10 Mei 2015

Danmachi Jilid 1 Prolog

PROLOG
Salahkah Aku Berharap Sebuah Pertemuan di dalam Dungeon?


Kira-kira ada banyak dungeon yang tak terhingga jumlahnya dengan banyak sekali tingkat. Di dalamnya ada berbagai macam monster buas.
Aku, bersama dengan banyak petualang yang mencari popularitas dan keberuntungan dan membahayakan nyawa sendiri, mendaftarkan diriku di guild, kemudian memulai petualanganku.
Dengan sebuah pedang di tanganku yang akan dengan cepat muncul. Lalu pada akhirnya, aku akan bertemu dengan seorang gadis yang sedang diserang oleh monster-monster itu.
Endless Screams. Raungan monster buas. Tepat pada waktunya, mendadak suara pedang tajam yang tangkas membelah udara muncul.
Monster itu telah dikalahkan. Yang tersisa hanya seorang gadis cantik yang masih terduduk di tanah, sedangkan aku berdiri dengan gagahnya.
Kedua pipinya mulai sedikit memerah, dan di dalam mata indah yang menangis itu, apa yang tampak adalah hanyalah diriku. Sedikit rasa cinta akan tumbuh dalam hatinya.
Suatu saat aku akan bicara dengan pegawai toko yang manis di sebuah rumah makan tentang kisah petualanganku hari itu, membangun hubungan yang lebih dekat.
Suatu saat aku akan melindungi seorang elf perempuan dari para petualang yang kejam.
Suatu saat aku juga akan memberikan bantuan kepada para kesatria Amazon saat mereka kesusahan, membangun sebuah kelompok bersama untuk berpetualang.
Suatu saat aku akan sangat dekat kepada seorang gadis, dan gadis lain yang menyaksikan itu akan cemburu.
Suatu saat Suatu saat Suatu saat Suatu saat……
Itu adalah jalan pemikiran yang sangat wajar bagi seorang anak laki-laki, yang tumbuh berambisi untuk sebuah petualangan heroik.
Ingin menjalin hubungan dekat dengan seorang gadis manis. Ingin berinteraksi dengan wanita cantik dari ras yang berbeda.
Memiliki semacam pemikiran yang mungkin tidak sopan dan kekanak-kanakan. Bukankah ini kepribadian yang wajar bagi seorang lelaki muda?
Tak bisakah aku mendapatkan sebuah pertemuan di dalam dungeon, koreksi, mencari sebuah harem, apakah ini benar-benar salah?
Kesimpulan:
Aku sepenuhnya salah.
“Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah”
“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaah”
Mungkin ini akibat untuk seorang petualang sepertiku yang memiliki pemikiran yang tidak sopan dan kekanak-kanakan. Aku, hampir mati.
Lebih tepatnya, aku saat ini sedang dikejar oleh seorang monster dengan badan manusia dan kepala banteng, seekor “Minotaur”.
Monster ini benar-benar kebal terhadap seranganku, yang cuma level 1. Aku hampir dimakan olehnya.
Aku memasuki sebuah jalan buntu. Benar, aku berada di pintu kematian.
Jadi ini takdirku karena terobsesi dengan sebuah delusi rendahan, menjadi makanan monster, aku seperti orang tolol.
Aku seperti orang tolol karena berharap sebuah pertemuan yang ditakdirkan.
Angan-angan menjadi orang kaya dan mendapatkan banyak istri dan selir sewajarnya hanyalah sebuah mimpi.
Baru saja ketika aku pertama kali mulai bersiap-siap dan mencari sebuah pertemuan di dalam dungeon di mana orang-orang yang tak terhitung jumlahnya meninggal setiap hari, aku sudah berakhir.
Ah, aku ingin segera kembali! Kembali ke saat itu dan memukul diriku sendiri, yang baru saja cukup umur dan menandatangani dokumen pendaftaran dengan mata berbinar-binar di guild.
Tak peduli dari segi fisik maupun segi nasibku, hal ini sudah tidak mungkin.
“Vuumun”
“Huh”?
Suara tapak kaki Minotaur.
Meski tak langsung menendang punggungku, setiap langkahnya menghantam bumi, bahkan lokasiku berdiri tetap terpengaruh oleh dampaknya.
Aku tidak dapat berdiri dan hanya bisa berguling di atas lantai dungeon.
“Fuuah”
“Uwaaaaah”
Aku bakal terduduk di atas lantai, saat hidupku berakhir tragis.
Harapan bertemu seorang gadis manis akan sepenuhnya hancur. Sepertinya sejak awal, aku tidak punya kemampuan untuk menjadi seorang pahlawan dari cerita dongeng.
Punggungku membentur dinding. Tidak ada jalan untuk mundur.
Monster itu melewati banyak jalan dan akhirnya berhasil mengejarku. Memojokkanku ke dalam ruangan berbentuk persegi ini.
(Ah…! Aku mati.)
Gigiku mulai bergeretak, air mata juga mengalir turun.
Kulitku dapat sepenuhnya merasakan nafas yang berat dan dalam dari Minotaur itu.
Aku mengangkat kepalaku dan memandangi badan berotot yang satu atau dua kali lebih besar dariku. Seperti sudah benar-benar menyerah, wajahku menunjukkan senyuman kecil yang benar-benar menjijikan.
——Pada akhirnya, aku tidak mengalami pertemuan dengan seorang gadis.
Saat otak tanpa penyesalanku mengeluarkan pemikiran yang tidak bisa diperbaiki ini yang mengantarkanku menuju kematian, Minotaur yang perlahan mengayunkan kakinya muncul di depan mataku.
Detik selanjutnya, sebuah garis muncul melewati tubuh monster itu.
“Eeeh?”
“Vuo”
Itu adalah suara dungu yang dikeluarkan olehku dan Minotaur.
Garis yang muncul itu tidak hanya melewati tubuh, tapi juga melewati dada tebal, kuku, lalu pergelangan tangan, kedua paha, badan bagian bawah, pundak dan akhirnya ke berikutnya, semua dalam sekali tebas.
Pada akhirnya, aku hanya bisa melihat cahaya keperakan.
Hasilnya, monster yang aku benar-benar tidak dapat kuhabisi, dengan mudah berubah menjadi seonggok daging.
“Gubuh?! Vuaaaaaaaah….”
Jeritan kesakitan menggema memenuhi ruangan sebelum kematiannya.
Mengikuti garis yang muncul tadi, tubuh Minotaur juga jatuh terpotong-potong. Bersamaan dengan darah terciprat keluar, cairan merah tua memancar keluar, setelah itu dia benar-benar roboh.
Darah yang sangat banyak terciprat ke badanku, layaknya aku sedang mandi. Aku benar-benar kaku membeku.
“Kamu baik-baik saja?”






Apa yang muncul setelah monster berkepala banteng tadi adalah seorang gadis yang mungkin dapat disangka sebagai seorang dewi.
Badan langsingnya dibalut oleh armor ringan berwarna biru.
Tungkai dan lengannya yang fleksibel, yang memanjang keluar dari dalam pakaiannya, juga cantik bersinar.
Meskipun badannya terlihat lembut dan langsing, menurutku dadanya sangat berisi. Mengenakan emblem pada pelindung dada peraknya, sarung tangan dan aksesorinya juga memiliki emblem yang sama. Darah menetes dari ujung pedangnya yang menunjuk ke tanah.
Rambut pirangnya memanjang ke bawah sampai kedua bahunya, memiliki kilauan yang tak kalah dengan harta karun emas yang berlimpah.
Selain memiliki tubuh yang perempuan lain akan cemburu melihatnya, dia memiliki wajah seperti bayi yang sangat imut yang semua orang bakal suka.
Warna kedua matanya, yang melihat ke arahku, juga berwarna emas.
(……)
——Seorang ahli pedang berambut pirang yang terbalut dalam armor berwarna biru dan mata berwarna emas.
Bahkan aku, yang cuma Level 1 dan seorang petualang yang amatir, tahu siapa orang yang ada di depanku.
Dia adalah petualang nomor satu dari <Loki Familia>.
Di antara manusia, tidak, bahkan di antara perempuan di semua ras, dia adalah satu dari yang terkuat sebagai Level 5.
<Putri Pedang> Aizu Wallenstein
“Hei… kamu baik-baik saja?”
Aku tidak baik-baik saja.
Aku benar-benar tidak baik-baik saja.
Bagi jantungku yang saat in terus berdegup seperti hampir pecah, kau tidak bisa mengatakan itu baik-baik saja.
Pipiku merona merah, dan mata penuh tangis yang melihat sosoknya, sedikit…tidak, rasa cinta yang kuat telah bangkit.
Pemikiran liarku jadi kenyataan, perannya terbalik, dan pemikiranku sudah mencapai puncaknya.
Pada saat itu, dia sudah mencuri hatiku.
Apakah meminta sebuah kesempatan bertemu di dalam dungeon itu salah?
Kesimpulan Ulang:

Aku yakin aku tidak salah.

Danmachi Jilid 1 Prolog Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.