02 April 2015

Oregairu Jilid 10 - Bab 2


Bab 2 : Seperti biasa, Yukinoshita Haruno menyebabkan masalah.


Aku menatap langit cerah di musim dingin dan sebuah monorail melintas dihadapanku.
Berdiri di sampingku, Komachi terus memperhatikannya. Lalu, dia menghembuskan nafas berembun karena kelelahan.
“Maaf sudah membuatmu juga ikut.”
“Seharusnya memang begitu.” Komachi menjawabnya dengan singkat dan agak kasar. Jawabannya mirip seperti kucing kami, Kamakura. Kurang lebih seperti itulah reaksinya ketika aku memanggil namanya. Mengikuti jejak pemiliknya, kupikir...
“Yaah, aku juga ingin membeli hadiah, jadi kupikir tak masalah.” Kata komachi. Udara dingin kembali berhembus... “...Terlebih, mungkin ini terakhir kali aku bisa keluar besama onii-chan, tahu?”
“Kamu membuatnya terdengar seperti aku akan segera mati atau semacamnya dengan senyum kesepian seperti itu...”
Kesannya seperti dia ingin membuat kenangan terakhir bersama seorang pasien stadium akhir. Buat ini menjadi film dan pasti akan menciptakan banyak air mata doraemon[1]. Dan juga, entah karena penyakit atau bukan, jika Komachi mulai membenci onii-chan, aku takkan mampu bertahan lebih lama lagi...
“Bukan begitu maksudku... selanjutnya aku mungkin takkan bisa pergi bersamamu lagi.” Komachi menatapku dan mengingatkanku.
Tidak, aku mengerti, tahu...
Aku paham apa yang Komachi maksud dengan “selanjutnya”. “Janji”nya, meski aku tak yakin kalau aku bisa menyebutnya begitu, karena ini adalah sesuatu yang kubuat secara mendadak. Masalahnya adalah kapan, dimana, dan bagaimana untuk memintanya. Aku tak punya pengalaman jalan keluar bersama orang lain jadi aku merasa bingung di saat seperti ini. Bagaimana cara mereka biasanya mengajak satu sama lain untuk jalan keluar?
Yaah, itu urusan nanti.
Untuk sekarang, permasalahan saat ini adalah hari ini.
Kemarin, setelah kami pulang dari mengunjungi kuil, Yuigahama mengirim sms tentang agenda belanja hari ini.
Tempat bertemu adalah di depan patung stasiun Chiba. Itu adalah tempat yang sangat jelas dan mudah dipahami. Sesaat setelah meninggalkan stasiun, kami seharusnya bisa dengan mudah dikenali. Begitu pula sebaliknya. Sambil memikirkannya, aku menghembuskan nafas dingin, membuktikan bahwa kami yang sampai lebih dulu.
Tak lama kemudian, Yuigahama berjalan kemari dari gerbang tiket. Ketika melihat kami, dia melambaikan tangannya.
“Yahallo.”
“Yeah.”
“Yui-san, yahallo.”
“Maaf membuatmu kalian menunggu.”
Jaket beige Yuigahama terkibar ketika dia berlari kemari sambil tapak sepatunya berbunyi tuk-tik-tak-tik-tuk..Karena jaketnya terkibas-kibas, aku bisa melihat baju rajutan dan celana jeansnya.
“Jadi, kita mau kemana?”
“Aku pikir kita bisa berkeliling sambil mencari sesuatu.” Kata Yuigahama, lalu berjalan menuju ke area sekitar stasiun.
“Terus, mau mulai dari mana?”
Komachi berjalan di belakangnya dan aku mengikutinya.
Chiba adalah surganya belanja.
Tempat yang biasanya dikunjungi anak SMA untuk berbelanja, PARCO[2].
Sahabat para anak muda di kota Chiba, itulah PARCO. Kelihatannya para ANAK alay, REMAJA masa KINI, mereka saling berdebat tentang dimana mereka sebaiknya membeli pakaian, mereka terbagi menjadi fraksi PARCO dan fraksi LaLaport[3]. Dan dalam fraksi PARCO, sepertinya terjadi perang saudara antara kelompok PARCO Chiba dengan kelompok PARCO Tsunadanuma.
Hentikan! Kalian, Jangan saling bermusuhan. Kita ini sama-sama penduduk Chiba kan ? Meski Tsudanuma termasuk area Narashino!
Tak lama kemudian, Yuigahama berkata. “Ah. Ayo ke C-One[4] dulu!”
C-One. Aku tahu tempat itu.
ICHIRAN[5] berada disana.
ICHIRAN menggunakan sebuah sistem yang berfokus pada rasa dimana tokonya terbagi menjadi bangku panjang sehingga kamu dapat fokus untuk menikmati makananmu. Jadi berdasar teori itu, itu berarti bahwa para penyendiri telah membangun sistem yang berfokus pada kehidupan. Cepat! Aku ingin segera mematenkannya!
Huruf C pada C-One mungkin merujuk pada huruf C di Chiba. Dengan kata lain itu adalah inisial C. Kemungkinan juga merujuk pada pahalawan lokal, Captain C[6]. BTW, Batman[7] Chiba bukanlah pahlawan lokal, jadi jangan sampai keliru.
Mall tempat kami berkeliling dihiasi dengan spanduk diskon tahun baru dan barisan toko. Karena Mallnya menggunakan area di bawah sebuah jembatan, kami berjalan tak menentu menuju satu arah. Karena adanya diskon tahun baru, Mallnya menjadi jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Dalam keramaian itu, ada gadis yang sangat bersemangat untuk berbelanja dan mereka saling berbicara tentang fashion. Untuk orang yang punya tempat disana, dia harus mundur bukan cuma satu, tapi tiga langkah menjauh, merasa terabaikan. Itulah diriku.
“Komachi-chan! Hey, lihat, yang ini imut sekali kan!?”
“Ah, ya benar! Kamu bisa melepas bulunya dan menggantinya dengan yang lain!”
“Betul! Mungkin kamu juga bisa memakainya di musim semi.”
Mereka memilih pakaian disana-sini, mengobrol dan bertukar pendapat. Sebenarnya itu bagus, tapi bukankah kita kemari untuk membeli hadiah untuk Yukinoshita ? Kita kemari bukan utnuk membeli keperluan pribadi kan ?
Tapi dengan melihat mereka berdua saja sudah terasa kesan kewanitaannya.
Yuigahama terlihat sibuk mencoba jaket berbulu, berputar dan melihatnya di cermin.
Sebagai laki-laki, masuk ke dalam toko saja bisa membuatku merasa penasaran, jadi aku hanya melihat mereka dari kejauhan.
Lalu Komachi berjalan kearahku. Dia terliaht lebih santai daripada dia yang akhir-akhir ini.
“Belanja besama Yui-san rasanya sangat menyenangkan...”
“Yeah, jika kamu membandingkannya dengan Yukinoshita...”
Ketika kami bertiga membeli hadiah untuk Yuigahama sebelumnya, aku terkejut dengan sangat jauhnya perberbedaan antara Yukinoshita dengan gadis SMA masa kini.
“Yep, keluar bersama onii-chan memang sangat membosankan... Tapi bukankah hal itu yang malah membuat Yukino-san sangat imut, kan?” Sambil mengatakannnya, dia menatap wajahku.
“Ohhh, tepat sekali, hal itu jugalah yang membuatku tidak imut sama sekali. Pasti.”
“Mmm, dasar hinedere[8]...”
Biarin aja.
Yah, rasanya agak kejam menempatkan Yukinoshita di tempat yang sama denganku.
Setidaknya dia tahu mana yang cocok dengannya dan juga dia tak terlalu tertarik dengan fashion. Meski begitu, alasan kenapa dia kesulitan ketika membeli hadiah untuk Yuigahama mungkin karena dia tak terbiasa “memilih sesuatu untuk orang lain”.
Kejujuran dan kecanggungan itu memang khas Yukinoshita.
Masalahnya adalah apa yang akan terjadi ketika si Kikuk-san menerima hadiah.
“Aku mau coba cari di sekitar sana dulu.”
Aku berpisah dengan Yuigahama dan Komachi, memutuskan untuk berkeliling. Inilah saat dimana kamu mencari sesuatu dan memikirkan semua kemungkinan yang terpikirkan.
Hadiah untuk Yukinoshita, kah...?
Kira-kira apa yang  bagus...
Si Kikuk Yukinoshita, disingakat, Kikushita-san, tapi kamu benar-benar membuatku bingung, Kikunon. Selain benda yang disukainya, dia orang yang menyukai sesuatu yang berguna. Sebenarnya, seleranya kurang lebih begitu. Kalau benda yang berkaiatan dengan membaca, kemungkinan dia sudah memilikinya, dan karena dia tinggal sendiri, kemungkinan dia sudah mempunyai semua keperluan hidupnya serta bahan makanan yang cukup. Papan-cencang juga merupakan peralatan wajib untuk dadanya.
Bagaimana ini ? Aku harus memberinya apa...?
Ketika aku sedang berkeliling, aku melihat toko Destinyland.
Ahhh, Pan-san... tapi dia jauh lebih memahaminya daripada aku.
Aku terus berjalan dan aku melihat toko aksesoris binatang piaraan.
Kucing... Dia tak memilikinya... Dia benar-benar tak memilikinya, hah ? Seharusnya dia tinggal membelinya saja. Atau mungkin apartemennya tidak mengijinkan binatang piaraan. Aku bisa memberinya album foto kucing, tapi sepertinya dia pasti sudah banyak memilikinya...
Mungkin, aku bisa membelikannya sesuatu dari toko aksesoris itu, tapi kau juga tak begitu yakin...
Ketika aku sedang berkeliling melihat toko-toko disekitar, tanpa kusadari aku sudah sampai ke posisi awalku.
Disana, Yuigahama sedang memegang beberapa pakaian dan melihat ke sekitar.
“Hah? Dimana Komachi-chan?”
“Dia tidak bersamamu?”
“Aku pikir dia bersamamu, Hikki...” Yuigahama agak menyondongkan badannya, menatap wajahku sambil memastikaannya.
Ahh, dia melakukannya lagi, bajingan kecil itu...
Aku tahu kalau aku akan mengalami kejadian tak berguna ini lagi meski jika aku mengajaknya. Maksudku, aku senang ketika dia ikut bersama, jadi ini bukan masalah besar, tapi, setidaknya, dia seharusnya mengatakan sesuatu terlebih dulu. Itu yang namanya persiapan mental. Tolong jangan tiba-tiba menempatkanku di keadaan seperti ini..
Yuigahama terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sambil merenung, tapi setelah mengatur baju yang dipegangnya, dia memiringkan kepalanya sambil berkata, “Aku sedang agak bingung, jadi aku ingin pendapat dari Komachi... Hikki, bisa tolong sebentar ?”
“Jika tak masalah buatmu walau aku tak berguna.”
“Baik...! Tidak, tunggu, untuk sekarang  kamu harus berusaha untuk berguna.”
“Kita lihat saja nanti.” Kataku.
Yuigahama lalu masuk ke dalam toko dan menuju cermin. Aku mengikuti di belakangnya.
“Aku bingung lebih baik sweater atau cardigan, karena kamu bisa memakaianya di luar pakaian. Mungkin kamu juga bisa memakainya di sekolah.” Yuigahama melepaskan jaketnya sambil berbicara dan mulai melepas baju rajutannya juga.
Aku rasa aku tak boleh melihatnya, jadi aku mengalihkan pandanganku. Gunakan ruang ganti.. Apa karena kamu memakai T-Shirt jadi itu tak masalah bagimu, hah? Karena itu menjadi masalah untukku, jadi tolong hentikan.
Meski ada suara lagu yang diputar di toko, tapi suara gesekan bajunya entah kenapa terdengar begitu kelas dan desahan nafas Yuigahama bisa mencapai telingaku.
 “Ini dia... bagaiamana?”
Saat dia memanggilku, akhirnya aku  bisa berbalik.
Dia memakai cardigan berbulu, dengan rajutan melengkung yang terlihat hangat.
“Kamu ingin aku berkata apa..? Yah, kelihatannya bagus...”
Bukan masalah bagus atau jelek lagi. Itu terlihat sangat cocok dengannya.
Tapi masalahnya adalah itu bukan hadiah untuk Yuigahama, tapi untuk Yukinoshita. Jika Yukinoshita yang memakai cardigan itu, pasti terlihat ada yang kurang... Yeah, um, apanya yang kurang, aku takkan mengatakannya.
“Tapi buakankah kamu juga harus mempertimbangkan hal seperti ukuran Yukinoshita?”
Ketika memilih pakaian, biasanya kamu memilih yang ukurannya cocok denganmu. Juga, seperti yang dikatakan Komachi, bentuk badan itu penting dan sebagainya. BTW, dia yang memilihkan pakaianku untuk hari ini, dia menghina pilihan bajuku dan berkata “Aku akan melakukannya untukmu!”[9]. Tidak, bukankah itu Piko? Atau mungkin Osugi? Yah, terserah.
“Ukuran...” Yuigahama mengulang kata itu sambil mencubit perutnya. “Mungkin, ini terlalu besar...”
Dia terlihat putus asa. Dia memindahkan tangannya dari sekitar perut ke lengan atasnya dan ekspresinya menjadi lebih suram. Tak apa! Tak ada masalah, Okay!? Kamu memang besar, tapi yeah, kamu tidak besar! Sebenarnya, kamu tidak kecil sama sekali!
“Err, tidak, itu tak masalah. Sebenarnya, itu terlihat cukup bagus, mungkin...”
Itu bukan kata-kata yang mendukung, meski bingung tapi aku mencoba meredakan suasana. Tapi karena tingkahku yang mencurigakan, Yuigahama terlihat meragukan perkataanku. Ahh, ya ampun! Apa yang harus ku katakan di saat seperti ini!?
“Yaah, Itu terlihat cocok untukmu, jadi kupikir tak masalah.”
Entah bagaimana aku berhasil mengatakannya.
“...Ehehe, terima kasih.”
Akhirnya, Yuigahama tersenyum. Dia melepas cardiagan itu dan mulai melipatnya. Aku tidak mampu menatapnya langsung jadi aku memalingkan wajahku karena malu, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
“Tapi Yukinoshita selalu mengikuti aturan sekolah, jadi dia takkan menggunakannya di sekolah, kan?”
Sekolah kami memiliki aturan sekolah meski aturannya sudah agak ketinggalan zaman. Tentu saja, ada aturan tentang seragam sekolah dan ketentuan tenang sweater dan cardigan. Tapi tidak banyak siswa yang mengikuti aturan sampai T, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi untuk siswa rajin seperti Yukinoshita pasti berusaha unutk mematuhi aturan itu.
“Oh ya., Betul juga. Kalau begitu...” Sambil berpikir, Yuigahama menuju ke rak kecil berisi kumpulan benda seperti syal dan sarung tangan, sambil memegang cardigan di tangannya.
Sambil memilih di deretan syal itu, dia berkata, “Ah”.
“Imut sekali! Mungkin akan sangat menyenangkan jika aku memakaianya untuk bermain dengan Sabure.” Kata Yuigahama, memegang sarung tangan yang berbentuk seperti tapak kucing. Lalu, dia mengambil sarung tangan lain model wajah anjing.
Sarung tangan model tapak kucing benar-benar mirip dengan aslinya. Di sisi lain, sarung tangan model wajah anjing memiliki wajah anjing di bagian belakang lengkap dengan telinganya, dengan bagian ibu jarinya sebagai rahang bawahnya. Dia memakainya dan menggoyangkan tangannya.
“Rasanya agak sulit untuk memegang sesuatu ketika memakainya...”
“Seperti itulah sarung tangan.”
Yuigahama merenung sambil berpikir, mengangkat wajahnya seperti memikirkan terpikir sesuatu lalu membuka telapak tangannya.
“Rasakan ini! Nom!”
Lalu dia menggigit tanganku dengan sarung tangan anjingnya.
“...Be-Beraninya kamu,” kataku, berusaha mengikutinya.
Lalu, wajah Yuigahama terlihat memerah. Jika itu membuatmu malu, tolong jangan pernah lakukan itu lagi. Aku juga malu. Aku melepaskan tanganku dari genggaman sarung tangan itu dengan pelan dan mengipaskannnya padaku. Pemanas di toko ini berkeja terlalu baik.
“Terserah, tapi dia takkan menggunakannya di luar karena bentuknya, tahu.”
“...Benar juga.” Yuigahama mengangguk setuju.
Sejujurnya, aku yakin Yukinoshita takkan memakai benda imut seperti itu selain seragam sekolahnya. Apa dia bahkan mau memakai barang yang diterimanya...? Tidak, itu tidak benar. Aku rasa jika itu hadiah dari Yuigahama, lalu dia pasti akan merasa sangat senang ketika memakainya sambil berusaha tetap terlihat tenang.
“Aku pikir kita harus mencari benda lain, hah...” Yuigahama mengayunkan sarung tangannya ke depan dan belakang sambil terus memilih sesuatu di rak.
“Ah, sepertinya ini bagus.” Kata Yuigahama, dan apa yang dia ambil dari rak adalah kaos kaki yang berbentuk seperti kaki kucing.
“Kaos kaki, kah? Tapi kelihatannya agak sulit menggunakannya dalam sepatu.”
“Ini adalah kaos kaki dalam ruangan! Dengan desain ini dia pasti takkan mau melepasnya.”
Dengan logika itu, aku sangat yakin dia juga takkan memakai sarung tangan yang tadi itu...Yaeh, seperti yang dikatakanya, di bagian telapak dari kaos kaki itu kelihatannya terdapat karet antiskid, menyerupai telapak merah muda kucing.
“Karen dia memakainya di dalam ruangan, aku pikir dia tak perlu khawatir jika seseorang akan melihatnya... Bagaimana menurutmu?”
“Yaah, kupikir dia pasti akan senang menerimanya.”
Aku pikir Yukinoshita akan senang tak peduli apapun hadiah yang diberikan oleh Yuigahama. Yang terpenting bukanlah bendanya, tapi siapa yang memberikannya. Dengan kata lain, siapa yang mengatakannya itu jauh lebih penting daripada apa yang dikatakannya.
“Baiklah,aku akan memberinya ini.” Yuigahama membawa semua yang dipegangnya dan pergi menuju ke kasir. Diantaranya ada cardigan dan kedua sarung sangan tadi. Kamu juga memberinya sarung tangan kucing itu, kah...?
Tapi, tangan kucing dan kaki kucing...
Apa mereka juga menjual ekor ?

×  ×  ×


 Sekarang, aku harus mencarinya dengan serius. Toko sebelumnya juga tidak menjual ekor.
Karena itu, disinilah kami; Di Sogo[10], sebuah toko di sencity[11]. Dari namanya saja terdengar seperti mudah untuk terkenal. Ah tapi, itu bukannya sencity tapi sensitivitas.
Biasanya, aku akan pergi ke toko pakaian pria, tapi hari ini, kami kesini untuk membeli hadiah untuk Yukinoshita. Tentu saja, itu berarti menuju lantai yang diperuntukkan untuk wanita.
Meski begitu, aku tidak ahli dalam memilih sesuatu untuk wanita, jadi Yuigahama memberiku beberapa petunjuk.
Salah satu pilihan Yuigahama tentu saja adalah toko pakaian barat yang juga menjual berbagai benda kecil.
“Kita cukup berkeliling dan mencari benda apa saja, kan? Seperti sarung tangan, aksesoris, syal... atau yang  lainnya...” kata Yuigahama.
Aku juga memasuki toko itu untuk melihat-lihat.
Karena Yuigahama memberiku saran dari dekat, untuk sekarang aku belum dilaporkan oleh pelayan dan tak ada security yang berjaga di sekitar sini. Jika aku kesini sendiri, tak diragukan lagi salah satu pelayan pasti akan bertanya, “Apa kamu sedang mencari sesuatu?” terus mengikutiku, bahkan aku bisa merasakan tatapan tajam dari kasirnya. Sumbernya adalah ketika aku tak sengaja datang ke tempat ini sebelumnya. Aku tahu,  memang sangat aneh melihat pelanggan pria sendiri di sekitar sini, tapi, umm, tak bisakah kalian tak terlalu waspada, karena itu akan sangat membantuku...
Aku bergerak dari satu rak ke rak lainnya tanpa memperhatikan tatapan para karyawan lalu Yuigahama tiba-tiba berhenti. Tertulis di nama raknya “Pakaian mata”.
Apa-apaan dengan “Pakaian mata”? Tulis saja kaca mata, cuk. Seberapa sombong kalian sampai harus memakai katakana untuk berbagai hal? Daripada HANGAR, tulis saja rak. Begitu pula menyebut SAUS DAGING, SAUS BOLOGNA dan menyebut SPAGHETTI PASTA, maksudku, ayolah. Eh, Tunggu, SAUS DAGING dan SPAGHETTI sebenarnya memang ditulis dalam katakana... Bagaiman bisa kalian mengatakannya sebagai bahasa jepun...?
Saat aku sedang khawatir, Yuigahama menepuk bahuku.
Ketika aku berbalik, Yuigahama terlihat bangga sambil memakai kacamata dan menunjuk dirinya. “Hmmm. Apa aku terlihat pandai?”
“Kepalamu sudah konyol saat kamu menganggap kacamata berbanding lurus kecerdasan, tahu...”
“Diam, bodoh,” kata Yuigahama, mengambek. Lalu dia mengambil satu persatu kacamata untuk melihat desainnya. Aku juga melakukannya dan mengambil satu.
Ohhh, mereka mempunyai dalam berbagai jenis, hah?
Mereka memiliki berbagai jenis desain, mereka juga memiliki berbagai jenis kecamata berdasar fungsinya. Di penjelasannya tertulis anti-pollen, menahan cahaya biru, dan sebagainya. Selain yang berfungsi unruk meningkatkan penglihatan, mereka juga menjual kacamata serbaguna, hal itu membuat harganya sangat mahal.
Saat aku sedang memilih, Yuigahama mengambil satu dan memakaikannya padaku. “Ah. Hikki, kamu juga harus mencobanya. Seperti yang ini.”
“Ehhh...”
 Ini pasti saat dimana aku sedang dipermainkan... Aku berdiri ragu dan Yuigahama memaksaku untuk segera memakainya.
“Ayolah, cepat!”
Aku memepersiapkan fisik dan mentalku untuk memakai kacamata ini. Per...sona...! BTW, sebenarnya aku lebih suka 3 daripada 4, jadi jika aku harus memanggil sesuatu, Kuharap, tolong beri aku pistol untuk menembak kepalaku![12]
“Bagaimana?”
Aku memakai kacamata itu dan mengangkatnya dengan jari telunjukku. Yuigahama langsung berkata. “Sangat buruk!”
“Oh, diam...”
Itulah kenapa aku tak ingin memakaianya... Aku melepaskan kacamatanya sambil berkedip dan saat itu, Yuigahama memberiku kacamata dengan desain berbeda.
“Baiklah, selanjutnya... ini!”
“Emoh.”
“Jangan menjadi perusak suasana. Ini!” Kata Yuigahama, memaksakan kacamatanya padaku.
Arghhh, merepotkan... Aku mengatur kacamata yang baru setengah terpakai di telingaku, lalu berbalik ke Yuigahama untuk mengutarakan pendapatku.
Ketika aku melakuaknnya, Yuigahama sedang menatapku, mulutnya ternganga.
“.....”
“Apa kamu punya lidah kucing?”
Maksudku, aku yang baru saja berbalik, tapi sama sekali tak ada tanggapan...? Aku menatapnya sambil berpikir kalau dia ingin mengatakan sesuatu, lalu ketika Yuigahama kembali sadar, dia melambaikan tangannya kebingungan.
“Ah, tidak, tidak, bukan begitu... Hanya saja, agak mengejutkan melihat kamu sangat cocok memakai itu, mungkin.”
“...Gee, terima kasih.”
Mendapat pujian membuatku bingung bagaimana harus menanggapinya.
Tapi, mengejutkan, kah?
Meski kupikir aku mengetahui sesuatu, ternyata masih banyak hal yang tak ku ketahui. Seperti Yuigahama yang biasanya tidak memakai kacamata namun terlihat sangat cocok saat memakainya.
Belum begitu lama, Yukinoshita pernah berkata kalau dia menyesal karena dia sama sekali tidak tahu tentang Yuigahama.
Aku juga begitu.
Sejak dulu, aku bahkan tidak pernah berusaha mengetahuinya.
Bukan cuma tentang Yukinoshita tapi juga tentang Yuigahama.
Tapi, sekarang, meski hanya sedikit. Meski masih jauh dari mengerti dan aku juga tak bisa menyebutnya sebagai ideal, meski begitu, kami bertiga sudah menghabiskan dan melewati waktu bersama. Rasanya setengah tahun ini bukan waktu yang lama. Meski begitu, dibanding sebelumnya, aku memang mengetahui sedikit lebih banyak tentangnya.
Yukinoshita Yukino yang ku tahu...
Bagaimana Yukinoshita akan mengikuti permintaan Yuigahama, bagaimana dia mencintai kucing, dan bagaimana dia akan memeluk boneka Pan-san sambil menonton video kucing di komputernya ketika hari libur.
Mengejutkan, ternyata aku mengetahui cukup banyak tentang Yukioshita.
Jika Yuigahama ingin memberinya kaos kaki dalam ruangan, lalu akan memberikan sesuatu untuk mengimbanginya.
Aku ingin dia bisa merasa sehangat dan senyaman mungkin di waktu yang dilewatinya seorang diri.


×   ×   ×



Kami sedang berisitirahat sejenak setelah selesai berbelanja. Untuk itu, kami memutuskan pergi ke cafe. Kami bisa saja pergi ke Starbucks di luar, tapi udaranya sekarang sedang sangat dingin. Terlebih, aku kurang tahu cara memesan disana, jadi aku tak ingin ke sana sekarang.
Dengan begitu, aku memutuskan untuk pergi ke tempat dimana aku biasa memesan.
“Tak apa kalau disini?”
“Ya.”
Aku menanyakan pendapat Yuigahama lalu kami memasuki cafe di dalam Sogo.
“Untuk berdua.”
Aku memberitahu karyawan jumlah kami lalu kami dituntun ke  bangku untuk empat orang. Itu berada tepat disamping jendela dimana kita dapat melihat seluruh stasiun Chiba dibawah. Setelah menawarkan bangku bagian dalam pada Yuigahama, aku melihat ke stasiun Chiba yang  terlihat di belakangnya.
Aku melihat monorail yang sedang bekerja dan entah bagaimana, itu membuatku berpikir betapa sangat majunya Chiba. Chiba adalah kota yang sangat maju, beneran.
Aku mengikuti arah yang dituu monorail dan pandanganku bertemu dengan orang yang duduk berseberangan denganku.
“Ah, itu Hikigaya-kun.”
Orang itu juga duduk di sofa dengan punggungnya menghadap jendela.
Dia memakai baju dengan hiasan putih, rantai emas teruntai di dadanya. Itu membuatnya berkilau seperti semua cahaya dari luar berpusat padanya, tapi, sebenarnya, keceriaan dan senyum di matanya terlihat lebih gelap dari cerahnya langit. Setelah mengatur syal merah cerah yang membuatnya terlihat sangat mencolok, Yukinoshita Haruno memanggil namaku.
Setelah memanggil namaku, Yuigahama mengalihkan pandangannya dan mengucapkan namanya terkejut. “Haruno-san... er,”
Dia mengatur pandangannya dan menghadap Haruno-san. Dan ada pria yang memakai jaket hitam dan jersey abu-abu, perpaduan antara hitam dan putih. Dengan mata yang berada di bawah alis berwarna pirangnya terlihat sedikit terkejut, Hayama Hayato masih tersenyum.
“Oh, ada Hayato kun juga.”
“... Hey.” Dia mengatakannya dengan singkat, kilauan cahaya dari jam tangan silvernya terlihat dari lengannya yang sedikit diangkat.
Aku membalas dengan sedikit menunduk. Kami tidak berkata apapun dan satu-satunya suara terdengar adalah suara musik jazz. Suara kursi ditarik bercampur dengan musik itu.
“Kita benar-benar sudah lama tidak berjumpa kan, Gahama-chan,” Kata Haruno-san, berpindah ke meja kami.
Melihat hal itu, Hayama sedikit mendesah, mengambil buku pesanan, dan duduk di sampingku.
“Kalian berdua sedang kencan, hah? Dasar kau bajingan kecil. Masih bersahabat seperti biasanya. Yukino-chan tidak bersamamu?” Haruno-san menyodok tubuh Yuigahama dengan sikunya dan melihat ke pintu masuk toko.
“Ah, sebenarnya kami kemari untuk membeli hadiah unutk Yukinon...”
“Ahh, benar juga, sudah hampir tahun barunya yaa... begitu, begitu.” Haruno-san menganggukkan kepalanya sambil mendengarkan Yuigahama, tapi kemudian dia segera mengambil Hpnya dan mulai menelfon seseorang.
Memeperhatikannya, Hayama berbicara dengan sopan. “... Aku pikir itu takkan berhasil.”
“Tidak, aku yakin hari ini pasti bisa,” kata Haruno-san, tersenyum sangat yakin.
Deringannya sedikit bergema di dalam toko.
Setelah dua deringan, tiga deringan, dan beberapa setelahnya, telfonnya akhirnya tersambung, dan suara pelan terdengar dari pihak lainnya.
[Halo...]
“Ah, Yukino-cha? Ini onee-chan. Bisa kesini sekarang?”
[Ku tutup.]
Sangat cepat. Yuigahama dan Hayama yan mendengarkan jawaban sinfkatnya tersenyum tertahan. Tapi Haruno-san yang sepertinay sudah terbiasa dengan jawaban itu sama sekali tidak goyah dan melanjutkan dengan nada menggoda.
“Ohhh? Apa kamu yakin tak apa untuk menutupnya?”
[... Apa?]
Haruno-san tersenyum lebar.
“Sebenarnya, sekarang, sebenarnya aku sedang bersama Hikigaya-kun!”
[Lagi-lagi dengan kebohongan gilamu... Sudah-]
“Ini dia, Hikigaya-kun,”
Sebelum dia bahkan selesai berbicara, haruno-san memaksakan HPnya padaku.
“Ap? Eh?”
Aku berbalik melihat Haruno-san dan HP ditanganku, tapi dia mulai bertingkah bodoh dengan menyembunyikan tangannya di belakangnya. Sepertinya dia sama sekali tidak berniat menjawabnya. Disisi lain, Yukinoshita sedang memanggil Haruno-san. Aku pikir aku yang harus menjawabnya sekarang...
“Ahh... halo?” aku menjawab. Tidak yakin dengan apa yang harus kukatakan. Saat itu, aku bisa mendengar nafas tertahan dari pihak lain.
Setelah terdiam sebentar, dia menghembuskan nafas.
[Benar-benar, tak bisa dipercaya... Kenapa kamu ada disana?]
Aku juga ingin mengetahuinya. Kami seharusnya kemari hanya untuk berbelanja... Kenapa aku ada disini? Kenapa aku ada disini? Do-wa-ha-ha-ha! [13] ini adalah salah jin, ya. Jangankan salahkan aku, salahkan jin.
“Yaah, tadi aku kebetulan sedang berbelanja dan tiba-tiba dia menagkapku...”
Aku memarahi jin itu dan berpikir untuk mencoba menjelaskan keadaanku, tapi aku terpotong oleh suatu desahan.
[Tak masalah. Aku akan segera kesana, ganti dengan onee-san.]
“... Baik, maaf.”
Untuk suatu alasan aku meminta maaf.
Aku membersihkan layarnya dengan handuk basah dan mengembaikan HPnya pada haruno-san. Dia memberitahukan pada Yukinoshita tentang lokasi kita dan semacamnya lalu menutupnya.
“Sepertinya Yukino-chan akan datang,” kata Haruno-san, tertawa puas.
Yuigahama berbicara ragu. “Um, kenapa kamu memanggilnya kesini? Kedengarannya seperti dia tidak ingin kesini...”
“Hmm? Ah, sebenarnya, kami punya rencana makan malam keluarga setelah ini, tapi Yukino-chan menolak datang. Tapi jika Hikigaya-kun dan kamu disini, dia tak punya pilihan lain kan?”
“Apa kami ini sandera atau semacamnya...?”
“Jangan membuatku terkesan jahat begitu. Tapi bukankah itu akan menjadi kisah yang hebat jika dia segera kemari demi temannya yang tertangkap menggantikannya?”
“Itu membuatku penasaran siapa yang jadi raja yang jahat dan kejamnya disini...”
“Ooh, Anak sastra gitu loh,” kata Haruno-san, dengan gembira menggodaku.
Yuigahama memiringkan kepalanya sambil “Huh?” dan Hayama sedikit tersenyum saat melihatnya.
“Itu dari ‘Lari, Melos!’”
“Ah, aaahh, um, yeah, itu... aku tahu itu, Aku pernah mendengarnya, kelihatannya dia sangat cepat!”
Apa dia beneran paham...? “Melos, lari... Melos dan Selinuntius... adalah sahabat selamanya...!!” [14] kurang lebih seperti itu.
Saat aku meragukannya, Yuigahama segera mengalihkanya dengan merubah topik pembicaraan. “Yang jelas, makan malam bersama keluarga itu kedengarnnya menyenangkan! Semuanya bersama dan sebagainya... “
Yuigahama menatapa Hayama. Memperkirakan maksudnya, Hayama melanjutkannya.
“Keluarga kami memang cukup dekat dari dulu... Saat kami membicarakan tentang melakukan salam tahun baru, mereka mulai membicarakan untuk melakukan makan malam besama. Kami disini hanya mengikuti mereka.”
“Ohhh...” Yuigahama mengangguk pecaya.
Haruno-san menggosok tepian cangkirnya dan sedikit mendesah. “Sanak keluarga kami tidak terlalu bisa bersantai saat Tahun Baru dan beberapa hari sebelum tanggal empat,[15] saat semuanya kembali bekerja juga cukup sibuk. Jadi saat dimana kita bisa saling bertukar salam hanya hari ini.”
Sepertinya, seperti itulah keadaan di keluarga Yukinoshita. Meski begitu, jika mereka berencan makan setelah ini, itu berarti orang tua Yukinoshita juga kemungkinan di sekitar sini... Rasanya aku agak ingin bertemu mereka.
Aku sedikit meregangkan tubuhku dan segera melihat kesekitar. Tapi Hauno-san yang duduk berhadapan denganku dengan mudah menyadari tingkahku dan tertawa kecil.
“Orang tua kami sedang bertukar salam sekarang. Kami sedang menunggu mereka.”
“Ahh, begitu...”
Aku menerimanya setelah dia memberitahuku. Saat ada beberapa orang tua memiliki urusan yang harus  mereka tangani, mereka biasanya meninggalkan anak mereka bersama. Dulu saat ibuku ikut arisan tetangga, karena disana juga berkumpul ibu-ibu lain, dia akan meninggalkanku bersama anak mereka. Tapi begini, maman. Para orang tua mungkin bisa saling akrab, tapi sebagian besar tidak begitu untuk anak mereka... Itu adalah saat yang sangat kacau dalam hidupku.
Mendengarnya, Yuigahama berkata terkagum. “Melakukan salam seperti itu pasti berat, hah?”
“Kami melakukannya setiap tahun, jadi aku sudah terbiasa. Yaah, terkadang aku juga berpikir kalau ini merepotkan... Agak mengejutkan bagaimana adat ini masih bertahan, atau mungkin tradisi,” kata Haruno-san, nadanya mengandung perasaan menyerah.
Itu yang disebut sebagai perkumpulan, bahkan itu berkaitan dengan Yukinshita atau bahkan Hayama yang tidak ikut mengunjungi kuil.
Keluarga terhormat, disebut juga keluarga terkenal, mungkin memiliki aturan mereka sendiri. Bagi orang awam, itu adalah cerita yang tidak terdengar nyata, tapi kenyataanya sebenarnya begitu. Yaah, keluarga dengan perkumpulan keluarga rahasia bukan hal aneh lagi. Itu hanya aku yang kurang mengetahuinya saja, tapi mengejutkannya, aku pikir ada banyak keluarga dengan perkumpulan unik.
Bahkan orang awam seperti kami juga memiliki satu atau dua hal membayagi kami. Jika kamu bagian dari publik figur, maka aturannya juga harus ditingkatkan menyesuaikan.
Haruno-san mengetuk meja untuk menutupi desahannya. “Ngomong-ngomong, hadiah apa yang kamu beli?”
Saat Haruno-san mengatakannya, dia mendekati Yuigahama yang duduk di sofa. Dia agak segan sambil membuka tasnya.
“Umm... Aku memberinya kaus kaki dalam ruangan...”
“Ohh, sekarang lantainya bisa menjadi sangat dingin.”
“Benar! Jadi, seperti, terakhir aku ke tempat Yukinon, aku pikir lantainya cukup dingin.”
“Oh, aku mengerti. Aku juga tak terlalu cocok dengan dingin.”
Berkebalikan dengan obrolan khas wanita mereka, kubu laki-laki, Hayama dan aku, tidak punya hal untuk dibicarakan dan hanya duduk sambil mendengarkan mereka.
Tapi untuk Hayama, sepertinya dia tidak bisa mengabaikan hal itu dan berkata pelan.
“Hadiah ulang tahun, kah...?” Hayama menatapku. “Apa yang kamu beli?”
“Ahh, Cuma sesuatu.”
“Begitu.” Hayama mengalihkan padangannya, tidak menanyakannya lagi.
Selanjutnya, Hayama mendengarkan percakapan Haruno-san dan Yuaigahama, terkadang menjawab. Di pergelangan tangan Hayama yang memegang cangkir, jarum jamnya berdetak perlahan.
Yang kulakukan adalah terus memperhatikannya.
Jarumnya terus bergerak sebagaimana mestinya, dengan ritme yang sama tanpa merusak alurnya. Itu akan membuat satu putaran, bergerak setiap detiknya dan kembali ke tempat awalnya, terus seperti itu. Meski begitu, waktunya takkan pernah terlihat sama. Jika jarum detiknya dapat tetap terus seperti itu, tapi tidak begitu untuk waktu yang menggambarkan keadaan sekitar.
Tiba-tiba Haruno-san yang sedang melihat bungkusan hadiah berkata. “Sudah agak lama, tapi mungkin aku juga akan memberinya sesuatu.” Lalu tatapannya mengarah pada Hayama. “Benar kan, Hayato?”
“... Benar.”
Hayama sedikit mengangkat bahunya dan melihat ke luar jendela. Di hadapannya adalah kilauan lampu perkoraan- eh tapi, sepertinya bukan.
Aku melihat ke cermin dengan bayangan Hayama dan tanpa diduga, yang kupikirkan adalah apa yang dulu pernah diberikannya.


×   ×   ×


Waktu yang membeku ini terus berlanjut.
Tiga puluh menit sudah berlalu sejak Haruno-san menelfon Yukinoshita. Seharusnya sebentar lagi dia sampai jika dia langsung berangkat dari apartemennya.
Kopi yang ku minum telah lama habis dan teko yang seharusnya mengepulkan uap sekarang telah menjadi dingin.
Selain diriku, Yuigahama juga berulang kali menolehkan kepalanya. Lalu dia berkata setelah menyadari sesuatu. Aku melihat ke arah itu dan aku melihat Yukinoshita berjalan terburu-buru.
“Yukinon, disini.” Kata Yuigahama sambil melambaikan tangannya.
Yukinoshita melihatnya lalu dia berjalan menuju tempat kami duduk.
“Yuigahama-san... kamu juga disini,” kata Yukinoshita terkejut. Yaah, Kita memang tidak menyebutkannya di telefon.
“Benar, benar...  Aku sedang berbelanja dengan Hikki, lalu jadinya aku juga tertangkap...”
“Belanja... B-begitu...”
Tidak yakin untuk mengatakannya atau tidak kalau kami sebenarnya berbelanja untuk membeli hadiah untuknya, perkataan Yuigahama menjadi terdengar mencurigakan. Yukinoshita terlihat ragu dan melihat bergantian kearahku dan Yuigahama sambil mendengarkannya.
“Yang penting, duduk dulu,” kata Yuigahama. Dia sedikit bergeser, membuat ruang untuk satu orang di sofa dan meminta Yukinoshita duduk disana.
Tak terelakkan, Yukinoshita duduk di tempat dimana dia tidak berhadapan langsung dengan Haruno-san. Lalu dia menundukkan kepalanya pada Yuigahama. “Maaf karena kakakku telah mrepotkanmu.”
“Ah, tidak, tidak sama sekali.” Jawab Yuigahama, sambil melambaikan tangannya.
Yukinoshita menekankan tangannya ke dadanya telihat sedikit lega. Lalu, dia berbalik kearahku dan memastikan apa yang sedang kulakukan dengan tatapan keatas.
“Hikigaya-kun juga, um...”
“Bukan masalah. Lagian aku juga tidak ada kerjaan.”
Aku benar-benar tidak punya rencana setelah kami selesai berbelanja. Sebenarnya, aku mungkin merasa lega karena aku tidak berdua  saja dengan Yuigahama. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak bisa menganggap ini sebagai hal baik.
Dalang dari semua ini sedang tersenyum dan menyapa Yukinoshita dengan nada menggoda.
“Yukino-chan, kamu sangat lamaaa.”
“Beraninya kamu berkata seperti itu padahal kamu sendiri yang tiba-tiba memanggilku...”
Yukinoshita hanya meliriknya dan Haruno-san menaggapinya dengan tenang. Yuigahama yang berada diantara mereka tersenyum gelisah. Super Smash Yukinoshita bersaudara! Tolong ampuni hamba...
“Bagaimana kalau kita lupakan dulu masalah itu? Kelihatannya Yukino-chan buru-buru datang kemari secepat yang dia bisa, jadi...”
Itu adalah suara yang menyegarkan, dan dapat dipahami kalau dia berusaha menghilangkan suasana tegang ini. Karena aku tidak terbiasa mendengar suara itu memanggilnya seperti itu, secera refleks aku menolehkan kepalaku. Yang mengatakannya, Hayama Hayato, terlihat menyeringai karena melakukan kesalahan, dia tersenyum untuk menutupinya.
“.....”
Yukinoshita  terdiam melihat Hayama, terlihat terkejut, dan mengguncang bahunya.
“Yukinoshita-san, mau minum apa?”
“... Teh hitam saja.”
Saat Yukinoshita mengatakannya, Hayama segera memesannya. Setelah teh hitamnya sampai, Haruno menarik nafas panjang.
“Sudah lama sejak terakhir kita bersama seperti ini, kan?”
“Benar.”
“.....”
Saat Hayama menjawabnya sambil mengangguk, Yukinsohita menutup matanya sambil memegang cangkirnya. Saat percakapannya terhenti, Yuigahama berbicara mencoba memulai pembicaraan.
“Ah, umm... Karena Hayato-kun sudah lama mengenal kalian.”
“Benar, benar. Kamu tahu kan kalau Hayato itu anak tunggal? Karena itu, orang tuanya sangat menyayangi kami. Benar kan, Yukino-chan.”
“Aku tak berpikir begitu.”
“Tidak juga... Bukan cuma orang tua kita yang menyayangi kalian. Semua orang juga begitu.”
Meskipun Haruno-san berbicara pada mereka dan meski Hayama terus tersenyum sambil menjawabnya, Sikap Yukinoshita tidak berubah. Tapi Haruno-san tidak memperdulikannya dan melihat ke kejauhan.
“Sangat nostalgia... Dulu saat kita masih kecil, kapanpun orang tua kita ada pekerjaan, pasti aku yang harus menjaga kalian.”
Mendengarnya, Yukinoshita tersentak dan mengerutkan dahinya. “Kamu pasti keliru dengan memaksa kami untuk mengikutimu dan melakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu benar-benar menggaggu.”
Dia meletakkan cangkirnya di piringnya dan mengatakannya dengan nada dingin sambil menatap acuh pada Haruno-san. Tapi Hayama yang menanggapinya.
“Ahh, seperti saat kita pergi ke kebun binatang... Kita juga mengalami banyak masalah saat di taman hiburan, kan?”
“Juga saat di Taman Rinkai. Dia membiarkan kita tersesat, dia mengguncang roda ferris...”
Hayama dan Yukinoshita terliahat galau karena mengingat masa lalunya. Tapi Haruno-san mengangguk sambil terlihat  senang.
“Ahh, hal seperti itu terjadi ya? Dan Yukino-chan pasti akan menangis setelahnya.”
“Tunggu... Brehenti mengarang.”
“Tapi itu kan tidak bohong, iya kan, Hayato?”
“Ahahaha... Bagaimana ya.”
Haruno-san berbicara pada mereka, Hayama tersenyum sambil menjawabnya. Yukinoshita terdiam menunduk.
Saat aku memperhatikan percakapan tentang kenangan masa lalu mereka, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Tidak salah lagi mereka bertiga telah menjalani banyak waktu bersama dan mereka memiliki kenangan yang tidak diketahui orang lain.
Yuigahama tidak dapat bergabung dengan pecakapan mereka, jangan tanyakan bagaimana dengaku.
Aku tidak tahu bagaimana hubungan kedua bersaudara ini dahulu. Bahkan jika aku mengetahuinya, tidak ada yang bisa kulakukan.
Yang bisa kulakukan hanyalah meminum kopi pahitku dan mengabaikan kisah masa lalu mereka yang terus berlanjut, sambil menjawab setuju. Dan terakhir, membayangkan mereka.
Aku tidak ingat kapan, tapi rasanya dulu aku pernah ditanya sesuatu.
Yaitu, andai saja dulu aku pergi ke SD yang sama dengan mereka, apakah akan ada yang berubah.
Kira-kira bagaimana aku menjawabnya saat itu?
Saat aku sedang menelusuri ingatanku, terdengar rentetan suara desahan dan cangkir diletakkan. Aku melihat ke arah itu terlihat Haruno-san meletakkan dagunya di tangannya, menatap Hayama dan Yukinoshita dengan tatapan dingin.
“Dulu kalian berdua sangat manis... Tapi sekarang... kalian sangat membosankan.”
Semakin indah senyum dibibirnya, semakin dingin kata yang diucapkannya. Dengan tatapan tajam dan senyum dinginnya, suara mereka tertahan.
Yukinoshita sedikit mengepalkan tangannnya di atas meja sedangkan Hayama menggertakkan giginya dan memalingkan wajahnya. Yuigahama menatapku bingung.
Saat meja diselimuti dengan kesunyian, Haruno-san tetawa kecil. “Yaah, tapi sekarang ada Hikigaya-kun disini. Aku pikir aku akan bermain dengan Hikigaya-kun saja.”
“Tidak, hal yang berkaitan dengan aktifitas fisik itu agak berlebihan untukku...”
“Tapi justru di bagian itu aku ingin menggodamu. Hayo, hayo, hayo, hayo, Hachiman,” kata Haruno-san dan dia menjulurkan tangannya untuk meraih kepalaku. Aku memutar tubuhku untuk menghindari tangannya. “Ah, dia kabur.”
Caranya berbicara sambil tersenyum ramah seprti itu membuatnya terlihat seperti seorang kakak yang baik. Jarang kamu bisa mendapatkan senyuman dari kakak yang cantik, jadi ini bukan perasaan yang buruk. Bahkan jika senyum itu adalah palsu, itu tak masalah. Setiap orang bisa saja berwajah dua, seperti bagaimana Isshiki Iroha berusaha terlihat imut, setidaknya itu tidak menakutkan.
Bagaimana Yukinoshita haruno akan menunjukkan sifat tersembunyinya adalah hal yang mengerikan.
Tapi sekarang Haruno-san sepertinya tidak ingin membahasnya lagi dan mulai membicarakan topik lain sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong tentang aktivitas fisik, bukankah sebentar lagi akan ada maraton sekolah?”
“Ah, ya. Akhir bulan ini.” Jawab Yuigahama.
Haruno-san terlihat terkejut. “Ohh, jadi tahun ini tidak diselenggarakan di bulan Feburuari.”
“Berdasar penasehatnya, sepertinya mereka memajukan jadwalnya untuk menyesuaikan dengan kalender.” Hayama tersenyum ramah seakan tadi tak terjadi apapun dan menjawabnya dengan nada tenang.
Saat itu, Yukinoshita terlihat galau, tentu saja. Karena dia memang bermasalah dengan staminanya... Kelihatannya dia tidak cocok dengan maraton.
Yang penting, sekarang  suasananya telah kembali ceria.
Sebenarnya itu tidak masalah, hanya saja saat mereka berempat yang berbicara dengan gembira, entah bagaimana mereka menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Setidaknya bukan karena mereka berisik, tapi karena penampilan mereka. Mereka berempat benar-benar mencolok, kah...
Untuk sementara, aku bisa merasakan tatapan ke arah kami dari pintu masuk toko.
Yaah, sekarang memang sedikit berisik, tapi mereka berempat adalah orang-orang yang menarik. Mereka adalah orang-orang yang akan menarik perhatianmu saat mereka berjalan di tengah kota.
Karena mereka berempat, hawa keberadaanku menjadi jauh lebih tipis. Aku adalah bayangan... Semakin terang cahaya, semakin gelap bayangan yang terbentuk, dan semakin gelap suatu bayangan, semakin jelas kilauan cahayanya... [16]
Karena tidak ada hal yang kulakukan, aku memutuskan untuk membuat diriku menjadi kuroko, seorang tokoh pendukung. Tapi, anehnya itu malah menjadikanku seperti Kuroyanagi Tetsuko[17].
Aku duduk disana sambil meminum kopiku tanpa ikut dalam pembicaraan dan tanpa kusadari semua kopiku telah habis. Sebaiknya aku nambah lagi... Saat aku sedang mencari pelaya toko, sesosok wanita yang mengenakan kimono berjalan ke arah kami.
Dengan rambut hitam berkilau dan sifat yang tenang. Dia terlihat lebih muda dari orang tuaku. Dia berjalan tanpa suara dengan langkah yang anggun, sesuai dengan tubuh indahnya. Wajah bijaknya memberiku kesan deja vu.
Dia terlihat mirip, tanpa kusadari, aku pikir.
Wanita itu tanpa sedikitpun keraguan berjalan menuju meja dan memanggil.
“Haruno.”
Itu adalah suara yang mudah didengar, melampaui semua suara dari pengunjung serta suara pelan BGM , sehingga menarik perhatian orang yang mendengarnya. Mengingatkanku pada seseorang.
Haruno-san berbalik setelah dipanggil.
“Ah, urusannya sudah selesai?”
“Ya. Aku kemari untuk memanggil kalian berdua karena kita akan pergi makan setelah ini. Hayato-kun, maaf sudah membuatmu menunggu.”
“Tidak sama sekali, tidak usah dipikirkan. Kami bisa menghabiskan waktu berkat mereka semua.” Hayama menjawabnya dengan nada ramah.
Lalu, dia melihat kearah kami dan begitu pula wanita itu.
Keberadaan Yukinoshita pasti agak tidak terduga. Dia berkata “Ya ampun” dengan suara pelan. Lalu dia tersenyum lembut.
“Yukino, jadi kamu datang. Aku senang...”
“Ibu...” kata Yukinoshita, entah terkejut atau kecewa.
Ngomong-ngomong, penampilan dan perilakunya sangat mirip dengan Yukinoshita. Saat dia tumbuh dewasa, mereka bedua pasti akan seperti pinang dibelah dua. Meski begitu, alasan kenapa aku tidak menyadarinya saat pandangan pertama adalah karena adanya intensitas yang kuat. Tanpa kusadari aku meluruskan punggungku.
Yukinoshita meneguk, memegang sikunya dengan lembut, memeluk dirinya sendiri, dan memalingkan pandangannya seakan dia tidak melihatnya.
Memangnya seperti apa dia dipandangan anaknya? Ibu Yukinoshita tersenyum lembut.
Disamping Yukinoshita yang kehilangan kata-kata, Yuigahama melepaskan kata. “Woow, dia sangat cantik...”
Saat Yuigahama terkejut, ibu Yukinoshita sedikit menunduk pada kami dan bertanya pada Haruno-san. “Haruno. Apa mereka temanmu?”
“Ya. Hachiman dan Gahama-chan.” Haruno-san memperkenalkan kami begitu saja, entah untuk menjawab pertanyaan tadi atau karena dia malas menjelaskannya.
“Ah, aku teman Yukinon, Yuigahama Yui.”
Yuigahama menundukkan kepalanya dengan gugup lalu aku juga menganggukkan kepalaku. Tapi, harus memperkenalkan diri pada orang tua seorang gadis itu membuatku gugup... kupikir, tapi saat aku ragu untuk menyebutkan namaku, sepertinya apa yang dikatakan Yuigahama tadi menarik perhatiannya.
“Yukinon...” Ibu Yukinoshita dengan pelan meletakkan tangannya di dagunya dan menyipitkan matanya, bolak-balik melihat kearah Yukinoshita dan Yuigahama.
“Ya ampun, maaf, jadi kamu teman Yukino. Kamu terlihat lebih dewasa dari yang ku kira.
“Dewasa... Ehehe.”
Yuigahama terlihat senang mendengarnya, tapi kata-kata itu membuatku sedikit gelisah.
Kalau menurutku, sosok Yuigahama itu lebih ke kekanak-kanakan dan polos. Setidaknya, sikap dan perilakunya tidak mencerminkan orang yang tenang dan berwibawa.
Tapi karena sepertinya dia melakukan kesalahan sepele , Ibu Yukinoshita meletakkan tangannya di pipinya dan berkata dengan ceria pada Yuigahama. “Oh, jadi begitu... Karena teman Yukino yang ku tahu hanya Hayato-kun, jadi... kedepannya tolong  tetap berteman baik dengannya.”
“Baik!”
Yuigahama menjawabnya dengan semangat dan ibu Yukinoshita sedikit menundukkan kepalanya. Aku kehilangan waktu untuk memperkenalkan diri, tapi, yaah, sepertinya dia sama sekali tidak tertarik denganku, dan juga tidak diragukan lagi kalau kami takkan pernah bertemu lagi, jadi tak apalah. Lalu dia berbalik ke arah Haruno-san dan hayama.
“Sekarang, bagaimana kalau kita berangkat?”
“Baiiiik.”
Haruno-san berdiri dan Hayama mengikutinya setelah mengambil buku pesanan. Tapi Yukinoshita yang duduk di depanku tidak bergerak.
Melihatnya, ibu Yukinoshita bertanya dengan tenang. “Yukino, kamu juga ikut, kan?”
Itu adalah sebuah pertanyaan, tapi disaat yang sama, itu bukan. Berbagai maksud terkandung dalam kalimat perndek itu.
“Aku...” Yukinoshita berbicara ragu.
Ibunya berkata lagi seperti sedang memohon padanya. “Kita juga sekalian merayakan hari ulang tahunmu.”
Itu adalah kata yang lembut, hangat dan penuh kasih sayang. Tapi, di dalamnya terkandung paksaan yang kuat.
“.....”
Yukinsohita menggigit bibirnya, menghadap kebawah, dan melirik kearahku. Uh, bahkan jika kamu menatapku...
Haruno-san menyadarinya. “Yukino-chan, itu tidak baik.”
Perasaan bahagia tergambar dalam tatapan dinginnya. Dengan tersenyum jahat, Haruno-san berbicara dengan nada keras dan bahu yukinoshita terkejut.
Saat-saat sunyi ini sedikit berlanjut.
Haruno-san terus melihat Yukinoshita sedangkan Hayama melihat mereka berdua dengan cemas. Yuigahama menciut merasa tidak nyaman. Aku melihat keluar jendela dan mengambil nafas pendek berpura-pura tidak melihat apapun.
Saat itu, tidak ada kata yang terucap, dan entah bagaimana keadaan tidak nyaman ini berlanjut.
Bakan hanya untukku.
Begitu juga Yuigahama. Dan juga Yukinoshita.
Atau mungkin, semua orang disana juga merasa begitu.
Ibu Yukinoshita memiringkan kepalanya penasaran apa yang harus dilakukannya dan meletakkan tangannya di pelipisnya. Lalu dia menatap kami berdua.
“Aku tahu, kalau begitu, temanmu juga boleh ikut... Bagaimana?” Ibu Yukinoshita tersenyum pada Yuigahama dan aku.
“Maaf, aku sedang tidak ingin berlama-lama...” Aku menjawabnya dan berdiri. Dengan hadirnya semua keluarga, pasti akan sangat canggung untuk berada di sana.
Terlebih, aku tidak sebodoh itu sampai aku tidak menyadari tanda sederhana seperti ini.
“Begitu. Aku pikir mungkin lebih baik kalau kalian juga ikut...” katanya, tidak berusaha untuk menghentikan kami sebagaimana mestinya.
“... Yaah, kami permisi dulu.”
“Pe-permisi.”
Yuigahama menundukkan kepalanya, aku sedikit mengangguk, dan kami meninggalkan kursi kami. Hayama memberi salam singkat “Sampai jumpa lagi.” Dan Haruno-san melambai sambil tersenyum.
Yaukinoshita berdiri setelah kami lalu sedikit melihat kearah ibunya. Ibunya sedikit menarik dagunya dan mengangguk.
Saat Yukinoshita mengikuti kami ke pintu depan toko untuk mengantar kami, dia menundukkan wajahnya.
“... Maaf membuat kalian harus perhatian padaku.” Kata Yukinoshita, meminta maaf.
Yuigahama melambaikan tangannya. “Tidak masalah! Maksudku, aku rasa kami mendapat pengalaman bagus karena bisa bertemu dengan ibumu, Yukinon.”
“Begitu, kalau begitu baguslah...” Jawab Yukinoshita, tapi wajahnya masih muram.
Wajah Yuigahama juga menjadi suram saat melihatnya. Tapi dia segera memikirkan sesuatu dan mulai mencari sesuatu di tasnya.”
“Ah, aku tahu, ini. Agak terlalu cepat, tapi, ini hadiah untuk ulang tahunmu besok.” Yuigahama menyerahkan tas berisi hadiahnya pada Yukinoshita. Karena Yuigahama memberikannya sekarang, aku memutuskan untuk memberikannya juga.
“Met Ultah.”
“Te-terima kasih...” Yukinoshita terlihat bingung, tegang melihat tasnya, tapi segera menjawabnya dengan suara terpatah-patah. Lalu, dia memeluk tas itu dan tersenyum.
Melihatnya, Yuigahama tersenyum juga. “Ayo kita rayakan ulang tahunmu lagi di sekolah!”
“Baiklah, sampai jumpa lagi.”
“Ya... Sampai jumpa lagi.”
Setelah kami mengucap salam pada Yukinoshita yang sedikit melambaikan tangannya, kami berjalan menuju lift.
Aku menekan tombol di lift untuk turun, tapi itu cukup memakan waktu sampai mencapai lantai kami. Sambil menunggu, Yuigahama sedikit berkata.
“Jadi itu ibu Yukinoshita, hah? Mereka terlihat sangat mirip.”
Benar, Yukinoshita mirip dengan ibunya. Setidaknya, aku pikir penampilan dan perilaku luar mereka mirip. Tapi berdasar intuisinya, dia lebih mirip dengan Haruno-san. Aku rasa aku sedikit memahami dengan apa yang dulu Haruno-san katakan mengenai ibunya.
“... Tapi, rasanya.”
Saat yuigahama mulai berbicara, bingung untuk mengatakannya atau tidak, terdengar suara lift dan pintunya terbuka.
Kami berdua memasukinya, aku menekan tombol ke lantai satu, dan Yuigahama kembali berbicara. Sepertinya berbeda topik dengan sebelumnya.
“Aku rasa Hayato-kun dan Yukinon benar-benar teman sejak kecil, hah? Maksudku, aku juga pernah sedikit mendengar tentang hal itu.”
“Apa maksudmu dengan ‘benar-benar’? Itu membuatnya seperti mereka itu bohongan.”
“Aku tahu itu. Hanya saja mereka tidak memberi kesan seperti itu. Jika mereka sudah saling lama kenal, aku pikir tak apa kalau mereka lebih sering berbicara satu sama lain.”
“Setiap orang punya keadaan mereka masing-masing, kan? Hanya karena kamu pergi ke sekolah yang sama dengan seseorang tidak berarti kamu akan berbicara dengannya.”
“Mmmm, aku pikir begitu.”
Masa lalu adalah ruang khusus yang hanya diperuntukkan bagi bagi mereka yang terlibat. Bukan Cuma kenangan indah dan bahagia, tapi juga kenangan buruk dan kejam.”
Dengan memiliki masa lalu seperti itu sehingga jarak setiap kenangan itu menjadi semakin jauh saat kerenggangan terbentuk. Mengumpulkannya bersama seseorang akan berbeda dengan mengumpulkannya seorang diri. Meski terkumpul dengan tinggi yang sama, tapi jalannya berbeda dan menuju puncak yang berbeda. Perbedaan itu dapat mengubah banyak hal. Posisi, keadaan, bahkan cara menyebut nama seseorang.
liftnya terus turun tanpa berhenti sekalipun.
Dalam kesunyian, hanya suara pelan gerakan yang terdengar terlingaku. Kaki kami sedikit tergoncang karena getarannya.
Semakin kami terus turun, menyelam jauh semakin dalam, dalam kesunyian.
Saat liftnya berhenti dan kami sampai di lantai satu, aku merasa sedikit takut untuk melihat pemandangan dibalik pintu yang terbuka itu.

Catatan Kaki:
1.         Istilah Mata uang dalam seri Doraemon, tepatnya film.
2.        PARCO – Serangkaian toko swalayan di jepun.
3.        Lalaport – Shopping Mall besar.
4.        C-One  - Shopping Mall lain.
5.        ICHIRAN – Toko ramen.
6.        Captain C – Pahlawan lokal asli.
7.        Chiba Batman – Penduduk yang belakangan ini berkendara keliling kota dengan kostum Batman dengan tujuan untuk membawa kembali senyuman di kota.
8.        Hinedere – Julukan dari Komachi, Intinya “Twisted Dere” / “Dere Kacau”
9.        Piko & Osugi – Pasangan selebritis artis di jepun. Kalimat yang biasa mereka katakan.
10.     Sogo – Toko swalayan.
11.       Sencity tower – Pencakar langit yang dibangun dengan toko di dalamnya.
12.      Persona – Teriakan tokoh saat memanggil monster. Kacamata dipakai di persona4 sedangkan pistol dipakai di persona3.
13.      Yokai watch – Game buatan Level-5. Lirik lagu dalam game.
14.      Lari Melos – Parody dari buku yang terkenal di kalangan gadis SMA. Mirip dengan BFF. Gadis SMA biasanya suka membuat bagian dari pesan mereka menjadi kecil untuk suatu alasan.
15.      Tahun baru – tepatnya tanggal 1-3 diamana semua pekerjaan libur. 4 Januari adalah hari saat semua pekerjaan kembalidimulai.
16.      Kuroko no Basuke – Perumpamaan yang digunakan untuk membandingan tokoh utamanya dengan tokoh pembantunya.

17.      Kuroyanagi Tetsuko – Permainan kata. “mebuat (Tetsu-suru) diriku menjadi tokoh pendukung (Kuroko).”

Oregairu Jilid 10 - Bab 2 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

6 komentar:

  1. Makasih TL-nya , lanjutin ya gan...

    BalasHapus
  2. Thanks KIMINOVEL dan Saya tunggu chapter berikutnya dan semangat TL nya yah min

    BalasHapus
  3. thanks min.
    mau nanya nih kalo di season 2 itu masuknya ke jilid berapa ?
    kalo loncat, bacanya gak seru truz kalo ngulang kelamaan.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.