17 Maret 2015

Oregairu Jilid 10 - Bab 1



Bab 1 : Akhirnya, Hikigaya komachi berdoa pada Tuhan.


Sekarang sudah benar-benar gelap ketika aku memaca bukuku.
Salah satu kebiasaan burukku ketika sedang bersih-berih atau membereskan sesuatau adalah kebiasaan “ooops, aku mulai membaca buku” ku.
Hampir saja... Kalau saja yang sedang kubaca adalah buku berseries, aku mungkin sudah terjerumus kedalam meraton membaca. Dan ketik aku selesai membaca semua volumenya,  aku akan bilang “kapan volume selanjutnya dirilis ? cepatlah dan lakukan tugasmu, penulis!”
Aku berdiri dari sofa tempatku berbaring lalu mengembalikan buku yang selesai kubaca ke rak.
Dengan ini, rangkaian bersih-bersih masal yang kulakukan telah selesai. Sebenarnya tak ada yang kubersihkan, tapi terserahlah, yang penting aku selesai.
Dalam hidup, selama kamu tak bisa menghilangakan noda masa lalumu, maka harus kubilang, sudah pasti, pembersihan merupakan hal yang mustahil sehingga tak berguna. Jika kehidupan adalah noda itu sendiri, terserah apapun yang kamu lakukan, kamu takkan pernah melihat akhir dari membersihkan hidupmu.
Bagaimanapun juga, karena setidaknya aku telah merapikan rak bukuku, aku kembali ke ruang tamu.
Hanya tinggal beberapa hari tersisa di tahun ini.
Harusnya besok adalah hari terakhir kerja untuk orang tuaku di tahun ini. Mereka punya tumpukan perkerjaan yang perlu dikerjakan sehingga mereka juga akan pulang telat malam ini. Karena itu, ibuku sudah mulai beres-beres sedikit demi sedikit ketika ada waktu. Tanpa kusadari, ruang tamu sudah dibereskan hingga rapi.
Tapi di ruang yang rapi itu, ada seseorang terkapar di lantai, mengeluarkan semacam aura yang mengerikan.
Itu adalah adikku, Hikigaya Komachi.
Badannya muncul dari kotatsu sambil menundukkan kepalanya. Berada di punggungnya adalah kucing kami tercinta, Kamakura, yang sedang menjilati dirinya sendiri.
“Ada apa...?” Aku bertanya, tapi tak ada jawabnya.
Ini hanyalah sebuah mayat...[1] Oh, ayolah, Komachi, mati di tempat seperti ini, agak menyedihkan, kam tahu...
Tapi, kelihatanya agak kejam membiarkan kucing di punggungnya. Seperti dia dirasuki oleh jin penunggu sehigga dia tak bergerak sedikitpun. Dalam hal itu, aku lebih suka kalau kita bisa menentukan bahwa jin kucing penunggunya adalah seekor kucing, jin, atau bahkan iblis, meow.
Aku menuju kotatsu lalu mengangkat kamakura dari punggung komachi dan meletakannya di pangkuanku. Kamakura meremas pangkuanku untuk menyesuaikan diri, meletakkan kepalanya, lalu berguling, tidur lagi. Maaf untuk tempat tidur yang buruk, maafkan aku, meow.
Ketika aku menghilangkan beban di punggungnya, komachi mengangkat kepalanya.
“Ah, Onii-chan...”
Adikku yang selalu imut memiliki mata ikan busuk. Ya ampun, Kamu seperti kakakmu! Kita benar-benar bersaudara! Jadi jika komachi imut dan aku mirip dengannya, itu berarti aku juga imut! Tapi, tunggu dulu!, mata busuknya itu benar-benar tidak imut. Jadi jika keimutan komachi yang biasanya saja tidak mampu unutuk membuatnya terlihat imut, bukankah itu berarti kalau aku sama sekali tak ada imut-imutnya ?
Yang jelas, ini pertama kalinya aku melihat komachi terlihat begitu tertekan dengan masalah.
“Komachi, kamu baik-bak saja...?”
“Tidak... Aku sudah tamat...” Komachi menggerutu dan mengubur wajahnya ke bantal lagi. Lalu dia mulai mengucapakan kata-kata gila dengan suara yang terpatah-patah. “Harus, bersih bersih... Harus, membung sampah... perlu, membersihkan gomii-chan..”
“Tenang saja komachi. Rumahnya kurang lebih sudah di bereskan. Dan juga, tak semudah itu untuk membersihkan onii-chan. Kamu harus bersiap untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang.”
 “Uuugh, menurut komachi, aku hanya ingin kamu segera menikah...”                
Dia melihatku dengan tak puas, tapi tak banyak yang bisa kulakukan mengenai itu. Kesulitanya setara dengan menikahi Hiratsuka-sensei, mungkin. Mana mungkin kamu mau menikah dengan orang yang merepotkan sepertiku... Tapi sekarang bukan saatnya untuk memperkuat perisai pertahananku. Masalahnya disini adalah komachi.
Kurang lebih, aku bisa memperkirakan kenapa komachi menjadi seperti ini. Kemungkinan ini tentang ujian. “Belajar itu terlalu sulit”, “Hasil try outnya buruk”, kurang lebih sesuatu semacam itu.
Bahkan sejak akhir natal, komachi sudah belajar siang dan malam, tapi seiring menjelangnya tahun baru, dia sudah kehabisan tenaga.
Menggerutu dan menangis, komachi berkata “Bahaya, parah parah...”
Lalu dia melihat kearahku.
Ketika aku terdiam, dia membenamkan wajahnya ke bantalan lagi. Dia berkata dengan suara pelan. “sniff, Uuuugh, aku sangat lelah...”
Lalu dia melihat kearahku.
Ya ampun, dia benar-benar merepotkan... Tapi, aku adalah senior veteran onii-chan dengan lima belas tahun pengalaman. Saat seperti ini adalah saat dimana aku sangat memahami kata-kata yang tepat untuk kusampaikan padanya.
“Yaa, kamu tahu. Belajar sepanjang waktu itu agak berlebihan. Sekarang juga sudah hampir tahun  baru, bagaimana kalau kita jalan-jalan sekalian melakukan kunjungan kuil awal tahun?”
“Baik!” Komachi menjawab seketika dan langsung bangun dari posisinya.
Sepertinya aku tepat sasaran. Tentu saja, karena aku adalah profesional onii-chan, sudah sewajarnya seperti itu. Kalau dipikir lagi, aku pikir negara ini sebaiknya segera membuat pekerjaan  onii-chan. Apa itu pekerjaan onii-chan ? Itulah, seperti, dibesarkan oleh adik perempuannya ? itulah yang aku sebut sebagai pekerjaan yang tak terkalahkan. Terlebih, itu masih termasuk sebagai pengangguran.
Tapi sebagai profesional onii-chan, aku takkan terlalu memanjakannya. Aku harus mengingatkannya.
“Tak apa begitu, tapi kamu harus belajar dengan serius hingga saat itu.”
“Aku tahu. Aku tahu. Aku bisa belajar lebih baik kalau aku punya rencana menyenangkan yang menanti, tahu ?”
Aku memperingatinya tapi dia sama sekali tidak memperhatikan. Dia duduk tegap lalu mengambil jeruk mandarin. Mmhm, tak apalah asal kamu termotivasi...
“Ada kuil yang ingin kamu kunjungi ? Seperti tempat yang mungkin memberimu berkah atau semacamnya.”
“Mmm...”
Ketika kutanya, dia mulai berpikir.
Mungkin memang seperti itu bagi murid yang akan menghadapi ujian, kunjungan  kuil pertama  dalam tahun ini merupakan hal yang dianggap agak penting. Konon katanya, “Kapanpun kamu punya masalah, berdoa pada Tuhan.”
Jika kamu memang benar-benar dalam keadaan genting, maka hanya Tuhan lah satu-satunya tempat mencari pertolongan. Karena kebanyakan orang memang benar-benar tidak dapat diandalkan. Jadi kenyataan bahwa kamu tidak bergantung pada orang lain berarti kamu hanya bergantung pada Tuhan dalam kehidupanmu. Bagaimanapun juga, keadaan genting tetaplah keadaan genting. Saat seperti itu adalah saat dimana aku mengaharapkan Ultra-sesuatu.[2]
“Jika di sekitar sini, kita bisa mencoba ke tempat yang ayah biasanya tuju. Kamu tahu, tempat diamana dia bilang dia menginap semalaman hanya untuk mengantri. Kuil Kameido Tenjin atau apalah itu ?”
Itu hanya sekali jalan dengan kereta Sobu Line dari tempat kami, jadi tak begitu jauh. Tentu saja, karena kita akan pergi berdoa pada dewa pengetahuan, sudah sewajarnya disana akan sangat padat karena sedang musimnya. Ketika bayangan keramaian itu terbersit di pikiranku, aku tak bisa menahan diri untuk membuat ekspresi “bleech”, gimana ya, karena aku memang tak suka keramaian.!
Dan entah kenapa, komachi juga membuat ekspresi “bleech”.
“Begadang... Salah satu hal yang membuat ayah menjijikan...”
Dia ayah yang baik, hargai dia sedikit ... Kamu tahu, jika bukan ibu yang menghentikannya, ayah mungkin sudah pergi ke Daizaifu, tahu... Aku pikir ibu juga mencoba mencegah ayah begadang.
“Nah, mengesampingkan ayah, ada juga Dewa Pengetahuan di Yushima Tenjin...”
Kuil ini kuga memiliki Dewa Pengetahuan, jadi disana sangat terkenal selama masa ujian. Dengan kata lain, Disana juga pasti akan sangat ramai karena sedang musimnnya- etc, etc.
Ketika aku sedang mempertimbangakan berbagai kemungkinan, komachi mengeluh.
“Mmm, tempat yang terkenal memang bagus, tapi... aku pikir tempat yang dekat dengan sekolah mungkin punya perunutungan yang lebih baik.”
“Yeah? Kalau begitu... Aku pikir, lebih baik Kuil Sengen.”
“Ahh, disana itu yang selalu mengadakan fetival.”
“Tidak. Tidak selalu.”
Kuil macam apa yang selalu mengadakan festival ? Apa mereka tak punya pengharagaan. Apa mereka toko di depan stasiun Akihabara yang melakukan diskon akhir tahun ? Seberapa banyak every day itu everyday? [3]
Tapi kupikir itu normal bagi komachi yang memang kurang tahu tantang kuil Sengen, itulah kenapa dia hanya tahu tentang festival. Memang disana menjadi tempat terkenal bagi para pelancong, tapi sebenarnya mengunjungi kuil di sekitar rumah biasanya hanya terjadi pada kunjungan awal tahun atau ketika ada festival.
Tapi kuil Sengen, kah... ? Aku punya perasaan akan ada banyak kenalan disana, jadi aku tak begitu menyukaianya, mungkin memang lebih  baik ke kuil sekitar rumah saja. Tapi Aku juga tidak ingin bertemu dengan kenalan SMP. Sebenarnya, aku malah tak begitu ingin pergi kemanapun sekarang, tahu  ?
Seiring munculnya keraguanku, Komachi menatapku dengan perhatian.
“Ada apa?” Aku tanya.
Komachi mengatur posisi duduknya sambil mempersiapkan dirinya. “Oh, Kamu tahu, onii-chan. Sebenarnya kita tak perlu pergi bersama atau semacamnya. Aku juga tak apa kalau pergi dengan ibu.”
Mmmm, kamu secara alami meninggalakan ayah kan ? Seperti yang diharapkan dari ayah, yep.
Bagaimanapun juga, aku punya gamabaran kenapa dia bertingkah perhatian seperti itu. Dia mungkin betindak samaunya, tapi dia juga punya pemikiran  tersendiri tentangku sebagai kakaknya. Tidak, tidak, onii-chan juga punya pendapat tersendiri tentang dirinya, tahu ? Hanya saja aku punya masalah memahami pendapat itu karena aku masih belum yakin bagaimana untuk bertindak sendiri.
Itulah kenapa aku sangat menghargai liburan musim dingin yang hanya kurang dari dua minggu ini. Tentu saja, ketika sekolah dimulai lagi, aku harus menghadapi permasalahan ini lagi.
Tapi untuk sekarang, aku sedang libur. Dan karena sekarang sedang libur, ciri khasku adalah untuk mengerahkan seluruh kemampuan terbaikku untuk bermalas-malasan. Sebagai seseorang yang bercita-cita sebagai bapak rumah tangga, tidak dianjurkan menggunakan otak ketika liburan.  Tunda kesimpulan pendapatmu, bawa pulang dan pikirkan lagi. Itu yang orang sebut sebagai budak perusahaan! Tunggu, jadi itu sebenarnya adalah budak perusahaan atau bapak rumah tangga...?
Agar bisa beristirahat sebanyak yang kubisa dan juga menunda hal ini, aku umemutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.
“Ya ampun, Aku tak butuh perhatianmu yang merepotkan itu.”
“Oh, sebisa mungkin, aku juga ingin menghindarinya.” Komachi mengeluhan dengan sombong. Maaf, adikku, karena menjadi kakak yang seperti ini.
“Yaah, jika kamu tak mau pergi, aku akan pergi sendiri seperti biasanya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dan juga lebih mudah bagiku.”
“Lagi-lagi, berkata seperti itu...”
“Konon katanya, Tahun baru adalah hari dimana kita merencanakan setahun kedepan. Oleh karena itu, jika aku membuat kenangan buruk ketika kunjungan kuil petama, berarti setahun ini sudah dipastikan akan menjadi tahun dengan kenangan buruk. Mengawali tahun dengan membuat kenangan buruk dalam kerumunan massa ? Bukankah itu konyol, setuju kan, Komachi-kun ?”
Aku memancing komachi yang terlihat acuh. Awalnya dia terlihat tidak tertarik, tapi sekarang dia menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan serius.
“Benar juga. Hari tahun baru adalah hari dimana kita merencanakan untuk satu tahun mendatang... Okey, mungkin aku akan pergi bersamamu. Onii-chan.”
“Ba-Baik... kenapa kamu berubah pikiran ?”
Sebelumnya dia melihatku layaknya melihat sampah, tapi sekarang dia memasang wajah serius, kebalikan dari sebelumnya. Lalu dia tersenyum.
“Maksudku, jika aku pergi bersama onii-chan di hari tahun baru, itu mungkin berarti aku akan terus bersama onii-chan selama setahun penuh. Itu tadi bernilai tinggi untuk komachi.”
“Y-yeah. Mungkin...”
Kata yang diucapkannya secara tiba-tiba membuat pikiranku membeku.
...
... Ya ampun, ada apa dengan adikku yang imut ini!? Abaikan kata mainstream yang diucapkannya di setiap akhir kalimatnya, adikku sangat imut!
“Ko-Komachi...”
Ketika aku menangis, menangis karena terharu dengan apa yang diucakannya padaku, komachi menggembungkan pipinya yang memerah dan memalingkan wajahnya. Kemudian dia melirikku.
“Jangan salah paham, ya! Yang aku maksud dengan bersama dengan onii-chan adalah karena kita akan pergi ke sekolah yang sama tahun depan, ini seperti doa lulus ujian, ya! Itu tadi bernilai tinggi untuk komachi. Ok!”
Uuugh, dasar tsundere murahan... bukankah barusan itu adalah kejahatan portopia ?[4] Penjahatnya adalah Yasu. Sial, sekarang aku merasa depresi.
Akting kecil terpaksanya bukanlah hal yang paling imut, tapi jika aku menganggapnya sebagai caranya menyembunyukan rasa malunya, mungkin sebenarnya, mungkin tak apa untuk menyebutnya imut.
“Kalau begitu, ayo pergi bersama.”
“Ya. Baiklah. Aku akan belajar lagi di kamarku.” Komachi keluar dari kotatsu dan berdiri ketika mengatakannya.
“Baiklah, semangat.”
Ketika kamakura tidur di pangkuanku, aku memegang kaki depannya, melambaikannya pada komachi, dan dia tertawa.
“Baiklah, aku akan berusaha.” Kata Komachi. Dia mengambil HandPhonenya dan mengelus kamakura sedikit demi sedikit sambil menyanyikan sebuah lagu, lalu kembali ke kamarnya.
Yang tersisa di ruang tamu hanyalah aku dan kamakura.
Ketika kamakura melakukan funsu[5] dengan hidungnya, aku menggoyangkan kakinya. Dia terbangun, terlihat marah dan meregangkan tubuhnya, lalu dia menggulingkan tubuhnya ke dalam kotatsu.
Aku mengikuti contohnya dan masuk ke kotatsu hingga bahu, menjadi siput kotatsu.
Hanya tinggal sedikit waktu yang tersisa dari tahun ini.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, malam ini adalah malam tahun baru yang tenang.


×  ×  ×


Tahun baru dimulai dengan aman terkendali.
Selamat tahun baru.
Rasanya, harus mengucap salam seperti itu pada sesama anggota keluarga adalah hal yang memalukan atau mungkin bisa dibilang konyol.
Tapi, aku harus bertahan mengahadapinya agar aku bisa mendapatkan jatah tahun baruku. Tidak salah lagi, pelatihanku sebagai budak perusahaan sudah dimulai bahkan sejak aku masih bayi. Jika itu merupakan cara untuk mendapatkan uang, aku bisa dengan mudah mengabaikan ketidak adilan dan keanehan, menundukan kepala yang bahkan aku tak ingin menunduk lalu melakukan tipuan, senyum sapaan. Itulah yang disebut sebagai budak perusahaan.
Sembari pikiran itu  berkeliaran di otakku, aku juga berhasil memperoleh jatah tahun baruku tanpa masalah. Bererapa tahun lalu, uang itu dihisap oleh kesatuan misterius bernama “Bank Ibu”, dan sekarang seharusnya jumlahnya sudah cukup banyak disana. Ketika tiba saatnya aku meninggalakan rumah, sepertinya uang itu akan dikembalikan padaku. Mungkin, Seharsnya, pasti. Aku percaya padanya. Aku harap dia tidak membuang huruf M dari MOTHER dan menjadi OTHER.[6]
Karena aku juga sudah berhasil mendapat uangku tanpa masalah tahun ini, aku berbaring di kotatsu untuk bermalas-malasan.
Sebagai pengganti bantal, aku duduk di kursi tatami dan memainkan Handphoneku.
Menjelang  tahun baru tahun ini, Handphoneku bergetar lebih banyak dari tahun-tahun biasanya yang tak pernah bergetar.
Isinya SMS “Selamat tahun baru.”
Aku mendapat sebuah sms formal yang sangat panjang di awal tahun, sebuah sms sederhana tapi imut, dan sebuah sms ramalan dari orang yang tek dikenal... Yeah, hal semacam itu. Aku pikir aku akan memdapat satu sms bodoh lagi, tapi ternyata tidak. Bukannya aku mengharapkan sesuatu atau semacamnya. Aku segera mengatasi sms alay dan sms yang sangat panjang  itu dengan membalasanya secara acak.
Tapi aku bingung bagaimana cara untuk mengatasi sms yang satu ini, jenis sederhana, “SMS Imut”. Jika dibalas dengan sms yang panjang, itu terkesan menjijikan, tapi, membalasnya dengan sms penuh gamabar dan emoji juga akan menjijikan. Sehingga pilihan terakhirku adalah membalasnya secara biasa, tapi itu akan terkesan dingin karena kata-katanya akan terasa kasar.
Hidup pasti akan lebih mudah jika ada yang namanya template seperti ketika membuat kartu tahun baru yang menyediakan berbagai jenis desain untukmu... Itu sangat tepat karena sangat jelas apakah kartu tahun baru hanyalah sebuah formalitas atau bukan. Hal semacam kartu tahun baru biasanya hanya berisi gambar atau foto lalu isi bagian kosongnya dengan kalimat “Ayo kita jalan lagi!” atau “Ayo pergi minum-minum lagi!”, dan kartu tahun barumu selesai. Seriusan, budaya jepun emang sesuatu banget.  Terlebih, rasanya aneh melihat melihat anak kuliahan berkata “Ayo minum-minum lagi!” ketika mereka sedang terjepit. Jika mereka terlalu banyak mabuk dalam setahun, aku yakin kalau  mereka akan menjadi pecandu alkohol. Alasan kenapa hal itu tak terjadi adalah karena mereka hanya menganggap itu sebagai formalitas, jadi sebenarnya, mereka tak pernah benar-benar pergi minum bersama, Aku yakin...
Sambil memikirkan hal itu, aku mengetik jawabanku, mengahapusnya, menulisnya, mengahapusnya, menulisnya, menghapuuuuusnya, tulis ulaaaaang![7] musnahkan dan ulangi.
Aku ingin membalasnya denga sms yang panjang, tapi jika terlalu panjang mungkin akan terkesan agak menjijikkan. Tapi jika terlalu pendek, aku akan dianggap sebagai orang yang dingin. Bingung dengan apa yang harus kulakukan, akhirnya aku memutuskan untuk membalasnya dengan jumlah kata yang sama. Inilah yang orang sebut sebagai “mirroring” dalam psikologi. Dengan meniru hal yang dilakukan pihak lain, itu akan meningkatkan nilai pesonamu.
“Onii-chan, kamu siap ?”
Ketika aku sedang menulis jawabanku, komachi memanggilku.
Aku melihat jam dan ternyata sudah hampir jam sembilan pagi, orang tua kami sudah pergi ke kuil Kameido Tenjin. Untuk kami berdua, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berangkat.
“Yeah.. Ayo berangkat.”
Setelah memastikan smsku telah sampai, aku keluar dari kotatsu dan berdiri.


×  ×  ×

 
Kami melawati beberapa stasiun dalam kereta yang sasak dan bergetar. Kami mengikuti arus, gelombang manusia yang keluar dari gerbang tiket, berjalan menuruni bukit hingga kami sampai di gerbang pertama kuil Sengen.
Gerbang raksasa yang terlihat dari jalan tol 14 ini  konon katanya dulu berada di laut. Itu yang di tweet oleh akun resmi CHI-BA+KUN[8], jadi tak perlu diragukan lagi. Dan sepertinya, dulu, disini memiliki pemandangan yang menakjubkan seperti situs warisan dunia UNESCO, Kuil Itsukushima. Dengan kat lain, ada kemungkinan Chiba menjadi situs warisan dunia UNESCO; Aku pribadi sudah menganggapnya begitu.
“Ya ampun, tak ku kira akan seperti ini...”
Hasil nyata dari situs warisan dunia UNESCO pribadiku... Benar-benar terkenal...
“Ini kuil terbesar di sekitar sini kan ? sudah pasti orang-orang akan datang kesini, tahu ?”
Begitu, benar juga... Itu menyadarkanku. Jika orang-orang datang kesini, kalau dipikir-pikir, bukankah itu berarti anak-anak dari SMAku kemungkinan besar juga datang kesini...?
Sial, aku pergi ke kuil lokal setiap tahunnya, jadi aku benar-benar tak memperhitungkannya.
Ketika aku memikirkan hal itu, komachi yang ada di sampingku mulai melihat ke sekitar.
“Oh, mereka disana”
Kemudian dia berjalan menerobos kerumunan massa.
“H-hey, Komachi. Mau kemana kamu ?”
Kamu murid yang akan menghadapi ujian kan ? Jadi kamu harus memegang tangan onii-chan agar kamu tidak terjatuh dan tersesat, sial, onii-chan akan menggendongmu ala puteri! Dari arah tanganku ditarik ada beberapa penampakan yang tak asing bagiku.
“Selamat tahun baru untuk kalian berdua!”
Komachi bergegas menuju mereka dan bersiap memeluk mereka lalu gadis di hadapannya mengangkat tangannya dengan ceria. Ketika dia melakukannya, gumpalan rambut coklat cerahnya bergoyang.
“Selamat tahun baru dan Yahallo!”
“Apa-apaan salam itu...? Selamat tahun baru,” jawabku sambil terheran.
Yuigahama memakai jaket dengan rajutan beige vertikal, syal panjang menyelimuti sekitar lehernya, dan tangannya memakai sarung tangan.
Gadis yang berada disampingnya memakai jaket putih dan dari rok mininya muncul kakinya memakai celana hitam. Dia adalah Yukinoshita Yukino.
“...Selamat tahun baru,” jawab yukinoshita, sambil menyembunyikan wajahnya dengan syal. Yaah, melakukan salam tahun baru memang agak memalukan. Tanpa kusadari aku juga mulai memainkan ujung syalku.
“Ahh... yeah, selamat tahun baru.”




“Okay, ayo berangkat.” Kata komachi, lalu dia mulai berjalan menuju kerumunan massa. Kami mengikuti di belakangnya.

 Ketika kami berjalan, aku mengetuk punggung komachi. “Komachi-chan, onii-chan boleh tanya sedikit?”
 “Apa?”
Aku diam-diam berjalan disamping komachi dan memelankan suaraku. “Kenapa mereka disini?”
“Ketemuan dengan komachi!”
“Apa, Ketemuan...?” aku mengatakanya sambil bingung, lalu dia merengut.
“Mereka adalah temanku, jadi apa masalahnya?”
“Yah, tak apa... tapi mengajak mereka itu, kamu tahu, gimana ya ngomongnya?” kubilang, menggaruk pipiku sambil berpikir.
Bukankah kamu biasanya memanggil teman dari sekolahmu untuk hal seperti ini ? Yah, bukannya aku tahu seperti apa “Biasanya” itu karena aku sendiri tak punya teman waktu SMP. Tapi aku pikir  memang seperti itu. Mungkinkah itu kesalahan hantu ? Mungkin ya. Jadi ini yang orang sebut sebagai hantu penyendiri, kah...?
Tapi, kenyataan bahwa Komachi bertemu dengan kakaknya di acara seperti ini membuatku agak khawatir dengan hubungannya. Aku termenung, tapi komachi sepertinya tahu apa yang ingin kukatakan dan segera mengatakan sesuatu.
“Yah, mempertimbangkan keadaanya saat ini. Memilih tidak mengundang temanmu juga bagian dari perhatian, tahu...” kata komachi, langsung.
Begitu, aku paham sekarang. Jadi alasanya kenapa tidak mengundang temannya adalah karena mereka sangat gugup menghadapi ujian.
Ujian menjadi pembatas.
Ini adalah cerita umum: teman yang malakukan ujian untuk menuju sekolah yang sama, hanya satu orang yang lolos dan yang lainnya gagal. Ketika kamu mendengar tentang adanya pasangan yang gagal menuju sekolah yang sama, itu membuat makanan terasa maknyusss dan ketika itu menjadi pemicu perpisahan mereka sehingga akhirnya mereka putus, makanan menjadi makanan susumu-kun[9].
Jika disekitar usia SMP, maka persahabatan mereka pasti akan mulai retak. Terutama ketika mereka memutuskan untuk mengambil ujian persiapan kuliah, seseorang pasti harus ditinggalkan karena adanya  batasan kuota. Dan orang yang ditinggalkan akan memutus hubungan mereka secepat yang dia bisa. Jika itu aku, itu yang pasti kulakukan.
Karena kamu pasti malu, frustasi, iri dan SAKITnya tuh disana sini. Jika ada saat dimana rasa sakit itu muncul, maka saat itulah kamu harus menahan dirimu, tersenyum, lalu memutus hubunganmu.
Menyadari bahwa suatu hubungan akan berakhir berpisah adalah hal yang akan membuatmu galau. Jika kamu ingin lulus dengan tersenyum, bukankah kamu seharusnya berusaha sebisa mungkin tak terlalu dekat dengan temanmu ? itulah saat dimana tak memiliki teman adalah pilihan tepat!. Hachiman mempertimbangkan hal itu  ketika mengambil ujian persiapan sekolah, mereka seharusnya mulai mengajarkan bagaimana cara menghancurkan persahabatan.
Itulah kenapa saat seperti ini diamana kamu memiliki teman dengan jarak usia yang pendek bisa membuatmu tenang. Kedua pihak dapat saling berkomunikasi tanpa harus menahan diri.
Bahkan sekarang, mereka bertiga masih ngerumpi sambil berjalan, komachi bicara dengan Yukinoshita dan Yuigahama lalu mereka tersenyum padanya. Bagi Komachi, yang selalu belajar selama liburan musim dingin, sekarang mungkin saat yang menenangkan baginya.
Dalam lautan orang, Yuigahama terlihat melihat ke area kesekitar. Sepertinya dia sedang kesulitan menentukan untuk mengantri di kedai makanan yang mana di tepi jalan utama.
“Wow, disini seperti sedang  festival” Kata Yuigahama, dan komachi segera mengangkat wajahnya.
“Benar juga!. Ah, mau makan sesuatu?”
“Ya! Jadi, mungkin... aku mau permen apel?”
Sepertinya mereka akan keluar dari jalan utama sambil ngobrol. Yukinoshita, yang ada disamping mereka, menurunkan syalnya dan menghentikan mereka.
“Kita akan melakukanya setelah mengunjungi kuil,” kata yukinoshita.
“Baiiiik...”
Keduanya dengan berat hati kembali ke kerumuan massa.
Itu tadi seperti percakapan antar saudara,... itu, seperti, tak ada tempat bagi onii-chan disini, kan...
Entah ini karena dapat diandalkannya Yukinoshita, kebiasaan Yuigahama untuk patuh pada orang lain,  atau kemampuan si adik kecil, sifat Hikigaya komachi yang membuat orang lain melakukan sesuatu untuknya; apapun alasannya, untuk ukuran gadis yang berbeda usia, kecocokan mereka tidak terlalu buruk.
Yuigahama memandu dengan berjalan di depan, Komachi mengikutinya sambil tersenyum, dan Yukinoshita memperhatikan mereka dengan tenang sambil megikuti mereka.
Aku mengikuti dan memperhatikan mereka dari kejauhan.
Lalu, saat itu, aku merasakan sesuatu yang janggal dari “Obrolan antar saudara”ku yang kupikirkan sebelumnya.
... Ini buruk.
Karena aku menyadari hal bodoh pertama yang kupikirkan di tahun baru menyebabkan ujung bibirku terangkat, senyuman muncul di wajahku. Aku mengangkat syalku untuk menyembunyikannya.
Tanpa kusadari, aku memalingkan wajahku dari depan dan pandanganku tenggelam dalam lautan manusia.
Tak bisakah mereka lakukan sesuatu dengan kerumunan ini ? Rangkaian pemikiranku membuatku hampir muntah. Aku ingin pulang sekarang...
Tapi ketika kami mencapai halaman kuil setelah jalan batu, kerumunannya mulai terurai.
Ini mungkin karena tak ada kedai makanan di halaman kuil. Karena kuilnya tepat di hadapan kami, kami segera  berjalan lurus menuju kesana tanpa membuang banyak waktu. Kami mengikuti kerumunan dan tanpa disadari kami sudah sampai di kuil.
“Kalian mau berdoa apa?”
“Kamu tak melakukan hal semacam itu di kunjungan juil pertama. Ini bukan Tanabata, tahu...”
“Betul. Terlebih hal ini tak akan benar-benar mengabulkan doamu.”
“Wooow, kalian berdua benar-benar membosankan!” Komachi mengatakannya dengan ekspresi terkejut dan Yuigahama setuju dengannya.
“Yeah, kalian berdua! Maksudku kita berdoa pada Dewa, jadi lebih bak kita meminta sesuatu karena itu akan menguntungkan kita!”
Sial, Aku tidak tahu logika misterius macam apa yang digunakannya sehingga menghasilkan pendapat itu.
Yukinoshita menekan keningnya bingungnya bagaimana untuk menanggapinya. “Baiklah... Yeah, mungkin kita anggap begitu saja. Tapi, aku rasa ini akan lebih seperti sumpah.”
Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. Yuigahama mengangguk dan melompat ke lengannya. Keduanya melempar sedekah mereka dan menggoyangkan loncengnya bersama. Mereka menunduk dua kali dan bertepuk dua kali. Lalu mereka menutup mata mereka.
Sumpah di depan altar dan dihadapan banyak orang itu terkesan agak megah.
Menirukan mereka berdua, aku mengikuti adat dan menepukkan tanganku.
Sebuah permohonan... atau sebuah sumpah, kah...?
Aku melirik Yukinoshita dan Yuigahama.
Yukinoshita terdiam sambil menutup matanya, sedikit membuang nafas. Yuigahama bergumam “mmmm!” sambil mengerutkan alisnya. Memang apa yang mereka harapkan atau sumpah seperti apa itu, aku tak tahu.
Mengikuti mereka, aku menutup mataku. Aku tak punya harapan atau semacamnya, tapi aku pikir aku ingin ada hal yang bisa kuatasi dengan kemampuanku sendiri tanpa berdoa pada mereka.
Untuk sekarang, Aku harap komachi bisa lulus ujiannya... Karena, sumfeh, itu adalah satu hal yang aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.


×  ×  ×

 
Setelah membayar ke kuil, kami akhirnya terbebas dari kerumunan massa.
Aku melihat ke sekeliling halaman dan disana ada gadis kuil, gadis kuil, dan suster berkeliaran dimana-mana. Just kidding, mana mungkin disana ada suster.
Menyadari sesuatu di area sekitar, Yuigahama berkata. “Oh, undian keberuntungan.!”
“...Ayo coba ambil beberapa.”
Kami mengantri dan bergilir mengambil undian keberuntungan. Kami mengocok semacam kotak kayu berbentuk segi delapan yang berisi batang kayu. Aku memeberi tahu gadis kuil berapa nomor yang muncul dan membuka undian ramalan yang kuterima.
“Agak beruntung...”
Bukanakah itu aneh... Tapi, untuk ukuran 100 yen, meski aku tak mendapat sesuatu yang bagus, aku harus menerimanya. Aku melihat daftar yang ada di undian dan semuanya aneh. Seberapa aneh ? Seaneh menuliskan kesehatanmu, “berhati-hatilah dengan penyakit presymptomatic.”
Aku bingung harus mengikatnya atau tidak karena aku tak menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk, sampai Yukinoshita, yang berada disampingku, menunjukkan apa yang diadapatnya.
“...Keberuntungan bagus.” Yukinoshita tersenyum bangga sambil mengatakannya padaku.
Tunggu, apakah keberuntungan bagus itu sebegitu jauh lebih baik dibanding agak beruntung ? Terlebih, Ini bukanlah hal yang begitu mengesankan karena ini cuma hal biasa, tahu? Tapi yahh, jika Yukinoshita senang karenanya, aku pikir itu tarikan yang lebih beruntung.
Bersaing seperti biasanya, hah... Kupikir. Lalu, sambil “hehehe” Yuigahama menunjukkan undiannya pada kami.
“Aku mendapat keberuntungan sempurna!”
“...Begitu, syukurlah,” kata yukinohita, matanya terlihat bersemanagat. Apa dia tak apa...? Dia takkan terus membeli undian sampai mendapat keberuntungan sempurna, kan...?
Ketika aku memperhatikan mereka, komachi muncul dari bayangan Yukinoshita dengan ekspresi tegang nan suram.
“Aku mendapat nasib buruk...”
Bagi murid yang akan mengikuti ujian tapi mendapat nasib buruk... Yuigahama, yang tadinya tersenyum gembira, dan Yukinoshita, yang sedang bersemangat dengan jiwa persaingannya, tak bisa berkata apa-apa. Suasananya menjadi sangat suram...
Yukinoshita menepuk bahu komachi dengan lembut untuk mengurangi ketegangannya. “kamu akan baik-baik saja, Komachi-san. Karena kamu punya jimat penangkal ini di keluargamu, jadi hal semacam ini bukanlah masalah.”
“Apa itu caramu untuk menghibur...? Yeah, begini, Komachi. Jangan biarkan hal semacam undian keberuntungan ini mempengaruhimu. Dalam seminggu, kamu bahkan akan lupa dengan apa yang telah kamu lakukan.”
“Aku tak ingin mendengarnya darimu...”
“Rasanya seperti keberuntungan sempurna milikku menjadi tak mengesanakan lagi...”
Yukinoshita dan Yuigahama terlihat galau setelah melihat undian mereka. Itu aneh... Bukannya mereka berusaha menghibur adikku, mereka malah membuat suasananya menjadi lebih suram.
Dan saat itu, Yuigahama menepukkan tangannya seakan meyadari sesuatu.
“Ah, aku tahu. Ini, ayo kita tukeran.” Kata Yuigahama, lalu dia menyerahkan undiannya pada Komachi.
“Eh, kamu yakin ?”
“Ya.”
Bingung bagaimana menanggapinya meski dijawab dengan senyuman, Komachi melihat kearahku.
“Yeah, anggap saja sebagai jimat keberuntungan. Tak perlu malu.”
Terlebih, ini adalah undian keberuntungan sempurna dari Yuigahama, yang entah bagaimana, secara luar biasa lulus ujian masuk ke sekolah kami. Mungkin ini mengandung semacam berkah di dalamnya. Bahkan mungkin mampu mengubah takdir atau menentang hikum fisika dengan ini.
“Terima kasih banyak... Aku akan berusaha semampuku.”
“Uh huh. Jika kamu menjadi adik kelasku, aku juga akan bahagia.” Kata Yuigahama.
Dia menyerahkan undiannya pada komachi dan mengambil undian nasib buruk miliknya. Yukinoshita yang terus memperhatikan mereka meletakkan tangannya di dagunya dan memikirkan sesuatu.
“Yuigahama-san, bisa pinjam undianmu sebentar.”
“Eh? Baiklah...”
Yukinoshita mengambil undian milik Yuigahama dan mengikatnya bersama dengan miliknya.
“Kita bisa membaginya seperti ini dan kita berdua akan mendapat agak beruntung.”
“Perhitungan macam apa yang kamu lakukan ?”
Menambahkan nasib buruk dengan keberuntungan bagus, dibagi dua, terus dikali dua? Perhitungan matematisnya merupakan bagian dari SAINS sedang konsep keberuntungannya merupakan bagian dari Ilmu sosial. Apakah ini sebuah bentuk gabungan antara SAINS dan Ilmu sosial ?
“Jadi sekarang kita semua sama,” kata Yuigahama dengan bahagia.
Yukinoshita kemudian tersenyum puas. “Benar... Dengan begini, bagian kita semua sama.”
“Jadi itu tujuanmu ?”
“Apa-apaan metode menyelesaiakan masalah yang aneh itu, seperti yang dilakukan di pendidikan tanapa tekanan...?[10]
Itu seperti menyuruh semua orang berpakaian Momotarou[11] dalam festival seni sekolah, bergandengan tangan, dan melewati garis finish bersama.
“Bercanda,” kata Yukinoshita dan tersenyum.
Komachi segera memasukan undiannya ke dalam dompet daan mengangkat wajahnya. “Karena kita sudah selesai mengunjungi kuil dan mencoba peruntungan, mau ngapain lagi ?”
“Ayo liat-liat kedai.”
Ketika Yuigahama menyarankannya, yang sudah ingin ke kedai bahkan sejak perjalanan menuju kuil, Yukinoshita mangangguk.
Karena jalur kuil juga adalah jalan pulang, aku tak punya masalah dengannya. Bukannya aku keberatan, tapi karena mereka sudah mulai berjalan.
Ketika kami kembali menuju arah datang kami, deretan kedai makanan mulai telrihat. Selain kedai mainstream seperti okonomiyaki dan takoyaki, disana juga ada kedai amazake[12], terlihat cocok dengan musimnya.
Dalam lautan kedai makanan, ada galeri tembakan. Aku melihatnya dan heran kenapa kedai seperti ini yang biasanya ada saat musim panas namun muncul ketika musim dingin, lalu aku mendengar bisikan suara disampingku.
“Kenapa ada galeri tembak di perayaan tahun baru...?” Yukinoshita terus menatapnya dan berkata, “... Aneh sekali.”
“Yeah, memang aneh, tapi pasti akan ada bocah datang, jadi bukankah itu normal untuk muncul karena sekarang adalah saat yang tepat untuk mencari uang ?”
“kedengarannya masuk akal... Tapi kenapa itu ada di tempat seperti ini...?”
Tapi Yukinoshita terus melihat ke galeri tembak, sepertinya dia bahkan tak mendengarkan apa yang kukatakan. Dan di galeri itu, ada benda yang mirip Pan-San si panda disana. Ahh, jadi itulah alasan kenapa kamu terus menatapnya...
“...Mau mencoba ke galeri tembak ?”
“Tidak, aku tidak-“ kata yukinoshita gugup. Oh, dia benar-benar menginginkannya...
Dia terus menatap benda yang mirip Pan-san si panda sambil bergumam. Sepertinya dia takkan bergerak sampai menadapatkannya. Apa yang harus kulakukan, aku tak terlalu percaya diri dalam permainan ini, tapi mungkin aku akan mencobanya...
Ketika aku mengecek dompetku, Yuigahama mengatakan sesuatu.
“Ah.”
Lalu dia menarik lengan bajuku.
“Ada apa?”
“Mm,” kata Yuigahama, memintaku mendekat padanya. Sepertinya dia ingin aku merunduk sedikit. Aku mengikuti permintaanya dan sedikit merendahkan kepalaku dan Yuigahama mendekatkan wajahnya ke telingaku seperti ingin mengatakan sesuatu yang rahasia.
Posisi seperti ini jelas membuat kami sangat dekat. Ini bukan hal begitu mengejutkan lagi, jadi aku tak perlu begitu memikirkannya.
Namun, dengan aroma jeruk yang mengganggu hidungku, dan pipinya yang agak memerah karena angin musim dingin tepat didepan mataku, membuatku sulit untuk menghadapnya.
Setelah menarik  nafas, aku memberi isyarat meminta Yuigahama agar cepat bicara dan Yuigahama mengehembuskan nafas. Lalu dia mulai berbisik ke telingaku.
“Hey, apa yang akan kita lakukan tentang belanja hadiah untuk Yukinon?” Tanya Yuigahama.
“Ah, Ahh...”
Aku teringat.
Sekarang sudah hampir hari ulang tahun Yukinoshita. Ketika hari natal kemarin, saat ada waktu, kami berjanji untuk memebeli hadiah untuk yukinoshita bersama.
Jangan salah paham, aku tidak melupakan janjinya. Hanya saja agak sulit memikirkan tentang apa yang harus kulakukan. Kapan, Dimana, dengan siapa, apa, dan bagaiamana aku harus memebelinya, sial, bagaimana aku bisa membicarakan hal semacam ini? Aku sudah memikirkan semuanya dimulai dengan 5W1H. Maksudku, agak sulit untuk menjadi orang yang mengundang. Dan aku sangat buruk dalam menentukan hari. Jika aku menentukannya semauku itu akan merepotkan pihak lain. Tapi meminta mereka menentukan semuanya juga membuatku merasa tidak enak. Apa-apaan dengan keraguan hidup tanpa akhir ini ?
Bagaimanapun juga, aku menghargai berterima kasih padanya karena membahas hal ini. Jika aku menundanya lagi, aku yakin aku memikirkannya secara berlebihan lagi dan sampai hampir meneriakkan “Hachika ingin pulang!”[13], jadi aku segera menjawabnya.
“... Kalau begitu, bagaimana kalau besok ?”
“Y-Yeah. Sepertinya bisa.” Yuigahama terlihat kaget dan memainkan gumpalan rambutnya.
“begitu, baiklah, berarti deal untuk besok.”
“Ya...” yuigahama menjawab lalu terdiam, aku juga diam.
Lalu komachi datang dan menarik lengan bajuku, “Onii-chan, yukino-san sepertinya tak mau bergerak dari sana...”
Yuigahama tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata pada Komachi. “Ah, komachi-chan, apa kamu juga mau pergi?”
“Huh? Pergi Kemana?”
“Umm, kamu tahu, aku berencana membeli hadiah ulang tahun untuk yukinon besok bersama Hikki, jadi...”
“Ah, kedengarannya bagus!” kata komachi namun tiba-tiba terihat terkejut. Lalu dia tersenyum jahat. “...Tapi, kamu tahu kan, kalau aku sedang sangat sibuk belajar untuk ujian.”
“Ya-Ya juga...” Yuigahama mengangguk. Sepertinya dia teringat kalau tadi dia menyerahkan undiannya pada Komachi dan dia sedang belajar untuk ujian.
Tapi setelah merenung sedikit, dia mengangkat wajahnya dan menggenggam tangan Komachi.
“T-Tapi, Hey, Anggap saja sebagai isitirahat! Terlebih, jika kamu memberi Yukinon sebuah hadiah, dia pasti akan sangat senang, Komachi-chan! Aku juga ingin saran darimu! Atau semacamnya...”
“Eh? Ba-Baik, aku pikir...,Hmm?” Komachi menjawabnya dan terlihat bingung. Dia menatapku.
“Tak apa kalau kamu juga pergi, Komachi. Sepertinya tak ada masalah,” kubilang.
Komachi memiringkan kepalanya.
“Mmm... Ada apa dengan perkembangan tersembunyi ini...? Kalian dulu juga pergi berdua ketika musim panas...” Komachi menggerutu dengan suara pelan.
Yeah, begini, banyak hal yang terjadi. Hanya saja, bagaimana ya aku ngomongnya, kami punya masalah bagaimana untuk saling bersikap satu sama lain.
“Yeah, kalau untuk itu...”
Komachi terlihat bingung ketika menjawab, tapi Yuigahama terlihat senang dan mengeluarkan Handphonenya.
“Okay, berarti kita sudah sepakat! Akan ku sms nanti!”
Handphone milik yuigahama bergetar.
“Oh, Tunggu bentar.” Kata Yuigahama. Dia agak menjauh untuk menjawab telfonnya. Aku memperhatikannya dari kejauhan dan sepertinya dia sedang berbicara dengan temannya.
Tapi menanyakan “Dari siapa?” itu agak kurang sopan. Aku juga tak bisa menanyakannya karena akan membuatku terkesan seperti aku orang yang cukup penting sehingga pantas menanyakannya.
Sampai Yuigahama selesai menelfon, kita tak bisa pergi dulu. Jadi sepertinya kita hanya bisa menunggu disini. Terlebih, selama Yukinoshita terpaku di galeri tembak, kita juga tak bisa kemanapun.
Teringat hal itu, aku melihat ke area tembak dan Yukinoshita menurunkan bahunya sambil berjalan kearahku.
“Ada apa? Sudah selesai?”
Aku memanggilnya,sambil terliat sedih, dia berkata. “Ya, aku sudah selesai. Sesuatu seperti itu itu agak...”
“Hah?”
Aku melihat ke galeri tembak lagi untuk memastikan apa yang terjadi. Aku melihat benda yang dari tadi selalu diperhatikan Yukinoshita dan itu bukanlah Pan-san si Panda tapi Panda Ichiro-san si panda[14]. Yeah, terkadang memang banyak hal semacam itu di fesival. Mereka mengganti Natchan[15] dengan Occhan[16], mengganti Adidas dengan Kazides[17].
Komachi yang melihat ke kedai itu juga mengangguk.
“Ah, Barang KW seperti itu, kan?” Kata komachi.
Yukinoshita meletakkan tangannya di dagunya dan memiringkan kepalanya. “KW? Kedengarannya seperti seseorang yang ku tahu disini. Aku yakin namanya Hi, Hiki,...”
“Um? Maksudmu bukan aku kan? Terlebih, bukan hanya namaku, kamu bahkan lupa nama keluargaku ?” kubilang.
Yukinoshita mengibaskan rambut dari bahunya dan terlihat marah. “Tidak sopan sekali, tentu saja aku ingat.”
“Sebenarnya yang tidak sopan disini sebenarnya adalah kamu...”
“Yang lebih penting, Dimana Yuigahama-san?”
Jadi kita selesai membahas namaku begitu saja... ?
“Sedang menelfon disana.”
Aku menunjuk ke arah Yuigahama tadi, dan Yuigahama sedang melihat ke area sekitar selagi menelfon.
“Baik, Baik, Yeah, jalan batu, kupikir? Itu yang kita tuju. Oh, aku melihatmu.”
“Ah, Yui, disini.”
Datang sambil membawa Handphone di tangannya adalah Miura Yumiko. Bahkan di keramaian ini, kerah berbulunya dan kakinya yang muncul dari rok mininya begitu menarik perhatian bahkan jika kamu tak menginginkannya.
Lalu, berjalan dibelakangnya, Ebina-san.
“Yui, selamat tahun baru! Selamat tahun baru juga untuk yukinoshita-san dan kalian.”
Tidak seperti Miura, Ebina-san berbicara pada kami. Dia benar-benar orang yang baik.
“Selamat tahun baru.”
“Wow! Lama tak jumpa! Selamat tahun baru!”
“Belum bertemu sejak musim panas kan, adik kecil!”
Aku membalas salam dari Ebina-san yang sedang berbicara dengan Komachi sambil memperhatikan kelompok gadis yang sedang saling ngobrol.
“Miura cs, kah...” aku bergumam setelah menyadari siapa orang yang Yuigahama telfon tadi. Dia menoleh dan mengangguk, mendengar apa yang ku katakan.
Lalu, datang dari belakangnya beberapa penampakan orang yang familiar.
Itu adalah si rambut pirang dengan mulut toa, Tobe. Si keras kepala nan labil, Yamato. dan si jones Ooka. Itu adalah Trio baru – Three for the kill[18]. Tapi sebenarnya, rambut Tobe lebih ke cokelat daripada dibilang pirang... Itu adalah hal yang sangat tak penting sampai aku sama sekali tak pernah memperhatikannya.
Mereka bertiga berkelompok agak jauh dari kami.
Mereka sangat berisik sambil memegang sabuah cangkir kertas di tangannya. Sepertinya mereka meminum amazake. Tobe menggenggam cangkirnya lalu meminum semuanya sekaligus.
“Sake memang sesuatu banged. Minum pertama tahun ini cuk, minum pertama tahun ini. Seriusan, loe butuh minum lebih banyak lagi.”
“Bener banget,” Kata Yamato seakan memujinya. Dia meminum semuanya sekaligus lalu menghembuskan nafas. Yeah, tapi itu Cuma amazake.
“Beeh, aku benar-benar meminumnya. Ini membuatku merasa hangat. Tapi yo, bukankah udaranya dingin beud ? Maratonnya pasti bakal cetar membahana.”
“Pastinya.”
“Yeah, pasti.”
Yeah, pasti...
Setelah Yamato dan Ooka menjawab, aku juga menyetujuinya secara rohani. Karena berdasar kalender kegiatan, maraton tahun ini akan digelar pada bulan januari bukannya februari seperti tahun-tahun sebelumnya. Kami harus berlari sepanjang pantai ketika suhunya sedang sangat dingin.
Mengingatkanku sesuatu yang menjengkelkan ketika tahun baru... Aku menatap sengit trio idiot Tobe, Yamato dan Ooka.
Itu mengingatkanku.
Trio maut Tobe cs bersama pasangan Miura dan Ebina memang pemandanagan yang biasa.
Tapi di kelompok itu, tokoh utama yang menjadi pusat dari kedua kelompok itu menghilang.
“Cuma mereka...?” Kataku.
Yuigahama mundur satu langkah dan berdiri di sampingku setelah mendengar pertanyaanku.
“Aku pikir mereka mengundang Hayato-kun, tapi sepertinya sekarang bukan saat yang baik untuknya.”
“Aku pikir begitu.” Yukinoshita menjawabnya sambil mengangguk.
Kata-kata yang mengejutkan.
Aku melihat kearah Yukinoshita begitu pula Yuigahama, Miura, dan Ebina.
“Hah? Apa kamu tahu sesuatu?” Tanya Yuigahama, penasaran dengan nada Yukinoshita yang terdengar sangat yakin.
“Keluarga Hayama-kun memang seperti itu sejak dulu.”
“Ohh, begitu.” Yuigahama mengangguk percaya.
Yah, Yukinoshita memang sudah lama mengenal Hayama. Lebih tepatnya, teman masa kecil, jadi takkan aneh kalau dia tahu tentang keadaan keluarganya.
“....Hooooh.” Aku menanggapinya dengan tak peduli dan menyadari bahwa aku tak begitu tahu tentang Yukinoshita dan Hayama. Bukan, maksudku bahkan Yuigahama juga tak tahu hal itu.
Selain aku dan Yuigahama, ada dua orang lagi yang menjawab.
“...Hmmph, Begitu,” kata Miura dengan nada tajam, setelah mengatakannya, lalu dia memalingkan wajahnya dari Yukinoshita. Kemudia dia berjalan menjauh, sambil memutar rambutnya dengan jari, dan terlihat bosan.
“Rasanya, aku lapar.” Kata Miura dan berjalan tanpa memeperhatikan sekitarnya.
“Ah, Yumiko.”
Yuigahama memanggil Miura yang berhenti dan berbalik. Tapi dia terdiam dan memalingkan wajahanya. Ebina-san tersenyum ketika melihatnya dan berjalan kearahnya.
“Baiklah, sepertinya waktunya makan ?”
Pendengaran Tobe yang tajam mendengarnya dan mulai mendekatinya.
“Yoa, yoa? Kita mau beli makan? Itu akan menjadi makan pertamaku tahun ini!”
Ada juga makhluk sepertinya, tahu? Orang yang mengatakan “pertama” untuk setiap hal yang dilakukannya. Benar-benar mengganggu...
“Ah, ummm...”
Yuigahama bolak-balik melihat ke kelompok kami dan kelompok miura, galau harus bagimana.
“Kamu yakin kamu tak seharusnya berada disana bersama Miura dan lainnya?”
“Um...A-Apa yang akan kalian lakukan?” kata Yuigahama, sambil “tahaha” kebingungan.
Yukinoshita melihatnya dan tersenyum. “Aku akan pulang sekarang. Keramaian juga tak terlalu baik untuk kesehatanku.”
“Eh, tapi....”
Yuigahama terlihat galau setelah mendengar kata-kata Yukinoshita. Yukinoshita dengan lembut menyentuh bahunya, menyadari kegalauannya. “Kita pasti akan segera bertemu lagi, kan?”
“Uh huh...”
Aku pikir itu takkan meyakinkannya, tapi Yuigahama menjawabnya dengan pelan.
Yah, aku pikir rasanya tak terlalu mengenakkan melihat Yuigahama sudah galau karena Yukinoshita dan Miura di tahun baru.
Tak diragukan lagi bahwa keinginan Yuigahama untuk menjadi akrab menunjukan bahwa dia sangat menyayanginya.
Tapi, teman dari teman itu bukanlah teman adalah pengetahuan umum di dunia ini, dengan kata lain melakukan hal bersama mereka bukanlah tindakan yang tepat.
Yukinoshita tidak banyak bicara tapi kurasa aku tahu alasan perhatiannya. Karena dasar dari tindakan itu adalah hal yang sudah sangat kupahami. Jadi, aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.
“Baiklah, aku juga mau pulang.”
“Eh?” Yuigahama mengangkat wajahnya terkejut.
Tapi itu bukanlah yang perlu dikagetkan lagi.
“Kami hanya datang untuk mengunjungi kuil. Aku juga harus memastikan Komachi belajar dengan serius di rumah.”
“Oh, aku rasa begitu... ya.” Yuigahama mengangguk.
“Onii-chan, kamu tak perlu mengkhawatirkanku, jadi pergi saja.”
Dia memeberiku tanda kematian, atau tanda kehidupan atau semacam tanda tak dikenal, tapi aku mengabaikannya. Bagaimanapun juga, tak ada pilihan untukku bergabung dengan kelompok itu.
“Baiklah, sampai jumpa lagi.”
“Samapi jumpa di sekolah.”
Setelah aku dan Yukinoshita mengatakannya, Komachi menundukkan kepalanya tanda pamitan.
“...Ya, sampai jumpa lagi.”
Kami meninggalkan Yuigahama, dia agak melambaikan tangannya di depan dadanya. Yuigahama sepertinya akan bergabung dengan kelompok Miura cs.
Kelompok pertemanan Yuigahama bukan hanya di klub sukarelawan.
Aku kurang yakin dengan adanya konsep “sahabat” dan siapa yang menentukannya, tapi aku yakin suatu saat akan datang saat dimana aku akan mengkhawatirkan hal ini.
Aku harap hal itu takkan terlalu membuatku galau.


×  ×  ×

 
Kami kembali ke jalan utama kuil arah kami datang, melewati gerbang besar, keluar sampai tepian jalan tol.
Angin dingin berhembus melewati jalan tol. Tubuhku menggigil karena dinginnya lalu aku dan komachi merapikan kerah kami. Di sisi lain, Yukinoshita kelihatanya tak terlalu bermasalah dengan dingin dan hanya mengatur syalnya saja. Komachi menarik lengan Yukinoshita.
“Yukinoshita-san, ayo pulang bersama separuh jalan.”
“...Aku rasa begitu.” Yukinoshita awalnya terlihat ragu, tapi lalu menjawabnya sambil tersenyum. Yah, tak perlu juga pulang terpisah jika kita menuju arah yang sama.
Jalan yang menghubungkan dari sini ke stasiun adalah area perbelanjaan dan karena banyaknya orang yang mengunjungi kuil, ada beberapa kedai kecil yang berada di tepian jalan, seperti yang ada di sekitar kuil.
Komachi dan Yukinoshita berbicara tentang berbagai macam hal seperti ujian dan apa yang mereka lakukan ketika libur musim dingin.
Ketika kita mencapai depan gerbang tiket stasiun, kita berjalan menuruni bukit yang landai, Komachi tiba-tiba berhenti.
“Uh oh! Sial! Aku lupa memebeli jimat keberuntungan! Sayang sekali! Aku bahkan bahkan lupa menulis di kayu peringatan, jadi aku harus segera kembali! Jadi, Yukino-san, Aku permisi dulu!”
“Ah, mungkin aku akan beli jimat juga,” kubilang.
Lalu komachi melihatku sambil menyipitkan matanya. “Onii-chan, kamu ngomong apa sih? Dasar gomii-chan bodoh! Idoit! Hachiman! Tak apa, jadi kalan berdua pulang duluan saja!”
“Ba-Baik... Eh, tunggu dulu. Hachiman itu bukan hinaan.”
Aku menjawabnya, tapi kata-kataku tak mencapainya karena dia sudah melesat jauh disana. Ayolah, kamu menempatkanku di posisi yang sulit dengan tindakan mendadakmu seperti itu. Apa yang harus kulakukan... Karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan karena  Komachi, aku akan menyebut fenomena ini, “Apa-apaan komachi...” Ya ampuuun, apa-apaan ini komachi?
Aku berbalik ke Yukinoshita bingung apa yang harus kulakukan, lalu bahunya terlihat menggigil sambil memalingkan wajahnya.
“Ada apa...?” Tanyaku.
Yukinoshita menghela nafas dan mengatur ulang nafasnya. Lalu seperti sedang berbisik, dia berkata dengan pelan, “Bodoh, Idiot, Hachiman...”
Sepertinya kamus hinaan miliknya telah mendapat updatean kata-kata baru... Aku menatapnya dengan tatapan lurus dan penuh keraguan, lalu Yukinoshita mengalihkannya dengan berkata.
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya berpikir kalau kalian berdua benar-benar akrab.” Dia mengatakanya sambil tersenyum, segera berbalik dan melewati gerbang tiket. Aku mengikutinya dan naik ke peron.



Seperti biasanya, peronnya dipenuhi orang. Sepertinya sekarang adalah saat puncak orang-orang pulang dari mengunjungi kuil.
Kami naik ke kereta segera setelah keretanya datang tapi kursinya dengan cepat terisi penuh sehingga kami berdua berdiri. Yah, lagian cuma dua stasiun. Kami mungkin lelah, tapi sepertinya kami mampu mengatasinya kalau cuma selama itu.
Keretanya berguncang ketika meluncur dari stasiun. Aku terdorong kedepan dan segera meraih pegangan tangan.
Ketika aku melakukannya, aku merasa ada sesuatu yang menarik ujung jaketku. Aku segera melihatnya dan sebuah tangan putih yang kecil terlihat sedang memeganginya.
Karena itu, aku menguatkan pegangan tanganku dan juga kakiku.
Getaran dari jalannya kereta, angin yang membentur jendela, dan bisingnya suara penumpang memenuhi seisi kereta. Tapi, setiap keretanya berguncang, suara pelan nafas dari sebelah kananku mencapai telingaku.
...Yah, disini sesak, dan juga berguncang. Bukan masalah besar.
Kami tak berkata apapun meski kami begitu dekat, lalu mataku secara alami teralihkan ke iklan dan pengumuman di atas jendela.
Diantaranya, ada peta jalur. Sebuah keraguan tiba-tiba terlintas dipikiranku ketika melihatnya.
“Oh ya, apa tak apa kalau kamu kesini?” Tanyaku.
Yukinoshita terlihat bingung dan memiringkan kepalanya. “Rumahku seharusnya juga kearah sini, jadi aku pikir tak apa kalau lewat sini...”
Dia meletakkan tangannya di dagunya sambil berbicara dan juga mengecek peta jalur. Tak begitu yakin, kah? Yah, lagian kata “kesini" juga terasa agak ambigu...
“Bukan, aku baru kepikiran karena sekarang kan tahun baru, aku penasaran tentang bagaimana dengan keluargamu atau semacamnya.”
“Ahh, jadi itu maksudmu... Aku tak pulang tahun ini. Aku tak punya urusan disana dan juga itu agak merepotkan, jadi...”
“Begitu.”
Aku kurang tahu bagaimana hubungan antara Yukinoshita dengan keluarganya. Aku menjawabnya, tidak yakin seberapa jauh aku dapat bertanya tentang hal ini.
Melihatku terlihat gelisah, Yukinoshita tiba-tiba tersenyum. “Ini bukan hal penting. Mereka juga punya banyak hal yang harus mereka lakukan selama tahun baru. Meski aku pulang, itu takkan begitu menyenangkan bagi kami, jadi aku hanya menghindari setiap pertemuan yang tak diperlukan.”
“Dan juga,” kata Yukinoshita, melanjutkan, “Tak banyak perbedaan antara ada dan tiadanya aku disana.” Dia melihat keluar jendela, melihat pemandangan yag terus berubah.
“Berarti tak ada masalah, kan?”
“Eh?”
Dia menoleh dan terlihat agak terkejut.
 “Jika tidak ada bedanya antara kamu ada disana atau tidak, itu akan lebih mudah untukmu. Kamu juga tak perlu khawatir akan merepotkan seseorang. Terlebih, di dunia ini, ada orang yang dapat menghancurkan suasana hanya dengan berada disana.”
“Apa mungkin kamu sedang memperkenalkan diri?” Yukinoshita tertawa kecil sambil tersenyum mengejek.
“Ya, ya. Itulah kenapa, sampai saat ini, aku berusaha sebisa mungkin untuk menahan diri. Dunia ini tetap damai berkat perhatianku yang luar biasa, jadi aku pantas mendapatkan perhargaan.”
“Perhatian bukanlah hal yang membutuhkan penghargaan, tahu?”
Benar juga. Tch, sekarang hal itu terpaku di pikiranku. Perhatian, tidak, butuh penghargaan. Tapi jika memang tak ada penghargaan dengan menjadi perhatian, rasanya agak mengejutkan, hah? Benar-benar tidak adil.
Tiba-tiba, keretanya berhenti.
“Oh, aku turun disini.”
“Ya.”
Aku berbalik untuk berkata “hati-hati di jalan” dan sesaat sebelum pintunya tertutup. Sambil menundukkan kepalanya, Yukinoshita berkata dengan pelan seperti berbisik, “... Tahun ini juga mohon kerjasamanya.”


Catatan Kaki:

1.         Dragon Quest – respon ketika berinteraksi dengan mayat.
2.        Ultraman dan sadola.
3.        Every day adalah slogan toko. (coba baca yang versi english biar lebih paham)
4.        Kasus Pembunuhan Berantai Portopia – Yasu adalah pembantu tokoh utama yang kamu mainkan dan melakukan apapun untukmu. Permainan katanya adalah murah (yasui) dan karakter (Yasu).
5.        K-On! – Suara Yui.
6.        Slogan dari salah satu Trygroup CM untuk mengajar. (ane kurang tahu)
7.        Lirik dari : Asian kungfu generation - Rewrite.
8.        Chiba-kun – hewan maskot chiba. Tweetnya >> twitter.com/chi_bakun_chiba/status/488239023585239040
9.        Gohan ga susumu-kun adalah salah satu merek perasa makanan. Susumu-kun adalah maskotnya yang suka banyak makan tapi akan marah jika makanannya habis.
10.     Pendidikan tanpa tekanan – atau lebih dikenal sebagai pendidikan Yutori adalah aturan pendidikan yang mengurangi jam belajar utama dalam kurikulumnya. Intinya, sedikit belajar, banyak bermain.
11.       Momotarou – sebuah TK mengadakan festival dimana semua muridnya memakai kostum Momotarou. Memotong pita finish bersama (seperti dalam balapan) adalah hal yang biasa.
12.      Amazake – Minuman tradisional jepang yang rendah / tanpa alkohol (sesuai resep masing-masing) terbuat dari fermentasi beras.
13.      Love live – Parodi dari “Erichika ingin pulang!”
14.      Panda Ichiro – Panda maskot yang lainnya.
15.      Natchan – merek jus.
16.      Occhan – merek minuman lainnya.
17.      Kazides – perusahaan desain.

18.      Three fo for the kill – Acara Tv jepun yang bertemakan zaman Edo.

Oregairu Jilid 10 - Bab 1 Rating: 4.5 Diposkan Oleh: h kim

5 komentar:

  1. Ijin baca min . . . N thanks terjemahannya . . .
    d tunggu kelanjutannya . . .

    BalasHapus
  2. Gan cara daftar untuk nerjamahin di bakatsuki, gimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tau, ane juga belum pernah daftar disana

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.