menundukkan kepalanya. Miura juga menunduk. Isshiki melihat bergantian pada Hayama dan Miura lalu tersenyum berani.
Lalu, dia meletakkan tangannya di mulutnya dan berteriak dengan keras, “Hayama-senpai, berjuanglaaaah...! Ah, sekalian, senpai juga!”
Saat mendengar itu, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum kecut dan entah kenapa, Tobe yang agak jauh darinya menjawabnya dengan semangat. “Yeaaaah!”
“Bukan, bukan, maksudku bukan kamu Tobe-senpai,” kata Isshiki, sedikit melambaikan tangannya seakan berkata “tidak mungkin”.
Miura memperhatikannya dengan diam, tapi setelah mengambil napas panjang dan membulatkan tekad, dia berkata seperti yang dilakukannya. “Ha-Hayato... Be-Berjuanglah!”
Suaranya sangat pelan seperti tenggelam oleh suara sorakan. Tapi Hayama sedikit mengangkat tangannya dan tentu saja sambil tersenyum ramah.
Miura melihatnya dan perlahan mengangguk tanpa berkata apapun.
Isshiki terlihat puas saat memperhatikan mereka lalu berbalik mengahadap kesini lagi. “... Senpai juga, Berjuanglaaaah, Okaaay!”
Kali ini sepertinya dia melihat kearahku dan mengatakannya padaku.
Y-yeah... Memangnya seberapa keras kepala dia untuk tidak menyebutkan namaku...? Apa mungkin dia tidak mengingatnya... Saat aku memikirkan hal itu, Yuigahama yang sebelumnya terhalang Isshiki maju satu langkah.
Lalu, Yuigahama melambaikan tangannya. “B-berjuanglah!”
Suaranya terdengar lebih lembut dibandingkan dengan Isshiki, sepertinya dia mempertimbangkan keadaan di sekelilingnya, tapi suaranya terdengar olehku... Untung saja dia tidak menyebutkan namaku. Aku sangat bersyukur pada kesadarannya di saat seperti ini.
Aku sedikit mengangkat tanganku untuk menghormatinya dan Yuigahama mengepalkan tangannya. Lalu, di sampingnya, tatapan Yukinoshita bertemu denganku.
Dia sedikit mengangguk tanpa berkata apapun. Sepertinya mulutnya sedikit bergerak, tapi aku tak bisa mendengar apapun.
Aku tidak tahu apa yang diucapkannya atau ditujukan pada siapa perkataannya itu.
Tapi, yaah, aku merasa bersemangat.
Baiklah, ayo mulai bekerja...
Aku menggerakkan tubuhku melewati kerumunan dan berdiri di barisan paling depan seperti Hayama. Pandangannya tertuju ke depan, tidak melihat ke arahku.
Aku memutar leherku, meregangkan pergelangan kakiku, dan maju satu langkah.
Setelah menyelesaikan pemanasanku, bahuku tiba-tiba ditepuk.
Aku berbalik dan aku melihat Totsuka memakai seragam olahraganya.  Kakinya yang muncul dari celana pendeknya gemetar karena kedinginan. Tapi dia menahannya dan tersenyum padaku. “Hachiman, ayo sama-sama berjuang.”
“Yaah... Totsuka, mohon kerja samanya.”
Keadaan sudah sangat ramai di barisan depan dan menundukkan kepalaku membuatku menabrak seseorang. Tapi, meski begitu, aku tetap menundukkan kepalaku. Kemarin, apa yang aku minta tolong pada Totsuka bukanlah sesuatu yang layak mendapatkan pujian. Aku merasa malu karena memintanya lewat telfon.
Tapi Totsuka mengepalkan tangannya lalu meletakkannya di dadanya dan mengangguk dengan semangat.
“Ya, serahkan saja padaku!” kata Totsuka. “Meski aku pikir hal ini takkan begitu berarti...”
Totsuka terlihat cemas sambil melihat pada siswa lainnya. Aku melihat pada kelompok di belakangnya. Mereka adalah anggota klub tenis.
“Kamu tak perlu melakukan hal yang mencolok. Kamu hanya perlu memastikan mereka tak menyadarinya. Kamu juga tak perlu memaksakan diri,” kataku, dan menepuk bahu Totsuka. Tapi aku segera menarik tanganku dan menjadi sangat khawatir apa aku meneteskan keringat atau tidak. Ah, bahaya, bahaya. Semakin aku memikirkannya, semakin banyak keringat yang keluar dan itu akan membuatku lengket...
Aku hampir terkingat kejadian saat SD saat seorang guru memaksaku untuk bergandengan tangan siswa perempuan dan akhirnya membenciku karena keringat di tanganku, karena itu aku dijuluki Kodokgaya... Tunggu sebentar, aku sangat mengingatnya.
Yaah, karena musim dingin, aku seharusnya tidak mengeluarkan terlalu banyak keringat. Bahkan angin laut sedang menusuk pipiku.
Tiba tiba, anginnya berhenti.
“Oh, Hachiman. Jadi kamu disini... Funuu, sepertinya Totsuka-san juga disini?”
“Ah, Zaimokuza-kun,”
Zaimokuza tiba-tiba muncul dengan menerobos kerumunan. Sepertinya dia menggunakan tubuhnya yang besar untuk menghentikan angin untukku.
“Hachiman, ayo lari bersama.”
“Tidak... Ah, sebenarnya, aku ingin minta tolong sesuatu padamu.”
“Hummuu?” Zaimokuza memiringkan keplanya.
Karena aku tidak ingin orang lain mendengar hal ini, aku sedikit mendekat pada Zaimokuza... Entah kenapa, rasanya sedikit hangat di dekatnya, meskipun menjijikkan.
Aku berbisik pada telinganya dan Zaimokuza menghembuskan napas panjang sambil “Fushurururu.”
“Hmm.. Aku paham apa yang ingin kamu lakukan. Tapi, aku ingin menghindari apapun yang mencurigakan dan melelahkan...”
“... Yaah, aku juga berpikir bergitu.”
Permintaanku pada Zaimokuza adalah sesuatu yang sangat berat. Mempertimbangkan kemampuan fisik  Zaimokuza dan mentalnya yang lemah, dia mungkin takkan begitu saja menerimanya. Malahan, aku juga pikir aku sering menolak permintaan darinya.
Alasan kenapa aku meminta Zaimokuza adalah karena hatiku takkan tersakiti meski jika diperlakukan seperti kotoran maupun sampah, tapi, yaah, Zaimokuza juga manusia. Hatiku mungkin takkan hancur, tapi mungkin untuk Zaimokuza.
Dia mengangkat bahunya saat aku mengatakannya, menyilangkan tangannya dan berlagak sombong. “... Aku tak keberatan melakukannya asal kamu membelikanku super gita ramen dari naritake.”
“Kamu yakin?” tanyaku.
Zaimokuza mengeluh pasrah dan berlebihan. “Ya ampun, apa yang bisa kamu lakukan tanpaku...? Dan mereka bilang, kamu tidak boleh memalingkan wajah dari kebenaran di hadapanmu.”
Cara pengungkapan yang sangat memuakkan... Padahal aku sendiri yang meminta tolong, tapi aku tetap saja merasa terganggu. Aku melihatnya dengan acuh.
Ragu dengan keadaan di sekitarnya, Zaimokuza berkata. “Tapi, aku takkan melakukan apapun yang mencolok! Aku tidak ingin orang-orang membicarakan sesuatu di belakangku atau dibully di internet! Kalau aku mendapat kecaman, aku akan menyebutkan namamu untuk kebaikanku, mengerti!” Zaimokuza mengatakannya sambil menunjuk padaku.
Saat aku melihatnya, tanpa kusadari aku tersenyum pahit. Yeah, Zaimokuza-san memang harus seperti ini! Dia adalah sampah! Sampah yang keren!!
“Yeah, tak masalah. Kamu akan sangat membantu. Aku bahkan akan menambahkan topping di ramenmu.”
“Hmm, aku pikir itu akan cocok untuk mengganti kaloriku.”
Ha, aku tidak tahu bagaimana perhitungan yang kamu lakukan, tapi maraton ini takkan cukup untuk membakar kalori dari Naritake...
Aku berterima kasih lagi pada Zaimokuza dan Totsuka dan melihat pada Hayama yang berdiri di depan garis putih.
Dia sedang berbicara dengan Tobe dan yang lainnya tentang sesuatu. Saat dia menyadariku, dia tersenyum seperti penasaran apa aku ada perlu sesuatu dengannya.
Aku menggelengkan kepalaku dan melihat kedepan.
Saat itu, maraton akan segera dimulai. Aku tahu tanpa perlu melihat jam di taman.
Suara berisik dari belakang mulai menghilang. Sorakan dari para gadis juga mulai memudar.
Saat semuanya diam, seperti sedang menunggu saat itu, seseorang berjalan menuju garis putih yang tergambar di lantai.
“Apa kalian semua siap?”
Orang yang mengatakannya sambil mengarahkan pistol ke langit adalah Hiratsuka-sensei.
Kenapa Hiratsuka-sensei...? Biasanya guru olahraga yang melakukannya. Ya ampun, orang ini benar-benar suka melakukan hal yang mencolok. Atau mungkin dia hanya ingin menembakkan pistol?
Hiratsuka-sensei mengangkat pistolnya tinggi-tinggi dan menggunakan tangan yang satunya untuk menutup telinganya. Saat dia meletakkan jarinya di pelatuk, siswa laki-laki melihat ke depan sedang siswa perempuan menahan napas mereka sambil melihat.
Beberapa detik berlalu dan Hiratasuka-sensei perlahan berkata. “Ambil posisi... Bersiap.”
Saat itu, pelatuknya ditarik dan diikuti dengan suara ledakan psitol.
Lalu, kami perlahan mulai berlari seperti sedang diluncurkan.
Pertama, memanaskan kakiku dengan lari perlahan. Tujuanku adalah untuk menyusul Hayama.
Tapi beberapa orang di sampingku langsung tancap gas seakan sudah dalam tahap puncak.
Alasannya mungkin karena rentetan jepretan kamera. Aku tidak tahu itu untuk buku tahunan atau apa, tapi entah kenapa, ada kamera pada maraton kali ini.
Para idiot yang berlari di beberapa meter awal maraton hanya untuk menampilkan kesan abadi. Pada akhirnya, mereka mungkin hanya ingin berkata, “Aku yang pertama sampai pertengahan, tahu!” laki-laki memang sangat bodoh.
Mereka yang mengadu nasib mereka dengan langsung tancap gas dari awal sepertinya akan segera kehabisan tenaga.
Itulah kenapa pertarungan sebenarnya dimulai saat kita meninggalkan sektor taman.
Aku dengan tenang melewati kelompok yang menyerah karena menghabiskan nyawa mereka saat berlari di awal, dan memanggil Zaimokuza, “Zaimokuza, mohon bantuannya.”
“Phew, phew, hm...? B-baiklah!”
Napas Zaimokuza sudah mulai berantakan, tapi setelah dia menjawabnya, dia meningkatkan kecepatannya. Tapi, yaah, karena dia itu Zaimokuza, kecepatannya tidak jauh berbeda.
Saat Hayama yang berada di depanku berlari menuju paling depan, Zaimokuza entah kenapa tetap berada dibelakang kami sambil berkata “fushuru, fushuru”.
Kita terus maju seperti itu sampai ujung sektor taman dan Hayama belok kanan menuju jalan setapak. Aku mengikutinya.
Tapi, Zaimokuza sudah mencapai batasnya setelah berlari sekuat tenaga dalam beberapa ratus meter. Dia mulai melambat dan saat kami mencapai jalan tersempit dari taman, kecepatannya menurun drastis.
“Haaaaa... Tidak kuat lagi...”
Dia menyerah dan menurunkan kecepatannya sampai hampir level berjalan dan memperlambat kelompok dibelakangnya. Tidak salah lagi bangunan besar yang berjalan lambat di depan pasti akan menjadi penghalang.
Berkat Zaimokuza, kami bisa membuat jarak dengan yang lainnya.
Permasalahan utama dimulai dari sini.
Seberapapun besarnya Zaimokuza, dia takkan bisa sepenuhnya menutup jalan. Segera, kelompok yang bertujuan untuk berada di depan akan melewati Zaimokuza dan mengejar kami.
Saat aku terus mengawasi ke belakang, klub tenis Totsuka mulai terlihat.
Mataku bertatapan dengan Totsuka saat melihat ke belakang. Lalu kami berdua mengangguk.
Jalur maraton kali ini melewati trotoar tepi jalan. Jika kamu berjalan berjajar tiga, kamu akan sepenuhnya menutup jalan.
Itulah kenapa aku meminta tolong pada Totsuka. Saat aku di depan, coba untuk berlari bersama dengan kelompok yang rapat sebanyak yang kamu bisa.
Tentu saja, gangguan mencolok pasti akan menjadi masalah. Itulah kenapa mereka hanya perlu membuat ruang yang menahan niat mereka yang ingin ke depan dengan berlari agak ke samping samping, tapi juga memberi ruang bagi mereka yang ingin melewatinya.
Tidak perlu menahan jalan mereka sepenuhnya.
Tak apa hanya dengan membuat orang-orang ragu untuk melewati mereka.
Apa yang akan dilakukan oleh orang–orang yang tidak serius pada maraton ini saat kelompok di posisi kedua berlari dengan kecepatan yang sama?
Sepertinya mereka takkan melewatinya. Jika mereka adalah orang yang tidak tertarik dengan hasil maraton yang baik, mereka pasti akan mengikuti kelompok posisi kedua, sambil menunggu kesempatan mereka.
Saat ini, setelah mencapai tepian jalan, kelompok terdepan yaitu Hayama dan diriku tidak melihat satupun orang yang mendekat. Tapi ada kemungkinan mereka akan menyusul mendekati bagian akhir maraton, tapi itu sama sekali bukan masalah untukku.
Selama kita bisa membuat saat dimana aku hanya berdua dengan Hayama, maka itu tak apa.
Aku melihat pada punggung Hayama yang berlari di depanku.
Panggungnya sudah siap. Disiapkan khusus hanya untukku.
Dari sini adalah awal dari pertarungan soloku.

×    ×    ×



Angin yang berhembus dari laut membekukan pipiku. Saat panas tubuhku berbenturan dengan udara yang dingin, tubuhku menggigil kedinginan.
Setiap kali tapak sepatuku menapak di aspal, pusat tubuhku bergetar.
Aku tidak bisa membedakan suara gemuruh angin atau geretak tubuhku. Kedua suara itu tercampur hanya dengan kehangatan yang berhembus dari mulutku.
Aku menghirup napas panjang, dan aku bisa merasakan aroma tajam air garam.
Pepohonan yang tumbuh sepanjang pesisir pantai terliahat seperti penahan angin. Tempat permulaan kami dikelilingi oleh banyak pohon pinus, tapi setelah melewati pemandangan itu, pohon yang mirip seperti tengkorak dengan daunnya yang rontok mulai terlihat.
Aku mempercepat langkahku bahkan tanpa aku menyadarinya. Seperti laju darah yang dipompa secara tak menentu dari jantungku. Detak jantung dan langkah kakiku saling bersaing satu sama lain.
Kesadaranku datang dan pergi begitu saja saat aku terus berlari.
Untung saja aku biasa pergi ke sekolah dengan sepeda. Kalau tidak, aku takkan bisa berlari sejauh ini meskipun tidak bergabung dengan klub olahraga. Aku tidak terlalu bermasalah dalam latihan maraton. Malahan, semua hal selain permainan bola adalah keahlianku. Karena aku bisa menyelesaikannya sendiri. Aku tidak perlu memikirkan orang lain dan tujuannya juga jelas. Selebihnya, yang harus kulakukan hanyalah memenuhi pikiranku dengan berbagai pemikiran tak berguna sambil melangkahkan kakiku.
Tapi maraton hari ini sedikit berbeda.
Rasanya lebih menyiksa dari biasanya.
Itu karena aku berlari lebih cepat daripada saat di kelas. Karena udara yang semakin dingin dan juga berangin. Karena aku terlalu banyak berpikir semalaman sehingga tidak cukup tidur.
Ada banyak penyebabnya.
Tapi, alasan utamanya adalah karena orang yang ada di depanku, Hayama Hayato.
Sebagai seseorang yang sepertinya sudah terbiasa dengan kegiatan klub, dia tidak terlihat lelah dan terus berlari dengan laju tetap. Tubuh atasnya terlihat tenang dengan tubuh bawahnya stabil, bisa dibilang bentuk yang halus. Aku punya gambaran kenapa dia bisa menang tahun lalu.
Di sisi lain, aku berlari sambil menatap ke atas sambil berlari dengan laju berantakan dan masih hampir tak mampu mengikuti Hayama.
Tapi itu akan segera berakhir.
Perkembangan maraton sampai saat ini sepertinya tak ada pergerakan. Untuk sekarang, Hayama dan diriku menempati kelompok terdepan sedangkan Totsuka dan klub tenisnya berada di barisan kedua. Sepertinya mereka berhasil mempertahankan lajunya juga pada mereka yang mengikuti di belakangnya. Atau mungkin, mereka masih menyimpan tenaganya untuk paruh kedua.
Seharusnya ada banyak orang bersama mereka, tapi karena mereka tertinggal sangat jauh, aku tidak bisa melihat satupun dari mereka meski sambil menolehkan kepalaku.
Hayama masih tetap mempertahankan lajunya. Rencana pertama kami tentang proses sabotase sepertinya berjalan lancar melihat adanya jarak yang cukup jauh antara kelompok kami, jadi sepertinya takkan ada yang mengejar kami.
Tapi permasalahannya ada padaku.
Kami masih di paruh pertama maraton, tapi staminaku hampir mencapai batasnya.
Sejak tadi, tubuhku terasa sakit, kakiku nyeri dan telingaku berdengung. Sejujurnya, aku ingin pulang sekarang juga. Jika aku tadi makan sesuatu, aku yakin aku akan memuntahkannya.
Entah bagaimana aku berhasil berlari sejauh ini, tapi jika aku tidak melakukan apapun sekarang, aku pikir aku takkan bisa berlari lagi.
saat aku berlari sambil memperhatikan punggung Hayama, aku tiba-tiba merasakan perubahan pada kakiku. Udara dingin berhembus kakiku.
Kami sudah hampir mencapai jembatan tanda separuh jalan.
Para guru menunggu di jembatan itu, memberikan pita sebagai tanda.
Setelah menyelesaikan setengah jalan maraton, aku sudah hampir menghembuskan napas lega, tapi aku menelannya dan mengalirkannya melalui paru-paruku.
Masih belum saatnya kehilangan konsentrasi.
Aku sedikit meningkatkan lajuku untuk mengejar Hayama yang berlari beberapa langkah di depanku. Menekan lebih keras agar kakiku menapak tegar di tanah.
Sebenarnya, kalau aku tidak melakukannya, aku takkan bisa mengejar Hayama. Sayangnya, ada kesenjangan antara kekuatan kaki kami. Untuk kami berdua terus berlari seperti biasanya, saat seperti ini seharusnya takkan pernah bisa terjadi.
Itulah kenapa aku meminta bantuan pada Totsuka dan Zaimokuza lalu berlari sekuat tenaga dengan mengabaikan batasanku.
Semuanya hanya demi kesempatan ini, untuk saat ini.
Aku berulang kali menhembuskan napas terengah dan entah bagaimana berhasil menyusul Hayama.
Saat aku berlari di sampingnya, Hayama yang dari tadi tidak sedikitpun melihatku sekarang menoleh padaku. Matanya terbelalak dan terlihat sedikit terkejut.
“Kamu benar-benar bisa mengikutiku, huh...?” kata Hayama, tanpa memotong napasnya.
Sebaliknya, aku menjawabnya terpatah-patah. “Yeah, kurang lebih. Jika aku, berpikir untuk, mengatur lajuku, aku takkan mampu, mengejarmu.”
Hayama sedikit menolehkan kepalanya dan menatapku. Aku hanya bisa tersenyum pada ekspresinya yang seperti penasaran kenapa aku melakukan hal seperti ini. Karena tenggoroaknku yang kering, saat itu, aku membasahinya dengan ludahku, setelah itu, aku berkata.
“Bukannya ada orang yang mengharapkanku mencapai garis finish. Mereka bahkan tak peduli kalau aku berhenti di tengah jalan.”
Sejujurnya, aku tak peduli dengan posisi di maraton, apalagi mencapai garis finish. Hal itu bukanlah masalah selama aku bisa berlari berdua dengan Hayama setelah titik balik tanpa ada gangguan dari satu orangpun. Aku berlari sekuat tenaga, semua hanya demi saat ini... meskipun begitu, keputusasaan yang kuhadapi saat berlari mengejar Hayama yang terus mempertahankan lajunya tidak main-main. Jiwaku hampir saja tumbang, tapi, aku sudah melewati titik baliknya.
Apa yang dipikirkan oleh seseorang saat melewati titik balik yang dilalui dengan penuh siksaan?
Apakah itu keputusasaan karena masih adanya separuh jalan yang harus ditempuh, ataukah itu perasaan lega karena hanya tinggal setengah jalan yang perlu ditempuh? Untuk kebanyakan orang kurang lebih salah satu dari itu. Dan perasaan dari kedua pilihan itu akan meninggalkan lubang dalam jiwa seseorang.
Lubang itu bisa menyebabkan seseorang merasakan kelelahannya. Sumbernya adalah pengalamanku. Sejujurnya, rasa lelah sudah menghantuiku saat aku hampir menghembuskan napas lega setelah melewati paruh pertama dan saat aku menatap ke bawah, kakiku mulai terasa semakin berat.
Lubang dan rasa lelah itu adalah kesempatanku. Saat seseorang kehilangan ruang untuk bergerak, niat aslinya akan muncul. Seperti apa yang dilakukan adikku Komachi, dia akan mengatakan semua yang terkunci jauh di dalam hatinya.
Itulah kenapa aku memaksakan diriku sampai seperti ini.
Kalau biasanya, dia pasti akan mengabaikan perkataanku dengan senyuman entah apapun yang aku katakan. Kalau begitu, aku harus memenuhi pikirannya agar dia tidak bisa menghindarinya.
Tapi, saat Hayama terkejut karena aku berlari di sampingnya, dia masih terlihat tenang seperti biasanya. Dia terlihat sedikit tegang karena sedang berlari, tapi dia tidak terlihat goyah.
Aku butuh satu dorongan lagi untuk menghancurkan ketenagan Hayama.
Hanya satu hal bisa menusuk Hayama tepat di hatinya.
Aku menahannapasku yang mulai berat. Dadaku sakit, tapi aku menahannya dan tersenyum, menggerakkan ujung mulutku.
“... Bukankah Miura sangat ahli dalam menghindari gadis lainnya atau bagaimana?” kataku.
Hayama berbalik menghadapku. Dia menatap tajam padaku. Menghirup napas panjang untuk meredam emosinya. Yeah, itulah ekspresi yang ingin kulihat.
Dia menatapku tanpa berkata apapun dan sedikit meningkatkan lajunya untuk mengabaikanku. Aku berusaha sekuat tenaga mengejarnya dan menyerangnya lagi.
“Bagaimana kalau begini? Apa dia berguna?”
Sejujurnya, aku tahu kalau Miura bukan orang yang jahat. Sebagai seseorang yang memiliki sifat blak-blakan, mengatakan hal seperti itu rasanya sedikit menusuk hatiku.
Kalau begitu, hal itu seharunya juga berlaku pada mereka yang mendengarnya.
“Diamlah sebentar.”  Tanpa menatap padaku, Hayama mengatakannya dengan suara yang dipenuhi dengan emosi. Aku mundur satu langkah, menanggapi tindakannya yang berkebalikan dengan sifatnya yang biasanya.
Tapi aku berkonsentrasi lagi dan melangkah maju.
“Aku takkan diam hanya dengan hal seperti itu... aku tidaklah sebaik yang kamu pikir, kan?”
Karena dia mengatakannya dengan kasar, aku sedikit memperlambat laju lariku. Jika aku kehilangan konsentrasiku sekarang, jarak diantara kami akan terus melebar, jadi aku berusaha terus mempertahankan lajuku.
“Orang yang menjengkelkan...”
Kata itu terlepas dari mulutku dan Hayama tersenyum mengejek.
“Aku tak ingin mendengarnya darimu.”
Kamu benar. Aku hampir saja tersenyum. Tapi semua usahaku terbalaskan karena aku berhasil membuatnya bersikap berbeda dari biasanya yang tenang. Kalau begitu, sekaranglah saatnya.
Aku mengatur ulang napasku sehingga perkataanku tidak berantakan seperti lariku.
“Jadi, Ilmu Sosial atau Sains, mana yang kamu pilih?”
“Aku takkan memberitahumu.”
“Biarkan aku menebaknya. Kamu memilih Sains.” Aku segera membalas jawabannya.
Hayama mengeluh karena heran. “... Apa kamu pikir aku akan menjawab pertanyaan pilihan ganda?”
“Baiklah, aku akan mengatakannya dengan cara lain,” kataku. Aku sedikit mempercepat laju kakiku yang sudah mulai terasa tegang. Aku berkonsentrasi pada pahaku yang berat, mengangkatnya, dan sedikit melewati Hayama, beberapa langkah. Aku menolehkan kepalaku dan berbalik. “Pilihlah Sains. Aku tidak tahu ataupun peduli dengan pilihanmu. Tapi kamu masih bisa menggantinya, jadi cepat ganti sana.”
“Hah?”
Hayama terlihat bingung yang sangat jarang terlihat darinya lalu segera maju. Dia segera menutupinya dengan berlari di sampingku lagi.
“... Kamu mengatakan hal yang sangat gila.”
Seperti sedang panik, napas Hayama mulai meningkat.
“Mau bagaimana lagi, aku perlu tahu jurusan mana yang akan kamu tuju, tapi... kamu tidak mau mengatakannya padaku dan perkiraan sederhana takkan menghasilkan apapun... jadi satu-satunya cara adalah membuatmu mengganti pilihanmu dengan sesuai dengan yang kuinginkan.”
Hayama Hayato punya terlalu banyak pilihan yang tidak bisa kutentukan. Kalau begitu, yang harus kulakukan hanyalah menghapus semuanya. Jika aku yang berkuasa dalam menentukan pilihannya, maka permintaan dari Miura bisa terpenuhi.
“Itu tidak lebih dari hanya mengabaikan prioritasmu, tahu...?” Hayama tertawa garing.
Dia mungkin saja terheran, tapi aku bukan mengatakannya tanpa alasan.
“Ada keuntungan yang kamu dapatkan dengan mengubahnya. Malahan, itu adalah satu-satunya cara untuk memenuhi keadaan yang kamu inginkan.”
“Keadaan?” Hayama terlihat curiga. Karena itu, laju Hayama melambat. Aku menyesuaikan lajuku dengannya.
“Kamu bilang padaku untuk berhenti melakukan hal yang merepotkan, kan...? Dengan kata lain, kamu ingin berhenti menjadi Hayama Hayato yang diinginkan semua orang.”
Hayama tiba-tiba terhenti. Aku melihatnya dan berhenti juga.
Saat itu, aku bisa merasakan keringat bercucuran. Sepertinya karena kami berlari melawan angin yang daritadi tidak kusadari. Aku membersihkan keringat itu dengan lengan bajuku dan berbalik pada Hayama.
Hayama menatapku dengan ekspresi terkejut, dan meskipun tak terlihat lelah, dia menghembuskan napas panjang.
“Dan kenapa kamu berpikir seperti itu?” Hayama menatapku dan mulai berlari. Aku mengikutinya.
“Tidak juga. Aku hanya memikirkan tentang hal yang mungkin akan kamu buang. Karena saat memilih antara Ilmu Sosial dan Sains, normalnya kamu akan membuang hal yang tidak kamu suka dan hal yang tidak ingin kamu lakukan.”
Jika kita hanya membahas tentang ujian masuk, lalu dengan kemampuan akademis Hayama, pelajaran di sekolah seharusnya tidak terlalu berpengaruh. Les sudah cukup baginya untuk memahami apa yang diperlukan. Dengan begitu, artinya hal ini bukan berkaitan dengan strategi ujian maupun Universitas yang diinginkan.
Pertanyaannya adalah, apa yang Hayama Hayato pilih untuk dibuang?
Arti lainnya adalah kehidupan yang akan dijalani di tahun ketiga SMAnya, dengan kata lain hubungan sosialnya.
 “Sejujurnya, memilih Ilmu Sosial maupun Sains bukanlah hal penting selama kamu bisa mengatasi ujian masuknya. Meskipun begitu, kamu tidak memberitahukannya pada siapapun. Jadi intinya, bukankah kamu berencana membuang sesuatu tanpa berkata apapun?”
Hayama tetap diam, tidak menjawab dan hanya terus berlari. Tapi aku tahu diamnya ini berarti kalau aku harus terus melanjutkannya.
“Di Sains itu lebih sedikit muridnya, begitu pula anak perempuannya. Setidaknya untuk sekarang, kamu akan bisa menghilangkan masalah yang terus membayangimu. Terlebih, jika program jurusanmu berbeda, maka kamu akan bisa meyakinkan semua orang dan menjauh dari mereka. Jika sesuatu menghilang begitu saja, maka kamu bisa menghindari resiko melukai seseorang karena mengkhianati harapannya.” Perkataanku semakin kasar karena tenggorokanku yang kering, tapi aku masih bisa mengatakannya dan juga menambahkan bumbu terakhir. “Keadaan yang kamu inginkan hanya akan terpenuhi dengan cara ini.”
Seakan terganggu karena keringatnya, Hayama mengusap rambutnya, membersihkannya dan melihat ke laut.
Lalu, dengan pelan dia berbisik, “Aku pikir kita memang takkan pernah bisa akur...”
“Ah?”
Saat aku bertanya padanya, suara langkah kaki terdengat dari belakangku. Saat aku berbalik, beberapa orang dari baris kedua berhasil mengejar kami. Sepertinya, setelah melihat Hayama mulai berjalan, mereka melihat kesempatan ini dan mulai beraksi.
Aku dan Hayama memperhatikan mereka lewat.
Sambil memperhatikan punggung mereka yang semakin menjauh, Hayama berkata.
“Yaah... Kamu hebat juga.”
“Oh, jadi jawabannya adalah Sains?”
“Bukan itu. Maksudku tentang seberapa sesatnya dirimu,” kata Hayama, menggelengkan kepalanya.
Karena dia dengan jelas mengatakan bahwa aku salah dalam soal pilihan berarti pilihan lainnya adalah jawaban yang benar. “Jadi Ilmu Sosial” itulah yang ingin kukatakan, tapi Hayama memotongku dengan suara yang lembut dan tenang.
“Aku membencimu.”
“B-Begitu...”
Tanpa sedikitpun menatap padaku, perkataan mendadaknya membuatku mati langkah. Meskipun aku bukan orang yang pantas disukai, tapi diberitahu langsung seperti ini terasa baru, terlebih hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Hayama sepertinya tidak memedulikan tanggapanku dan terus memandang ke depan, terus menatap ke kejauhan, dan terus berlari.
“Aku sangat tidak bisa menahannya saat aku merasa lebih rendah darimu. Itulah kenapa aku ingin kamu setara denganku. Itulah kenapa aku ingin menjunjung tinggi dirimu, dan membiarkannya seperti itu, agar aku bisa menerima kekalahanku darimu.”
“... Be-Begitu.”
Aku yakin begitu juga untukku. Aku menempatkan Hayama sebagai sosok istimewa untuk meyakinkan diriku, mambangun setiap kebohongan selama ini, kebohongan tentang Hayama Hayato, tak diragukan lagi, adalah orang yang baik.
Aku menjawabnya begitu saja dan Hayama menatapku seakan kalimat itu mencapainya. Dia tersenyum lebih ceria dari biasanya.
“Itulah kenapa aku takkan melakukan apa yang kamu inginkan.”
“Begitu.”
Aku mengangguk dan begitu pula Hayama.
Sepertinya pilihan antara keduanya tidak terlalu mengganggu Hayama. Baginya, pilihan manapun tidak terlalu berpengaruh padanya.
Itulah kenapa, mendengarnya untuk saat ini sudahlah cukup. Aku juga bisa menyelesaikan permintaan Miura. Meskipun aku tidak bisa mengatakan kalau semua permasalahan telah hilang. Apa yang terjadi setelah ini sudah di luar kuasaku.
“Kita harus bergegas sekarang,” kata Hayama. Sedikit bergerak dan mulai berlari.
Bodoh, aku sudah tidak bisa berlari lagi. Saat memikirkannya, aku berusaha mengejar Hayama.
Karena masih ada hal yang ingin kutanyakan.
Aku memaksakan kakiku untuk terus melangkah. Untungnya, napasku sudah cukup teratur setelah beristirahat. Jantungku masih berdegup kencang, dan aku menghirup napas panjang untuk menenangkannya.
“... Apa kamu memilih Ilmu Sosial karena urusan keluarga? Um, dalam artian seperti karena urusan hubungan atau semacamnya.”
“Keluargaku? Apa aku pernah membahas tentang mereka sebelumnya?”
Kecepatan lari kami saat ini sepertinya hanyalah kecepatan jogging bagi Hayama, jadi saat ini, ekspresi dan suaranya ringan.
“Tidak, yaah, aku hanya kebetulan mendengarnya...”
Tubuhku yang kedinginan karena keringat tertusuk lebih dalam oleh dinginnya angin laut. Tubuhku menggigil karena dinginnya angin, suasana tidak nyaman, dan kesunyian yang aneh.
Tapi, seakan tidak peduli lagi dengan posisinya di maraton, dia menatapku dengan tertarik dan terlihat sedikit penasaran. Lalu dia tiba-tiba berkata.
“Apa kamu terganggu tentang rumor itu?”
“Hah? Tidak, tidak juga... Hanya saja, yaah, itu lah... sedikit.”
Saat aku bingung bagaimana untuk menjelaskannya, Hayama tertawa. Meskipun berlari dengan bentuk yang sangat indah, tubuh atasnya sedikit bergetar lalu berayun.
“... Apanya yang lucu?” tanyaku.
Hayama mengusap matanya. “Tidak juga. Maaf. Kamu tidak perlu mencemaskannya. Akan kupastikan rumor itu menghilang.”
“Ahh, jika kamu bisa melakukannya, itu akan sangat membantu. Aku tidak bisa menahan ketegangan di klub saat ini.”
Saat kami terus berbincang, aku bisa mendengar napas dari siswa lain yang mendekat. Aku berbalik sekali dan menatap ke depan lagi. Mereka yang tadi melewati kami sepertinya sudah cukup jauh.
Kakiku sudah tidak mau bergerak seperti yang kuinginkan dan mulai semakin berat.
“Sepertinya mereka sudah pergi cukup jauh... Aku pikir sebaiknya kita main santai saja. Maaf karena menggagalkan kemenanganmu,” kataku.
Tapi, Hayama menggelengkan kepalanya. Dia menggelengkan kepalanya seperti peregangan ringan lalu tersenyum. “... Tidak, aku akan menang... Itulah aku.”
Dia berkata seperti itu, kalau dia akan menang, kalau dia akan memenuhi harapan semua orang, dan kalau dia akan menjadi Hayama Hayato sampai akhir, seakan memang seperti itulah dirinya.
Hayama mulai meningkatkan lajunya, maju beberapa langkah dariku sambil berlari tegap, lalu berbalik. “Terlebih, aku tidak ingin kalah darimu.”
Dia mengatakannya lalu berlari menjauh.
Lebih jauh, lebih jauh lagi, aku tertinggal.
Tidak banyak tenagaku yang tersisa untuk mengejarnya, sehingga yang kulakukan hanyalah melihat kepergiannya. Hayama Hayato telah mengatakan jawaban tidak tidak bisa kubayangkan dari berbagai kemungkinan yang kupercaya, dan pergi menjauh.
Sial, bukankah kamu itu keren atau semacamnya?
Jangan bilang kalau dia sebenarnya adalah pecundang juga? Aku memikirkan hal bodoh itu saat berlari dan kaki kananku menabrak kaki kiriku.
Tidak mampu menahan jatuhku, aku terkapar di tanah. Aku berhenti disana sambil menatap langit.
Napas putihku bercampur dengan langit biru diatasku.

×    ×    ×



Pada akhirnya, maraton berjalan normal tanpa ada perubahan rencanaku untuk berbaring di tanah.
Setelah terjatuh, aku tetap tiduran untuk beberapa saat. Sebenarnya Totsuka datang untuk menolongku, tapi karena aku tidak boleh merepotkannya lebih dari ini, aku memintanya jalan lebih dulu. Aku berhasil mencapai garis finish, menarik kakiku yang sakit seorang diri.
Sebenarnya, aku tidak berada di posisi terakhir, tapi pada akhirnya aku bergaung dengan kelompok terakhir dan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai garis finish. Itulah saat dimana aku melihat ke area sekitar dan penasaran, “Aku sudah tidak perlu mancapai garis finish kan...?” Ngomong-ngomong, yang menjawabnya adalah Zaimokuza yang berlari bersamaku di kelompok terakhir.
Saat kami selesai berlari, lututku yang gemetar terhenti dan inilah saat yang tepat untuk Nico Nico Nii... [1]
Aku memeriksa keadaanku setelah terjatuh, dan kelihatannya cukup mengenaskan.
Lutut dan betisku ngilu, celanaku berlumur lumpur, pantatku kotor, seluruh tubuhku terasa sakit, dan sangat sulit untuk mencari bagian dariku yang tidak terasa sakit. Malahan, dari dulu aku memang anak yang teraniaya, jadi jika aku bisa merasa lebih tersakiti dari ini, mungkin itu pantas dijadikan sebagai pembelajaran (itu sakit).
Jika aku tidak menyemangati diriku di separuh jalan tadi dengan “Berjuanglah , berjuanglah ”, aku yakin nyawaku sudah mencapai nol.
Tentu saja tidak ada seorangpun yang menungguku di garis finish.
Tepatnya, hanya ada seorang guru olahraga yang kelihatannya menyesal berada di garis finish saat yang lainnya berkumpul di alun-alun taman.
Aku pergi kesana untuk melihat dan mereka sedang melakukan acara perayaan bersama.
Biasanya, maraton tidak memiliki upacara penghargaan seperti ini, tapi melihat Isshiki yang bertindak sebagai MC, anggota OSIS sepertinya mempersiapkan ini secara teruburu-buru. Mengejutkannya, dia adalah orang yang cekatan. Isshiki Iroha sangat mengerikan.
“Yosh, setelah hasilnya diumumkan, ayo kita dengar beberapa patah kata dari pemenang kali ini!” Isshiki mengatakannya dengan bahagia, memegang microphone yang sepertinya dibawa dari ruang OSIS. Saat itu, rasanya mengejutkan melihat wakil ketua OSIS yang mengatur speakernya.
Aku segera memeriksa mereka, anak kelas satu dan dua saling berkerumun di alun-alun taman. Anak dari kelasku seperti Yuigahama, Miura, Ebina-san, Tobe dan Totsuka juga ada disana.
Saat aku memperhatikannya dari kejauhan, Isshiki memanggil pemenangnya. “Juara kita, Hayama Hayato-san, silahkan naik ke panggung!”
Saat nama Hayama dipanggil, dia naik ke atas panggung sambil mengenakan rangkaian kalung bunga. Kerumunan itu bergema dengan sorakan. Sejujurnya, aku tidak percaya dia benar-benar menang...
“Hayama-senpai, selamat atas kemenangannya! Aku sangat yakin kalau kamu akan menang, lhooo!”
“Terima kasih.”
Isshiki mengatakan ucapan selamat dengan jelas padanya dan Hayama menanggapinya dengan senyum ceria.
“Sekarang, tolong sepatah dua patah kata.”
Setelah memeberikan micnya pada Hayama, dia mendapatkan tepuk tangan dan siulan yang diikuti dengan sorakan HA-YA-TO. Teriakan Tobe yang berbunyi  “Heeeeeya”, “Yaaaaaah” dan “Yeah, Yeah, Yeah!” sangat berisik.
Dia melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum malu, lalu mulai berbicara.
“Aku rasa sepertinya agak mustahil saat masih di pertengahan maraton, tapi berkat para sainganku dan dukungan kalian semua, aku akhirnya berhasil mencapai garis finish. Terima kasih banyak,” kata Hayama, mengatakannya tanpa ragu. Dia berhenti sesaat. Saat melihat Miura di tengah kerumunan, dia melambaikan tangan padanya. “Khususnya untuk Yumiko dan Iroha... Terima kasih.”
Lalu, suara sorakan terdengar semakin keras. Ooka bersiul dengan jarinya dan Yamato bertepuk tangan dengan keras. Sedangkan Miura dan Isshiki, mereka terlihat tegang karena nama mereka yang tiba-tiba disebutnya, tapi perlahan memutar tubuhnya karena malu dan menundukkan wajahnya yang memerah. Yuigahama menepuk bahu Miura dengan lembut.
Saat orang–orang melihat tatapan hangat Hayama dan ekspresi mereka berdua, mereka menjadi ramai. Begitu, jadi ini yang dimaksud saat dia bilang akan menghilangkannya.
Sang juara masih melanjutkan ceramahnya.
“Setelah ini, kita semua akan fokus pada klub kita untuk berjuang menghadapi kejuaraan terakhir kita. Dan juga, untuk anggota klub sepak bola, sepertinya banyak diantara kalian yang mendapatkan hasil yang buruk, jadi aku akan melatih ulang kalian.”
Hayama tersenyum jahat pada Tobe dan yang lain. Tobe mundur dan berteriak “Whoooaaaa~”.
“Hayato-kun, jangan seperti itu! Kamu seharusnya memberitahu kami terlebih dulu!”
Tobe berteriak lebih keras dari biasanya sehingga tidak kalah dengan suara mic dan semua orang tertawa terbahak “dowahaha”. Apa-apaan ini...
“Baiklaaah, terima kasih banyak. Dan itulah sang juara kita, Hayama Hayato-san. Baiklah, ayo tepuk tangan... kita tidak perlu mempermasalahkan juara kedua dan ketiga, kan?”
Yang tercampur dalam riuh tepuk tangan itu adalah pertanyaan tak berguna Isshiki pada si wakil ketua yang terdengar lewat mic.  Apa yang dia lakukan...?
Isshiki entah bagaimana berhasil mengalihkan perkataannya dan Hayama yang turun dari panggung sedang bercerita dengan Miura dan yang lainnya.
Celah yang muncul diantara mereka telah menghilang. Sebenarnya, Miura sedikit merunduk karena malu pada tatapan di sekitarnya, lalu bersembunyi di belakang Yuigahama dan Ebina-san.
Setelah memastikan semua itu, aku meninggalkan alun-alun taman.
Tidak diragukan lagi, aku telah melihat akting Hayama Hayato menjadi Hayama Hayato. Mungkin itu hanyalah sandiwara sederhananya untuk memenuhi harapan semua orang, tapi aku tidak punya keluhan melihat kemampuannya untuk mengatasi semuanya.
Saat aku meninggalkan alun-alun, aku bertemu dengan kelompok orang yang juga meninggalkan alun-alun. Siswa dan siswi itu saling bercakap-cakap.
“Yeah, rumor itu ternyata memang tidak benar!” “Hayama-kun dan Miura-san sangat akrab!” Sambil memperhatikan mereka dengan lirikan, aku menarik kakiku yang lelah menuju UKS.

×    ×    ×



Bangunan sekolah sangat sepi dan terasa lebih dingin daripada saat di alun-alun.
Kebanyakan anak masih berkumpul di taman atau berkeliaran entah kemana.
Aku memakai sepatu indoorku dan berjalan di lorong menuju bangunan khusus. Cuma melakukan itu pun aku bisa merasakan nyeri bergejolak dari kakiku.
Aku mengetuk pintu UKS.
“Silahkan masuk.”
Aku dijawab dengan suara yang tidak asing bagiku. Suara ini... Seperti yang kuduga, saat aku membuka pintu sambil mengira-ngira, sosok yang ada di hadapanku adalah Yukinoshita. Dia masih memakai seragam olahraganya sambil duduk di kursi, dia menatap bingung padaku.
“Hikigaya-kun...? Padahal aku pikir tadi kamu Yuigahama-san.”
“Kalau Yuigahama, sepertinya dia masih di taman. Lagian, apa yang kamu lakukan disini?”
“Aku tadi sedang istirahat sebentar tapi aku malah dipaksa untuk berhenti...” kata Yukinoshita, menggertakkan giginya. Sepertinya dia dikeluarkan dari maraton saat sedang beristirahat. Melihat ekpresi kesalnya, sepertinya dia serius berencara untuk menyelesaikannya, huh...?
“Hikigaya-kun...” dia melihat kakiku dan menyipitkan matanya karena ngilu. “Kamu terluka?”
“Yeah, sesuatu terjadi.”
Aku tidak mungkin mengatakan kalau kakiku saling bertubrukan. Maksudku, itu sangat menyedihkan. Terlebih, itu lah, hal itu akan membuatku seperti korban KDRT. Sesuatu seperti, “Bukan seperti itu! Ini cuma karena tadi aku terjatuh!” Aku juga tidak bisa membuat orang lain perhatian padaku jika aku mengalami KDRT.
“Kamu seharusnya mengobatinya tadi saat di taman. Susternya juga sepertinya ada disana.”
“Tidak ada seorangpun saat aku mencapai garis finish...” jawabku.
Yukinoshita meletakkan tangannya di dahinya seperti sedang pusing atau semacamnya. “Begitu. Pemilihan waktumu pasti sangat buruk, atau mungkin, kamu sedang sial, atau mungkin matamu, atau mungkin—“
“Ya, ya, sifatku, jiwaku, semuanya buruk. Yang jelas, kita boleh memakai desinfektan dan perangkatnya, kan?” Aku bertanya sambil memeriksa lemari obat yang tak terkunci.
Yukinoshita mengeluh, “... sepertinya jarimu juga sakit.” Dia berdiri, menyingkirkanku dari lemari obat hanya dengan tangannya. Dia mengambil desinfektan dan perban lalu menunjuk pada kursi de depannya. “Duduk sini.”
“Tidak, aku bisa melakukan hal sebatas ini sendiri.”
“Cepat duduk saja.”
Meski tidak puas, aku duduk di kursi yang ditunjuknya. Saat itu, Yukinoshita duduk di kursi yang tadi didudukinya dan bergeser ke depanku.
Dia memegang kakiku dan mulai membersihkannya lukaku. Tercium bau tajam antiseptik. Lalu, Yukinoshita sedikit membungkuk dan kepalanya mendekat bersamaan dengan semerbak aroma lembut SABON.
Untuk setiap sentuhan kapas yang ditetesi desinfektan di lukaku, terasa rasa sakit yang nyaman. Aku tidak terlalu terbiasa dengan perawatan semacam ini. Karena dia menyentuh lukaku dengan ragu, aku bisa merasakan rasa sakit di lukaku karena desinfektan.
“Hey, um, i-itu sakit, tahu...”
“Tentu saja sakit. Ini akan membersihkan lukamu. Tentu saja ini akan bekerja sangat efektif padamu, Hikigaya-kun.”
“Ummm, bisa tolong berhenti memperlakukan seseorang seperti kuman?”
“Itu adalah bukti kalau obatnya bekerja. Tahan sedikit.”
Hooo, konon katanya obat yang bagus terasa lebih pahit, kan? Jangan harap aku akan mempercayainya. Jika merasakan pahit saja sudah cukup, bukankah itu berarti kehidupanku adalah kehidupan yang terbaik?
Meskipun aku berpikiran seperti itu, sentuhan Yukinoshita menjadi sedikit lebih lembut, sepertinya seakan sedikit perhatian padaku, dan perawatannya menjadi lebih hati-hati. Kalau sekarang, rasanya sangat geli jadi aku harus menahan tubuhku agar tidak menggeliat.
Sampai dia selesai membersihkan lukaku, kami berdua hanya diam. Aku mulai terbiasa dengan rasa sakit ini jadi tubuhku mulai bisa santai. Yukinoshita memutar perban sekali, dua kali dan perlahan berbicara.
“Sepertinya kamu berlari bersama Hayama-kun... Apa kamu berhasil mendapatkan informasi darinya?”
“Yeah... setidaknya, sepertinya itu bukan Sains, mungkin.” Aku manjawabnya ambigu, tidak tahu cara lain untuk mengungkapkannya.
Yukinoshita tertawa kecil. “Aneh sekali cara bicaramu... Selesai.”
Yukinoshita mengehembuskan napas puas dan mengangkat wajahnya. Saat itu, wajah Yukinoshita yang mendekat menjadi sangat dekat dengan wajahku bahkan hampir bersentuhan.
“.....”
Kami berdua terhenti di posisi seperti itu.
Kulitnya berwarna putih seputih salju. Matanya yang hitam basah. Bulu mata lentiknya yang bergoyang mengerjap. Alur tulang hidungnya yang indah. Senyum yang muncul bersamaan dengan napas yang berhembus dari mulutnya.
Saat bahu langsing Yukinoshita gemetar, rambut hitam panjang berkilaunya berayun.
Aku segera menatap atap, menarik mundur tubuhku dan membuat jarak. Sesaat itu, aku bisa merasakan sakit dari lukaku.
“... Ahh, terima kasih.”
“... Tidak apa-apa. Bukan masalah.”
Setelah aku mengatakan rasa terima kasihku untuk mengubah suasana, Yukinoshita mengatur posisi duduknya dan memalingkan wajahnya.
Saat itu, UKS menjadi sangat sunyi.
Karena tidak ada kerjaan, aku melihat perban yang diikatnya tadi. Saat melihatnya, simpul perban itu diikat berbentuk pita kecil... Jadi maksudnya dia bilang “selesai” itu ini, hah? Bukankan seharusnya ada penjepit logam untuk mengencangkan perbannya? Gunakan itu. Apa-apaan dengan pita ini...? Ini sangat lucu.
Saat aku melihat pita itu, tanpa kusadari aku tersenyum. Yukinoshita memiringkan kepalanya melihat tindakanku yang aneh.
Saat ini, aku merasa ingin bertanya padanya.
“... Hey. Apa aku boleh bertanya program jurusan yang akan kamu ambil?” tanyaku.
Yukinoshita mengehmbuskan napas seperti sedang kebingungan. Tangan yang tadinya memegangi dahinya untuk berpikir, turun dan terhenti di dadanya.
“Aku ada di jurusan Ilmu Sosial Internasional, jadi memilih Ilmu Sosial maupun SAINS bukanlah masalah...”
“... Itu benar. Aku hanya ingin menanyakannya. Tidak usah terlalu memikirkannya.”
Itu adalah jawaban yang kurang lebih sudah kubayangkan, tapi, meski begitu, aku merasa puas, meskipun itu hanya kepuasan pribadiku.
Aku mengatakan hal itu untuk mengalihkannya, tapi Yukinoshita meletakkan tangan di pangkuannya dan menatapku dengan sedikit menunduk.
“Ini pertama kalinya kamu bertanya sesuatu seperti itu, kan?”
“Benarkah?”
Aku tahu itu, tapi aku bersikap seolah tidak mengetahuinya.
Selama ini, ada banyak kesempatan untuk menanyakan tentang hal pribadi seperti itu, tapi aku sudah membuat garis yang takkan aku lewati. Itu karena aku pikir aku takkan pernah bisa dimaafkan jika aku melakukannya.
Yukinoshita batuk kecil seakan kesulitan untuk mengatakannya lalu menatap mataku dengan lirikan pengamatan. “... Saat ini, aku memilih Ilmu Sosial.”
“Begitu.”
“Ya. Itulah kenapa... untuk sementara, kita semua akan bersama.” Kata Yukinoshita sambil tersenyum. Itu adalah senyuman seperti gadis kecil yang akan pergi bertamasya.
“Yaah, aku pikir begitu, jika sebatas tentang pilihan jurusan.”
Aku memilih Ilmu Sosial dan tidak diragukan lagi begitu pula untuk Yuigahama.
Seberapa besar makna dari jurusan itu, aku tidak tahu. Sudah pasti, kita semua akan terpisah ke berbagai tempat dan dunia yang berbeda. Seperti kelompok tiga orang teman masa kecil yang tidak bisa terus bersama. Seiring berjalannya waktu, semua hal pasti akan berubah.
Yang tidak berubah hanyalah kenyataan masa lalu. Yang mungkin terikat pada tanggung jawab, tapi mungkin juga ada sesuatu yang bisa menjaga sesuatu agar tak berubah. Asalkan satu langkah itu membekas, maka itu sudahlah cukup.
“Baiklah, aku akan kembali ke kelas sekarang.”
“Ok, sampai jumpa lagi.”
Bersamaan dengan jawaban singkatnya, dia sedikit mengangkat tangannya dan melambaikannya dengan canggung seperti biasanya. Aku mengangguk padanya dan memegang pintu UKS.
Lalu pintunya bergetar. Penasaran apa karena terpaan angin, aku membuka pintu itu dan seseorang berdiri di depanku.
“Whoa... Bikin kaget saja...”
Dadaku bergejolak melihat sosok yang tiba-tiba muncul tapi aku menahannya. Orang yang di depanku adalah Yuigahama Yui dan ekspresinya juga tegang, berkata dengan tergagap.
“... Ah, Hikki.”
“Yuigahama... Apa kamu baru saja datang?”
“Eh, ah, yeah. Yeah, itu benar! Aku baru saja mau mengetuk pintunya...”
Saat aku bertanya padanya, sepertinya rasa kaget dari tadi membuat responnya lambat, dia menjawabnya dengna panik. Lalu dia sedikit menutup matanya, mengatur napasnya, lalu mengangkat wajahnya.
“Yukinooon! Maaf karena aku terlambat!” Dia mengatakannya dengan keras dan masuk ke dalam UKS lalu duduk di depan Yukinoshita. Yukinoshita sedikit terlihat bingung tapi segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Yuigahama.
“Tidak masalah. Aku juga tidak bosan.”
“Okay, untunglah... Ah, oh ya. Hikki, kemarilah, dengan begini rasanya lebih baik.”
Yuigahama menatapku dan memintaku untuk kesana dengan tangannya.
Yaah, aku tidak bisa membiarkan pintunya terbuka seperti ini. Ruangan ini dan lorong hanya terpisahkan oleh sebuah dinding, tapi lorongnya terasa sangat dingin.
Aku memasuki UKS lagi dan aku diselimuti oleh suasana hangat. Yuigahama menggeser kursinya mendekati Yukinoshita, duduk di dekat pemanas ruangan, sumber kehangatan.
“Kita harus memberitahu Yumiko hari ini tentang permintaannya, kan? Tapi setelah ini juga akan ada pesta dan sepertinya Yumiko akan langsung kesana. Apa yang harus kita lakukan?”
Berkebalikan dengan Yuigahama yang berbicara dengan cepat, Yukinoshita memegangi dahinya dan mulai berpikir.
“... Kalau begitu, di perjalanan pulang, sepertinya kita harus menemui Miura-san untuk berbicara dengannya.”
“Sepertinya begitu.”
“Setidaknya katakan kalau kalian akan datang ke pesta!” Yuigahama berteriak sedih.
Yukinoshita dan aku saling bertatapan. Kami berdua sudah terbiasa dengan keadaan ini. Lalu kami berdua mangangguk dan berkata bergantian.
“Baiklah, jika kami bisa pergi, kami akan pergi.”
“Ya, kita akan menentukannya sesuai keadaan di lapangan.”
“Pada akhirnya, kalian berdua tetap tak ingin pergi, kan!?”
Setelah menghembuskan napas panjang kelelahan, dia berkata dengan tenang.
“Okay, yaah, tapi, dibanding sebelumnya, aku pikir sekarang ini lebih baik...” kata Yuigahama, lalu dia berpindah tempat duduk ke samping Yukinoshita.
“Baiklah, ayo kita pergi bersama...! Semuanya... bersama.” Dia mengulangi perkataanya dan mendekat pada Yukinoshita.
“... Sangat sesak.” Yukinoshita merengut seakan pemanas di depannya adalah penyebabnya. Tapi dia tidak memaksa Yuigahama untuk melepaskannya dan membiarkannya tetap seperti itu. Yuigahama sepertinya juga tidak berniat untuk berpindah dari situ. Di depan pemanas ruangan, dia mulai memperlihatkan ekspresi nyaman dan bahagia.
Aku sangat yakin kalau suster sekolah akan segera kembali dan mengusir kami semua...
Yaah, sebelum itu terjadi, aku pikir aku juga akan tetap di ruangan yang hangat ini.

×   ×   ×



[1] Love Live –  catchphrase milik Yazawa Nico.

Oregairu Jiid 10 Bab 7 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

6 komentar:

  1. thx gan.. Ditunggu lagi chapter selanjutnya hehe :D

    BalasHapus
  2. makasih min.... tetap semangat ngelanjutinnya

    BalasHapus
  3. Uaaaaaaaahh hikki yukinon

    Tetp smangat senpai. Lanjutkan

    BalasHapus
  4. Uaaaaaaaahh hikki yukinon

    Tetp smangat senpai. Lanjutkan

    BalasHapus
  5. NQ :Hooo, konon katanya obat yang bagus terasa lebih pahit, kan? Jangan harap aku akan mempercayainya. Jika merasakan pahit saja sudah cukup, bukankah itu berarti kehidupanku adalah kehidupan yang terbaik? :ngakak guling":

    Flag Hachiman-kun dgn yukino-chan berkibar kibar XD
    Yurigahama poin semakin tinggi lol

    Sankyu translatenya h-kim sensei . . . Di tunggu chap slnjutnya :all hail Hachiman-kun XD:

    BalasHapus
  6. aah, haciman,,
    flag mu bagaikan neraka yg bakal ada di ujung,
    pilihan cuma 2, tp bakal bikin neraka untuk mu,
    semoga jatuh ke salah satu pilihan


    semangat terus KimiNovel :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.