23 Mei 2015

My Dearest Jilid 1 Chapter I


MY DEAREST
JILID 1 CHAPTER I
PENGAKUAN

Bagian Pertama
Seorang lelaki terlihat berjalan di daerah gurun pasir yang sangat luas. Sudah terlihat jelas kalau suhu di tempat tersebut benar-benar sangat tinggi. Serangan terik matahari yang panas bersamaan dengan hamparan pasir yang sangat panas menyerang tubuh lelaki yang masih muda tersebut.


Dia hanya terus berjalan dengan wajah yang kelelahan, keringat yang bercucuran deras, dan  pandangan yang cukup lelah. Sesekali juga dia melirik ke kanan dan ke kiri mencari seseorang.


Seberapa lama pun ia berjalan, hamparan pasir tersebut tidak pernah berubah, dia seperti terus berputar-putar di tempat yang sama.


Dia terus melangkahkan kakinya hingga terlihat gadis berambut twintail merah muda yang tidak jauh dari tempat lelaki tersebut berpijak. Lelaki tersebut menghentikan langkahnya dan melihat gadis tersebut yang membalikkan tubuhnya dari dirinya.


“Hey kamu!!” teriak lelaki tersebut mulai berjalan menghampirinya, menghampiri gadis yang tidak ia kenal tersebut.


Saat lelaki tersebut mulai berjalan, gadis itu pun mulai ikut berjalan kembali menjauhi lelaki tersebut.


“Hey kamu tunggu!! Aku memanggilmu!!”


Gadis tersebut malah menghiraukannya, dia terus berjalan menjauhi lelaki yang mengejarnya tersebut.


Sang lelaki mulai berlari cepat mengejar gadis tersebut, wajahnya terlihat kesal karena telah diabaikan beberapa kali olehnya. Sambil terus berlari, sambil terus memasang wajah yang tidak senang, lelaki tersebut mulai berteriak.


“Aku bilang tunggu!!”


Meski lelaki tersebut sudah menaikkan tempo larinya, jarak di antara mereka tidak pernah berubah sedikitpun, seolah-olah mereka sudah ditakdirkan untuk tidak bertemu satu sama lain.


Bruakk....!!


Lelaki tersebut terjatuh di atas hamparan pasir karena kelelahan, dia menutup matanya lalu membuka matanya kembali. Penglihatannya telah kembali ke dunia asalnya, dia tersadar kalau dia hanya bermimpi.


Sambil memegang kepalanya yang masih sedikit pusing, dia mulai bergumam penasaran dalam hatinya, “apa maksud mimpi tadi!?”


“Anggela, cepat turun ke bawah!!”


Terdengar teriakan seorang gadis yang cukup keras dari bawah, nada teriakan gadis tersebut terdengar seperti sedang kesal. 


Anggela, lelaki yang baru bermimpi tadi mulai turun dari kasurnya sambil membalas teriakan gadis tersebut., “iya Kak! Aku turun sekarang!”


“Cepatlah!! Apa kamu mau kesiangan sekolah!? Ini sudah hampir jam delapan!!”


“Iya iya Kak! Aku baru mau mandi sekarang,” teriak kesal Anggela, dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya, dia mengambil sebuah handuk yang dekat dengan pintu dan lekas membuka pakaiannya.


Seperti lelaki pada umumnya, Anggela tidak lama dalam membersihkan badannya. Dia berjalan cepat menuju lemari dengan kondisi tubuh yang masih telanjang bulat. Handuk yang sebelumnya ia ambil sepertinya hanya berfungsi untuk mengeringkan tubuhnya yang masih basah.


Setelah itu dia memakai seragam berwarna putih dengan lambang sains berbentuk segi delapan. Saat dia hendak membuka pintu kamarnya dan berniat turun ke bawah, terdengar lagi teriakan seorang gadis dengan nada semakin kesal.


“Anggela, mau sampai kapan kamu diatas!? Ini sudah jam setengah sembilan!! Cepat turun atau Kakak akan menghancurkan kamarmu sekarang!!”


“Berisik Kak!! Aku sudah turun!!” teriak kesal Anggela sambil membuka pintu, dia berlari cepat menuruni tangga dan melihat seorang gadis yang sudah berdiri di anak tangga paling bawah.


Rambut lurus hitam panjang, kulit putih hampir seputih salju, mata berwarna biru tua, dan tubuh yang sangat rampinglah yang Anggela lihat saat itu. Gadis yang sedang memasang wajah kesal pada Anggela saat ini adalah Kakak kandungnya, Keisha.


Dia benar-benar menatap tajam Anggela sambil membawa sebuah sendok sayur di tangan kanannya.


“Aku sudah turun –“


“Cepat makan!!” teriak kesal Keisha menunjuk ruang makan, tatapannya tetap tajam menatap Anggela.


“Ba-baik ....” Anggela terlihat ketakutan sambil berjalan menuju ruang makan.


Mereka mulai memakan sarapannya, mulai melakukan kembali aktivitas pagi seperti biasanya.


Lalu setelah melakukan hal tersebut, Keisha bersiap-siap berangkat bekerja sebagai ketua petugas keamanan, sedangkan sang adik masih duduk di bangku sekolah dan berniat berangkat yang sudah hampir kesiangan.


Anggela seperti biasanya berangkat ke sekolahnya dengan berjalan kaki sendirian, dia terus berjalan hingga di tengah perjalanan dihentikan oleh sekumpulan siswa yang tidak ia kenali.


Siswa tersebut berjumlah tiga orang, salah satunya memiliki tubuh yang besar menghadang Anggela.


“Ada keperluan apa?” tanya Anggela.


“Berikan uangmu jika kamu ingin lewat …,” jelas salah satu siswa terlihat mengancam.


“Maaf, tapi aku tidak punya uang untuk diberikan padam –“


“Jangan bercanda bocah!! Apa kamu mau kupukul hah!?” teriak mengancam dari siswa yang bertubuh besar.


“Bocah, bukankah kamu juga masih bocah …,” gumam Anggela dalam hati, dia terlihat memejamkan matanya.


“Cepat beri –“


“Maaf aku sedang buru-buru, jadi permis –“ Anggela mulai melangkahkan kakinya kembali dan berniat melewati siswa besar yang menghadangnya, tapi.


BUAKKK!!!


Seketika perut Anggela ditendang oleh siswa yang bertubuh besar, Anggela terjatuh sambil memegang perutnya.


“Sialan, jika saja aku bisa menggunakan kemampuanku, akan kubinasakan kalian semua …,” gumam Anggela menatap tajam ketiga siswa yang mengelilinginya.


“Orang lemah sepertimu tidak diperkenankan untuk sombong, dasar kakek tua!” ejek siswa lainnya yang bertubuh kecil.


“Nah sekarang cepat berikan uangmu!” jelas lelaki bertubuh besar, dia mengangkat kerah Anggela dan bersiap memukul wajahnya.


Saat pukulannya melayang ke arah Anggela, tiba-tiba pukulan lelaki tersebut terhenti seketika karena mendengar teriakan kesal seorang gadis di belakang mereka.


“Hey berandalan tak berotak!!”


“Hah…?” lelaki bertubuh besar melirik gadis yang berteriak ke arah mereka.


“Kalau dia gak mau ngasih uang, udah jangan maksa lah!” kesal gadis tersebut menatap para siswa berandalan.


“Hah apa hubungannya denganmu jika kami memeras pengecut ini?!”


“Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya, bahkan aku tidak tau namanya …,” jelas gadis tersebut melirik Anggela.


“Lalu kenapa kamu ikut campur?! Apa kamu ingin berlagak menjadi pahla –“


“Mengganggu…” geram kesal gadis tersebut memejamkan matanya.


“Kalian semua mengganggu pemandangan semua orang!! Lihat semua orang menjadi risih karena kelakuan kalian!!” lanjut gadis tersebut berteriak.


“Siapa kamu berani menceramahi kami hah!?” Kelompok gerombolan tersebut mulai berjalan menghampiri gadis tersebut, kini gadis tersebut telah dikelilingi oleh siswa berandalan yang sebelumnya menyerang Anggela.


“Si-siapa aku…?” Gadis berambut hitam panjang itu terlihat sangat kesal, dia memejamkan matanya seakan sedang menahan murka.


“Iya siap –“


“Dasar sampah!! Kalian tidak kenal siapa aku!?” teriak kesal gadis tersebut kembali membuka matanya, dia menatap tajam siswa bertubuh besar.


“Hah!? Aku tidak mengenali orang seper –“ Lelaki bertubuh besar terlihat bersiap-siap memukul gadis tersebut, tapi.


“Tu-tunggu…” jelas siswa yang terlihat lebih kecil menghentikan temannya yang ingin memukul, dia melihat gadis tersebut secara seksama.


“Hooo kenapa berhenti,” senyum sombong gadis tersebut.


“Rambut hitam bergelombang, mata coklat yang kental….tidak salah lagi orang ini adalah dia….” jelas siswa yang melihat gadis itu secara seksama, dia berjalan mundur seakan ketakutan.


“Dia?! Siapa dia yang kamu mak –“


“Ap-apa kamu bodoh!? Dia adalah salah satu putri bangsawan di HoK, Shina Shilvana!!”


“Putri?! Maksudmu Kineser tingkat 3 itu?!”


“Ya, se-sebaiknya kita pergi! Aku tidak mau berurusan dengan para bangsawan seperti dirinya… kepalaku menjadi taruhannya tahu!” jelas siswa bertubuh kecil, dia berlari menjauhi gadis tersebut.


Teman-temannya pun ikut berlari menjauhi dirinya ketika mereka tahu sebenarnya siapa gadis itu sebenarnya.


Kini Anggela mulai berdiri dan berjalan pelan ke arah gadis bernama Shina itu, dia tersenyum dan berniat mengucapkan terima kasih.


“Terima kas –“


“Hmph…. Ini sebabnya aku membenci orang lemah…” sinis Shina melihat Anggela, dia membalikkan badan dan berjalan cepat menuju sekolah terkenal yang bernama HoK.


Anggela mulai berjalan mengikuti Shina karena tujuannya yang sama, dia terus berjalan sambil memegang dadanya bukan perutnya. Perasaan di dadanya terasa amat sakit daripada perutnya, jantungnya seakan berdetak kencang, wajahnya terlihat memerah sambil memandang Shina yang berjalan di depannya.


Waktu berlalu sangat cepat, jam istirahat yang diharapkan para siswa datang dengan sangat cepatnya.


Anggela yang sedang melamun karena kejadian pagi tadi dihancurkan pikirannya oleh tepukan keras dari sahabatnya, Hizkil.


Hizkil menepuk keras punggung Anggela sambil berkata.


“Pagi Nggel!”


“AH!” Anggela cukup terkejut karena tepukan keras sahabatnya.


“Hahahahaaha!!!” Hizkil hanya tertawa karena reaksi langka yang diberikan Anggela, dia terlihat sangat senang melihat Anggela yang pendiam memasang wajah terkejut ketakutan seperti itu.


“Berisik! Itu tidak lucu lagipula ini sudah hampir siang!”


“Ya ya maaf, jadi ayo kita pergi makan siang!”


“Ya ….” Anggela dengan malas sambil berdiri dari bangkunya, dia berjalan keluar kelas sambil mendapatkan tatapan sinis dan tajam dari semua teman sekelasnya.


Seperti biasanya mereka berdua membeli makanannya di kafetaria, lalu akhirnya mereka memakan makanannya di atas atap bersama.


Saat mereka sedang memakan makanannya, Hizkil sang sahabat terlihat penasaran melihat Anggela yang bersikap aneh tadi di kelas.


“Nggel, kamu udah punya gadis yang kamu incar?” tanya Hizkil lalu meminum air mineral yang ia beli tadi.


Dengan nada datar sambil memakan roti coklat kesukaannya, Anggela menjawab.


“Udah.”


“Burkgh ohok ohok!!!” Hizkil terlihat kaget dengan jawaban singkat Anggela, karena yang dia tahu sebelumnya Anggela tidak pernah tertarik pada seorang gadis dan lebih fokus mencari tahu tentang ingatannya yang hilang.


Anggela hanya melirik Hizkil dengan sinis seolah merasa terganggu dengan reaksi tekejutnya.


“Si-siapa siapa!!? Siapa orangnya Nggel!?” Hizkil terlihat sangat antusias.


“Udahlah, kayaknya aku udah gak punya harapan sama dia dan kayaknya juga dia gak tertarik sama aku..”


“Siapa dia –“


“Shina Shilvana, kelas X-A,” wajah Anggela memerah sambil mengalihkan pandangannya.


“Shi-Shina!? Maksudmu putri bangsawan grade B itu!?”


“Ya dia orangnya…” senyum Anggela sambil mulai berdiri.


“Aku tidak menyangka kalau tipe gadismu seperti itu.” Hizkil terlihat khawatir berpikir.


“Sudah kuduga kalau aku kurang pantas untukny –“ senyum Anggela mulai berjalan.


“Tidak, justru sebaliknya Anggela …”


“Hm?” Anggela menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Hizkil.


“Aku sering mendengar rumor buruk tentangnya, menurutku dia yang kurang panta –“


“Rumor bukan berarti kebenaran, itu mungkin hanya gosip yang sengaja dibeberkan tanpa kebenaran yang nyata,” senyum Anggela berjalan kembali.


Hizkil hanya tersenyum memejamkan mata, dia mulai berdiri sambil bergumam dalam hatinya.


“Seperti biasanya yah, kamu memandang positif suatu hal…”


“Tapi Nggel, kalau kamu suka, kamu harus segera ungkapin perasaan kamu. Kamu harus agresif!” jelas Hizkil lalu berlari mengejar Anggela.


“Kenapa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku kurang pantas untuk –“


“Tidak, kamu bahkan sangat pantas untuk dirinya! Aku yakin itu …,” senyum Hizkil menepuk pelan punggung Anggela.


“Ya mungkin aku harus lebih percaya diri,” senyum Anggela melihat Hizkil.


“Ya, kamu harus lebih percaya diri …,” senyum Hizkil pada Anggela, tapi sayang senyumannya terlihat berbeda dari sebelumnya, senyumannya seolah menyembunyikan kesedihan yang cukup dalam.


“Kenapa wajahmu terlihat tidak se–“


“Tidak, bukan apa-apa …,” jelas Hizkil sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Begitu ….” Anggela terlihat curiga pada Hizkil.


“Tenang Nggel, aku akan membantumu untuk mendapatkan Shina.”


“Ya terima kasih ….”


Ketika istirahat kedua datang, terlihat Hizkil yang berjalan menghampiri kelas Shina, dia berniat meminta nomor Handphone Shina untuk diberikan pada Anggela.


Tapi sayang Shina menanggapi hal tersebut dengan mengira kalau Hizkil lah yang sedang mencoba mendekatinya. Alhasil Shina ini menjadi senang bukan main, karena gadis populer seperti Shina ini ternyata menyukai Hizkil, lelaki yang cukup populer di HoK.


***


Bagian Kedua
Saat ini Shina masih belum mengetahui alasan Hizkil meminta nomor handphonenya. Dia masih menganggap kalau Hizkil lah yang sedang mencoba mendekati dirinya.


Setelah mendapatkan nomor handphonenya Shina, Hizkil lekas berlari ke arah kelas Anggela, X-B, dia berniat memberikan langsung nomor tersebut kepada sahabatnya.


“Nggel, sini!” teriak Hizkil dari luar kelas Anggela.


Semua orang di dalam kelas Anggela terkejut dengan teriakan Hizkil yang tiba-tiba, lalu setelah itu mereka lekas melirik sinis Anggela yang berdiri dari tempat duduknya yang terlihat diasingkan.


Anggela tersenyum melihat Hizkil sambil berjalan menghampiri sahabatnya tersebut.


“Ada apa?” jelas Anggela sambil menghentikan langkahnya di hadapan Hizkil.


“Aku udah dapat nomor Shina, nih!” jelas Hizkil sambil memberikan sepotong surat kecil, surat yang berisikan nomor handphone Shina.


“Se-serius!? Bagaimana kamu mend –“


“Jangan pikirkan masalah sepele seperti itu! Yang penting kamu harus hubungi dia nanti, ajak ketemuan, terus tinggal ungkapin perasaan kamu!”


“Ungkapin!? Emangnya segampang itu yah?” tanya Anggela keheranan.


Sambil memegang pundak Anggela, Hizkil menjawab.


“Coba aja dulu, siapa tau berhasil!”


“Kalau gagal?” tanya Anggela sambil melepas tangan Hizkil dari pundaknya.


Lalu dengan senyuman yang aneh, Hizkil menjawab. “Coba lagi!”


“Hah..?” respon datar Anggela.


“Bukan Hah heh hoh, kamu lakukan aja deh apa kata aku, pasti berhasil kok!” jelas Hizkil sambil pergi meninggalkan Anggela karena bel masuk sudah berbunyi.


“Ya ya ya…” jawab Anggela sambil masuk kembali ke kelasnya.


Di malam harinya dengan perasaan berdebar-debar Anggela akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada gadis yang ia sukai, Shina.


+++

Anggela    : Selamat malam, ini dengan Shina Shilvana dari kelas X-A bukan?

Shina                : Iya iya, ini pasti dari Kak Hizkil yah? :)

Anggela    : Enggak, bukan. Aku Anggela Dwiputra dari kelas X-B :)

Shina                : Oh cuman kamu ternyata, tau darimana nomor handphone aku?

Anggela    : Dari temen aku ahahaha, kamu lagi ngapain?

Shina                : Makan!

Anggela    : Oh lagi makan yah. Besok, lebih tepatnya pas istirahat pertama kita boleh ketemuan di belakang halaman sekolah gak? Ada sesuatu yang mau aku omongin :)

Shina                : Penting gak? Kalau enggak penting, aku males ah..

Anggela    : Penting kok, mau yah?

Shina                : Ya udah deh, tapi jangan lama-lama

Anggela    : Ok :D

+++


Malam yang penuh debar bagi Anggela telah berlalu, kini dia terbangun dengan wajah ceria yang belum ia tunjukkan sebelumnya. Dia bangun lebih cepat dari biasanya, turun dari kamarnya dan membantu sang Kakak untuk membantu pekerjaan rumah.


“Apa yang terjadi denganmu Anggela …,” senyum Keisha keheranan melihat Anggela yang menyapu lantai.


“Tidak, bukan apa-apa …. Aku hanya merasa bersalah karena selalu menyusahkan Kak Keisha…”


“Ahahahahaha, benar-benar tidak seperti kamu yang biasanya.” Keisha tertawa pelan sambil merapikan piring yang baru ia bersihkan tadi.


“Apa ada hal yang baik terjadi kemarin?” senyum Keisha melihat Anggela.


“Tidak ada Kak hahahaha .…” Anggela tertawa bahagia sambil menyimpan sapu pada tempatnya.


“Ya sudah, sekarang kamu mandi, biar Kakak yang menyiapkan sarapan.”


“Tapi aku berniat –“


“Bukankah tidak ada gunanya jika kamu masih terlambat, cepat mandi sana …,” senyum Keisha memejamkan mata.


“Makasih Kak!” jelas Anggela lalu berlari ke kamarnya, dia terlihat bersiap-bersiap untuk berangkat sekolah.


Sambil memasak untuk sarapan, terlihat Keisha yang tersenyum sedih sambil bergumam pelan dalam hatinya, “Syukurlah kamu sudah baikan, Anggela ….”


Biasanya Anggela hanya berjalan malas untuk pergi ke sekolahnya, tapi hari ini dia tidak seperti biasanya.


Anggela mulai berlari ke arah sekolah dengan perasaan senang, perasaan gembira, perasaan damai seolah dunia telah berubah untuknya, untuk Anggela yang sedang jatuh cinta.


Waktu berlalu sangat cepat hingga sampai istirahat pertama yang dinantikan oleh Anggela, selama pelajaran berlangsung dia tidak dapat berkonsentrasi dan terus memikirkan Shina, terus memikirkan pertemuannya nanti dengannya.


Ketika bel berbunyi keras, Anggela lekas berjalan cepat keluar kelas, berjalan ke tempat pertemuannya dengan Shina.


Dia menunggu cukup lama hingga mereka berdua akhirnya bertemu.


Ya, saat ini mereka berdua saling berhadapan, hanya wajah Anggela saja yang terlihat gugup saat itu.


“Jadi apaan yang mau diomongin sama aku…?” tanya Shina memalingkan wajah.


“An-anu kamu masih ingatkan waktu aku diperas sama siswa berandalan itu..”


“Ohh itu, ya aku ingat, memangnya kenapa?”


“Saat itu kamu nolongin aku, jadi aku belum sempet bilang terima kasih sama kamu.”


“Ya sama-sama, terus? Udah gitu doang? Gak penting banget ...,” sinis Shina melirik Anggela.


“Te-terus juga sejak saat itu aku udah mulai suka sama kamu, mau gak jadi pacar aku?” tanya gugup Anggela dengan muka yang semakin memerah.


Dia menuruti apa yang Hizkil katakan dengan langsung mengungkapkan perasaannya pada Shina.


“Haaah?! Kamu?! ”jawab Shina sambil memandang rendah Anggela.


“Iya,” jawab Anggela tersenyum.


Tiba-tiba muka Shina berubah dari yang tadinya memandang rendah Anggela, menjadi tersenyum licik sambil melihat Anggela dari kaki sampai kepala secara teliti. Dia berkata dengan nada sedikit sombong.


“Ok, aku mau jadi pacar kamu kok."


"Be-beneran?" tanya Anggela terkejut seakan tidak percaya.


"Iya, emm besok kan hari minggu, jadi kita besok date yah? Aku tunggu di depan sekolah kita, ” tanya Shina tersenyum sambil meninggalkan Anggela.


“Bo-boleh,” jawab Anggela sambil melihat Shina yang berjalan pergi.


Anggela berjalan menuju kelasnya karena bel masuk telah berbunyi, dia seakan masih tidak percaya kalau Shina menerima pernyataannya. 


Suasana hatinya saat itu benar-benar sangat baik, dia tidak bisa merubah raut wajahnya yang terus tersenyum bahagia.


Selama pelajaran berlangsung pun dia hanya memikirkan bagaimana rencana date-nya dengan Shina nanti. Karena hal tersebut lah dia tidak konsentrasi pada pelajaran dan tanpa dia sadari kelas telah berakhir, dan memasuki jam istirahat kedua.


Pada jam istirahat kedua tersebut, Anggela pergi ke kafetaria untuk mengisi perutnya, disana dia bertemu dengan sahabatnya Hizkil yang sedang bersama dengan teman-temannya.


”Anak populer memang terlihat berbeda yah,”  gumam Anggela tersenyum dalam hatinya.


Dia lekas pergi menjauhi Hizkil karena takut menghancurkan suasana, tapi saat Anggela akan pergi meninggalkan kafetaria tersebut dia terlebih dahulu terlihat oleh Hizkil. Alhasil Hizkil pun mulai berteriak memanggil dirinya, berteriak hingga membuat semua orang di kafetaria tersebut terkejut.


“Anggela! Woi!” Hizkil berlari menghampiri Anggela.


“Ap-apa?” Anggela terlihat gugup karena mendapatkan tatapan cukup tajam dari semua pengunjung kafetaria.


“Nggel kamu udah sms si Shina?” 


“Ud-udah,” jawab Anggela tersenyum.


“Ka-kamu tersenyum? Langka banget? jangan-jangan kamu udah jadian sama si Shina.”


“Iya ahahaha,” jawab Anggela diikuti dengan tertawa kecilnya.


“Woah aku turut senang, selamat yah!!” Hizkil ikut tersenyum bahagia.


“Ahahaha, tapi ini semua berkatmu, thanks yah.”


“Enggak, aku tidak berbuat banyak kok, ini semua karena dirimu sendiri.”


“Justru kamu lah yang udah ngedorong aku sampai sejauh ini.”


“Ahahahaha ya sudah jika kamu memang berpikir seperti itu.”


“Hmm, kamu udah ajak dia date belum?” lanjut Hizkil bertanya penasaran.


“Udah, malahan dia yang ngajak date.”


“Ehh seriusan?? Masa?” Hizkil terkejut lalu diikuti dengan memasang wajah curiga.


Anggela hanya merespon perkataan Hizkil dengan anggukan kepalanya.


“Ohh gitu, kamu mau kemana sekarang?” lanjut Hizkil bertanya.


“Toilet.”


“Bagus kebetulan, aku juga mau kesana,” jelas Hizkil tersenyum.


“Pembohong.” Anggela lalu kembali berjalan.


“Seriusan aku juga mau ke toilet, ahahaha,” jelas Hizkil diakhiri dengan tertawaannya.


Pada saat itu Anggela merasa sangat bahagia karena sudah bisa hidup sampai saat ini, dia akhirnya bisa merasakan rasa cinta. Hubungan ini merupakan pengalaman pertama baginya, dia pun mulai menyadari betapa indahnya orang yang sedang jatuh cinta.


Tapi kebahagiaan itu hilang dalam sekejap saat dia pergi ke toilet bersama Hizkil. Dia tidak sengaja mendengarkan percakapan Shina dengan temannya Eliza di dalam toilet perempuan.


***

My Dearest Jilid 1 Chapter I Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.