23 April 2015

Oregairu Jilid 10 - Bab 4

Bab 4 : Meski begitu, Miura Yumiko merasa ingin mengetahuinya.


Keadaan sekolah setelah jam pulang terasa sangat dingin. Sudah beberapa hari berlalu sejak kami menerima pesan itu dan kami menuju lebih jauh ke musim dingin.
Meski saat siang cuaca di luar sangat cerah dan hangat, tapi suhunya akan segera turun dengan sangat cepat saat matahari terbenam.
Mengikutinya ada juga angin.
Angin laut musim dingin berhembus dengan babas tanpa terhalang satupun bangunan besar karena sekolah kami terletak di dekat pantai. Prefektur Chiba juga kebetulan adalah Prefektur terdatar seantero Jepang. Juga, Prefektur dengan sirkulasi udara yang sangat baik. Kebetulan, Chiba adalah Prefektur dengan banyak anak muda yang aktif di dalam rumah[1]. Apa-apaan ini? Ini terdengar seperti iklan permintaan pertolongan untuk perusahaan gelap[2]. Aku yakin kalau Chiba akan menjadi tempat pembibitan budak perusahaan, dan menjadi kota tempat tidur[3] untuk Tokyo. Sangat misterius!
Tapi, karena aku sudah menjadi penduduk Chiba selama Tujuh belas tahun, bahkan tubuhku sudah mulai terbiasa dengan angin yang dingin ini. Berkat itu, aku juga menjadi terbiasa dengan kekejaman kritik dari orang lain.
Sebuah angin yang cukup kuat berhembus semakin kuat lagi, jadi aku mengatur ulang kerah jaketku. Aku memfokuskan penglihatanku ke arah klub sepak bola dari kejauhan.
Aku menunggu klub sepak bola menyelesaikan kegiatan mereka dari dekat parkiran sepeda yang hampir terhalang oleh bangunan khusus.
Seperti yang telah dibicarakan sebelumnya, ini adalah untuk bertanya pada Hayama tentang Program Jurusannya. Aku sudah menghabiskan beberapa hari untuk mencari saat yang tepat, tapi belum bisa menemukan waktu dimana hanya kami berdua, aku memutuskan untuk mengawasinya dan menunggu sampai dia pulang dari klubnya.
Tapi, karena baru saja berada ruang klub yang hangat, aku sedang menahan dinginnya udara.
Aku menignggalkan ruang klub saat mereka mulai beres-beres sambil memperhatikan mereka  dari jendela ruang klub, tapi kelihatannya ini masih sedikit terlalu awal. Mereka masih melakukan peregangan.
Saat aku sedang menunggu, aku terganggu oleh dinginnya udara jadi aku sedikit jongkok ke lantai sampai lenganku bajuku tertarik.
Aku berbalik dan ada semacam pakaian berbulu berbentuk kucing sedang memegang kaleng kopi.
“Ini, terima ini.”
Dipanggil oleh seseorang , aku mengangkat wajahku, lalu aku melihat Yuikonshita memakai sarung tangan kucing sambil memegang kaleng MAX COFFEE. Jadi kamu memakai sarung tangan itu, hah...?
“Ohh, terima kasih.”
Aku dengan senang hati menerima kaleng itu. Sangaat hangaaat!  Sebagai penghangat tangan, aku menggenggam MAX COFFEE dengan kedua tanganku.
Yuigahama menggosokan kedua tanganya sedangkan Yukinoshita menempelkan sarung tangannya ke pipinya. Mereka berdua kemari untuk melihat keadaan, tapi sepertinya belum ada tanda Hayama akan muncul.
Aku menatap ke langit yang kelihatannya sudah cukup gelap seperti terkena tinta, lalu berkata “... Tak apa kalau kalian pulang duluan.”
“Tapi kami tak bisa membiarkanmu menangani semuanya sendiri...”
Yuigahama menjawabnya dan melihat ke arah Yukinoshita untuk meminta persetujuannya, Yukinoshita mengangguk.
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak, akan jauh lebih mudah bagiku untuk menanyakannya jka aku sendirian, mungkin. Bukanya itu akan semakin sulit baginya untuk mengatakannya kalau kalian juga ada disana? Meski aku juga tidak tahu.”
Mmebuat Yukinoshita menemui Hayama di tempat seperti ini dan jam segini bukanlah ide yang bagus. Kemungkinan besar gosip itu akan mulai membicarakan hal yang terjadi dan tidak terjadi. Karena itu, aku mengatakannya dengan agak tidak langsung.
Yukinoshita meletakan tangan di dagunya sebentar, lalu mengangkat wajahnya. “Jadi begitu... Yaah, ada benarnya juga.”
“Mmmm, tapi aku pikir memang lebih baik kalau aku saja yang menanyakannya.”
“Kalau begitu, maaf karena meyerahkan semuanya padamu...”
“Tidak, tak masalah. Kalau begitu jangan ganggu kami.” Mereka berdua melihatku dengan kahawatir, jadi aku menjawabnya dengan nada yang tegas.
Yukinoshita tersenyum. “Itu tak seperti dirimu, mengatakan sesuatu seperti itu.”
Begitu? Secara naluri aku tersenyum menghina diri sendiri dan mengangguk. Yuigahama mengatur tas di punggungnya, terlihat seperti sudah membuat keputusan.
“Okay, sampai jumpa besok.”
“Yeah, sampai jumpa besok.”
Aku sedikit melambaikan tanganku pada mereka saat merka berjalan menuju gerbang depan, lalu aku berbalik dan mengawasi klub sepak bola lagi. Mereka akhirnya berpindah dari lapangan menuju ke ruang klub mereka. Ah, sial. Itu benar, mereka berganti di ruang klub, hah? Oh, Apa mungkin mereka juga akan mandi dulu?  Aku belum pernah ikut klub olah raga, jadi aku kurang tahu tentang hal seperti ini...
Aku pikir lebih baik aku pergi kesana saja. Sambil meminum MAX COFFEEku sampai habis, aku bersandar ke tembok gedung sekolah baru yang berada tepat di samping rung klub.


×   ×   ×

 
Saat matahari sepenuhnya terbenam, udaranya terasa menjadi jauh, jauh lebih dingin. Meski begitu, aku masih mengawasi pergerakan mereka, menunggu dengan tidak sabar sampai mereka pulang.
Tapi udarabya benar-benar dingin... Meskipun mungkin ini untuk pekerjaan, tapi kenapa aku harus menunggu Hayama? Tak bisakah kita hanya bertanya pada roh penjaganya[4] daripada  bertanya langsung padanya dan pulang sekarang?
Jantungku sudah rusak. Tubuhku dingin dan kakiku kaku... Saat aku beridiri disana sendirian tanpa ada tanda-tanda seorangpun datang, aku pikir aku hampir mengaktifkan Reality Marble[5] atau semacamnya...
Tapi penantianku akhirnya terbayar. Anggota klub sepak bola mulai terlihat berjalan kearahku.
Tapi, Hayama tidak terlihat di kelompok itu. Kenapa dia tidak ada disana...?
Aku berdiri dan melihat ke sekitar. Lalu, aku memanggil seseorang di kelompok itu. Dia adalah Tobe yang memiliki rambut cokelat sehingga mudah dikenali meski dari kejauhan, dia terlihat seperti sedang dalam mood yang bagus.
“Ah, ya ampun? Bukankah ini Hikitani-kun. Ada apa?”
“Diamana Hayama?”
“Hayato-kun...? Ahh, sekarang dia sedang melakukan sesuatu.” Kata Tobe dan pandangannya melihat ke berbagai arah.
Aku mengikuti arah yang dilihatnya, tapi Hayama tidak terlihat dimanapun.
“Apa dia tidak disini?”
“Mmm, bukannya dia tidak ada disini. Dia disini, tapi, apa dia benar-benar ada disini?”
Perkataan tobe sangat ambigu dan tak jelas. Jadi yang mana? Ahh, Kamu benar benar menjengkelkan...
“Kalau dia tidak disini, ya, sayang sekali... Baiklah, aku mau pulang saja.”
Aku sedikit tidak puas kalau pulang dengan tangan hampa setelah menuggu selama itu, tapi jika sudah tidak ada yang bisa diperoleh, lebih baik aku segera pulang. Dalam berjudi, menghindari kekalahanmu adalah intinya. Hal itu juga bisa diterapkan dalam perjudain bernama kehidupan. Beneran, bukankah kehidupanku ini hanyalah rangkaian menghindari kekalahan yang tidak ada akhirnya?
Aku mengatakan salam perpisahanku pada Tobe dan berjalan menuju area parkir sepeda.
“...Ah!”
Aku pikir aku mendengar suara tobe dari belakangku, tapi aku mengabaikannya dan terus berjalan.
Lalu, di belakang gedung sekolah, aku melihat Hayama. Apa kamu bilang? Ternyata dia memang ada disini. Sepertinya dia menggunakan jalan yang menuju ke gerbang samping, bukan jalan yang menuju ke gerbang depan.
Aku berjalan beberapa langkah sambil berpikir bagaimana caraku untuk memulai percakapan, lalu aku tiba-tiba menghentikan langkahku.
Karena di tempat yang hampir tidak tersinari cahaya lampu, aku melihat seseorang selain Hayama.
Secera refleks, aku segera bersembunyi di balik tembok bangunan sekolah. Aku menempelkan tubuhku pada dinding, merasakan dingin di permukaannya.
Aku tidak tahu siapa yang sedang bersama Hayama, karena disana terlalu gelap. Tapi dari bayangannya, aku tahu kalau dia itu seorang gadis. Dan berdasar kata maafnya “Maaf, tiba-tiba memanggilmu kesini” serta beberapa bagian percakapan yang bisa kudengar, sepertinya dia satu angkatan dengan kami.
Gadis itu memekai jaket biru tua dengan syal merah. Dia menatap keatas Hayama dan sedikit mencondongkan tubuhnya, sambil menggenggam syal didadanya. Meski dari kejauhan, aku bisa tahu kalau bahunya gemetar karena gugup.
---Aah, jadi begitu.
Itu menjelaskan kenapa Tobe bertingkah sedikit mengelak.
Gadis itu menarik nafas pendek, lalu memegang kerah bajunya seperti sedang mempersiapkan diri.
“Um.. aku dengar dari temanku. Hayama-kun, apa benar kalau kamu sedang berpacaran dengan seseorang?
“Tidak, itu tidak benar.”
“Kalau begitu, maukah kamu...”
“Maaf, Untuk sekarang ini aku sedang tidak ingin memikirkan hal seperti itu.”
Suara mereka pelan, aku hanya bisa menguping pembicaraan mereka sampai di situ.
Tapi setelah itu, aku tidak bisa mendengar apapun lagi.
Aku yakin mereka sedang kehilangan kata-kata.
Tapi, entah bersuara atau tidak, aku bisa tahu.
Itu adalah perasaan putus asa, jauh dari perasaan tegang karena keadaan itu, dan juga jauh dari perasaan senang. Suasana mencekam yang terasa seperti dinginnya langit musim dingin adalah sesuatu yang belum lama ini aku rasakan.
Ini seperti kejadian antara Isshiki Iroha dan Hayama Hayato saat natal di Destinyland.
Tak lama kemudian, mereka terlihat sedikit berkata sesuatu, sepertinya kalimat perpisahan. Gadis itu melambaikan tangannya dengan lemah, berbalik, dan pergi.
Bahu Hayama sedikit turun saat memperhatikan kepergiannya. Dia menarik nafas panjang dan mengangkat wajahnya. Dan saat itulah dia menyadari keberadaanku.
Hayama tersenyum, bukan  karena malu maupun gembira, tapi hanya rasa penyesalan. “Sepertinya kamu melihatku dalam keadaan yang aneh.”
“Ah, yaah, itu lho... Maaf.”
Karena dia yang memanggilku duluan, aku kehilangan ideku. Karena itu aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang berarti. Tidak, bahkan jika bukan dia yang mengawalinya, pada akhirnya, aku masih belum tahu bagaimana aku harus memanggilnya. Aku bisa berkata sesuatu untuk menghiburnya kalau dia yang baru saja ditolak, tapi karena dia yang baru saja menolak, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Tapi, Melihat keraguanku, Hayama tersenyum. “Tak perlu khawatir. Semua anggota klub juga cukup perhatian padaku hari ini.”
Cara dia mengatakannya terdengar seperti hal ini sudah terjadi beberapa kali akhir akhir ini.
“Hah... Pasti sulit ya.”
Jujur saja itu bukan sesuatu yang perlu kukatakan. Aku tidak terlalu tertarik dengan kehidupan asmara Hayama Hayato ataupun iri pada perhatian yang diterimanya. Mungkin lebih baik jika aku menggodanya dengan melakukan lelucon, tapi sayangnya, kami tidak sedekat itu.
Tak lama kemudian, wajah Hayama berubah dan dipenuhi senyuman, seperti sedang menahan nafasnya, seperti sedang menahan rasa sakitnya.
Tapi dia segera sedikit menggelengkan kepalanya, tersenyum seperti biasanya, dan menunjuk ke area parkir sepeda dengan dagunya. Aku berjalan mengikutiya.
“Yukinoshita-san mungkin mengalami hal yang lebih buruk dariku.”
“Hah? Yukinoshita? Kenapa?” Secara refleks aku bertanya saat dia tiba-tiba menyebut namanya.
Tanpa menjawabnya, Hayama berkata. “Ada banyak orang yang seperti itu di luar sana, orang yang penasaran dengan kehidupan seseoarang. Mereka mungkin hanya penasaran, tapi ada juga orang yang merasa direpotkan olehnya.”
Dia mengataknnya  dengan nada yang lebih tajam dari biasanya. Aku tidak bisa mebayangkan kalau dia adalah orang yang selalu tersenyum lembut.
Tapi aku tahu kalau dia sedang membicarakan tentang rumor baru baru ini.
Aku yakin  alasan kenapa gadis tadi menembaknya adalah karena rumor yang beredar. Temannya pasti menggunakannya sebagai alasan untuk memicunya. Sama seperti yang terjadi akhir akhir ini.
Hayama melihat kearahku sambil berjalan. Wajah memelas dan alisnya yang sedikit turun, tersinari oleh cahaya lampu.
“Hal ini mungkin juga menyebabkan banyak masalah unutk Yukinoshita-san. Maaf, tapi, bisa kamu meminta maafakanku untuknya?”
“Lakukan sendiri?”
“Aku juga inginnya seperti itu, tapi bukan ide yang bagus untuk menemuinya sekarang... Jika aku melakukannya, pasti akan ada rumor baru yang muncul lagi. Jadi lebih baik biarkan saja.”
Dia terdengar seperti sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Sepertinya dia sedang mengingat kenyatan yang didapatnya dari bagian pengalamannya itu.
Dan mungkin, kenyataan itu bukan cuma dia yang mendapatkannya. Sepertinya Yukinsohita juga.
Aku tiba-tiba terhenti saat pemikiran itu terlintas di kepalaku. Tapi, entah bagaimana, aku berhasil melangkahkan kakiku lagi.
“Sepertinya kamu sudah terbiasa dengan ini... Apa hal ini juga pernah terjadi sebelumnya?”
“.... Oh ya, apa kamu perlu sesuatu dariku?”
Saat aku menanyaknnya, Hayama sedikit tersentak bahunya dan segera membahas hal lain. Itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui kalau dia tidak ingin membahasnya lebih jauh lagi.
Kalau begitu, itu adalah garis yang tidak boleh ku lewati. Dengan munculnya garis itu di hadapanku, aku membicarakan hal lain.
“Tidak, bukan hal penting. Aku cuma ingin menanyakan sesuatu... Seperti Program Jurusanmu atau semacamnya.” Kataku.
Hayama berkata pelan. “Apa karena itu?” lalu tersenyum kecut. “Apa seseorang memintamu melakukannya?”
“Tidak, yaah... Cuma untuk referensi.”
Aku tidak bisa mengatakan kalau Miura lah memintanya. Saat aku beridiri disana tanpa bisa menjawabnya, Hayama sedikit mendesah sambil berjalan.
“... Apa ini... Karena pekerjaan lagi?” kata itu diucapkanya dengan dingin dan agak terdengar seperti sedang menghina mereka. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku hanya bisa melihat genggaman kuat tangannya .“Kamu masih sama seperti bisanya.”
Kata yang diucapakanya bisa terdengar dengan jelas bahkan di keadaaan berangin ini. Kapanpun anginnya berhembus, besi di atap akan bebrunyi dan sepeda yang terabaikan akan menderik.
Bunyi itu sangat tidak menyenagkan, membuat nada jawabanku menjadi tajam.
“Aku penah bilang kan. Memang seperti itulah klub ini. Klub sukarelawan.”
“Begitu. Kalau begitu, apa aku bisa minta tolong sesuatu padamu?” Hayama mengatakannya dan berhenti. Dia berbalik menghadapku. “Bisakah kamu berhenti melakukan hal merepotkan seperti itu?”
Dia tidak tersenyum. Genggaman tangannya melemah dan suaranya monoton tanpa tekanan. Meski begitu, suaranya sedikit menggema di malam sekolah tanpa terganggu suara angin.
Karena  tidak ada yang bisa kukatakan untuk menjawabnya, kesunyian menyelimuti kami.
Tapi itu hanya bertahan sesaat.
Hayama segera tesenyum dan bertanya dengan nada mengejek, seperti sedang bercanda. “... atau semacamnya. Apa yang akan kamu lakukan jika aku menolakmu seperti itu?”
“Apa yang akan kulakukan...? Tentu saja aku akan memikirkannya saat itu terjadi.”
“... Begitu.”
Dari situ, kami tidak berkata apapun sampai kami mencapai depan parkiran sepeda. Hayama menghentikan langkahnya dan menunjuk ke arah gerbang samping.
“Aku akan pulang dengan mobil.”
“Oh, begitu. Baiklah”
Aku mengatakannya sebagai tanda perpisahan, tapi Hayama tidak bergerak.
Yang dilakuakannya hanya menatap ke langit.
Penasaran apa ada sesuatu yang terlihat di langit, aku juga melakukannya.
Tapi, yang bisa ku lihat hanyalah bangunan sekolah yang tersinar cahaya redup lampu dan cahaya yang terpantul oleh kaca jendela. Tidak ada bulan maupun bintang , hanya ada kilauan dari cahaya buatan.
Lalu, Hayama tiba-tiba berkata sambil mengingat. “Untuk pertanyaanmu sebelumnya, aku akan meyerahkan jawabanya pada imajinasimu. Aku tidak tahu siapa yang menanyakannya, tapi... jika kamu menetukan pilihanmu tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu, kamu pasti akan menyesalinya.”
Hayama pergi.
Dia pergi menuju ke kegelapan, area gelap dimana cahaya lampu tidak dapat mencapainya. Aku tahu kalau itu arah menuju ke gerbang samping, tapi, saat itu, aku tidak tahu dia sedang berjalan kemana.
Kata yang diucapkannya itu seperti ditujukan pada seseoarang yang tidak ada disini.
Tapi, anehnya,  kata itu juga terasa seperti tidak ditujukan pada siapapun.


×   ×   ×

 
Ada satu hal yang kusadari saat aku menghabiskan waktuku di sekolah sambil memperhitungkan kebiasaan dan kejadian tentang orang yang bernama Hayama Hayato.
Itu adalah tidak adanya kegelisahan dari Isshiki Iroha.
Seperti yang dikatakan Isshiki saat di ruang klub sebelumnya. Rumor baru baru ini mempengaruhi keadaan disekitar Hayama.
Gosip menjijikan tentang Hayama dan Yukinoshita sudah menyebar baik di kelas maupun lorong.
Tentu saja, mengingat mereka berdua adalah artis di sekolah ini. Mereka mendapatkan perhatian yang sama dari semua orang.
Bahkan ketika aku sedang melamun di kelas saat jam istirahat, aku bisa merasakan teman sekelasku sedang memperhatikan Hayama.
Aku juga bisa mendengar percakapan gadis yang duduk di belakangku.
“Menurutmu, sejauh mana kebenaran rumor itu?”
“Entahlah. Itu benar-benar membuatmu penasaran. Apa mungkin mereka benar-benar pacaran?”
“Tapi beberapa gadis dari kelas E bilang kalau rumor itu tidak benar?”
“Yaah. Mereka tidak mau mengakui kalau semua itu benar. Mereka sangat baik.”
“Baik gundulmu! Malahan itu sangat lucu.”
Mereka tidak menyebutnya secara detil, tapi kemungkinan besar mereka sedang membicarkan rumor tentang Hayama dan Yukinoshita.
Daripada membicarakan rumor yang tidak jelas, mereka membuat gosip tak berdasar. Hanya saja, masalahnya adalah masih adanya ketertarikan pada rumor itu. Itulah kenapa mereka  sangat terfokus pada hal itu dan mentertawakannya.
Yaah, percakapan, melon berbicara[6] memang sangat terkenal di kalangan gadis usia tujuh belas tahunan, apalagi jika itu berkaitan dengan sosok terkenal di sekolah mereka, maka itu akan menjadi topik sederhana untuk dibicarakan.
Gadis yang tidak ku ketahui namanya itu kembali berbisik.
“Tapi itu sangat mengejutkan. Yukinoshita-san terlihat seperti itu, tapi dia juga menilai orang dari penampilannya, hah?”
“Ohh, aku sangat paham. Mereka berpacaran bahkan tanpa saling berbicara satu sama lain, bukankah itu berarti dia cuma mengincar wajahnya saja atau semacamnya?”
“Hah? Bukankah itu berarti Hayama-kun juga begitu?”
“Mungkin?”
Mereka tertawa satu sama lain dengan suara pelan. Sepertinya, setidaknya mereka  mencoba perhatian pada Hayama cs yang juga berada di kelas sehingga mereka tidak mendengarnya.
Tapi itu sangat jelas di telingaku.
Itu sangat menjengkelkan. Ya, sangat sangat menjengkelkan.
Suara gosip itu terdengar seperti dengungan nyamuk yang terbang di sekitarmu saat kamu sedang berusaha tidur, atau seperti mendengar suara detikan jarum jam di larut malam saat sedang gelisah. Mendengarkannya saja membuatku mencetikkan lidahku.
Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan rumor itu, tapi, aku bahkan merasa jengkel. Aku bisa membayangkan orang yang berkaitan dengan rumor itu pasti lebih jengkel lagi.
Orang-orang yang sama sekali tidak mengetahuinya akan mengatakan apapun seenak udel mereka sendiri, sesuai dengan perkiraan, perhitungan, keinginan dan rasa iri mereka yang tak berdasar, lalu mengarahkan cerita itu menjadi sesuatu yang menarik, dan melompat ke alunan musik.
Mungkin, sebagian besar dari mereka tidak bermaksud buruk. Alasan mereka terlibat hanyalah karena akan lebih menarik kalau seperti itu. Dan kamu benar-benar menganggapnya serius, lalu memprotes mereka? Mereka akan berkata, “Itu cuma bercanda, jadi tak usah marah begitu.”
Karena aku bisa melihatnya, tidak, itu karena aku tahu mereka berdua, yang untuk pertama kalinya bisa aku pahami.
Yukinoshita Yukino dan Hayama Hayato telah lama tinggal di lingkungan seperti ini. Dengan banyaknya harapan dan perhatian yang diberikan pada mereka karena penampilan menarik dan kemapuan sempurna mereka, mereka harus menerima kekecewaan dan iri hati sendiri.
Dalam lingkungan yang dikuasai anak remaja, sekolah adalah salah satu pengertian untuk penjara. Mereka yang terkenal akan menjadi pusat perhatian. Para kaum biasa yang akan terus mengawasi mereka. Dan terkadang menghukum mereka. Itu sama seperti melakukan Penelitian Penjara Stanford dengan standar siang dan malam. Penilaian mereka terhadap tugas berubah menjadi sesuatu yang agresif sesuai keinginan mereka sendiri.
Penjaga penjara tanpa nama di belakangku itu melanjutkan percakapan tak berguna mereka.
Lalu, terdengar bunyi ketukan meja yang keras bersamaan dengan suara mereka. Mereka terdiam.
Aku melihat ke sumber bunyi itu.
Saat aku melakukannya, aku melihat Miura sedang menyilangkan kakinya saambil mengetuk-ketuk meja dengan kukunya. Wajahnya menghadap ke Yuigahama cs, tapi matanya menatap ke arah sini.
Penampilan menarik atau mungkin mencolok Miura sudah cukup kuat saat berhadapan langsung, tapi lirikan jahat matanya itu terlihat lebih kuat lagi. Sebenarnya, dia menakutkan, seperti tiga kali lebih menakutkan dari biasanya. Dia bahkan tidak menatapku tapi tanpa kusadari aku sudah memalingkan wajahku.
Di tempat yang terlihat saat aku memalingkan wajahku, aku melihat Hayama sedang duduk di depan Miura sambil tersenyum kecut padanya.
Hal yang dibicarakan mereka tadi mungkin tidak terdengar oleh Hayama dan Miura.
Tapi itu terlihat dari suasananya.
Kamu tidak perlu mendengar apa dikatakan atau apa yang dibicarakan, karena di kelas ini, kamu bisa merasakan kalau pembicaraan itu berkaitan denganmu atau tidak. Miura mengibarkan bendera perangnya ke arah sini hanya dengan lirikannya.
Kedua gadis itu segera berdiri, merasa sulit untuk terus berada di kelas, lalu terburu-buru berjalan melewatiku dan keluar. Ya ampun, apa apaan menggosip di kelas ?
“Bukankah itu tadi bahaya sekali? Apa dia mendengar kita?”
“Entahlah...Tapi aku penasaran apa yang Miura-san pikirkan tentang rumor ini.”
“Entahlaaaaaah?”
Aku meletakkan tubuhku di atas meja, berpura-pura tidak menguping pembicaraan mereka saat mereka melewatiku. Aku rasa jika aku tidak melakukannya, aku akan berakhir melihat ke arah Miura dan yang lainnya.
Riak yang menyebar di permukaan air pasti akan menghilang.
Tapi, terkadang juga terjadi butterfly effect.
Aku dengan sabar menunggu jam istrahat berakhir, sambil mendengarkan angin yang terus mengetuk jendela.


×   ×   ×


Anginnya masih bertahan bahkan sepulang sekolah.
Angin kering nan dingin berhembus melewati daratan Kanto. Udara lembab dari laut Jepang terhalang oleh rangkaian gunung termasuk Mt. Ou. Awannya terhenti disana sedangkan anginnya terus berhembus dan menuruni lembah.
Udara kering nan dingin membentur jendela luar ruang klub di lorong.
Tapi, di dalam ruang klub terasa lembab dan hangat. Sebagian besar itu karena adanya laut hangat yang berada di hadapanku.
Aku meminum tehku, lalu menenangkan diri, dan berkata, “Yaah... aku secara luar biasa ditolak oleh Hayama-san...”
Aku terdengar sedikit meminta maaf karena sebelumnya aku telah dengan luar biasa berkata “Aku yang akan menanyakannya!”. Setelah melaporkan berita tentang kejadian kemarin, Yuigahama tersenyum pahit.
 “Uh huh, aku tahu itu akan terjadi. Hayato-kun juga kelihatannya sedang dalam mood yang jelek... Tak apa Hikki, ini bukan salahmu.”
Aku sedang dihibur... Yukinoshita mendesah sambil tersenyum mengejek.
“Kami juga tak pernah mengharapkan apapun darimu, jadi kamu tak perlu memikirkannya.”
Perkataanya sangat dipertanyakan untuk ukuran suatu hiburan, tapi aku bisa merasakan beberapa tanda kebaikan dari suarnya.
Tapi suara yang mengikutinya mengandung kekecewaan yang lebih kuat.
“Yaah, itu jelas sekali, jeals sekali senpai gitu loh.”
Mengapa kamu mengatakan kata pertamamu dua kali? Apa aku akan mati dua kali?
“Dan kenapa kamu disini lagi?” Aku melihat ke Isshiki.
Dia meletakkan cangkir kertas yang dipegangnya di atas meja, meluruskan kerahnya, membersihkan kerutan di roknya, dan saat dia melakukannya, dia merapikan poninya, lalu duduk resmi.
“Hari ini aku datang kemari benar-benar untuk konsultasi,” kata Isshiki, terlihat sangat serius.
Tapi bayangan sekilas dari tulang selangkanya yang terlihat dari kerah kakunya serta kibaran roknya memenuhi pikiranku, dengan poninya yang sudah dirapikan, kekuatan tatapan keatasnya meningkat. Dia terlihat sangat jauh dari kata serius.
Dia mendapatkan perhatianku dalam sekejap, tapi aku menguatkan jiwa dan ragaku untuk mengalihkan pandanganku dari Isshiki, mungkin merasa sedikit menyesal. Aku takkan takluk karena itu...
“Jika ini tentang OSIS, aku tak akan membantumu lagi.”
“... Oh, baik.” Isshiki menjawabnya dengan kecewa.
Kedengarannya dia mencetikkan lidahnya setelah itu, tapi itu cuma imajinasiku kan? Irohasu?
Melihat percakapan kami, Yukinoshita membersihkan tenggorokannya, lalu berkata. “Kamu benar-benar datang kemari bukan untuk meminta kami membantumu, kan?”
Terasa ada tekanan dari kata yang diucapkannya sambil tersenyum itu. Suaranya lembut, tapi itu masih saja membuat punggungku merinding. Isshiki segera menegapkan tubuhnya.
“Te-Tentu saja! Aku cuma bercanda! Aku pasti akan melakukan perkerjaanku!”
“Jadi, untuk apa kamu kemari?” Yukinoshita bertanya, mendesah jengkel melihat tingkah Isshiki.
Yuigahama menengahi. “Iroha-chan mungkin penasaran tentang Progam Jurusan Hayato, jadi dia kemari untuk menanyakannya, kan?”
“Yui-senpai gitu loh! Itulah alasan kenapa aku kemari! Taapiiii, bukan Cuma itu.”
Yukinoshita menatapnya untuk meminta dia melanjutkan. Isshiki sedikit meletakkan tangan di dagunya dan berbicara sambil berpikir. “Itu sepertiii, ada peningkatan orang yang melakukan percobaan pada Hayama-senpai.”
“Percobaan?”
“Yaah, gampangnya si menembaknya lah. Bahkan jika itu tidak berhasil, mereka melakuakannya hanya untuk memastikan, seperti pesona atau semacamnya.” Isshiki menjawab pertanyaan Yuigahama dengan acuh.
Aku teringat kejadian kemarin. Tentu saja, aku tidak memberitahu Yukinoshita dan Yuigahama kalau aku melihanya, jadi kemungkinan mereka memikirkan tantang hal lain.
“Apa maksudmu dengan ‘memastikan’?”
“Apa itu akan berguna sebagai pesona?”
Yukinoshita dan Yuigahama melihat bingung pada Isshiki. Isshiki membersihakan tenggorokannya, lalu duduk tegap. Lalu, dia memutar duduknya dan menghadapku.
Isshiki menghembuskan nafas pendek tapi menggoda, lalu menatapku dengan sungguh-sungguh. “Senpai... Apa... Apa kamu sedang... pacaran dengan seseorang?”
Suaranya sedikit gemetar, perkataanya tak beraturan, dan pipinya memerah. Terlihat dari lengan bajunya yang panjang adalah lengannya yang ternyata berwarna putih. Dia dengan malu menggenggam pita di dadanya dengan tangan itu, lipatan roknya memancarkan aura menarik.
Dalam sekejap, mata basahnya gemetar.
Dia menyerangku dari sudut yang terduga seperti itu sehingga aku bisa merasakan jantungku berdetak semakin cepat. Aku menelan nafasku untuk menenangkan diri.
“Tidak... tidak juga...” aku mengatakannya dengan suara yang tepatah-patah.
Seluruh ruangan terdiam.
Tentu saja aku terdiam, tapi, begitu juga dengan Yukinoshita dan Yuigahama. Dalam kesunyian itu, Isshiki tersenyum jahat. “Mengerti ? Sesuatu seperti ini, yeah!”
“M-Masalahnya itu tentu saja caramu mengatakannya! Benar kan, Hikki?”
... Tidak, pesona itu tidak benar-benar mengenaiku, ya. Tidak, sebenarnya, itu tadi benar-benar mengenaiku. Isshiki Iroha, kamu benar-benar hebat.
“Hikki?”
Aku berbalik pada Yuigahama dan Yukinoshita saat aku dipanggil, dan mereka sedang menatapku dengan tatapan bodoh.
“... Dan kenapa kamu terdiam?” Yukinoshita tersenyum bahagia.
Hentikan itu. Senyumanmu  yang itu sangat mengerikan, tahu.
“Yaah, Itu lho, yeah. Sekarang aku paham keadaan Hayama. Aku sangat memahaminya.”
Merekan mencoba memastikan kebenaran tentang rumor itu, dan saat mereka sedang dalam topik itu, mereka juga mencoba menembaknya. Kepastian gagal, itu akan menjadi pemicu agar mereka berdua bisa menjadi semakin dekat, atau sesuatu yang mengakibatkan hal seperti itu.
Mungkin ini adalah salah satu dari senario tambahan untuk membuka rute dari salah satu tokoh yang pada awalnya belum bisa kamu taklukkan...? Atau mungkin sesuatu seperti cerita tambahan penggemar yang menambahkan tawa dan teriakkan, hmm??
Yang jelas, bisa dibilang kalau semua itu terjadi juga karena rumor itu.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” Aku bertanya.
Isshiki berkata dengan sombong. “Aku ingin tahu bagaimana agar aku bisa jauh semakin di depan para sainganku!”
“Begitu...”
Cukup bernyali juga dia untuk tidak menyerah setelah semua yang terjadi. Aku menjawabnya setengah terkesan, setengah jijik, dan setengah tak tertarik. Eh, tunggu, itu jadi 1.5 kali biasanya.
Isshiki menganggapnya sebagai jawaban dariku dan seenaknya melanjutkan ceritanya. “Memperhitungkan keadaan saat ini, ini adalah kesempatan bagus untukku. Orang-orang biiasanyaa menyerah setelah menembak, kan? Hayama-senpai juga kelihatannya sudah mulai jengkel dengan tembakan,itulah saat diamana aku akan muncul sebagai ‘pecahan penyelamat’[7] lalu menyergap—maksudku, aku bisa, seperti, memberinya hiburan besar untuknya!”
Maksa banget pembenarannya... Terus apa-apaan maksudnya dari hiburan besar? Isshiki juga sebenarnya tak terlalu besar... Itu adalah ketidak dewasaan Isshiki yang terlihat dari penampilan mencoloknya yang merupakan daya tariknya... Ah, sekarang bukan tentang itu. Aku tak begitu peduli dengan apa yang terjadi antara Isshiki dan Hayama, jadi aku behenti mendengarkan kelanjutannya.
Aku melihat pada mereka berdua penasaran apakah mereka mendengarkannya, dan mereka sedang memperhatikannya dengan serius.
“Pecahan penyelamat...”
“Menyergap...”
Yuigahama dan Yukinoshita mengulanginya sambil menatap serius Isshiki. Sepertinya, mereka sangat serius sampai aku bisa merasakan suhu udara ruangan tiba-tiba naik... Ini memang tidak tenang![8]
Tapi, tatapan mereka tidak disadari oleh Isshiki. Itu karena dia sedang melihat ke luar jendela, sepertinya sedang memperhatikan kegiatan klub sepak bola di sekolah.
“Jadi, aku memikirkan suatu tempat yang indah dan nyaman dimana kita bisa bersantai atau semacamnya...”
Wajah Isshiki yang tersinari oleh cahaya redup matahari terlihat agak gelisah, tapi tenang.
Meski nadanya terdengar ceria, tapi dia menunjukkan perhatiannya pada Hayama dengan caranya sendiri.
Oh. Jadi kamu memang tidak setengah hati tentang ini. Aku yakin kamu akan menaklukkan banyak laki-laki jika kamu menunjukkan sifatmu yang seperti ini...
“Kedengarannya bukan ide yang buruk,” kataku, tanpa kusadari aku terseyum.
Lalu wajah Isshiki terangakat dengan semangat. “Benar, kan! Jadi, itulah kenapa aku ingin meminta saran tentang tempat yang menurutmu bagus!”
“Umm, bukankah itu keahlianmu?” Tanyaku.
Kamu benar-benar bertanya pada orang yang salah. Yuigahama mungkin bisa memberitahukan beberapa informasi dari temannya, tapi Yukinoshita dan aku sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang akan mengetahui tempat yang bagus untuk bersenang-senang.
Isshiki menggembungkan pipinya. “Aku sudah mencoba semua hal yang terpikirkan olehku sebelumnya! Itulah kenapa sekarang aku ingin mencoba dengan pendekatan yang sebaliknya.”
“Ahh, begitu...”
Luar biasa. Kemampuan aktingnya sangat Luar biasa. Apa kamu yakin kamu bukan anggota TOKIO?
Aku duduk disana sambil terkesan, dan Yuigahama yang duduk disampingku menempelkan jari telunjuk di dagunya dan memiringkan kepalanya. “Jadi intinya... Kamu ingin kami memikirkan tempat yang biasanya dituju untuk bersantai tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain?”
“Gampangnya, ya, seperti itu.” Isshiki menganggukkan kepalanya sambil menjawab Yuigahama.
Yukinoshita menjawab lembut. “... Yaah, aku pikir tak apa.”
Senyumnya membuatnya terlihat seperti kakak lebih dari biasanya. Melihat Yukinoshita sebagai seseorang yang bisa diajak bicara dengan mudah sekarang, Isshiki tersenyum bahagia.
“Terima kasih banyak...! Jaaadiiiii, begitulah, senpai, bagaimana menurutmu?”
“Kenapa bertanya padaku...”
Aku sedang kebingungan. Aku berpikir untuk menyarankannya pergi ke Destinyland untuk sekarang, tapi itu mungkin akan sedikit keterlaluan untuk seseorang yang telah ditolak disana...
Tapi, yaah, aku tidak tahu apa yang Hayama suka, tapi bukankah dia akan bersikap seakan-akan dia menikmatinya tak peduli apa yang mereka lakukan dan kemana mereka pergi? Tentu saja, entah dia benar-benar menikmatinya atau tidak, itu adalah cerita lain.
Saat aku memikirkannya, Yuigahama agak mencondongkan tubuhnya. “Hi-Hikki, dimana tempat yang menurutmu bagus? Um, itu lho, Cuma untuk referensi...”
“Kami ini sepenuhnya berbeda, bagaikan bumi dan langit, jadi aku tak berpikir ini akan bisa dijadikan sebagai referensi, tahu.” Kataku.
Yukinoshita tertawa kecil. “Itu benar. Kamu itu memang seperti antitesisnya.”
“Benar kan?”
“Ya, pastinya.”
Aku merasa ada semacam ejekan dalam persetujuannya, tapi itu tak melukaiku atau semacamnya.
Sebenarnya, tidak salah menyebutku sebagai antitesisnya. Aku cukup bangga menjadi seseorang dengan spek yang cukup tinggi, tapi ini masih sangat jauh untuk mencapai Hayama... Tapi bagiku untuk membanggakan spek yang seperti ini, membuatku seperti semacam aksesori kecil, apa aku cukup layak untuk menjadi antitesis Hayama?
Seriusan, apa-apaan ini, apa-apaan dengan aksesoris rendahan ini...? Tapi, hey, para gadis menyukai aksesoris kecil dan semacamnya, jadi mungkin aksesoris rendahan bisa saja secara luar biasa menjadi terkenal! Harus Positif thinking! Pemikiran seperti itu memenuhi pikiranku.
Yukinoshita batuk kecil. Lalu, dia memalingkan wajahnya dan menambahkan secara tergesa-gesa. “... Tapi, itu karena kamu adalah antitesisnya sehingga aku percaya itu akan bisa dijadikan sebagai referensi. Jika kamu mengambil kebalikan dari sudut pandang seorang antitesis, itu bisa disebut sebagai mendekati jawaban yang tepat. Kebalikan dari kebalikan adalah persamaan, kah?”
“Bukankah maksudmu kebalikan dari kebalikan juga bisa disebut sebagai kebenaran...?”
Itu adalah logika yang konyol. Kebalikan dari kebalikan adalah persamaan... ini bukan Bakabon Papa[9] atau semacamnya... adalah apa yang ingin kukatakan, tapi Yukinoshota dan Yuigahama terus menatapku, menunggu jawabanku.
Yaah, Um, jika kalian terus menatapku serius seperti itu, aku takkan bisa memikirkan apapun, jadi, tolong hentikan.
“... Umm, aku akan mencoba memikirkannya.”
Aku berhasil mengatakannya pada mereka lalu diam-diam mengalihkan pandanganku dari mereka. Tiba-tiba, aku bisa mendengar suara “phew” atau “bleh” yang dipenuhi dengan kekecewaan dan ketidak puasan.
“Kalau begitu tolong pikirkan baik-baik, okaaaay?” kata Isshiki, tersenyum.
Tapi aku memang sedang buntu disitu... Aku sudah kebingungan memikirkannya untuk diriku sendiri, apalagi untuk Isshiki. Sebenarnya, aku yang ingin bertanya disini... Yaah, terserahlah, aku akan memikirkannya lain kali.
Bagaimanapun juga, perubahana sikap Isshiki terhadap Hayama mungkin karena rumor itu. Di saat yang sama, keadaan disekitar Hayama sepertinya juga terlihat berubah.
Tapi, bagaimana dengan pihak yang satunya, yang sama-sama diterpa badai?
“... Oh ya, Yukinoshita, bagaimana denganmu? Apa ada yang berubah karena rumor itu?”
“Aku? Dari awal memang tidak banyak orang yang mau mendekati kelasku...”
Itu benar. Yukinsohita berada di kelas berstandar Internasional, kelas J, yang terletak sangat jauh di ujung sekolah dan dihuni oleh sembilan puluh persen perempuan. Jadinya, ada aura khusus diantara mereka yang membuat semua orang tidak bisa begitu saja mendekati mereka. Jadi, kalau begitu, sepertinya keadaanya masih lebih baik dibanding Hayama.
Tapi itu bukan berarti kalau hal itu sama sekali tidak ada pengaruhnya.
Yukinoshita sedikit mendesah. “Yaah, memang sepertinya ada beberapa yang membicarakannya secara diam-diam, tapi itu dak ada bedanya dari sebelumnya, jadi, sulit untuk menilainya...”
“Aku sangat memahaminya. Saat kamu terkenal, semua orang pasti akan membicarakan berbagai hal di belakangmu.”
Tidak, kalau tentangmu, Isshiki, menurutku itu sedikit berbeda...
Yukinoshita tersenyum dan sedikit mengangguk, menambahkan dengan suara pelan, “... Tapi ini masih tak separah yang terjadi dulu.”
“Dulu”. Kata itu menggangguku.
Masa lalunya yang tidak ku ketahui. Atau tepatnya, masa lalu yang tidak dibicarakannya. Dan masa lalunya dengan Hayama.
Tapi, apa tak apa kalau aku menanyakannya? Setidaknya, di saat seperti ini, saat dimana ada orang lain disini, aku merasa kalau itu bukan sesuatu yang bisa kutanyakan. Apa aku punya hak untuk begitu saja menanyakan tentang sesuatu yang tidak ingin dibicarakannya?
Sambil ragu, aku mencoba berkata.
Dan tiba-tiba, terdengar beberapa bunyi ketukan dari pintu ruang klub. Semuanya secara ferleks melihat ke pintu itu, dan aku kehilangan waktuku untuk bertanya padanya.
Lalu pintunya dibuka tanpa persetujuan, tidak menunggu jawaban kami.
“... Ada waktu sebentar?”
Itu adalah suara yang dihiasi dengan kemarahan. Dangan pandangan yang terus memeriksa keadaan dalam ruang klub, sambil terus memutar rambut pirangnya dan terlihat sedang tidak senang, berdiri di pintu masuk adalah Miura Yumiko.
“Yumiko, ada apa?”
“... Aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Oh. Yaah, untuk sekarang, masuk dulu, masuk dulu.” Yuigahama memanggilnya.
Miura mengangguk dan melangkah masuk ruang klub. Lalu dia menatap curiga pada Isshiki.
“Ah. Baik, aku ada pekerjaan di OSIS, jadi aku permisi dulu...” kata Isshiki. Dia segera meninggalkan raung klub setelah memperhatikan keadaannya.
“Sampai jumpa lagi, bye.” Dia mengatakannya dengan pelan sambil menutup pintu.
Saat melihatnya, Yuigahama menawarkan tampat duduk pada Miura. Kami duduk seperti biasanya dimana aku, Yuigahama dan Yukinoshita duduk berhadapan dengan Miura.
“Apa kamu ingin membicarakan tentang pesan itu?”
“Tidak, bukan itu... Yaah, termasuk itu juga.” Miura memalingkan wajahnya, mengatakan jawabannya dengan sulit pada pertanyaan Yuigahama. Lalu dia mengambil nafas panjang dan entah kenpa, lalu  mengahadap ke Yukinoshita. “... Sebenarnya, Apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Hayato?”
Perkataan dan tatapannya tajam.
Dan bisa dipastikan, dia sedang membicarakan tentang rumor baru-baru ini. Gosip tak bertanggung jawab tentang Hayama dan Yukinoshita itu sebenarnya hanya beredar di kelas, tapi sekarang kelihatannya sudah beredar se antero sekolah.
Itu adalah sesuatu yang seharusnya sudah kusadari saat Isshiki datang kemari di hari pertama kami kembali beraktivitas. Itu juga termasuk kemungkinan kalau ada beberapa gadis yang memastikannya langsung pada Yukinoshita.
Dan bagi Miura yang berada di posisi yang peling dekat dengan Hayama, tidak mungkin dia tidak memikirkan apapun tentang rumor itu.
Tatapan Miura sangat serius, tapi Yukinoshita menanggapinya dengan dingin.
“Tak ada apapun. Kami Cuma kenalan lama,” kata Yukinoshita, menjawabnya dengan acuh, tapi tatapan tajam Miura belum melemah.
“Kamu yakin tantang itu?”
Yukinoshita mendesah karena lelah. “ Apa kamu pikir aku akan mendapatkan sesuatu dengan berbohong... ? Hal seperti ini sudah selalu menggangguku sejak dulu.”
“Hah? Apa-apaan dengan nada itu? Benar-benar menjengkelkan. Aku sangat, sangat membenci bagian itu darimu.”
“Yumiko!”
Orang yang menaikkan suaranya untuk menjawabnya adalah Yuigahama. Bahu Miura tersentak kaget, lalu dia dengan takut menggelengkan kepalanya.
Di depan tatapan Miura, bibir Yuigahama menunjukkan seperti dia sedang marah, lalu dia membahas apa yang telah mereka bicarakan saat di kelas. “Aku sudah bilang kan dulu ? Semua itu cuma kebetulan, dan tak ada apapun yang terjadi setelahnya.”
“... Jika memang cuma seperti itu, Hayato takkan menjadi begitu khawatir. Maksudku... Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya...” Kata Miura, nadanya terdengar aseperti agak merajuk dan kehilangan kekuatannya yang biasanya. Dia menundukkan kepalanya dan sedikit menggigit bibirnya.
Mungkin, Orang terdeka t denga Hayama Hayato di sekolah ini adalah Miura. Aku tidak tahu sudah seberapa lama mereka kenal, tapi setidaknya mereka sudah berteman sejak awal di tahun kedua.
Itulah kenapa setiap keanehan yang terjadi pada Hayama bisa dilihat olehnya. Aku yakin dia lebih memahami Hayama daripada aku.
Tapi ada sesuatu yang bahkan Miura tidak tahu.
Satu-satunya yang mengetahui hal itu saat ini adalah Yukinoshita Yukino.
Yukinoshita mengibaskan rambut di bahunya dan berkata denga dingin. “Sepertinya dia bukan sedang memikirkan sesuatu tentangku. Sepertinya dia sedang memikirkan hal lain.”
“Itu... Itu mungkin cuma menurutmu kan? Terlebih, kita tahu apa yang Hayato pikirkan.” Miura menurunkan bahunya. Sambil memutar-mutar rambutnya dengan ujung jarinya, dengan pelan dia memastikan sesuatu pada Yukinoshita. “... Seperti, apa terjadi sesuatu seperti itu? Maksudku, bukan yang sekarang... Tapi, seperti, dulu atau semacamnya.” Miura mengatakannya terpotong-potong.
Kata-kata yang diucapkannya dengan tidak beraturan.
Itu adalah sesuatu yang kuanggap sebagai salah satu kemungkinan, dan disaat yang sama mengabikannya seperti sesuatu yang mustahil terjadi.
Yukinoshita tidak berbohong. Hanya saja, dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Ada juga kalanya dia mencoba menutupinya dengan caranya yang aneh. Aku tahu semua itu.
Kalau begitu, bagaimana dengan Hayama Hayato? Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang perasaannya, hatinya, dan keinginannya. Bukan berarti aku ingin mengetahuinya.
Selama ini, aku akan menyebutnya, yakin kalau ada sesuatu di antara mereka berdua sambil mencoba untuk tidak menganggapnya seperti itu.
Dan sekarang, Miura mencoba untuk mengusiknya.
Tapi, Yukinoshita mendesah dan membalasnya. “...Jadi, Jika ada sesuatu diantara kami dan aku memberitahukan semuanya padamu, apa akan ada yang berubah? Apakah kamu atau mereka akan mempercayainya?”
Tekanan suaranya membuat Miura ragu untuk menajwab. Dia menggenggam kancing cardigannya dengan kuat sambil termenung, bibirnya gemetar, tapi pada akhirnya, tak ada kata yang terucap.
Yukinoshita melihatnya dan medesah dalam. “Pada akhirnya, semua ini tak berarti.”
 Penjelasan, alasan, sanggahan dan pembicaraan tidak berarti apappun.
Jika mereka membicarkan tentang kaum jahiliyah, semakin banyak orang yang berkumpul ke kelompok itu, akan semakin bodoh mereka. Tidak peduli seberapa bersinar dia, tidak, justru karena dia bersinar sehingga dia akan ternoda olah banyaknya paksaan yang kuat saat masuk ke kaum itu. Keinginan, kemampuan dan sifat seseorang, apalagi perasaan, semua itu sama sekali tidak ada hubungannya.
Itu adalah keidak perhatian yang selalu Yukinoshita alami selama ini.
Kita hanya melihat yang ingin kita lihat, mendengar apa yang ingin kita dengar, tapi kita tidak bisa mengatakan apapun semau kita. Seperti itulah lingkungan yang kita tinggali saat ini.
Tapi, itu berbeda dengan Miura.
“Setiap kali... caramu bersikap seperti itu...!” Dia mengutarakan perasaan marahnya dan berdiri.
“Tunggu, Yumiko!?”
Suara terkejut Yuigahama untuk menghentikannya sudah terlambat. Aku juga segera berdiri, tapi Miura segera berjalan langsung menuju Yukinoshita, hanya menatap padanya.
“Seriusan, memangnya kamu pikir kamu ini siapa?”
Lalu, Miura dengan kasar menjulurkan tangannya untuk menggengam Yukinsohita.
Tapi tangannya tidak mencapai Yukinoshita.
Yukinoshita segera berdiri dan menangkap tangan Miura yang mengarah ke kerahnya. Lalu, dia menatap Miura dengan tatapan dingin.
“...!”
“Sayang sekali, aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini... Meskipun, kamu adalah orang pertama yang berani menyerangku secara langsung seperti ini.”
Mereka saling menatap satu sama lain dengan nafas kuat dan bertukar suara dingin mereka. Miura mengambil nafas kuat nan dalam seperti sedang menahan sesuatu, sedangkan Yukinoshita menganmbil nafas yang sangat, sangat dalam.
“Masih ada yang ingin kamu katakan? Atau masih ada yang ingin kamu lakukan?”
Miura mulai kehilangan tenaganya sedangkan Yukinoshita terlihat semakin sombong. Meskipun mereka saling bertukar tatapan dingin mereka sambil menggenggam tangan mereka.
Yukisnohita tersenyum jahat unuku memprovokasinya. Itu benar, saat dia tersenyum seperti itu, dia terlihat seperti Haruno-san, pemikiran seperti itu tiba tiba terlintas di pikiranku.
Tapi, itu bukan senyuman yang ingin kulihat dalam waktu lama.
“Hentikan. Untuk sekarang, lepaskan dulu dan duduk lagi.”
Aku sedikit menepuk tangan Yukinoshita yang masih menggenggam tangan Miura. Untuk sesaat aku ragu apa tak apa kalau aku menyentuhnya, tapi untuk Yukinoshita dengan sikap menantangnya yang seperti ini, tindakan ini jauh lebih baik daripada dengan perkataan.
Yukinoshita langsung menatap tajam padaku, tapi dia dengan patuh melepaskan tangan Miura. Miura dengan lemah menurunkan tangannya dan melangkah mundur.
Aku memasuki ruang yang terbuka diantara mereka berdua, dan tanpa berkata, aku mengarahkan Miura untuk mundur. Selanjutnya Yuigahama yang mengambil alih.
Yuigahama menepuk bahu Miura dengan pelan yang Masih menatap ke arah Yukinoshita dan memintanya untuk duduk.
“Untuk sekaran, tenang dulu... Okay?”
Sambil memperhatikan mereka berdua, aku memindahkan tempat dudukku di posisi yang memungkinaknku untuk segera menghalangi antara Miura dan Yukinoshita.
“Kamu tak apa?”
“Ya. Aku sudah bilang kan? Aku sudah terbiasa.”
Yukisnohita dengan kuat mengepalkan tangan yang digunakannya untuk menggenggam tangan Miura dan tersenyum pahit padaku. Ekspresi kuat yang sebelumnya sudah hilang.
“Yukinon...”
“Ini bukan sesuatu yang akan menggangguku... Sudah cukup bagiku kalau orang yang dekat denganku bisa memahaminya, jadi tak ada masalah.”
Yuigahama memanggil Yukinoshita denga cemas dan dia tersenyum lemah. Dia kembali mengelus dengan lembut tangannya yang tadi mengenggam tangan Miura , lalu dia kembali duduk. Setelah keadaannya kembali tenang, Yuigahama mendesah lega dan kembali duduk di kursinya.
Miura yang terus memperhatikan mereka, sedikit menutup matanya seperti sedang silau.
Lalu, bibirnya hanya sedikit bergerak, dia berkata dengan suara pelan. “...Itu normal, kan...? itulah kenapa.”
“Eh?” tanya Yuigahama.
Miura memalingkan wajahnya. “Sesuatu tentang orang dekat... Aku ingin menjadi seperti itu jadi aku ingin mengetahuinya.” Mulutnya bergerak dengan malu saat dia mengatakannnya, lalu dia mengibaskan rambutnya. Lalu, dia memalingkan wajahnya dari kami dan melihat keluar jendela dan terlihat bosan.
---Hooo, jadi begitu.
Kata-kata itu sama seklai tidak terdengar seperti dia ingin menyampaikan sesuatu pada seseorang, tapi aku mengerti. Aku berakhir memahaminya. Lebih tepatnya, itu terasa seperti  itu adalah sesuatu yang lebih dekat seperti empati.
Yukinoshita bukan satu-satunya yang mengalami ketidak perhatian.
Aku yakin dia yang telah mengalami masa lalu yang sama dengannya juga begitu.
Bukan cuma satu pihak yang mengalami ketidak perhatian kacau itu. Aku yakin pihak lainnya juga sama sekali tidak memahamianya.
“Miura. Jadi apa yang ingin kamu ketahui itu bukan tentang apa yang terjadi dulu, kan?”
Aku merasa suaraku seperti terdengar sedikit heran.
Saat aku mengatakannya, Miura mentapku. Tapi matanya kehilangan ketajamannya yang biasanya karena matanya yang berair.
Hal yang ingin dia ketahui sepertinya bukan apa yang terjadi dulu, apalagi Program Jurusannya.
Apa yang Hayama pikirkan? Apa yang Hayama rasakan?
Yang Miura ingin tahu hanyalah perasaan Hayama.
Dia ingin memahami Hayama.
“I-itu hanya... Um. Aku pikir akan lebih baik kalau kami mungkin bisa besama sedikit lebih lama lagi, jadi... Um, bersama denga semuanya... sama seperti sekarang...” Miura mencoba menceritakan kisahnya, sedikit bingung, dan tenaganya berangsur menghilang. Lalu, dia berhenti dan sedikit menurunakn bahunya. “Hanya saja, Hayato akhir-akhir ini terasa mulai menjauh... Seperti, kalau begini terus mungkin dia akan pergi ke sautu tempat yang jauh.” Miura menambahkannya dengan suara yang sangat pelan sambil melihat ke ujung lantai.
Tepatnya dari mana “akhir-akhir ini” itu dimaksud, aku tidak tahu. Tapi keadaan disekitar Hayama memang mulai berubah.
Tembakan dari Isshiki, atau bahkan saat keluar bersama Orimoto dan temannya yang dari sekolah lain. Dan terakhir, rumor dengan Yukinoshita.
Sampai sekarang, belum pernah muncul cerita seperti itu tentang Hayama. Tidak, tepatnya, dia menghilangkan dirinya dari semua itu. Dan sekarang keseimbangan itu mulai runtuh.
Saat mereka mulai menajuh, disaat yang sama juga muncul pembicaraan tentang pembagian kelas. Mereka sangat memahami kalau kebersamaan mereka suatu saat nanti pasti akan menghilang.
Perasaan perpisahan dan menjauh adalah sesuatu yang sedang dirasakan Miura saat ini.
“Aku tahu ini aneh bahkan untukku, tapi... Aku... sudah tidak tahu lagi.”
Yuigahama berdiri dan menuju ke samping Miura. Lalu dia jongkok dan menggenggam tangannya.
“Itu tidak aneh. Itu sama sekali tidak aneh. Berpikir kalau kamu ingin selalu bersama itu sesuatu yang sangat, sangat normal untuk dilakukan.” Yuigahama menjawabnya dengan nada yang lembut pada perkataan terpatah-patah  Miura.
Lalu Miura menarik nafas yang sangat, sangat dalam dan menundukkan kepalanya. Aku bisa sedikit mendengar suara nafasnya yang terdengar seperti sedang menahan agar tidak menanngis.
Aku yakin dia tahu kalau mereka takkan bisa seperti ini selamanya, itu adalah sesuatu yang takkan pernah terkabul tak peduli seberapa kamu menginginkannya, dan padahal hal seperti itu bisa saja merusak segalanya. Meski begitu, dia masih tidak ingin kehilangannya.
Itulah kenapa, setidaknya, dia ingin menjadi dekat, dia ingin tetap dekat, agar dia bisa mendukung Hayama Hayato, keadaan sekitarnya, dan keinginannya untuk menjadi seperti apa yang dia inginakn.
Pesan pendek dan sederhana itu. Itu adalah satu-satunya hal sederhana yang bisa dia lakukan untuk mempertahankannya. Yang terkandung dalam satu kalimat itu adalah keinginan dan harapannya.
Tapi, itulah kenapa ada sesuatu yang tidak bisa kupahami.
Aku mengambil nafas panjang dan memanggilnya. “Tapi, begini, Miura. Jika Hayama tidak memberitahumu, bukankah itu berarti kalau dia tidak ingin kamu mengetahuinya? Dia mungkin akan berakhir membencimu.”
“Tunggu, Hikki!”
“Hikigaya-kun...”
Yuigahama mentap tajam padaku, sedangkan Yukinoshita menatapku bingung.
Aku sangat paham kalau itu adalah pertanyaan yang kejam. Tapi itu adalah sesuatu yang tetap ingin kutanyakan. Bukannya aku ingin mengetahu tekad Miura, sejujurnya, aku sama sekali tidak tertarik.
Hanya saja, aku masih ragu untuk melangkahkan kakiku pada seseorang yang tidak menginginkannya itu sesuatu yang benar atau tidak. Aku pikir kamu bisa membangun dan menjaga suatu hubungan tanpa keluar dari caramu untuk memposisikan dirimu pada hal itu.
Itulah kenapa, aku bertanya. “Meski begitu, apa kamu masih ingin mengetahuinya?”
Aku bertanya padanya, menunggu apa dia siap untuk melewati garis itu bahkan jika itu berarti dia akan dibenci, diabaikan, dipanggil tidak tahu malu dan melukai seseorang.
Miura menjawabnya tanpa ragu.
Dia menatapku dengan mata berair sambil mengepalkan tangannya.
“Aku ingin mengetahuinya... Meski bergitu, aku tetap ingin mengetahuinya... Karena aku tak punya apapun lagi.”
Matanya berair, suaranya gemetar, tapi, dia, tidak diragukan lagi, memeberikan jawabannya.
Mungkin perasaan itu tetap berada di dalamnya, rasa ingin tahu, rasa ingin memahaminya. Namun sekarang semuanya sudah dikeluarkannya meski dengan terpotong-potong sambil menelan nafas gemetarnya.
Jika dia tahu kalau itu adalah sesuatu yang tak mugkin terwujud, tapi dia masih tetap mencarinya dan siap menghadapinya.
Maka, itu tidak ada bedanya dengan seseoarang di luar sana.
“Aku mengerti. Akan kucoba lakukan sesuatu.”
Sekarang adalah giliranku untuk langsung menjawabnya.
Yuigahama dan Yukinsohita terlihat terkejut.
“Apa maksudmu dengan akan melakukan sesuatu...?”
“Aku akan memaksanya untuk mengatakannya. Kalau tidak, maka aku akan mencaritahunya.”
“Bahkan jika dia memberitahumu, tidak ada jaminan kalau dia berkata jujur.”
“Yeah, Jadi... Saat itu aku melakukan semacam penyelidikan.”
Tapi, itu mungkin masih belum cukup.
Aku harus sepenuhnya memahami alasan kenapa Hayama menjadi sangat keras kepala untuk tidak memberi tahu siapapun tentang Program Jurusannya. Aku mungkin perlu melakuan penyelidikan menyeluruh tentang ini, tapi, yaah, aku akan memikirkannya sedikit demi sedikit.
Untuk sekarang, yang paling penting adalah tekad Miura.
“Bagaimanapun juga, ini mungkin takkan sepenuhnya akurat... Tapi, jika kamu tidak keberatan dengan itu, maka aku akan mencoba lakukan sesuatu.” Aku mengatakannya sekali lagi.
Yuigahama menatap muka  Miura dan berkata dengan lembut. “Yumiko, apa seperti itu tak apa?”
“Um... mmm.”
Setelah Miura menjawab dengan nada seperti anak kecil, dia mengenduskan hidungnya dan mengusap matanya dengan lengan bajunya. Karena dia mengusapnya dengan kasar,  matanya terlihat seperti mata panda.
Tapi, saat melihat mukanya dengan makeupnya yang rusak, untuk pertama kalinya aku berpikir kalau Miura Yumiko adalah gadis yang cantik.





Catatan Kaki :

1.    Di dalam rumah – Area rel estate dimana kamu bisa menemukan apatemen, rumah dan sebagainya.
2.   Perusahaan hitam intinya seperti agency kuli, memnafaatkan pekerja dan semacamnya.
3.   Kota tempat tidur – Kota dimana penduduknya bekerja di luar kota.
4.   Bertanya pada roh penjaganya – Seri buku yang ditulis oleh seseorang yang dapat memanggil roh penjaga para orang terkenal dan mewawancarainya.
5.   Reality Marbels – Fate series, parodi Marble lagu UBW
6.   Melon berbicara (Oshaberi Melon) – Siaran radio Kikuko Inoue.
7.   Pecahan penyelamat – dalam mahjong, sebuah pecahan yang bisa kamu buang tanpa merugikan siapapun.
8.   Aikatsu – Kata klise Kiriya Aoi
9.   Tensai Bakabon – Salah satu kalimat Bakabon Papa.


---------------------------------------------------------------------------------------------
N.b. : Ane usahain vol 10 selesai ditranslate sebelum animenya memasuki bagian cerita dari volume ini.

H kim
------------------------------------------------------------------------------------------------

Oregairu Jilid 10 - Bab 4 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

6 komentar:

  1. thanks min, ditunggu lanjutannya ^_^

    BalasHapus
  2. wah udah ada yg baru, makasih ya gan translatenya.
    Kalo vol 10 kelar, mau translate yg mana lagi min ? kao bisa vol 9 :v

    BalasHapus
  3. Terima kasih min,semangat ya ngelanjutinny :D

    BalasHapus
  4. makasih min,,,tetap semangat tranlatenya

    BalasHapus
  5. Aku takkan takluk karena itu...
    Nice quote 8-man bab ini

    Terima kasih terjemahannya min . . .
    N semoga kelar nerjemahin vol 10 ni sblum animenya . . . N lanjut nerjemahin vol oregairu yg belum di translate

    Sekali lg , terima kasih banyak min XD

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.