17 April 2015

Oregairu Vol 10 - Bab 3



Bab 3 : Sepertinya, Isshiki Iroha menganggapnya seperti di rumah sendiri.


Berakhirnya tiga hari pertama di bulan Januari juga berarti berakhirnya kebahagiaan liburan tahun baru.
Orang tuaku yang sedang beristirahat segera kembali ke jadwal sibuk mereka saat kembali bekerja, dan Komachi akhirnya beralih ke mode serius untuk menghadapi ujian.
Begitulah, karena tidak ada kerjaan di rumah, Kamakura dan aku menghabiskan hari-hari kami dengan bersantai.
Tapi, menghabiskan waktu  bersantai bukan berarti pikiranmu juga bersantai. Semakin lima tidak melakukan apapun, seseorang akan menjadi lebih gelisah. Menjadi sibuk adalah mencurahkan seluruh perhatianmu pada sesuatu dan mengabaikan hal lainnya. Itulah saat dimana kamu menghabiskan waktu senggangmu untuk memikirkan masa depan tanpa tujuan. Lalu, kamu akan merasa depresi. Ahhh, Aku sangat tidak ingin berangkat sekolah atau berkerja...
Khususnya saat liburan musin dingin yang terbatas ini, kamu akan menjadi sangat rentan memikirkan hal seperti itu.
Kamu mengingatkan bahwa saat-saat kehampaan dan saat bersntai ini pasti akan berakhir. Bagi kami, kami sangat memahami bahwa saat-saat bahagia ini takkan berlangsung selamanya.
Waktu akan terus bergerak, memberi tekanan batin yang kuat pada seseorang untuk menjelaskan bahwa disana pasti akan ada akhir. Aku penasaran bagaimana perasaan para NEET saat menyadari kalau orang tua yang selalu mereka andalkan sudah semakin tua... Aku memikirkannya sambil duduk dalam kotatsu, sambil mengelus perut kucingku.
Tapi dengan melampaui semua beban itu akan menjadikanmu seorang pejuang sejati. Seorang pejuang pengangguran sejati. Orang yang berkata “Saatnya untuk serius” saat keadaan terjepit adalah para pengangguran dan pengarang light novel. Itulah alasan kenapa menjadi seorang penulis light novel setara seperti menjadi pengangguran.  Q.E.D.[1] atau mungkin Spiral : Bonds of Reasoning[2].
Aku sedang memikirkan hal seperti itu, dan tanpa kusadari sekarang sudah menjadi AKHIR DARI LIBURAN[3].
Sekolah akan dimulai lagi besok dan setelahnya.
Tapi berkaitan dengan alur berantakkan hidupku, aku bertemu dengan pagi yang ribut.
Setelah aku membasuh wajahku, aku menyisir rambutku dengan kasar sambil melihat ke cermin. Rasa kantukku telah hilang karena dinginnya udara pagi dan dinginnya air.
Yosh... Ayo Berjuang  juga untuk hari ini.[4]


×   ×   ×

 
Hari pertama setelah akhir libur musim dingin itu diselimuti dengan suasana tak mengenakkan.
 Teman sekelasku yang saling bertukar salam “Lama tak jumpa” dan “Selamat Tahun Baru!” terkesan agak gelisah. Sepertinya karena mereka memiliki banyak hal yang ingin dibicarakan tentang liburan musim dingin. Mereka sangat ribut dan jauh lebih bersemangat dari  biasanya. Itu mungkin karena sudah lama sejak mereka saling berbicara, Tahun Baru, dan suasana bersemangat  yang sangat khas di setiap awal semester baru.
Tapi, sepertinya alasannya bukan cuma itu.
Selembar kertas yang diberikan saat perwalian tadi pagi adalah salah satu penyebabnya.
Mataku sedang terfokus pada kertas itu sambil perkataan guruku masuk ke satu telinga dan keluar dari telinga satunya. Yang tertulis di kertasnya adalah “Angket Pilihan Program Jurusan”. Sebenarnya kami sudah menerimanya beberapa kali sebelumnya, tapi sepertinya ini adalah yang terakhir di tahun kedua kami. Tahun ketiga kami akan ditentukan berdasar lemaran ini.
Suka atau tidak, itu menyadarkan kami kalau tahun kedua kami pasti berakhir.
Tahun sudah berganti dan waktu yang bisa kami habiskan di kelas ini tinggal sedikit. Tahun perlahan bergerak dan kita bisa merasakan waktu berlalu semakin cepat. Aku yakin bukan cuma diriku saja.
Kita berada di minggu pertama bulan Januari dan hanya tinggal sedikit waktu yang tersisa dari tahun sekolah ini. Waktu yang bisa kami habiskan di kelas ini hanya kurang dari tiga bulan.
Acara utama sekolah telah selesai dan setelah bulan Januari rasanya terkesan seperti masa pembuangan.  Tak ada tujuan berarti tidak ada kegiatan yang dilakasanakan. Tapi semua hal itu menghilang karena adanya teman di sekitar mereka, menyebabkan keributan sekarang ini.
Terlebih, saat kami memasuki tahun ke tiga, kami takkan mesuk sekolah mulai bulan Januari untuk memulai persiapan menghadapi ujian. Jadi sebenarnya, musim dingin ini adalah musim dingin terakhir di kehidupan SMA kami.
Kamu mengingatkan bahwa saat-saat kehampaan dan bersantai ini pasti akan berakhir. Bagi kami, kami sangat memahami kalau saat-saat bahagia ini takkan berlangsung selamanya.


×   ×   ×

 
Suasana ribut ini tak berubah bahkan sepulang sekolah.
Masih banyak anak yang berada di kelas, sepertinya karena mereka masih belum puas mengobrol. Yang paling mencolok adalah kelompok yang berkumpul disekitar Hayama Hayato dan Miura Yumiko.
Tobe, Ooka dan Yamato sedang sibuk dengan obrolan bodoh mereka sedngkan Hayama sedang melihat keluar jendela dengan sambi meletakkan dagu di tangannya. Terkadang, dia akan menjawab seperlunya pada apa yang mereka bertiga bicarakan dan tersenyum.
Di dekat mereka, Miura cs kelihatannya sedang membicarakan hal lain.
Miura sedikit memutar-mutar rambut pirangnya dengan ujung jarinya seperti biasanya dan bersandar di kursinya. Dia melihat ke “Angket Pilihan Program Jurusan” yang sedang dipegangnya.
“Yui... kamu mau ambil yang mana?” Miura bertanya pada Yuigahama yang berada di hadapannya sambil menibaskan lembarannya.
“Aku... sepertinya ambil Ilmu Sosial, mungkin.”
“Ohh... Ebina, kalau kamu?”
“Aku juga sama. Bagaimana denganmu, Yumiko?”
“Aku... Masih memikirkannya.”
Ebina-san, duduk di depan Miura, menjawabnya sambil memperbaiki posisi kacamatanya. Miura menjawabnya dan melihat kesamping.
Di arah itu adalah kelompok Hayama.
Miura berhenti berpikir sambil memperhatikan mereka dan memanggil. “...Tobe, kamu mau ambil apa?”
Tobe berbalik setelah dia tiba-tiba dipanggil dan memiringkan kepalanya, tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Miura. Tapi sepertinya dia memperkirakan keadaanya saat melihat kertas yang dipegang Miura.
“Ahh, program jurusan, kah? Entahlah, aku juga masih bingung  mau ambil yang mana, tapi aku kurang baik dalam mengingat sesuatu, jadi sepertinya aku akan ambil SAINS.
“Heeeh?”
“Ap, di luar dugaan.”
Kepala miura menegang seperti mengejek dan mentertawakannya, sedangkan Yuigahama terkejut mendengarnya. Yaah, hal itu tentu saja sangat mengejutkan. Secara keseluruhan, Tobe tidak terlihat seperti orang yang akan mampu menangani pelajaran di program SAINS. Bukan Cuma aku yang berpikir begitu, Ooka dan Yamato yang berada di dekatnya memastikan keadaanya.
“SAINS? Kamu yakin?”
“Tenangkan dirimu.”
Sepertinya bahkan Tobe tidak menanggapi ucapan mereka dengan baik. Mulutnya bergerak dan membalasnya.
“Mau bagaimana lagi? Mengingat kamus Bahasa Inggris itu seperti bermain game di steroid.”
Tidak, tidak, Bahasa Inggris itu dibutuhkan di Ilmu Sosia dan SAINS, tahu...
Ooka dan Yamato terlihat lega karena Tobe tidak memikirkan apapun saat memutuskannya, mendekatkan bahu mereka dan berbicara dekat dengan telinganya.
“Ayo bersama ambil Ilmu Sosial saja, Oke?”
“Mendapat penghargaan di bidang SAINS saat kuliah itu sangat sulit, lho.”
“Ya, ya, dengarkan kata Yamato. Kuliah Ilmu Sosial itu sangat mudah. Jadi kita bisa terus bermain bersama, tahu? Kita hanya bisa benar-benar bermain saat kita masih menjadi murid, jadi kita harus memikirkan tentang masa depan kita!”
Sepertinya Ooka dan Yamato telah menentukan program jurusan pilihannya, memikirkan tentang bagaimana untuk menunda pekerjaan penuh mereka daripada melanjutkan pendidikan mereka. Tapi, apa mereka benar-benar berkata untuk memikirkan tentang masa depan pemikiran seperti itu?
Orang-orang yang biasanya berkata seperti itu untuk mengajari anaknya dengan tampang puas hanyalah mereka yang telah mengalaminya. Mereka sudah pasti akan berkata “Kamu pasti akan menyesal karena tidak serius belajar saat sekolah, tahu?”
Zehaha! Mereka pasti akan menderita saat nanti mencari pekerjaan! Mereka seharusnya berusaha mendaki gunung Fuji secepat yang mereka bisa agar mereka dapat menceritakannya saat wawancara pekerjaan. Disisi lain, aku tidak punya keinginan untuk bekerja, jadi mungkin kualitas jiwaku lebih rendah daripada mereka.
Tapi untuk Tobe, rayuan seperti itu itu super effective[5]!
“Ohh, bisa juga begitu. Itu akan menyelamatkun dari banyak masalah, beneran.” Tobe langsung terpikat.  Masa depan tobe gelap gulita[6]!
Tapi sepertinya bahkan Tobe memikirkan tentang program jurusannya, jadi dia bertanya pada mereka. “Kalian mau ambil apa?”
“Hina dan aku sepertinya ambil Ilmu Sosial. Dan Yumiko masih memikirkannya.” Kata Yuigahama.
Tobe mengelus rambut kuduknya dan melirik ke Ebina-san, memastikan apa yang dilakukannya.
“Ohh, begitu. Mungkin aku akan mengambil Ilmu Sosial juga.”
“Tapi katanya SAINS memiliki prospek kerja yang lebih baik. Jadi kupikir SAINS juga bagus. Kamu juga bisa menyatukan elemen dalam tebel periodik unsur[7].”
Ebina-san berbicara dengan serius pada awalnya, tapi di ujungnya, dia mulai tertawa busuk “gufufu”.
“...Ah, ahh, Itu juga betul. Begitu juga bisa. Yeah, yeah, pasti.”
Tidak, tidak, itu tidak betul. Tapi, Tobe mengangguk dan melompat kebelakang. Seperti biasanya, Perisai pelindung Ebina-san tetap kuat seperti biasanya.
Yang berbeda dari sebelumnya adalah bagaimana mereka menanggapinya.  Orang yang biasanya akan menghentikan Ebina-san dengan memukul kepalanya, tidak melakukan apapun hari ini. Merasa ada yang aneh, Ebina-san melihat kearah Miura.
Miura sedang melamun sambil melihat kearah Hayama, tidak memperhatikan pada apa yang dibicarakan Toba dan lainnya.
“... Bagaimana denganmu, Hayato?” Miura bertanya paad Hayama yang terus memperhatikan mereka tanpa ikut bergabung.
Dia sedikit mengguncang bahunya dan tersenyum kecut. “Aku... sudah memikirkannya.”
“Hmmmm...”
Miura  menjawab lemas dan memalingkan pandangannya daari Hayama. Tidak seperti sikapnya, wajahnya terlihat seperti masih ingin bertanya sesuatu. Tapi, Hayama menghentikan pembicaraanya disitu dengan senyumnya. Dengan senyum seperti itu, sepertinya Miura tidak bisa bertanya lebih jauh lagi dan kehilangan kata-katanya. Saatpembicaraan mereka terhenti, Tobe berkata.
“Begini, Hayato-kun, bisa kamu megatakannya? Aku masih bingung mau pilih yang mana.”
“Apa yang akan kamu lakukan setelah mendengar pilihanku? Kamu akan menyesalinya kalau tidak memikirkannya dengan serius.”
Hayama mengatakan pendapatnya.
Aku tidak punya niat untuk mengatakan sesuatu yang ambigu seperti “Tentukan pilihaanmu sendiri”. Saat kamu memberikan jawaban dengan menyesuaikan pada jawaban orang lain dan itu tidak berjalan bagus, kamu pasti akan menyalahkan orang itu. Kamu akan b erusaha mencari penjahat yang mengacaukan hidupmu. Meski kamu sendiri yang menyesuaikan jawabanmu dengannya, kamu akan menyimpan dendam pada orang itu. Tindakan kompromi dan penipuan tidak diragukan lagi adalah tindakan yang tidak adil.
Tobe berkata “ehh”, “ughh” dan “weeey” mendengar nasihat Hayama, tapi sepertinya percaya.
“Ah, sial, mungkin aku akan memirkannya lebuh keras lagi.” Kata Tabe. Yang lainnya megangguk dan begitulah akhir percakapannya.
Kehabisan ide pembicaraan, sementara mereka terdiam.
Ooka berkata sesuatu pada Hayama seakan mengingat sesuatu. “Oh ya, Hayato-kun, apa kamu benar-benar pacararan dengan Yukinoshita-san?”
“Hah?”
Semuanya termasuk Miura terkihat heran dengan mulut ternganga. Mulutku juga mungkn terbuka. Ujug-ujung ngomong apa ente, Ooka? Mana mungkin itu benar, aku pikir... itu... tak mungkin, kan?... yeah... itu... tak mungkin...
“Haaaaaaah?” Miura segera berdiri dari kursinya.
Teman sekelasku yang sedang berbicara menatap mereka penasaran. Ruang keals tiba0tiba dieslimuti kesunyian.
Dengan perhaatian semua orang tertuju pada mereka, Hayama menatap Ooka. “Siapa yang mengatakan hal tiak bertanggung jawab seperti itu?”
Suaranya terdengar tajam.
Hayama mengeluarkan aura yang berbeda dari biasanya dan Ooka kehilangan kata-katanya karena bingung. Tapi, tatapan Hayama tidak mengizinkannya untuk diam.
Ekspresi Hayama yang seperti itu pernah kulihat sebelumnya. Itu adalah musim gugur kemarin saat kami bersama Orimoto dan temannya.
Tertekan karena tatapan Hayama yang bahkan tidak sedikitpun goyah , Ooka menjawab pertanyaanya sambil bingung.
“Mmm, Itu tentang rumor... Kalian berdua terlihat  bersama saat libur musim dingin atau semacamnya...” kata Ooka, hampir tidak mampu menjawab...
Hayama seikit membuang nafas, menurunkan ujung matanya dan menaikkan sudut mulutnya. “Oh, tentang itu? Maaf, tapi itu bukan cerita bahgia seperti itu. Kami hanya bertemu karena urusan keluarga. Terlrbih, mana mungkin itu benar. Betul kan, Tobe?”
Dengan senyum khasnya, Hayama menepuk bahu Ooka dan bertanya pada Tobe dengan nada riang.
“Ah... Ahh, pasti! Yeah, pastinya!”
“Benar kan?”
Saat senyum tajam ditujukan pada  mereka, Ooka dan Yamato setuju.
“Y-Yeah, itu benar! Bahh, Aku juga berpikir kalau itu cuma fiktif belaka!”
“Harusnya katakan dari tadi.” Hayama memukul kepala Ooka bercanda.
Bagaiamanapun kamu melihatnya, itu adalah percakapan antar laki-laki. Setelah dipukul, Ooka mengalihkannya dan suasana kelas kembali santai.
Hayama mengambil tasnya lalu berdiri.
“Kita harus segera pergi ke klub. Aku akan menyerahkan angketku ke kantor guru.”
“Okay.”
“Okay, kita jagu harus pergi.”
Mengikutinya,  Tobe, Ooka dan Yamato berdiri, sedikit melambai kearah Miura cs dan pergi.
Miura memperhatikan merekan pergi dari belakang sambil terdiam. Dia sedikit menggigit bibirnya sambil terus memutar rambutnya dengan ujung jarinya tanpa bergerak.
Yuigahama dengan pelan meletakkan tangannya di bahunya, “Tidak apa, tak perlu khawatir. Um, sebenarnya aku juga disana.”
“Bohong kan?” Miura bertanya curiga.
“Yuigahama tersenyum. “Tidak. Aku sedang berbelanja saat itu dan betemu dengan kakak Yukinon, dan sepertinya keluarga Yuinon dan Hayato-kun adalah kenalan, jadi itu seperti salam Tahun Baru. Jadi, Yukinon juga dipanggil kesana juga.”
Itu adalah penjelasan yang parah... Itu terdengar seperti mendengarkan perkataan bocah...
Ebina-san mengangguk pada penjelasan itu menyimpulkannya. “Begitu. Jadi mereka bertemu karena urusan keluarga dan kebetulan seseorang melihat mereka sehingga muncul rumor itu.”
“Uh huh, mungkin.”
“Itu karena Hayato-kun dan Yukinoshita-san sangat mencolok, jadi sangat mudah meninggalkan kesan pada seseorang.”
Setelah menguping pembicaraan mereka sampai situ, aku berdiri dari kursiku dan meninggalkan kelas.


×   ×   ×


Keributan sepulang sekolah itu menyebar sampai ke lorong.
Sekolah baru saja berlanjut dari libur musim dingin tapi pemikiran itu entah kenapa masih saja gelisah. Di lorong yang menuju ke bangunan khusus yang biasanya kosong, terliahat ada beberapa orang siswa.
“Tadi kamu dengar? Tentang Hayama-kun?”
“Ahh, itu. Kedengarannya mungkin sekali, kan?”
Gadis yang baru saja kulewati sedang membicarakan tentang sesuatu yang sepertinya baru saja mereka dengar.
Seperti yang dikatakan Ebina-san tadi, sepertinya pecahan informasi itu telah beredar, berubah menjadi cerita dengan polesan seseorang, berkembang menjadi tren candaan, dan  menghilang.
Itu bahkan bukan cerita yang berkaitan denganku, tapi rasa tidak nyaman ini merasuki leherku dan membutku ingin membenturkan kepalaku saat mendengar gossip itu.
Ketidak nyamanan ini sepertinya karena kebiasaan memuakkan mereka, orang  yang bahkan tidak kukenal namanya tapi berbicara seenak udel mereka sendiri.
Permasalahan utama dari gossip seperti ini adalah kenyataan bahwa mereka tidak perlu mengatakannya karena ada niat buruk pada seseorang.
Itu karena lucu, itu karena semuanya tertarik, dan itu karena mereka berdua sangat mencolok. Itulah kenapa tidak masalah untuk mengatakan apapun tentang mereka. Tidak ada yang mempertanyakan kepastiannya dan itu menjadi topik utama hari ini. Mereka seenaknya menyebarkan informasi palsu tanpa memastikannya terlebih dulu. Tak peduli seberapa banyak masalah yang timbul bagi orang lain, mereka bisa menghindari tanggung jawabnya dengan berkata “Itu hanya rumor”. Mereka hanyalah kaum marjinal, dan saat keadaanya tidak brejalan sesuai keinginan mereka, tanpa ragu mereka akan berkata kalau mereka hanya orang biasa.
Hanya memikirkannya saja membuatku muak. Jika hal itu akan menjadi seperti ini, jauh lebih baik mendengar mereka menghinamu dari belakang punggungmu.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, aku bisa mendengar suara langkah kaki berjalan kearahku. Satu-satunya orang berjalan seramai ini hanyalah Yuigahama. Aku melambatkan langkah kakiku dan Yuigahama segera menyusulku.
Yuigahama berjalan di sampingku dan memukul pinggangku dengan tasnya. “Kenapa kamu pergi duluan dan meninggalkanku?”
“Yaah, kelihatannya kamu masih berbicara...”
Terlebih, aku tidak ingat berjanji untuk pergi ke klub bersama denganmu... Yaah, kami memang pernah berjanji saat bulan Desember dulu untuk pergi ke klub bersama. Ini pasti kelanjutan dari janji itu bagi Yuigahama.
“Hey, apa kamu dengar pembicaraan tadi? Itu, yang tentang Yukinon dan Hayato-kun?”
“Yaah, kalian cukup berisik...”
Bukan Cuma karena kelompok mereka yang mecolok, Miura bahkan berteriak... Bukanya semua yang di kelas saat itu memperhatikannya?
“Yaah, sebuah rumor hanyalah rumor, Hal itu tak mugnkin benar.”
“Aku pikir juga begitu, tapi...” Yuigahama berhenti berbicar sejenak dan segera mengangkat wajahnya. “Tapi, aku pikir hal itu mungkin saja benar-benar terjadi suatu hari nanti untuk Yukinon. Hayato-kun juga.”
Aku mencoba membayangkannya, tapi aku tetap tidak bisa membayangankannya dengan benar. Sudah jelas kalau untuk Yukinoshita, tapi aku juga tidak bisa membayangkan Hayama memiliki hubungan asmara dengan seseorang.
Aku mengatakan pendapatku. “Sejujurnya, sulit membayangkannya... Melihat Yukinoshita pacaran dengan seseoarang.”
“... Kenapa?”
“Apa maksudmu dengan ‘kenapa’...?”
Bahkan jika dia menatapku dengan penasaran, aku juga bingung menjelaskannya. Padahal alasannaya juga sangat jelas untukku.
“Kalau dia, pacaran dengan seseorang itu, begitu lah...” kata ku.
Yuigahama menyeringai dan berkata. “Ah, benar. Yaah, um. Itu, er, yeah.”
“Benar kan?”
“Mmmm... Ah! Tidak, tidak, tidak, bukan itu yang ingin ku tanyakan! Tapi aku juga tidak bisa membantahnya...” Yuigahama terus berbicara sambil memiringkan kepalanya.
Selanjutnya, kami sudah mencampai ujung lorong. Dan kami berada di depan ruang klub. Sebelum meletakkan tanganku di pintu, aku berbicara sedikit dengan pelan.
“Yang penting, jangan membahasnya saat di klub.”
“Eh? Kenapa?”
“... Karena dia pasti akan marah.”
“... Benar.”
Sudah hampir satu tahun sejak kami saling kenal. Jadi, jika aku memikirkan apa yang mungkin akan terjadi, maka aku bisa membayangkan Yukinoshita menjadi marah. Jika dia tahu kalau dia tahu kalau dia sedang menjadi bahan gosip murahan, tidak diragukan lagi kalau dia akan sangat marah.
Sebelum memasuki ruangan, Yuigahama dan aku bertukar pandangan dan mengangguk. Lalu aku membuka pintu ruang klun yang sudah lama tidak digunakan.


×   ×   ×

 
Di dalam klub sudah terasa hangat. Aku menghembuhkan nafas lega dan duduk di kursiku.
Ada sebuah kue yang berada di atas meja tepat di depanku yang disiapkan dengan gembira oleh Yuigahama dan dibagi menjadi empat bagian.
“Selamat ulang tahun!”
“Met ultah.”
“Selamat.”
Kami semua menyelamatinya dan Yukinoshita menjadi gugup karena malu.
“Te-terima kasih... Um, aku pikir lebih aku siapkan tehnya.” Kata Yukinoshita. Dia berdiri dari kursinya dan dengan pelan mulai menyiapkan teh hitam. Bersamaan dengan suara gemerincing peralatan minum, telingaku bisa mendengar suara terkejut “oooh”.
“Yukinoshita-senpai, jadi ulang tahunmu tanggal 3 Januari, hah? Ngomong-ngomong, ulang tahunku itu tanggal 16 April, senpai.”
“Aku ngga tanya...”
Lagian, kenapa ente bisa disini, hmmm...?
Dia memiringkan kepalanya ragu dan rambut pirangnya berayun. Dia berulang kali menepuk bibirnya dengan garpu di tangan kecilnya, yang tertutup oleh lengan longgar cardigan yang dipakainya di dalam seragamnya.
 Dia mengambil satu dari empat bagian, dia juga mengambil cangkir kertas dan meminum teh hitam. Bukankah kemampuan adaptasinya sedikit terlalu hebat? Apa dia anggota TOKIO[8] atau semacamnya? Sepertinya dia bahkan bisa bertahan hidup di pulau tak berpenghuni...
Isshiki meminum teh hitamnya dan mengusap cangkir kertas itu dengan lengan longgar cardigannya.
“Oh ya, tolong ajak aku juga saat mengunjungi kuil!”
“Dan kenapa aku harus melakukannya?”
Terlebih, aku tidak punya cara menghubungimu, tahu? Atau mungkin maksudmu menggunakan telepati? Apa disana ada semcam kebijakan bebas biaya pengunaan? Atau mungkin itu? Apa mungkin kamu menggunakan ini sebagai kesempatan untuk menjalanakn rencanamu untuk mengausaiku secara mental dengan mendapatkan info kontakku? Sayang sekali! Aku takkan terperangkap dengan hal seperti itu! FYI, Hachiman mengetahui kalau memikirkan suatu hal terlalu dalam, berarti kamu sedang menggali kuburmu sendiri!
Aku ber pikir semauku, tapi Isshiki mengalihkannya, tidak terlalu memikirkannya dan mendesah.
“Maksudku, semuanya pergi mengunjungi kuil, kan? Jadi, Hayama-senpai juga pasti ada disana.”
“Tidak, dia tidak disana bersama kami...”
“Tentu saja. Kalau begitu lupakan saja.” Kata Isshiki. Dia memalingkan wajahnya dan mengakhiri pembicaraan. Iroha ga Kill![9] Mengakhiri dengan sekali serang... satu-satunya yang mengetahui hal itu hanyalah para penonton anime dan Battousai si penyayat[10].
Yaah, perasaan Isshiki dapat dipahami. Aku bisa membayangkan alasannya berpikir Hayama akan ada kalau ada Miura cs. Yang tidak kupahami adalah kenapa Isshiki ada disini.
“Jadi, kenapa kamu disini?”
“Ehhh, maksudku, saat ini, tak ada yang dilakukan di OSIS.”
“Seharusnya ada banyak, meski aku tidak tahu apa itu. Kalau begitu pergi ke klub saja sana, kamu masih menjadi menejernya kan?” kataku.
Isshiki menepuk bahuku dengan pelan. “Maa, maa, apa masalahnya? Ah, aku tahu, aku sebenarnya kemari untuk mengambil barang yang ditinggalkan disini saat natal.”
“Jelas sekali kamu baru saja mengarangnya.”
Alasannya terdengar sangat ngawur sehingga kemungkinan besar itu hanya kebetulan.
“Haa...”
Yukinoshita mendesah dan disampingnya, Yuigahama tersenyum kecut. Ya ampu, Irohasu... semuanya sangat heran, mugnkin kita akan menjadi Aguirre JAPAN[11], tapi Isshiki terlihat tak gentar. Dia sangat tidak gentar sampai aku ingin megubahnya  menjadi boneka seperti Keroyon[12] dan meletakannya di depan apotek.
Merasa canggung karena mereka sedang memperhatikannya, untuk mengalihkannya Isshiki meniup cangkir tehnya yang bahkan sama sekali tidak panas.
“Oh ya.” Isshiki tiba-tiba berbicara dan menatap Yukinoshita. Yukinoshita memiringkan kepalanya dan Isshiki tersenyum. Lalu dia mengatakan sesuatu yang cetar membahana. “Yukinoshita-senpai, apa kamu pacaran dengan Hayama-senpai.”
“Apa?” Yukinoshita lebih memiringkan kepalanya lagi membuatnya hampir mencapai sudut sembilan puluh derajat.
Cukk, Bagaimana gadis ini bisa dengan mudahnya melngkahkan kakinya ke ranjau...? Apa –apaan dengan Hurt Locker[13]  ini..? Dia juga menanyakannya langsung tanpa memancingnya dulu. Itu seperti pitcher legendaris dalam basebal yang dikenal dengan Masakari stylenya[14] dimana dia melempar bola lurus dengan cepat tanpa pertanda.
Tidak, tapi dia adalah Isshiki. Dia pasti sengaja menanyakannya. Dan alasan kenapa dia datang kemari adalah untuk memastikan rumor itu.
“Isshiki-san...”
Suara Yukinoshita sangat dingin. Dibalik senyumnya itu, matanya diselimuti selubung tipis cahaya utara sebening es yang diukir dari kutub utara.
Bahu dan suara Isshiki gemetar melihatnya secara langsung.
“Y-Ya!” Dia memundurkan tubuhnya saat dia menjawabnya dengan buru-buru, lalu bersembunyi di belakangku.
Tunggu bentar mbak’e, jangan gunakan seseorang sebagai perisai.
Yukioshita melihat ke Isshiki yaang mengintip lewat bahuku dan memandang rendahnya.
“... Tentu saja itu tidak benar.” Yukinoshita mengatakan bantahan dengan jelas.
Isshiki mengangguk. “A-aku tahu, benar! Maksudku, aku juga berpikir itu tak mungkin! Tapi kamu pasti akan menjadi penasaran saat mendengar rumor seperti itu, tahu?”
“Rumor?”
Merasa ada yang aneh, Yukinoshita melihat kearahku da Yuigahama.
“Ahh, yaah,sepertinya beberapa orang membiacarakan hal seperti itu...”
“Kamu tahu kan saat kita terakhir keluar? Sepertinya seeorang melihat kalian berdua dan salah paham,” kata Yuigahama.
Yukinoshita menghembukan nafas panjang terlihat bosan. “Begitu, jadi sesuatu seperti kecurigaan rendahan...”
Yaah, untuk anak SMA, urusan asmara adalah tpopik yang cukup meanrik. Saat tu berkaitan dengan dua sosok yang kenamaan seperti Hayama dan Yukinoshita, mereka lebih ingin menyelidikinya.
Karena Isshiki menyukai Hayama, tidak aneh kalau dia ingin memastikan rumor itu. Aku melihat kearah Isshiki dan dia memiringkan kepalanya merenung.
“Tapi, bukankah itu cukup buruk?”
“Aku pikir begitu. Itu tentu saja merepotkan orang-orang yang terlibat.”
“Ah, tidak, bukan itu maksudku.”
Isshiki dengan sopan menolak penadapat itu dan Yukinoshita memiringkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” tanya Yukinoshita.
Isshiki mengacungkan satu jarinya. “Anehnya, sebelumnya belum pernah ada rumor seperti itu tentang Hayama-senpai.”
Begitu. Saat dia mengatakannya, aku pikir aku belum pernah mendengara seseorang berbicara tentang hubungan asmara Hayama Hayato. Tidak, yaah, bukan berarti aku tahu tentang yang lainnya. Itu hanya karena tidak ada yang mengatakannya padaku... Seperti yang dikatakan Yukinoshita sebelumnya, hal yang bisa kulakukan hanya meduga. Atau mungkin aku bisa mencoba googling dengan Kokkuri-san[15].
“Itulah kenapa para gadis spertinya sangat tertarik dengan rumor itu, tahuuu.” Isshiki menganguk sambil menyilangkan lengannya.
Hayama Hayato belum pernah mandapat rumor aneh seperti ini sebelumnya. Jadi jika itu tentang siapa pacarnya, tentu saja, itu asti akan menjadi tetangnya. Itu sama sekali tidak aneh. Para gadis yang tertarik dengan Hayama pasti salah paham tentang ini. Dan salah paham itulah yang menyebabkan rumor ini. Kira-kira bagaimana efek rumor itu pada orang-orang di sekitar Hayama?
“... Sebuah rumor, kah? Seperti karma, kan?” kata Yukioshita. Perkataanya tidak ditujukan pada siapapun. Cangkir tehnya yang dilihatnya membentuk riak kecil.
“Y-Yaah, kamu tahu! Jika kamu mengabaikannya,rumornya pasti akan hilang dengan sendirinya! Kamu tahu kan kalau konon katanya rumor hanya bertahan 49 hari!”
“itu 75 hari.”
Siapa yang mati? Apa itu rangkaian peringatan kematian Buddha[16] sekarang ini atau semacamnya?
“Yang penting! Abaikan sanja, Okay?” kata Yuighama, perhatian pada Yukinoshita.
Memang, satu-satunya hal yang  bisa kita lakukan sekarang hanya tetap diam. Tak ada gunanya mempermasalahkannya pada orang yang membicarakn tentang rumor itu hanya untuk bersenang-senang. Yang kita perlukan hanyalah diam seperti kerang yang tenggelam di dasar laut. Tetap diam adalah satu-satunya solusi menghadapi kesalahpahamaan picik dan tren candaan.
Menjadi gelisah dan menolaknya hanya akan buang-buang tenaga. Asal tujuan mereka hanya untuk bersenang-senang, setiap tindakan bisa digunakan sebagai bahan serangan mereka. Terlebih, melindunginya hanya akan menjadikanmu sebagai sasaran mereka berikutnya. Kamu bisa bermain Rashambo, tapi kamu akan tetap kalah tak peduli apapun hasilnya. Kamu juga bisa dikritik karena tidak melakukan apapun, tapi kerusakan yang diterima dengan tidak melakuakn apapun adalah yang paling rendah.
Yukinoshita sepertinya memahaminya dan mengangguk. “... Aku pikir begitu.”
“Okay, ayo kembali ke jadwal dan... lanjut bekerja!”
Saat Yuigahama mengatakannya dengan nada ceria, Yukinoshita menanggapinya dengan mengeluarkan sebuah laptop.
“Lanjut bekerja”... kata yang sangat tidak menyenangkan.


×   ×   ×


Pekerjaan harus tetap dilakukan tidak peduli seberapa menjengkelkannya hal itu. Sebenarnya, hal itu disebut sebagai pekerjaan adalah karena hal itu menjengkelkan. Dan pekerjaan menjengkelkan pertama kami di Tahun ini adalah untuk memeriksa pesan.
Sebuah laptop yang diselimuti debu dikeluarkan dari sudut ruang klub, digunakan untuk memeriksa “Pesan Konsultasi Masalah Prefektur Chiba” yang telah terabaikan sementara waktu.
Laptop yang dipinjam Hiratsuka-sensei entah darimana itu termasuk model yang agak lama, jadi cukup memakan waktu untuk menyalakannya.
Sambil menunggunya, Yukinoshita memeriksa tasnya. Setelah dengan gembira mengambil sebuah wadah kacamata, dengan tenang dia mengeluarkan dan memakai kacamatanya.
Saat aku bertatapan dengan matanya dibalik lensa itu, aku berpura-pura menguap dan memalingkan wajah. Di ujung mataku, aku bisa melihat Yukinoshita menundukan wajahnya.
“Ah, Yukinon, kamu terlihat sangat cocok memakainya!” kata Yuigahama.
“Be-beneran?” Yukinsohita dengan pelan menyentuh frame kacamatanya dan melihat kearahku untuk memastikannya.
“... Yaah,... Yeah... begitulah...”
Aku merasa malu melihat hadiahku dipakainya begitu cepat, sehingga aku hanya bisa menjawabnya dengan jawaban ambigu.
“... Terima kasih.” Dia mengatakannya dengan pelan, lalu memalingkan wajahnya merasa biasa saja.
Aku menganggukkan kepalaku dan meminum teh di cangkirku.
Isshiki melihat Yukinoshita dengan penasaran. “Yukinsohita-senpai, apa kamu selalu memakai kacamata?”
“... Ini kacamata PC.” Yukinoshita menjawabnya tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.
Kelihatannya tak tertarik sedikitpun, Isshiki berkata dengan nada datar sambil menggosok cangkir kertasnya. “Oooh.”
Itu jelas sekali jawaban yang sangat  acuh...
Tapi aku mengharagai ketidak tertarikannya.
Kalau percakapannya terus berlanjut, aku yakin aku akan berguling karena malu. Sekarang saja aku sudah merasa sangat malu dan pandanganku bergerak ke segala arah!
Aku mengatur tempat dudukku, merasa tidak bisa tenang. Duduk di seberangku, Yuigahama berkata. “Mungkin sebaiknya aku memakai kacamata juga...”
“Kamu bahkan tidak melihat ke laptop.” Kataku.
Yuigahama menjadi marah.
“Mungkin memang tidak! Tidak, sebenarnya aku melihatnya! Aku benar-benar melihatnya! Yukinon, biarkan aku melihat laptopnya juga!” Yuigahama berpindah tempat duduk ke samping Yukinoshita dan melihat ke laptop. “Oh, kelihatannya kita mendapat pesan.”
“Ya, kelihatannya dari... Miura-san,” kata Yukinoshita, lalu dia memutar laptopnya menghadapku.
<Masalah Yumiko-san>
[Bagaimana kalian memilih antara Ilmu Sosia atau SAINS?]
Yeah. Tidak diragukan lagi, ini dari Miura. Sebelumnya dia juga pernah mengirim E-Mail pada kami dengan nama ini.
Karena monitornya menghadapku, Isshiki mendekat kearahku sambil membawa piring kuenya dan melihat ke layar.
“Mmhmm, jadi ini tentang Program Jurusan, kah? Jadi, yang mana yang lebih bagus?” Isshiki meletakan garpu di mulutnya, menatapku sambil mengunyah kuenya dan bertanya.
Untuk siswa SMA yang memikirkan tentang ujian masuk Universitas, pertanyaan ini adalah masalah yang harus mereka pikirkan dengan mendalam. Sepertinya bahkan Isshiki juga begitu.
“Yaah, jika kita hanya memerhitungkan tenang kemudahan soal ujian, maka Ilmu Sosial jauh lebih mudah. Meski begitu, itu sangat berbeda antara sekolah Negeri dan Swasta. Untuk sekolah Negeri, kamu harus mempelajari lima pelajaran pokok dan tujuh pelajaran tambahan, tapi di sekolah Swasta, kamu hanya perlu mempelajari Bahasa Inggris, Bahasa Jepang dan Pelajaran Sosial,” aku mengatakan pendapatku.
Isshiki mundur satu langkah. “... Whoa. Senpai, apa mungkin kalau kamu biasanya mendapat nilai yang bagus?”
“Apa-apaan dengan ‘Apa mungkin’...hah? Eh? ‘Whoa’? kamu barusan berkata ‘Whoa’ kan? Kamu pikir orang macam apa aku ini...?”
Lalu, Isshiki tersenyum bangga dan berkata seakan mengatakan sesuatu yang bagus. “Oh, aku tidak bisa menjawabnya... Itu lho, aku kurang suka berkata buruk tentang seseorang, tahu?”
Peduli setan. Terlebih, kurang kebih itu sudah termasuk hinaan... Apa-apaan bocah ini...? Saat aku melihat Isshiki, dia juga menatapku dengan kagum.
“Senpai, aku tahu kalau kamu kelihatannya sangat cerdas, tapi kamu juga biasanya mendapat nilai bagus, hmmm?”
Mmhmm, mungkinkah, Iroha-chan. Kamu bertingkah keras kepala seperti itu karena kamu tidak ingin berpikir kalau aku ini benar-benar pintar, hmm? Pilihan katamu terlalu jelas, okay?
“Yeah! Itu benar. Kamu tahu, Nilai Hikki hanya bagus di Ilmu Sosial.”
Yuigahama menepukkan tangannya tanda setuju dan mengatakannya dengan bangga.
Kenapa kamu bertingkah bangga...? Terlebih ,tolong jangan katakan “hanya di Ilmu Sosial.”
Disampingnya, Yukinoshita mengibaskan rambut di bahunya dan tersenyum bannga. “Itu benar. Dia memang punya nilai yang cukup bagus. Tapi itu masih belum cukup untuk mencapai puncak.”
Kenapa kamu bertingkah bangga...? Okay, aku tahu alasannya. Nilainya memang lebih baik dariku...
“Jadi itu berarti senpai akan mengambil Ilmu Sosial?”
“Kurang lebih begitu.”
Isshiki menjawabnya dengan “Ooooh” yang sangat acuh saat aku mangatakannya. Kalau gitu gak usah tanya, cuk. Lalu isshiki bertanya sesuatu berkaitan dengan topik ini.
“... Jadi, apa Hayama-senpai sudah memutuskan mau ambil yang mana?”
“Ahh, sepertinya Hayato-kun sudah menentukan pilihannya,” Jawab Yuigahama, mengingatnya.
Isshiki tiba-tiba mencondongkan tubuhnya. “Eh, tidak mungkin? Apa yang Hayama-senpai pilih? Itu lho, aku ingin mengetahuinya hanya sebagai referensi. Itu demi masa depanku, jadi kalau bisa, aku ingin mengetahuinya.”
“Mmm, aku tidak tahu apa yang ditulisnya... Hayato-kun juga sudah menyerahkan angketnya...”
“Oh, begitu...” Isshiki menurunkan bahunya karena kecewa.
Kasian padanya, Yuigahama berkata karena perhatian. “Ah, jika kamu ingin referensi, aku tahu apa yang Tobecchi pilih!”
“Tidak, terserah saja kalau Tobe-senpai.”
“Jawaban langsung!?”
Memangnya referensi untuk apa...? Saat aku sedang penasaran, Yukinoshita melihat ke monitor dan terlihat bingung, lalu sedikit mendesah.
“Ada apa?”
“Ah, tidak, aku pikir sedikit mengejutkan bagi Miura-san untuk mencemaskan hal seperti ini?”
“Jahat sekali perkataanmu... Maksudku, Miura mungkin memiliki sifat seperti ratu dengan watak yang seperti itu, tapi aku yakin dia juga punya sesuatu yang dicemaskannya.”
“Sekarang siapa yang mengatakan hal buruk...? Maksudku bukan seperti itu.” Kata Yukinoshita, meletakkan tangan di dagunya sambil mendesah bingung. “Aku hanya berpikir kalau ini cukup mengejutkan bagi orang seperti Miura, karena dia terlihat seperti orang yang tegas. Kelihatannya bahkan Tobe sudah menetukan Progam Jurusannya...”
Apa kalimat terakhir itu benar-benar diperlukan...? Kelihatanya seperti Tobe menjadi semacam korban yang tak bersangkutan... Aku tersenyum kecut dan Yuigahama juga melakukannya.
“Ahaha... Maksudku, bahkan Yumiko juga bisa mengkhawatirkan sesuatu. Karena ini menentukan Program Jurusan kita.”
“Apa Program Jurusan memang layak dikhawatirkan?”
Jika kamu punya sesuatu yang ingin kamu lakukan, maka kamu tinggal memilih pilihan yang cocok denganmu. Jika tidak, maka kamu bisa menetukannya saat di Universitas. Bukankah kurang lebih seperti itu pemikiran anak SMA secara umum?
Secara keseluruhan, satu-satunya hal yang dikhawatirkan dalam menetukan Ilmu Sosial atau SAINS adalah Mapel Ujian serta pilihan sekolahmu. Ada juga orang yang mengkhawatirkan tentang kemudahan mencari peralatan dan keperluannya saat masuk kuliah, atau tentang keutungan dan kerugiannya saat mencari kerja. Tapi jika kamu mengeliminasinya dengan “hal yang tidak ingin kamu lakukan”, maka kamu akan dengan mudah mendapatkan jawabanmu.
Semua orang mengalami kesulitan untuk menentukan hal yang ingin dilakukannya, tapi bisa dengan mudah memikirkan hal yang tidak ingin dilakukannya.
Yuigahama terlihat bingung. “Mmm, bukan itu maksudku... Itu lho, seperti, bagaimana mereka semua akan berpisah? Agak sulit memilihnya jika kamu memperhitungkan hal itu.”
“Yaah... Tapi kenyataanya kan memang seperti itu.”
Di suatu tempat dan suatu saat, setiap hal pasti akan  berakhir. Aku yakin itu adalah hal yang biasa. Itu bahkan lebih tepat untuk anak SMA yang hanya punya waktu beberapa  tahun. Aku tahu kalau semua orang pasti akan pergi menyusuri jalan mereka masing-masing.
Itulah kenapa aku hanya bisa brekata begitu.
Yuigahama sedikit menurunkan bahunya. “Uh huh. Aku tahu itu, tapi... hanya saja, seperti, Masih banyak hal yang ingin kita lakukan bersama, jadi...Terlebih, jika kita terbagi dalam Ilmu Sosial dan SAINS, kita takkan bisa berada di kelas yang sama...”
“Kalau begitu, aku akan selalu berada di kelas yang berbeda, karena materi pelajaranku berbeda...” Yukinoshita mengatakannya dengan pelan dan memalingkan wajahnya.
Kelihatannya dia sedikit cemberut, merasa sulit memahaminya. Yukinoshita berada di kelas berstandar Internasional, jadi materi pelajarannya berbeda dengan kami. Dan juga, dia hanya punya satu kelas, jadi dalam tiga tahun dia akan terus berada di kelas itu.
“M-Maaf, Yukinon! Bukan seperti itu maksudku... Ma-Maksudku, aku juga tak begitu memahaminya, tapi, benar-benar tak ada apa meski kamu berada di kelas yang  berbeda, Yukinon!” Yuigahama segera memeluk Yukinoshita.
Memang. Berteman baik itu sangat indah[17]. Gahama-san dan Yukinon adalah Best Friend Forever!
Terus mengamati kami dengan curiga, Isshiki mengangkat wajahnya. “Ahh, jadi begitu.”
“Apanya?” tanyaku.
Isshiki tersenyum bangga dan menunjuk ke laptop. “Pesan ini dari Miura-senpai, kan? Jadi, bukankah yang Miura-senpai ingin tahu sebenarnya adalah tentang Hayama-senpai ? Karena tahun depan kelasmu akan ditentukan oleh ini.”
Masa iya. Pesan sependek ini mengandung makna yang begitu dalam? Menterjemahkan bahasa gadis itu terlalu sulit. Jika ini adalah pelajaran wajib, bukankah itu berarti akan sangat banyak orang yang gagal? Dengan catatan, terjemahan dari bahasa laki-laki biasanya kurang lebih “Aku ingin populer”, jadi mereka adalah yang paling mudah dipahami.
Jadi, kami bisa memperkirakan arti dari pesan ini berkat Isshiki Iroha, anggota dari komunitas bahasa gadis, tapi masih ada satu masalah lagi.
“Apa Miura akan mengambil jalan belakang seperti ini? Abaikan yang dikatakan Isshiki.”
“Senpai, kamu anggap apa aku ini...?” Isshiki menatapku tak puas.
Yaah, kamu yang duluan menggunakanku sebagai dalih untuk menanyakan Progam Jurusan Hayama...
Tapi sepertinya ada hal yang hanya dapat dipahami oleh para gadis sebagaimana Yuigahama berkata sambil merenung. Ah, BTW, dia masih memeluk Yukinoshita yang benar-benar disayanginya.
“Terdengar masuk akal... maksudku, dia juga agak khawatir waktu di kelas, jadi, mungkin... Yumiko juga termasuk gadis polos dengan caranya sendiri.”
“Aku tahuu! Lihat aku, aku sangat polos juga, kan?” Isshiki mengangguk lalu menunjuk pada dirinya sendiri dan meminta persetujuanku.
Hmmm... Isshiki dan Miura tidak benar-benar kelihatan seperti gadis polos... Terlebih Miura, dia terkesan lebih seperti ketua geng, tepatnya Yokohama. Aku pikir itu karena namanya[18].
Tapi, yaah, Miuralah yang memulai pembicaraan tentang Program Jurusan dengan mereka. Kesampingkan Yuigahama dan Ebina-san, tapi aku tidak bisa membayangkan kalau Miura tertarik dengan pilihan Tobe. Aku tahu kalau aku juga tidak tertarik.
Dengan cara yang sama seperti Isshiki yang menggunakanku untuk menanyakan tentang pilihan Hayama sebelumnya, itu berarti Miura melakukan itu agar dia bisa berttanya pada tujuan aslinya. Meski orang yang ditanya itu menolak untuk menjawab dengan cara khasnya...
Jadi itulah kenapa kita mendapat pesan penyelidikan seperti ini.
Jika apa yang Isshiki katakan itu benar tentang Miura yang ingin sekelas lagi dengan Hayama tahun depan, maka dia harus memilih jurusan yang sama.
Setiap tahun, kelas tahun ketiga dibagi menjadi tujuh kelas untuk Ilmu Sosial dan tiga kelas untuk SAINS. Kamu juga masih harus megharapkan keberuntungan agar bisa di kelas yang sama meski memilih jurusan yang sama, tapi kemungkinan itu tak ada  jika kamu memilih pilihan yang berbeda.
Terlebih, kelas untuk Ilmu Sosia dan SAINS berada di lantai yang berbeda. Ilmu Sosial dan SAINS terbagi menjadi beberapa kelas, sebelumnya di lantai dua dan setelahnya di lantai tiga.
Lebih jauh jarak diantara mereka, semakin kecil kemungkinan mereka untuk bertemu. Itu seperti permasalahan hidup dan mati bagi gadis.
“Lalu, kenapa dia tidak langsung bertanya padanya?” kata Yukinoshita sambil menyingkirkan Yuigahama darinya.
Itu pasti sesak saat Yuigahama terus melekat padanya meski sekarang sedang musim dingin. Lengan kakunya terlihat seperti kucing yang lelah karena terus dipeluk.
“Hal Itu sebenarnya sudah dibahas tadi saat bersama di kelas, tapi Hayato-kun bilang untuk memikirkannya sendiri dan tidak memberitahukan apa yang dipilihnya...”
“Buakannya itu karena yang lainnya juga ada di sana? Jika hanya kalian beduda, kamu bisa menanyakannya dengan santai. Mungkin itu juga bisa memberimu banyak point.”
“Tidak semudah itu.”
Isshiki menjelaskannya pada kami sambil mengibaskan tangannya, tapi sayang sekali, aku yakin ini bukan masalah yang sesederhana itu.
Bahkan jika kamu pikir kalian cukup dekat, ada banyak hal yang tidak bisa kamu tanyakan.
Tentang masa depan, tentang masa kini, dan tentang masa lalu. Tidak ada yang tahu dimana ranjau itu ditanam.
Apa yang akan terjadi kalau kamu memaksakan untuk bertanya tapi kamu malah mendapatkan jawaban yang tidak kamu inginkan? Hanya memikirkannya saja akan mebuatmu kehabisan kata.
Aku sedang memikirkan hal itu dan Yukinoshita berkata. “Apa yang sebaiknya kita lakukan dengan konsultasi ini?”
“Yaah, untuk sekarang, ayo kita coba lakukan sesuatu.”
Tujuan utama kami bukan untuk menganggu hubungan seseorang, tapi untuk memberikan bantuan sebatas jangkauan kami. Terlebih, jika kami dapat mengembilkan hubungan antara Miura dan Hayama kembali normal, maka rumor murahan itu juga akan menghilang.
“Baiklah! Aku akan mencoba menanyakannya lagi besok.”
“Aku pikir begitu. Sepertinya itu ide yang bagus. Maaf, tapi bisakah kita mengandalkanmu?”
“Yeah!” Yuigahama membalasnya dengan gembira. Tapi dia tiba-tiba telihat kecewa dan menamabahkan.”Meski aku tidak yakin kalu dia akan memberitahuku..”
Yaah, karena Hayama saja tidak memberitahu Miura atau Tobe di kelas, sulit membayangkan Hayama akan mengatakannya pada Yuigahama yang notabene juga tergolong selevel dengan mereka berdua. Dengan alasan itu, berarti itu juga mustahil bagi Isshiki.
Berdasar perkataan Hayama saat di kelas, aku yakin kalau dia khawatir akan memebatasi pilihan orang di sekitarnya karena pilihannya.
Kalau begitu, orang yang tergolong orang luar dan orang yang takkan terpengaruh olehnya adalah yang harus menanyakannya. Tapi orang yang termasuk kategori itu sangat sedikit.
Aku menatap Yukinoshita.
Tapi dia memiringkan kepalanya bingung.
... Yaah, rasanya konyol meminta Yukinoshita mendekati Hayama saat rumor itu masih beredar. Bukan cuma Hayama takkan mau memberitahu Jurusan pilihannya. Tapi, malah sepertinya kita hanya akan medapat masalah baru.
Sepertinya cuma diriku... Meski, tak pernah ada cerita bagus yang tedengar dariku.
“Mau bagaimana lagi, aku yang akan menanyakannya...” kataku, lalu Yuigahama dan Yukinoshita menatapku terkejut.
“Eh, Hikki yang akan menanyakannya?”
“Apa kamu akan baik-baik saja? Apa kamu yakin... kamu bisa memulai pembicaraan?”
“Kamu mengkhawatiran hal yang salah... Yaah. Sebenarnya, aku juga tidak begitu yakin”
Meski begitu, sebagai sesama, setidaknya kami masih bisa saling berbicara. Yaah, perkataanku mungkin bisa tersampaikan padanya, tapi itu bukan berarti kami saling memahami. Dan juga, ada sesuatu yang tidak bisa dipahami meski menggunakan kata yang hampir sama. Ah, Itu bukan sesama, tapi itu namanya sengsara, kan?
“Tapi itu bukan hal yang mustahil”
“Apa maksudmu?”
“Jka dia tidak bisa mengatakannya pada orang yang dekat dengannya, lalu yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan kebalikannya. Itu karena dia seseorang yang tidak ada hubungannya denganmu, sehingga kamu bisa membicaraka hal itu dengannya.”
“... begitu, jadi sesuatu semacam pengakuan dan penyesalan”
“Penyesalan...” Yuigahama mengulangi kata yang terasa asing baginya, mulutnya ternganga.
Aku akan menjelaskannya nanti...  Yukinoshita sedikit melebih lebihkannya tapi dia juga tidak keliru.
Dalam kehidupan sehari hari, ada banyak hal yang kita sesali. Kamu bisa melihat pria paruh baya yang saling mengeluh satu sama lain di bar atau kedai minum, dan bahkan banyak orang yang menceritakan cerita tentang kehidupannya pada sejumlah akun orang yang tak dikenal di sosmed. Itu karena tidak adanya hubungan antara kedua belah pihak sehingga mereka bisa saling membicarakannya. Kalau menurutku, mengatakan sesuatu pada orang yang tidak kukenal adalah hal yang mustahil, dan juga aku tidak suka melakuaknnya.
“Yang jelas aku akan mencoba bertanya. Tak ada salahnya mencoba”
Itu apa yang akan budak perusahaan sebut sebagai “bertingkah bodoh dan mendengarkan”. Kemampuan untuk secara kebetulan medengar informasi ini sangat dibutuhkan oleh para pemula sebagai budak perusahaan. Cara kerjamu akan sangat bergantung dengan seberapa baik kamu bisa menggunakan kemampuan ini. Sumberku adalah keluhan ayahku tentang para pekerja baru dijaman sekarang ini. Saat aku memikirkan bekerja dibawah atasan seperti itu, niat bekerjaku lenyap tanpa bekas. Meski begitu, aku berhasil mempelajari kemampuan baru sebagai budak perusahaan...
Tapi, itu bukan seperti kita punya cara lain. Jadi satu satunya jalan adalah bertanya secara langsung pada orang itu.
Setelah kita memutuskan rencara untuk tindakan selanjutnya. Isshiki berdiri dari kursinya setelah sedikit mendesah.
“Baiklah, aku harus kembali sekarang. Terima kasih untuk tehnya. Yui-senpai, Jika kamu megetahui sesuatu tolong kabari aku juga ya!” kata Isshiki, dia menudukkan kepalanya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.
Aku memanggilanya. “Woy, barangmu.”
“Ah”
Isshiki kembali lagi dan mengalihkannya dengan senyum “teehee”. Lalu dia mengambil kotak kardus di pojok ruangan.
“Bismillah, oomph.”
Tidak ada yang lebih berbahaya dari Isshiki yang berjalan sempoyongan sambil membawa kotak kardus itu di tangannya. Tanpa kusadari, aku sudah mengulurkan tanganku dan mengambil kotak itu dari Isshiki. Kemampuanku yang telah dilatih komachi ini aktif dengan sendirinya. Aku sama sekali tidak bisa mematikan kemampuan ini...
“Terima kasih banyak! Apa aku juga bisa memintamu membawakannya sampai ke ruang  OSIS?”
“Baik, baik,...”
Yaah, sepertinya aku harus. Aku berbalik di depan pintu untuk meberitahu Yukinoshita dan Yuigahama sebelum pergi, tapi mereka sedang berdua terdiam sambil melihat ke kotak kardus.
“........”
“........” Huh? Kenapa kalain diam?
“... Baiklah, aku akan membawa ini dengan sangat cepat,” kataku.
Lalu Yukinoshita sedikit terkejut menanggapinya lalu mulai membereskan peralatan minumnya, tetap diam. Woy, kenapa kamu diam...?
Saat dia hampir selesai, dia berbalik ke Yuigahama. “... Bagaiamana kalau kita akhiri untuk hari ini?”
“B-baik! Kalu begitu, Ayo kita bawa semua barang itu!” Yuigahama menjawab dan segera berdiri dari kursiya. Dia megambil tasnya lalu meninggalkan ruangan. Yukinoshita membawa tasnya di sekitar bahu, lalu berjalan pelan. Isshiki memperhatikan mereka bedua dengan bingung.
“Ummm... Kita tidak butuh orang sebayak itu...”
“... Aku mau mengunci pintunya, jadi, bisa tolong kamu cepat keluar”?
“B-baik!”
Yukinoshita mengatakannya sambil tersenyum dingin dan Isshiki buru buru keluar ruangan.
Lorong sepi ini terasa lebih dingin dibanding suhu udara.
Lorong di bangunan khusus ditutupi cahaya redup, dimana, sekarang keadaan di luar sudah sangat gelap.
Aku mengatur ulang kotak kardus di tanganku sambil melihat mereka bertiga berjalan di depanku.
Di dalam kardus berserakan ornamen bekas acara natal kemarin.
Meski isi dalam kadus ini campur aduk, tapi ternyata lumayan berat juga.


Catatan Kaki :

1.      Q.E.D. – Sebuah manga detektif .
2.     Spiral: The Bonds of Reasoning – Manga shonen misteri.
3.     AKHIR DARI LIBURAN  – Dalam bahasa jepunnya YASUMI NO OWARI. Sepertinya parodi dari band rock SEKAI NO OWARI yang berarti AKHIR DARI DUNIA.
4.     Ayo Berjuang  juga untuk hari ini. (Kyou mo ichinichi ganbaru zou) – kalimat populer baru yang biasanya dikatakan MC di manga baru, game baru.
5.     Pokemon – Saat kamu menggunakan serangan yang efektif pada suatu tipe, kamu akan mendapat pesan Super Effective!
6.     Pokemon – Saat semua pokenmu pingsan, maka layarnya akan menjadi gelap.
7.     Menggabungkan antar elemen terdenga seperti menggabungkan antar laki-laki (men).
8.     TOKIO – Kemapuan adaptasi adalah “tekiouryoku” dan ini berhubungan dengan TOKIO. Hubungannya diawali saat orang-orang dari TOKIO di tinggalkan di pulau tak berpenghuni dan kemampuan beradaptasi mereka sepertinya sangat tinggi.
9.     Iroha ga Kill! – Parodi dari Akame ga Kill!
10.  Battousai si Penyayat – Julukan lama Rurouni Kenshin.
11.   Aguirre Japan – Javier Aguirre adalah pelatih TimNas sepak bola Jepun saat ini. “Heran” dalam bahasa jepun adalah “akire” dan julukan Aguirre adalah “agiire.” Permainan kata.
12.  Keroyon – Maskot berbentuk kodok. “Tak gentar” dalam bahasa Jepun “Kerori”. Permainan kata.
13.  The Hurt Locker – Film perang. Tentusaja berkaitan dengan ranjau.
14.  Masakari Style – Gaya dari Chouji Murata, Pitcher berkebangsaan Jepang.
15.  Gugure! Kokkuri-san.
16.  49 hari – Perkiraan dalam Budha saat roh kembali terreinkarnasi.
17.  Lirik dari puisi yang ditulis oleh Saneatsu Mushanokoji.

18.  Miura Daisuke – seorang Pitcher di Yokohaam DeNA Babystars. Julukannya adalah “Hama no Banchou”, artinya “Ketua geng / Boss di Yokohama”.

Oregairu Vol 10 - Bab 3 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

6 komentar:

  1. ratu yumiko galau . . . XD
    yukino dere dere pake kacamata hadiah 8man lol
    8man yg bantu ngangkat kotak dari iroha chan yg teraktivasi tanpa bisa dinonaktifkan
    penasaran bab selanjutnya . . . ufufufufu . .

    thanks terjemahannya min . . .

    BalasHapus
  2. makasih translatenya gan, di tunggu lanjutannya ya..

    BalasHapus
  3. thanks min, ditunggu chapeter lanjutannya :D

    BalasHapus
  4. Spasinya kedekatan gan, susah dibaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya nanti akan diperbaiki karena yang mempublish penerjemah baru ^_^

      Hapus
    2. dari chapter pertama ane pake font, spasi, etc. stylenya pake ini dan pas ane baca via hp / pc keliatanya gaada masalah (di ane). #Misteri

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.