01 Januari 2015

School Wars Volume 1 Pewaris Takhta - Bab 2 : Kota Lima Legiun


Novelnya masih lanjut? Iya >_<



Sinopsis :

Yuuki mulai menjalani hidupnya di Kota Buitenzorg, Indonesia. Kota khusus yang ada di Indonesia di mana tawuran sudah dilegalisasi.
Yuuki juga bertemu dengan 3 heroine pada cerita kali ini. Siapakah mereka? Dan ada sedikit fanservice di sini. Gak berlebihan dan cukup untuk menyegarkan pikiran.



Ada sedikit revisi di sini. Sebelum ini ada Prolog, nah.. saya ganti jadi Bab 1. Ini bab 2 nya. Ditunggu komentarnya ya… soalnya ini LN karya saya J



Bab 2
Kota Lima Legiun

3 tahun berlalu. 12 November 2028.
Distrik Hijau, Kota Buitenzorg
Kediaman Keluarga Saito

Suara wajan yang tergesek oleh spatula terus-menerus terdengar naik dan turun. Eternit rumah terlihat lebih redup. Aku masih terbaring di kasur. Rasa malas bangun dari kasur selalu tak pernah hilang. Aku mengangkat tangan kananku seolah ingin menggapai langit-langit rumah.


“Yuuki-kun, ayo makan dulu! Sekarang kita makan tempura lho!”


Suara wanita muda terdengar dari lantai bawah. Suaranya sangat bersemangat untuk ukuran ibu rumah tangga biasa. Ya, memang sih dia baru jadi ibu rumah tangga. Karena itu, mungkin semangatnya masih tinggi.

Sedikit malas beranjak dari kasur. Aku mencoba bangun dengan setengah mata terbuka. Lampu kamar yang belum dinyalakan menambah suasana ingin tidur kembali. Tapi aku menghiraukannya, sambil membuka pintu yang berada tepat di depan mataku. Akhir-akhir ini aku sering menabrak pintu kamarku saat bangun tidur. Ya, terdengar konyol memang. Tapi begitulah aku.

Aku berjalan di koridor lantai dua menuju tangga. Lantai dua ini hanya memakan setengah dari luas lantai satu. Ada 4 ruangan di lantai dua. Pertama, jelas kamarku, berada di paling pojok kanan. Di sebelah kirinya ada ruangan gudang tempat menyimpan alat bersih-bersih dan lain-lain. Selanjutnya, ada kamar pemilik suara tadi dan suaminya. Terakhir, paling pojok kiri, ada toilet kedua selain kamar mandi di bawah.

Aku berhasil sampai di tangga meski dengan kondisi setengah bangun. Namun, saat menuruni anak tangga, cahaya lampu yang terang benderang menampar mataku. Mataku dibuat bangun oleh silauan cahaya lampu. Sempat buta sesaat, tapi aku masih bisa melihat kembali kondisi dapur yang berada tepat di bawah tangga.

Aku menoleh ke arah kiri bawah tepat melihat seorang wanita muda sedang mempersiapkan minuman untuk sarapan kali ini. Sedangkan tak jauh dari situ, ada meja dengan empat kursi sedang menunggu penghuni rumah yang hendak makan. Di atas meja terhampar dua paket sarapan yang sebetulnya tak pernah kumakan. Dua buah tempura dan sambalnya, nasi goreng, dan sebuah sop sederhana. Sungguh kombinasi yang aneh untuk sarapan. Wanita muda ini memang selalu menyajikan hidangan dengan kombinasi yang menakjubkan. Aku kembali menuruni tangga dan pergi menuju meja tempat makanan itu berada.


“Tumben kita makan semewah ini?”

“Hem..hem..hehem... Yuuki-kun, coba tebak!”


Suara senandung yang keluar dari mulutnya menyiratkan kondisi dia yang sedang ceria. Senyumnya pun tersimpul jelas. Memang dia selalu tersenyum, tapi kali ini ada maksud lain.

Nama dia adalah Kira Shiroyato. Aku biasa memanggilnya, Kira-chan. Entah kenapa saat aku memanggilnya dengan –san, dia tidak menanggapiku sama sekali. Padahal dia lebih tua dariku, umurnya sekitar 21 tahun. Dia baru saja menikah dengan laki-laki seprofesinya di TPRD, bernama Saito. TPRD adalah sebuah pasukan yang menyelamatkan warga dunia dari perdagangan anak dan ancaman perang dunia ketiga. Mereka bertugas di Jepang, tempat kelahiranku.


“Apa ya... Si Belang tiba-tiba bawa tempura dari supermarket tadi pagi?”

“Hahaha.... Yuuki-kun, kamu bisa aja. Bukan tahu, masa kamu gak tahu sih?”


Si Belang adalah kucing rumahan di sini. Dia selalu hadir di saat pagi seperti ini. Seolah-olah dia seperti keluarga kami sendiri. Datang dan duduk dengan tenang melihat Kira-chan yang sedang memasak. Tapi kali ini, di mana ya dia? Kok gak datang.


“Hemm... nyerah deh, aku gak tau.”

“Kamu tahu? Saito-kun dapat kenaikan pangkat di pasukannya!”

“Hee... Benarkah? Jadi apa dia?”

“Dia jadi pemimpin komando TPRD wilayah Jepang! Dan dia mengirimkan sejumlah uang ke kita. Aku senang sekali.”

“Wah... hebat. Aku gak nyangka sifat galaknya diterima di jabatan seperti itu.”

“Yuuki-kun, Saito-kun itu orangnya tegas bukan galak. Dari pertama kali kami bertemu, aku juga kaget sepertimu...”


Sambil hendak menceramahi karena celotehanku, Kira-chan membawa nampan, ada dua buah gelas dan poci plastik berisikan teh manis di dalamnya. Dia menaruhnya dengan hati-hati, menyisihkan nampan tersebut kemudian duduk.

Wajahnya sangat cantik. Dia selalu tersenyum kepada siapapun. Rambutnya berwarna coklat. Nampak indah jika terkena sinar matahari. Matanya tidak terlalu bulat, namun tetap menawan hati siapapun yang menatapnya. Hidungnya sangat lucu, susah untuk dijelaskan bagaimana bentuknya, mungil mungkin. Dia memakai kalung berbentuk bulan sabit pemberian Saito. Entah selera apa yang dimiliki orang itu. Tetapi, Kira-chan selalu senang. Ya... memang beberapa kali dia sempat marah jika di antara kami berdua melakukan kesalahan.

Sedangkan Saito, dia wataknya kebalikan dari Kira-chan. Dia selalu galak... tidak... tegas maksudku. Dia jebolan sekolah militer Indonesia. Sudah sepantasnya dia sangat disiplin. Sampai-sampai aku pun kena marahnya jika salah melakukan sesuatu. Tapi di luar itu semua, dia merupakan suami yang baik bagi Kira-chan dan ayah yang (yah... mungkin) penyayang terhadap anaknya.


“Terima kasih atas makanannya. Aku mau mandi dan berangkat sekolah ya...”

“Oke Yuuki-kun. Eh... Yuuki-kun, jika kamu melihat si Belang, tolong suruh dia ke sini ya! Aku punya sekaleng makanan kucing yang enaaakk!”

“Siap... tapi kayaknya si Belang gak bakal abis segitu deh, Kira-chan...”


Terlihat setumpuk makanan kucing terisi di tempat makananya si Belang. Ya... bisa aku bilang mungkin itu setara dua porsi kaleng makanan kucing ukuran sedang. Sepertinya Kira-chan terlalu senang dengan kenaikan pangkat Saito,


“He...? Masak? Oh... gitu ya. Hehehe... aku terlalu semangat saat mengisinya.”


Kira-chan memukul ringan kepalanya sendiri sambil menjulurkan lidahnya sedikit dan menutup mata kananya. Seolah-olah dia menghukum dirinya sendiri dengan cara yang imut.




“Aku berangkat ke sekolah ya!”

“Ya... hati-hati di jalan, Yuuki-kun.”


Sambil tergesa-gesa menuju pintu depan, Kira-chan yang sedang memegangi kaleng makanan kucing yang kosong melambaikan tangannya ke arahku. Kelihatannya dia sedang memasukkan kembali makanan si Belang yang kebanyakan. Hahaha... dia selalu riang dan lugu di saat seperti ini.

Tiga tahun sejak tragedi di Hidaka, Jepang. Aku sebenarnya anak angkat mereka. Aku ditemukan di daerah pelosok Hidaka yang ditutupi salju. Aku seharusnya bersama adikku. Singkat cerita, aku salah mengira sekomplot sindikat penjual anak adalah TPRD dan malah menyerahkan An-chan. Aku sangat terpukul akan kejadian itu. Aku trauma untuk beberapa waktu.

Saito-san dan Kira-chan memutuskan untuk membawaku bersama mereka ke Indonesia untuk berlindung dari suasana perang ini. Setibanya di kediaman mereka, aku diasuh layaknya anak sendiri. Traumaku pun mulai berangsur-angsur pulih. Namun, ingatan tentang An-chan tak pernah bisa terlupakan.

Tahun pertama saat masa pemulihan, aku dengan sebuah harapan mencari-cari An-chan di daerah ini. Namun tak menghasilkan apa-apa. Setahun kemudian, aku disekolahkan di sebuah SMA lokal. Aku tidak hanya mencari An-chan saja saat datang kemari, aku juga belajar untuk mengejar ketertinggalan pendidikanku. Dan baru beberapa bulan yang lalu Saito-san dan Kira-chan menikah. Saito-san yang harusnya berbulan madu dengan Kira-chan malah mendapatkan tugas mendadak ke Jepang kembali. Dan tinggalah aku dan Kira-chan di rumah ini. Kira-chan tak pernah mempermasalahkan itu, dia menganggap itu memang sudah kewajiban seorang pasukan TPRD. Sekarang pun, Kira-chan pensiun dari pekerjaannya sebagai koki TPRD. Tapi menu masakan sarapannya, selalu aneh-aneh.

Kota ini bernama Buitenzorg. Pernah mendengarnya? Ya, dulunya kota ini bukan bernama Buitenzorg. Nama Buitenzorg berasal dari nama kota ini saat masa penjajahan Belanda. Entah karena apa kota ini kembali disebut seperti itu. Kota ini sangat luas, mencakup wilayah kota dan kabupaten yang dulu, saat sebelum perang dunia ketiga.

Kota ini adalah wilayah khusus di antara semua wilayah di Indonesia. Kenapa? Karena kota ini terbagi lagi menjadi 6 distrik berdasarkan 5 legiun yang ada dan 1 teritori khusus pemerintah.

Alkisah, dahulu wilayah ini banyak pelajar yang tawuran di sana dan di sini. Sangat tidak terkendali dan menyeramkan. Bahkan para penduduk ketakutan. Wanita dan anak-anak bersembunyi di rumahnya. Para pria mencoba menahan tawuran antar pelajar agar tidak merusak rumah-rumah warga. Namun, semakin lama semakin tak terkendali.

Akhirnya pemerintah turun tangan dengan mencoba mengumpulkan seluruh pemimpin distrik-distrik kecil di seluruh wilayah Kota Buitenzorg. Singkat cerita, mereka sepakat untuk mebentuk wilayah terakui pemerintah berjumlah 5 distrik. Distrik itu adalah : Distrik Merah, Distrik Kuning, Distrik Hijau, Distrik Biru, dan Distrik Spesial Putih. Dan satu distrik lagi merupakan wilayah khusus milik pemerintah pusat yang berlokasi di tengah-tengah Kota Buitenzorg.

Pemimpin-pemimpin legiun adalah pelajar yang dipilih pemerintah berdasarkan kandidat yang diajukan oleh para pelajar di legiun itu sendiri. Dengan begini, tawuran bisa diminimalisir. Karena setelah pembentukan legiun, ada banyak peraturan yang harus ditaati. Di antaranya adalah “Tawuran tidak boleh terjadi antar legiun kecuali dengan persetujuan ketua legiun.”. Pemerintah bekerja sama dengan para ketua legiun untuk menciptakan kondisi sekondusif mungkin. Dan ada acara turnamen antar legiun yang diselenggarakan satu kali tiap masa kepemimpinan seorang presiden. Untuk tanggalnya, mengikuti keputusan pemerintah. Karena, turnamen ini dilaksanakan dalam rangka mengurangi hasrat para pelajar yang ingin tawuran.

Sekarang aku tinggal di Legiun Hijau. Legiun yang terkenal akan sistem pertahanan wilayahnya. Dari pembentukan legiun sampai saat ini, wilayah Legiun Hijau tetap sama. Mereka selalu berhasil mempertahankan wilayahnya, tapi jarang menyerang legiun lain. Mereka lemah saat menyerang distrik lain, jadi tidak pernah berhasil memperluas wilayah. Distrik lain pun punya karakter masing-masing. Tapi, aku tidak akan menjelaskannya saat ini juga. Karena, aku sudah tiba di gerbang sekolahku.

SMA Negeri 14 Buitenzorg. Ini adalah SMA pusat di distrik Hijau. Di sini, merupakan tempat di mana ketua legiun berada. Sekolah di mana ketua legiun berada biasanya memiliki kualitas yang tinggi. Aku menjadi murid pindahan di sini. Mungkin tepatnya murid baru, karena aku bukan dari sekolah manapun. Suasana yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ini membuatku tegang. Suasana ramai ini, banyak orang berbicara satu sama lain. Perasaan aneh apa ini?

Aku masuk ke sekolah, beberapa orang melihat ke arahku merasa asing. Aku bergegas menuju ruang guru. Tapi, Di mana ruang gurunya? Ah... sial, aku lupa menanyakannya ke Kira-chan. Aku mungkin harus berkeliling dahulu mencari tanda bertuliskan “Ruang Guru”, sungguh melelahkan.

Sudah setengah jam! Sial... di mana ruang gurunya. Hu..hu..hu... aku mulai putus asa mencari ruang guru yang tak kunjung ditemukan. Dengan punggung sedikit merunduk tanda menyerah, aku berjalan sambil menatap ke bawah. Kalau sampai aku tak menemukannya, bisa-bisa aku dikira siswa nyasar dan dikeroyokin nih...

*bruk*

Sepertinya aku menabrak sesuatu... tidak... seseorang. Tapi, entah kenapa yang aku tabrak begitu ringan. Aku mulai mengangkat kepalaku dan melihat ke arah depan. Mataku mulai terbelalak melihat pemandangan yang ada di depan mataku ini.


“Aduh... Hidungku...”


Seorang gadis cantik seumuranku jatuh ditemani buku yang berserakkan. Dia meiliki rambut berwarna biru yang dihujani sinar matahari, menciptakan pantulan sinar yang amat indah. Wajahnya bisa dibilang sangat imut namun masih tetap seperti remaja sebayanya. Kakinya lumayan semampay untuk ukuran gadis SMA, terlihat juga dari sepatunya yang tidak menggunakan hak. Jemarinya panjang dan kulitnya putih seperti orang luar negeri. Putihnya kulit itu memancarkan kesan kulit yang lembut, sangat lembut, seperti ingin menyentuhnya.

Sekarang, dia sedang terjatuh dengan kaki saling berlawanan berjauhan. Rok pendeknya sedikit terangkat karena kakinya yang merentang. Betisnya dapat terlihat. Namun sayang, indahnya betis itu tertutupi stocking berwarna hitam. Aku masih terpana melihat gadis itu. Sedangkan dia, sedang mengusap-usap hidungnya yang memerah memar. Sepertinya, tadi aku menabrak hidungnya.

Badan dia langsing dan tinggi. Karena hidungnya yang tertabrak olehku, mungkin tingginya sekitar setinggiku. Bagian dadanya, mmm... tidak terlalu diberkati banyak. Rambutnya dikuncir satu ke arah kanan. Matanya seperti berlian yang berkilau, memancarkan distorsi warna kelima pelangi, warna biru. Di lehernya, ada sebuah kain yang menempel mirip seperti kalung hewan. Akan tetapi, jelas ini untuk manusia, namun aku jarang melihatnya. Berwarna biru pula dengan sebuah simbol aneh. Simbolnya hati dengan sepasang simbol next seperti di pemutar musik yang saling berlawanan menjauhi simbol hati tersebut.

Mulai tersadar dari lamunanku melihat keindahan gadis itu, aku kemudian mencoba membantunya dengan mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan.


“Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?”


Sambil memberikan buku-bukunya yang telah aku kumpulkan, aku menanyakan pertanyaan konyol itu. Sudah jelas dia kesakitan di bagian hidungnya. Malah nanya begitu. Haduh... mungkin ini efek grogi karena belum pernah melihat perempuan secantik ini.... selain An-chan.

Setelah bertanya, aku menyodorkan tangan menawarkan bantuan agar dia bisa berdiri. Namun...


“Kalau jalan, lihat-lihat dong! Aku lagi buru-buru nih! Jadi telat tahu...!! Argghh... minggir-minggir!!”


Dengan suara jengkel karena waktunya yang tersita, dia berdiri sendiri tanpa berpangku pada tanganku yang sudah disodorkan. Dia dengan cepat-cepat membersihkan baju dan celananya yang kotor kemudian berlari. Hmm... mungkin tadi dia juga lari saat bertabrakan denganku. Tapi kok ringan sekali ya?


“Huh.... Dasar perempuan aneh. Kukira dari penampilannya, dia perempuan yang ramah dan lembut. Ternyata gak seperti sikapnya. Sekarang aku mengerti mengapa orang barat bilang ‘Don’t judge book by it’s cover’.”


Sama-sama jengkel, aku tak memerdulikan sosok gadis itu pergi ke arah mana. Aku hanya mulai bersiap berjalan kembali mencari ruang guru yang gak ketemu mulu. Tapi, langkahku terhenti saat melihat ada sebuah benda jatuh di lantai. Ada sebuah dompet dengan motif kucing lucu berlatar putih.


“Dompet siapa ya ini? Hmm...

Ah...! Mungkin ini punya perempuan tadi. Tapi kalau aku balikin sekarang, dia pun sudah hilang entah ke mana. Kalau aku nyari dia, malah nyasar lagi nanti. Ya udah deh, aku simpan dulu, biar nanti kukembalikan lain waktu.”


Dompet itu tak mungkin langsung aku berikan ke guru atau satpam yang ada. Karena aku baru, aku khawatir malah disangka pencuri yang menyelinap ke sekolah untuk mengambil uang jajan siswa. Apa-apaan imajinasiku ini?






Bagian B

Oh... jadi ini ruang guru, lokasinya susah sekali ditemukan sedari tadi. Apa yang dipikirkan sekolah saat menentukan tata ruang di sini. Ruangannya cukup luas tapi tidak mudah dilihat dari lapangan sekolah yang menjadi sentra di sini.

Aku melirik ke dalam ruangan yang sebetulnya pintunya tertutup. Pintunya sama seperti jendela, terbuat dari kaca dengan kusen aluminium. Terlihat samar, ada sekumpulan orang dewasa sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sedang bercengkrama dengan rekan seprofesinya, ada pula yang terdiam di mejanya entah kenapa. Seperti yang aku bilang bahwa pemandangannya samar, karena kaca film hitam menutupi kaca yang bening ini. Ini seperti mereka ingin menjaga privasi mereka.

Sepanjang aku melamuni ruangan guru, aku tidak sadar ada sebuah benda elektronik aneh berdiri di sampingku. Bentuknya mirip tong sampah kecil dengan tutupnya terangkat sedikit dan sebuah benda hitam menyokong tutup tersebut. Warnanya putih dengn garis metalik melingkari bagian atas dan bawah. Ada dua buah cahaya di penyokong tutup yang terangkat, sepertinya itu kedua matanya.

Yap, dia sebuah robot sederhana yang akhir-akhir ini dibuat oleh para ilmuwan Indonesia. Ada banyak jenisnya dengan berbagai kegunaan. Tapi yang satu ini, aku tidak tahu apa fungsinya. Dia sedang memindai tubuhku dari ujung rambut sampai ujung sepatuku. Robot keamanan? Bisa gawat nih.


"E... to...  Robot-san?"
"Proses Identifikasi selesai... Memproses data..."
"Ehh....?"


Entah sudah berapa lama robot ini berada di situ. Meski si Robot baru memproses hasil pemindaiannya, tetap saja terasa seperti aku hendak diadili. Menunggu hasil keputusannya sama saja dengan mendengar keputusan hakim. Bukan melebih-lebihkan, terakhir kali aku berurusan dengan robot keamanan adalah saat setahun yang lalu.

Ceritanya, aku sedang mengantar kue pesanan ke suatu rumah. Sesampainya di alamat yang tertera, ternyata rumahnya mewah. Rumah itu sangat luas dengan gerbang besi tinggi dan berpagar tembok.

Kebetulan saat itu gerbangnya sedikit terbuka, jadi aku main masuk karena menganggap sang Pemilik Rumah mempersilakan pengatar kue. Sekitar 3 menit berlalu hanya untuk berjalan menuju pintu rumah, munculah sebuah robot mirip tong sampah juga. Dia memindaikaku dan diam sesaat. Aku yang saat itu tidak tahu benda macam apa itu hanya terdiam bertanya-tanya.

Tiba-tiba, si Robot itu mengeluarkan sepucuk pistol kejut. Sontak, aku kaget kemudian berlari menjauhi robot yang hendak menembakku. Dia malah mengejarku terus-menerus sampai kurang lebih 100 meter. Itu pun aku tidak sampai keluar kawasan rumah, hanya berputar-putar di halaman yang begitu luas. Namun pada akhirnya dia berhasil menembakku dan aku terjatuh pingsan. Selanjutnya...


"Perkenalkan diri dan alasan datang kemari."

"A... a... aku Yuuki Shiroyato, siswa baru di sini, kelas 11, aku mau bertemu dengan..."


Aaaaa..... Aku lupa menanyakannya pada Kira-chan. Aku ikut larut dalam kebahagiaan Kira-chan sampai-sampai lupa menanyakan nama guru wali kelas yang harus kutemui.


"Dengan siapa Anda ingin bertemu?"

"Emmmm....."

"Waktu penanggapan standar habis. Mulai mencocokkan data objek dengan kumpulan data."


Wow, ternyata canggih sekali robot ini. Memang sih aku pernah lihat sebelumnya, tapi bukan tipe seperti ini. Semua robot pembantu dibuat sama untuk semua tipe. Katanya agar robot keamanan dapat bekerja maksimal. Maksudnya dengan menyeragamkannya, orang-orang tidak akan langsung menghindar ketika bertemu robot tetsebut. Lagi-lagi robot itu yang kusebut.


"Data ditemukan . Guru penanggung jawab adalah Ibu Safira, sastra Jepang. Dimohon menunggu sebentar. Beliau akan datang ke sini. Terima kasih."

"Tu... Tunggu dulu."


Sebelum sempat aku menyelesaikan perkataanku, robot itu sudah pergi dan menghilang ke dalan ruangan guru. Sebenarnya, aku ingin bertanya-tanya tentang letak ruangan di sini. Aku hampir tersesat selama mencari hanya demi ruangan guru ini.


"Ara... ara..."


Sepenggal suara terdengar dari dalam ruangan samar tersebut. Beberapa buku bertumpuk didekap ke dadanya. Bajunya terlihat ringan, perpaduan baju putih dengan krem. Ada tas yang ia bawa pada tangan yang satunya lagi.


"Jadi ini yang namanya Yuuki? Kamu... pasti sudah tidak sabar untuk bertemu teman barumu. "


Ya, aku tahu mengapa ia sempat berhenti sejenak untuk memilih kata yang tepat. Itu mungkin karena ia sudah tahu bagaimana latar belakang dan kehidupanku di masa lalu. Jujur aku tidak terlalu mempermasalahkannya, karena aku sudah terbiasa menghadapi kondisi medan perang. Meskipun begitu, rasa takut akan kematian tidak pernah bisa luput dalam hatiku... dan An-chan.


"Iya,  aku Yuuki Shiroyato, siswa baru di sini. Mohon bantuannya Bu... "

"Ohh... Kamu boleh memanggilku dan guru-guru lainnya dengan...  -sensei. Karena, kelas yang akan kamu tempati rata-rata siswa dari Jepang."

"Safira-sensei..."


Jadi itu alasan Kira-chan dan Saito-san memilihkan sekolah ini untukku. Teman-teman yang berasal dari daerah Jepang tempat kelahiranku akan membuatku lebih nyaman. Tapi, itu hanya hipotesis dan pemikiran orang dewasa. Aku harap pemikiran mereka berlaku pada pribadiku. Karena aku sudah lama tidak memiliki teman untuk diajak bermain di masa mudaku dulu.




Bagian C

Suara kelas yang ramai oleh riuh siswa yang sedang berbincang terdengar dari depan pintu kayu geser. Aku menatapi pintu itu seolah-olah pintu itu dapat tertembus dan terlihat bagian dalamnya. Sempat beberapa detik tertegun, aku menengokkan kepalaku ke arah Safira-sensei yang ternyata sama-sama melihat ke arah pintu, sama sepertiku. Namun bedanya, ada pancaran senyum yang hadir di wajah awet muda itu. Ada aura rasa kebanggaan saat melihat ekspresinya saat ini.

Dia menyadari ada yang memperhatikannya, ia kemudian menoleh ke arah firasat itu datang. Bertemulah kedua muka kami, aku sempat kaget dan terpesona saat ia menoleh dengan ekspresi senyum indahnya itu. Aku gugup dan hampir saja mau membuang muka menghindari tatapan itu.


"Ada apa Yuuki-kun?"


Oh.. tidak. Dia terlalu cantik untuk jadi seorang guru. Kalau saja dia lebih muda atau seumuranku, pasti banyak yang menembaknya. Tidak, di beberapa kondisi justru makin banyak yang menembaknya. Kau tahu, seperti seorang siswa yang sudah putus urat malunya sampai-sampai mau mempacari yang lebih tua darinya. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi sekarang aku sedikit mengerti. Sedikit, ya?


"Tidak. Tidak apa-apa."

"Yuuki-kun, kamu gak usah formal kalau ngomong denganku... Rasanya seperti agak canggung. Aku benci canggung. Jadi jangan terlalu formal yah..?"

"I-iya..."


Kenampuan persuasinya sangat hebat. Dengan kematangan jiwa dan penampilan yang segar, dia berhasil melakukannya dengan sempurna. Mungkin aku sudah diberkahi untuk masuk kelas ini.

Kemudian, Safira-sensei memberi isyarat agar aku masuk duluan. Aku berhenti sejenak, karena aneh jika siswa yang disuruh masuk duluan. Biasanya, guru masuk dulu, kemudian memberi tahu ada siswa baru, lalu mempersilakannya masuk. Ya... itu sih memang hanya ada di animasi-animasi jaman dahulu, tapi aku sedikit berharap itu terjadi di dunia nyata.

Baru sempat aku melangkah maju, Safira-sensei menepukkan kedua telapak tangannya. Secara refleks, aku menghentikan langkahku. Saat aku melihat kembali wajahnya. Terlihat ekspresi kaget dirinya.


"Oh... Iya! Aku baru ingat! Ambil ini Yuuki-kun... "


Dia terlihat mencari sesuatu dari dalam tas yag ia bawa. Keluarlah dari tas tersebut, empat buah botol berisi cairan dengan sungut tali di bagian tutupnya yang dilubangi.

Waw, aku terkejut melihat seorang guru secantik ini membawa senjata. Memang ini bukan senjata yang cukup serius daya rusaknya, namun tetap saja sangat mengejutkan.


"Yuuki-kun, ini adalah senjata standar bagi para penduduk di legiun hijau, bom molotov. Ini hanya bisa dipakai sebagai senjata bertahan bukan untuk menyerang. Jadi... jangan nakal-nakal untuk dipakai bertarung yah! Eng-gak bo-leh!"


Kepemilikan senjata di negeri ini tidak main-main, sangatlah ketat. Bahkan, senjata hasil perkembangan zaman ini hanya dimiliki oleh pemerintah.

Para warga hanya dibolehkan menggunakan senjata tradisional yang dipakai pada dasawarsa pertama di abad ke-21. Itupun harus memiliki surat izin menggunakan senjata dan biasanya hanya TPRD dan beberapa orang yang ditunjuk ketua legiun. Oh ya, ketua legiun disamakan dengan pejabat pemerintahan.

Dan untuk warga yang tidak memiliki surat izin kepemilikan, hanya sebatas senjata defensif yang ditetapkan oleh ketua legiun masing-masing dengan persetujuan pemerintah dan ketua legiun lain. Rumit ya?

Kembali ke dunia nyata. Aku mulai menggerakkam tanganku hendak mengambil senjata itu. Meskipun sedikit dirundung ragu. Aku tetap mengambilnya. Mengapa aku ragu? Ini adalah senjata apapun kegunaannya dan aku sudah berjanji untuk tidak berkelahi... Tapi apa boleh buat.

Kelas yang riuh sejak awal mendadak sunyi saat guru masuk. Ketika aku masuk, mereka sebagian memperhatikanku, tetapi sisanya masih berbicara. Namun sekarang, semua mata tertuju padaku. Rasanya...... bukan senang, justru aku merasa aneh. Seperti orang asing yang baru dipaksa hidup di desa antah-berantah.


"Kalian semua! Kita punya teman baru di kelas kita. Dia dari Hidaka.”

“Dia sangat ganteng bukan?"

"Eh..??"

Aku tiba-tiba terkejut dengan kata-kata terakhir yang Safira-sensei katakan.

"Sepertinya nambah orang ganteng kayak aku nih!"


Celetukkan suara datang dari pojok kanan kelas dekat jendela. Ada seorang laki-laki berambut hitam pendek. Dia mengenakan sebuah kalung dengan alfabet "Z" ditaruh keluar dari baju seragamnya. Anak badung? Tidak, jika kau bisa lihat mukanya, dia lebih ke anak normal dengan kalung saja. Menurutku dia biasa saja, begitupun aku, tidak ganteng.


"Hu.... Kamu mah gak ganteng tapi lempeng!"

"Hahahaha."


Suara balasan dari kubu perempuan terdengar. Seorang siswi yang mengejek Kazuto dengan candaan yang sedikit… tepat dengan kenyataan.


" Kazuto… kau mau berlagak keren di depannya? Ahaha... Kau justru tambah aneh..."

"Ehh?? Beneran? Gimana ya..."


Suara perempuan yang lain terdengar. Dia bicara dengan wajah tersenyum dan tangan kanan diletakkan di depan mulutnya. Seketika perkataan keluar darinya, orang berkalung tadi yang namanya Kazuto mendadak pecah gaya berandalnya. Dia tiba-tiba panik sambil mengecek penampilannya jika ada yang salah. Sungguh, orang itu sebuah kejutan. Mungkin aku tidak boleh menilai orang dari penampilannya.

Tiba-tiba, suara pintu digeser masuk ke telingaku. Pintu itu tersingkir dan menyingkap seorang siswi yang baru datang. Seorang gadis, lebih pendek dariku namun tak terpaut jauh. Bisa kubilang dia setinggi mulutku. Rambutnya berwarna hitam. Dia mengenakan dua kuncir rambutnya dan diatur berada di depan pundaknya.

Dia terengah-engah seperti habis lari, mungkin benar dia habis lari. Tasnya merupakan tas selempang satu yag dia silangkan dari pundak kiri ke pinggul kanan. Setelah beberapa menit mengambil nafas, dia lalu berlari kecil ke arah Safira-sensei.


"Sensei, ma... maafkan aku terlamabat... Huee... Aku pasti dihukum... Aku minta maaf..."


Gadis itu berlari kecil dengan gaya yang cukup imut. Di pelupuk matanya ada air mata yang mengumpul. Dari ekspresinya memperlihatkan perasaannya yang sangat menyesal.


"Annisa-chan, kamu baru dateng? Oh... gak-"


Mendadak, suara peluru melesat dari arah luar jendela. Peluru itu melesat begitu kencang. Targetnya adalah gadis yang berada di depanku. Aku menyadarinya sebelum peluru itu melesat, ada perasaan gundah berasal dari lokasi beberapa meter di luar ruangan kelas. Peluru, ya peluru. Aku harus menghindarkan peluru itu darinya, Annisa.


"Awas...!!"


Dalam sekejap, refleks ku bergerak cepat bagaikan melewati batas. Aku lompat 45 derajat ke arah Annisa. Aku pegang salah satu tangannya dengan tangan kananku, mata kami salng bertemu dalam waktu sepersekian detik. Matanya yang berwarma hijau berbinar saat memandangi eksresiku yang sedang serius mencoba menyelamatkan dia. Aku pun tak luput memperhatikan setiap detil wajahnya. Hidungnya lebih pendek dari rata-rata siswa di kelas ini. Tapi, itulah yang justru menjadi daya tariknya. Keimutan dia meningkat karena fitur hidung kecil...

Aku kemudian melemparkan tubuhku keluar lintasan peluru sambil tetap memegangi Annisa. Dia aku tarik ikut ke samping dan memindahkan badannya dari tangan kanan ke tangan kiriku layaknya dua pasangan yang sedang berdansa. Aku menahan gaya yang terjadi akibat Annisa yang dioper oleh tangan kiriku. Aku menahanya dengan menaruh tanganku di pinggangnya. Posisinya sekarang seperti sedang ditawan oleh seorang lelaki dari kawanan penjahat. Bagian dada kanannya sedikit... mengenai tubuhku, sepertinya dia lumayan berisi.

Peluru itu lalu melesat cepat. Setelah memastikan Annisa dapat kuselamatkan. Aku lalu menoleh ke arah datangnya peluru. Terlihat ada lubang kecil yang tercipta dengan sedikit retakan. Pasti kecepatan peluru itu sangat kencang sampai-sampai retakan itu hampir tidak terlihat.

Setelah mengembalikan fokus dari lubang itu, aku melihat ke arah lebih luar dari jendela. Ada seseorang berbaju hitam dengan celana jeans berlari membawa sepucuk pistol laras panjang. Penembak jitu? Itu sangat berbahaya dan melanggar aturan antar legiun.

Mendadak sekelas tercengang sesaat saat melihat apa yang baru saja terjadi. Kejadiannya sangat cepat, mereka tiba-tiba melihatku sudah memegangi Annisa. Saat sadar aku sedang melihat ke arah luar kelas, mereka melihat ke arah yang sama.

Namun, mereka masih bingung apa yang terjadi. Tiba-tiba satu orang siswa berteriak dan menunjuk ke arah pintu yang meninggalkan bekas hantaman sebutir peluru. Peluru itu tergeletak di bawah. Kami juga melihatnya.


"Lihat!! Ada peluru. Legiun lain mencoba menyerang sekolah kita. Ayo kita serang balik!"

"Yaaa!!"


Dalam sekejap suasana sekelas yang sunyi menjadi ramai karena peristiwa tadi. Salah satu siswa berhasil membakar semangat rekan-rekannya. Mereka mulai menyiapkan senjata masing-masing. Ada yang mengeluarkan tongkat bisbol, bom asap, dan beberapa senjata yang tidak terlalu mematikan. Sudah jelas mereka tidak akan mempunyai senjata sekelas senjata laras panjang. Tunggu... senjata laras panjang? Berarti orang tadi...


"Ayo kejar orangnya mumpung dekat!"


Tambah riuh suasana di kelas. Safira-sensei tidak dapat berbuat apa-apa. Guru pada kondisi ini tidak memiliki wewenang menolak keputusan mereka. Jika para guru bertindak, akan ada beberapa benda hancur di ruang guru.

Belum sempat para siswa yang terbakar emosinya sampai ke pintu kelas. Pintu itu kembali terbuka dengan cepat dari luar. Sepertinya pintu kelas ini sudah mengalami cobaan yang berat hari ini. Namun kali ini, orang yang ada di belakangnya merupakan orang yang tidak diduga-duga.


"Tunggu dulu kalian!!"


Muncul sesosok gadis dengan helaian kain hijau membentuk pita di pergelangan tangan kirinya yang sedang memegang pintu. Dengan wajah yang tegas namun tetap mempertahankan aura perempuan, dia mulai melanjutkan perkataannya.


"Kalian tidak boleh bertarung. Aku tidak mengizinkan peperangannya. Lagipula, orang tadi membawa senjata laras panjang, berarti dia bukan pelajar biasa seperti kalian.”

“Jika kalian gegabah, akan berakibat kematian yang sia-sia. Tetaplah di sini! Mengerti?!"

"Siap ketua!!"


Serentak seisi kelas tertib dan mengindahkan perintah si Ketua tersebut. Sepertinya, aturan bahwa ketua legiun itu harus perempuan sangat efektif. Perempuan yang biasanya ditaati oleh kaum laki-laki yang dominan dalam peperangan terbukti ampuh meredam emosi mereka. Bagi para perempuan, sosok ketua legiun menjadi idola di setiap perbincangan mereka.

Rambur hijaun si Ketua kemudian terkibas dan bergerai saat badannya mulai berpaling keluar. Dia sempat beberapa saat melirik ke arahku, menatap aku dengan pandangan serius. Di akhir pandangannya, dia membuat senyum kecil bahagia. Dia kemudian berjalan menjauhi kelas. Sungguh gadis yang tepat untuk menjadi ketua legiun.

Sudah beberapa menit berlalu, aku baru sadar aku sedang memegangi pinggang Annisa. Setelah melihat kepergian ketua legiun, aku tersadar lalu melihat Annisa. Dia sedang terdiam dengan mulut menutup. Kedua tangannya terangkat segaris lurus ke arah depan mulutnya. Kepalan tangannya sedikit menutupi bibirnya. Kedua pipi yang menggemaskan itu merona merah seperti bunga mawar. Dia terlihat malu... Oh iya... ya ampun...


"Ma-Maaf... maaf, aku kelupaan..."

"Ng-nggak apa-apa kok. Ma-makasih udah nyelamatin aku."


Aku melepaskan peganganku darinya. Dia menjawab permintaan maafku dengan nada setengah takut karena gemetar dan sisanya malu karena baru disentuh seorang laki-laki. Ah... betapa pedenya aku berpikiran seperti itu. Tapi yang jelas, posisi tangannya masih tak berubah, seperti sedang malu-malu.

Sadar akan suasana di sekitar yang janggal. Aku melihat ke sekeliling. Hasilnya, ada banyak mata tertuju padaku dengan tatapan bervariasi. Ada yang serius, cemberut, dan juga ada yang senang. Apa yag telah aku lakukan? Sampai-sampai kalian berekspresi bermacam-macam? Aku hanya mencoba menyelamatkan seorang gadis, itu saja.

Karena bingung harus bereaksi apa terhadap tatapan teman-teman sekelas. Aku yang masih baru, otomatis melihat ke arah guruku, Safira-sensei. Saat aku memalingkan pandanganku ke arahnya. Dia justru tertawa kecil sambil menaruh tangan kananya depan mulut.


"Fufufufu...... "


Sekarang aku sedang terjebak. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Jika salah tingkah, malah akan menyebabkan debut SMAku menjadi kenangan terburuk. Padahal pada awalnya niatku sudah baik.


" A-Ano... Sensei. Bi-bisakah aku ke UKS dulu? Aku sedikit pusing."

"Ohh... Tapi aku tidak bisa mengantarmu. Jadi, Yuuki-kun saja ya?"


Mata Safira-sensei mengedip ke arahku. Oh tidak, jangan bilang ini jodoh-jodohan. Apakah menyelamatkan seorang gadis itu kesalahan? Ya... meskipun aku mendapatkan beberapa... sedikit kenikmatan. Sensasi dari sentuhan tubuhnya yang sangat lembut dan wangi parfum segar sempat memikatku sejenak.


"Ehh?? Se-sensei... Kenapa dia? A-aku gak bi-bisa...!"


Jawabannya masih tergagap, memang benar dia sedang syok. Aku yang melihatnya merasa kasihan.


"Hee...? Bukannya bagus kalau ada dia? Kamu juga merasa kasihan pada Annisa-chan, bukan?"


Sial, apakah dia pembaca pikiran? Pikiran dalam otakku tertembak tepat mengenai kebenaran. Aku pun tak bisa menolak realita itu.


"I-iya.. "


Aku malah ikut-ikutan gagap kali ini. Tapi dengan alasan berbeda. Itu karena aku sedikit malu mengakuinya.


"Oke Yuuki-kun, bawa Annisa-chan ke ruang UKS sekarang juga. Dan jangan terlalu lama ya!"


Sekali lagi dia menggodaku dengan mengedipkan matanya kembali. Seolah aku anak nakal yang mau menggunakan kesempatan ini untuk berdua bersama gadis imut. Tapi aku jamin itu tidak terjadi... kalau naluriku tidak menjadi liar.

Tanpa bicara lagi, kami berdua keluar dari ruang kelas. Baru beberapa puluh menit aku masuk kelas ini dan sekarang sudah keluar. Itulah yang aku pikirkan ketika menghadap pintu untuk menutup pintu.

Aku melihat sekejap ke arah Annisa yang sedang memainkan jemarinya. Dia sempat melihat ke arahku kemudian membuang muka dengan cepat.

Kami kemudian berjalan tanpa berkata apa-apa. Hanya isyarat dari langkah kaki yang membuat kami berdua selaras. Perjalanan kami ke ruang UKS sangatlah sunyi. Tak ada percakapan yang terjadi. Aku berharap dia memulai pembicaraan. Tapi seharusnya di saat-saat seperti ini, laki-laki lah yang harus memulai percakapan.

Tapi... Setelah aku pikir kembali, seertinya tidak perlu. Dia sedang syok dan aku tak seharusnya mengganggunya dengan pertanyaan tidak jelas.

Kami melewati koridor-koridor kelas tanpa halangan berarti. Para siswa sedang belajar di kelasnya masing-masing. Kami sempat melewati beberapa kelas yang sedang belajar. Saat sampai di suatu kelas, aku menyadari seseorang yang kukenal.


"Ketua? Dia masih di sini? Kukira dia sedang mengurusi pelaku tadi"

"Tenang saja. Dia pasti akan menyelesaikannya. Dia panutan kami para gadis."


Padahal aku berbicara dengan nada pelan, tapi Annisa malah mendengar dan menjawabnya dengan nada masih lemah. Tak kusangka dia akan menyahut gumamanku.


"Ya... Dia kelihatan benar-benar dewasa."

"Dan... dia juga punya beberapa bawahan yang bekerja di balik layar."

"Waw... Kau tahu banyak ya?"


Sadar perkataannya mulai keluar dari sifat normalnya. Dia kemudian menutup mulutnya dengan telapak tangan yang terbalut manset. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Bagus... sekarang sepi lagi.

Sampailah di depan pintu UKS. Ada dua buah lksur berangka besi yang tersedia dekat jendela. Ada juga laci kecil di samping kasur yang dapat digunakan sebagai meja kecil. Ada TV yang menggantung di pojok kanan dinding di mana pintu masuk kami berada. Ini mirip kamar inap rumah sakit.

Kami melangkah bersama... tidak, dia di depanku, memasuki ruang UKS. Aku tetap menjaga irama tubuhku. Dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana dan sikap badan sedikit ke belakang, aku bergaya sok keren agar menjaga harga diriku.

Ya... jujur saja, saat di kelas tadi sepertinya aku tidak dapat menyembunyikan perasaanku. Mungkin itu sebabnya mereka... dan Safira-sensei mengerjaiku. Huuh... debut yang aneh.

Saat hendak sampai di kasur UKS, Annisa yang mau membaringkan badannya mengeluarkan sedikit suara kaget. Itu terjadi ketika kepalanya tak sengaja menengok ke arahku. Pastinya dia akan melihatku jika ingin berbaring.


"Uhh!!"


Aku yang sedang dalam posisi berdiri dekat sebuah kursi di samping kasur mendadak ikut terkaget. Ada hal apa di belakangku yang membuatnya kaget? Aku menoleh ke belakang badanku dan tak kutemui satupun hal mencurigakan.

Aku berbalik kembali melihat Annisa yang masih dalam ekspresi kaget. Badannya sedikit gemetar. Tangan kanannya masih di posisi yang sama, tetapi tangan kirinya berubah posisi. Posisinya sekarang menunjuk ke arah seseorang. Siapa lagi kalau bukan aku? Haduuhh... apa salahku kali ini?


"Ka-kamu kenapa masih di sini?"

"Aku? Ya... untuk menemanimu sampai ke UKS."

"Ke-kenapa belum keluar juga?"


Dia berkata seperti itu dengan posisi kedua tangan memeluk tubuhnya. Posisi ini seperti seorang gadis mempertahankan tubuhnya dari orang mesum. Sebegitukah mukaku sampai disamakan dengan mereka? Tidak, mungkin ini karena watak aslinya yang kelihatan jarang bersosialisasi dengam laki-laki. Aku harus meyakinkannya.


"Tidak... Aku tidak bermaksud begitu. Beneran! Aku berasal dari kawasan perang di daerah Hidaka. Jangan pun memikirkan hal seperti itu, kami sudah sibuk dengan bagaimana cara menyelamatkan diri. Percayalah..."


Tentu perkataanku itu setengah benar. Sebetulnya, terkadang hasrat laki-lakiku kambuh. Melihat tubuh An-chan yang kecil dan imut membuat aku hampir dikendalikan hawa nafsu. Terakhir kali terjadi, berujung pada pipiku yang dipukul alat pemukul lalat oleh An-chan sendiri. Tapi An-chan juga sepertinya ingin... Sudahlah, aku mulai kelewat batas...

Annisa yang dalam posisi siaga itu mengendurkan penjagaannya. Dia menurunkan tangannya kemudian lanjut membaringkan badannya. Kedua tangannya bersedekap dengan tangan kanan di atasnya.

Sepertinya dia kidal, terlihat dari penggunaan tangan kirinya saat menunjuk ke arahku. Keheningan kembali terjadi, aku mulai beepikir kembali bagaiamana cara menghidupkan suasana ini. Sangat penting untuk membantu pemulihan kondisi psikis seseorang. Hmm... mungkin ini akan berhasil.


"Kau tahu? Di daerah asalku, ada legenda seorang lelaki pengelana yang mencoba menyelamatkan putri yang diculik oleh bajak laut. Ini terjadi di pesisir timur pulau Hokkaido...."


Aku mulai menceritakan legenda daerah asalku kepada Annisa. Aku berharap dengan cara ini dia bisa tenang sedikit. Ceritanya berpusat pada petualangan lelaki yang pergi ke laut lepas untuk menyelamatkan seorang putri daerah. Cerita ini berusaha mengajarkan para pendengarnya untuk selalu berusaha dengan tekun, ulet, dan pantang menyerah. Karena sang lelaki kerapkali gagal menyelamatkan sang putri.

Reaksi Annisa menanggapi ceritaku sangatlah bagus. Mata dia langsung berbinar ketika aku mulai berbicara. Sempat beberapa kali dia menunjukan ekspresi tegang dan memberi semangat. Dia kelihatan sangat tertarik dengan legenda-legenda seperti ini.


"Dan... di penghujung cerita, sang lelaki sukses merebut kembali sang putri. Namun sebagai akibatnya, dia memiliki luka sayatan di atas mata kanannya karena bertarung dengan para bajak laut itu. Selesai~~"

"Wah... Legenda yang bagus........ Eto..."


Aku mengangkat alis kananku menandakan kebingungan atas perkataan yang mendadak terhenti dari Annisa. Dia memikirkan sesuatu, sesuatu yang ia tidak ketahui. Apa ya? Oh iya, namaku.


"Yuuki, Yuuki Shiroyato. Kau boleh memanggilku Yuuki."

"Yuuki ya? Baik, Yuu-kun. Kau dari keluarga Shiroyato??"

"Oh.. ya. Aku merupakan anak angkat Kira dan Saito."

"Hoo... Jadi kamu anak angkat.


Keluarga Shiroyato terkenal di legiun hijau, karena Kira dan Saito merupakan TPRD yang sering membantu ketika tidak bertugas. Apalagi beberapa bulan lalu mereka baru menikah. Banyak orang diundang, bahkan ketua legiun pun datang menghadiri. Aku saat itu tidak ada di acara pernikahan mereka.

Aku sedang keluar untuk beberapa hari. Saito sudah memintaku untuk menunda usaha pencarianku mencari An-chan untuk meluangkan waktu di pernikahan mereka. Tapi aku bersikukuh dengan pendirianku. Jadi, tak banyak orang tahu pasangan Shiroyato punya anak angkat.


"Dan... kamu?"

"Eh? Ah... Aku lupa.. tehee. Namaku Annisa Satriyani. Kau boleh memanggilku Annisa."

"Annisa-san..?"

"Ya?"


Dia menjawab panggilanku dengan ekspresi tersenyum, jauh berbeda saat tadi kami berjalan di lorong. Mungkin dia gemetar karena hanya syok akan seranga tadi bukan karena aku memegangnya. Gemetar di tubuhnya pun sekarang sudah hilang seiring berjalannya legenda yang kuceritakan. Wajahnya saat ini benar-benar seperti gadis tak berdosa.


"Nggak, cuma ngetes kok."


Aku menjawabnya singkat karena pikiranku terlalu terpaku dengan wajah Annisa. Pikiranku tidak bisa merangkai kata yang lebih panjang dari itu. Sungguh negeri ini meskipun berada di tengah perang, kenikmatannya memang benar adanya.

Aku kemudian sedikit menggeser pandanganku ke arah luar ruang UKS lewat sebuah jendela. Jendela itu menghadap ke lapangan sekolah. Ada beberapa siswa yang sedang dites lari. Sang guru memerhatikan stopwatchnya sambil menjepit pluit di mulutnya. Tiap kali ada siswa yang sampai ke garis akhir, jari guru yang memegang stopwatch akan bergerak menekan sebuah tombol.

Sepertinya mereka sedang di tengah praktik olahraga. Pelajaran olahraga ya? Pelajaran... pelajaran...  Oh iya, sudah seharusnya aku kembali ke kelas. Waduh, kelupaan.

Aku lalu mencari sebuah jam dinding yang mungkin menggantung di salah satu tembok ruang UKS ini. Aku bukan orang yang suka pakai jam tangan. Jadi untuk melihat waktu, aku harus melihat jam dinding atau jam tangan orang lain. Itu dia jamnya.


"Wah gawat...! Tinggal 5 menit lagi istirahat pertama."

"Wah... Iya nih. Gak kerasa udah jam segini. Legenda yang kamu ceritakan cukup menarik lho! Lain kali, kalau ada legenda lain, tolong ceritakan kepadaku ya?"

"Oke. Tapi kelihatannya, aku harus kembali ke kelas sesegera mungkin. Atau akan ada kesalahpahaman yang terjadi di kelas. Dah!!"

"Dah...!!"


Setelah mendengar balasan salam perpisahan dari Annisa, aku kemudian beranjak dari kursi. Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke pintu UKS, namun butuh beberapa menit untuk sampai ke kelas. Kelasku berada di lantai dua di ujung lorong kanan. Sedangkan ruang UKS berada di lantai pertama, berjarak 3 blok ruang kelas dari tangga menuju lantai dua.

Ketika sudah di luar ruang UKS, Aku hendak menutup kembali pintu itu. Dalam sepersekian detik ketika menutup pintu, aku melihat sekilas wajah Annisa. Mulutnya bergerak, namun aku tidak dapat mendengar apa yang dia katakan. Aku hanya bisa membaca gerakan mulutnya. Te... ri... ma...  ka... sih...?



Part C

"Sensei...!! Maafkan aku!"

"Ara... Yuuki-kun, apa yang kamu lakukan? Kamu pasti..."

"Nggak, sensei salah sangka!"

"Kalau aku salah, berarti apa yang kamu lakukan sampai lama-lama begini? Jangan bilang kamu hanya menatapi tubuh Annisa-chan yang lemah dan membiarkan fantasi mudamu meliar?"

"Gak mungkin sensei!"


Dengan nada kesal tapi perasaan panik mewarnai sejumlah penolakkanku. Apa yang diajukan Safira-sensei memang bercanda. Namun berbeda bagi teman sekelas. Apalagi setelah melihat insiden yang beberapa menit... tidak... berpuluh-puluh menit yang lalu. Sial, aku baru sadar sebegitu lamanya aku di UKS.


"Atau kamu..."

"Stop, sensei!! "


Safira-sensei yang dari awal berbicara, menaruh jari telunjuk tangan kanannya di bibirnya itu, terus berprasangka. Aku mau tak mau menyelanya dengan cepat agar pikiran teman sekelas terkendali. Jika gosip merebak ke seluruh penjuru sekolah, itu sangat menyusahkan.


"Oke... Hmmm... padahal aku ingin mengerjaimu lebih dari ini!"


Dia mengedipkan matanya. Jadi ini sosok asli Safira-sensei di balik wataknya sebagai guru. Guru seperti dia yang mau terbuka akan sifat aslinya sangatlah jarang.


"Sekarang, kamu boleh duduk dulu. Duduk di kursi sebelah sana."


Dia menunjuk di sebuah kursi yang berdekatan dengan jendela di pojok kelas. Entah aku harus bahagia atau tidak, karena ini pertama kalinya aku bersekolah. Meskipun bayangan bagaimana sekolah nantinya sudah dijelaskan oleh Saito, tetap saja yang namanya belum mengalaminya pasti beda.

Aku hanya melihat ke arah tempat yang ditunjukkan Safira-sensei. Lalu, aku pergi ke kursi tersebut melewati berbagai kursi dan meja teman sekelas. Mereka beberapa menatap ke arahku, ada juga yang hanya melirik. Ketika aku sudah menggantungkan tas di kaitan samping kanan mejaku yang baru, mendadak pintu terbuka lagi dengan cepat. Pintu yang malang...


"Sensei!! Huaaa?! Kenapa pintunya jadi retak?"


Ada orang yang tiba-tiba masuk dengan rusuh, dia Kazuto. Kazuto, orang yang berkalung huruf Z. Kalungnya dapat terlihat, karena pantulan cahaya yang megenai bahan metalik si kalung.


"Wuahh!!"


Seisi kelas malah mengeluarkan suara terkejut. Mungkin mereka tahu bahwa pintu itu sudah pasti akan rusak. Mereka sengaja agar si Pelaku tertekan.

"Aduhh... Gimana ya? Mungkin diginini jadi bener... Eh... kok retak lagi? Waduh..."


Kazuto mulai berusaha mengakali pintu yang rusak karena dihantam dengan keras ke arah samping. Pintu itu retak sampai hampir terbelah. Sebetulnya, usaha Kazuto sia-sia. Toh, meskipun bisa dibetulkan, ada Safira-sensei yang melihat. Dia termakan kepanikannya sendiri.


"Sudah-sudah Kazuto-kun. Nanti biar sensei yang mengurusnya."

"Heee...? Benarkah? Makasih sensei! Kamu guru terbaik!"

"Bukan. Maksudnya, biar aku urus untuk dilaporkan ke kepala sekolah nanti bahwa kamu yang merusaknya."

"Te-ternyata kamu guru yang kejam, sensei. Hue..."


Kazuto bersedih karena perkataan Safira-sensei. Ya, kami tahu itu hanya ulah jahilnya. Mungkin Kazuto juga tahu. Tapi, situasi seperti ini sangatlah penting agar kebersamaan tetap terjalin.


"Kamu sudah mendapatkan barangnya?"

"Ya, ini sensei."

"Bagus, sekarang kamu kembali ke tempatmu."


Aku yang samar-samar melihat benda yang diberikan hanya dapat menyipitkan mata. Aku yang tertegun dengan posisi hendak duduk, melanjutkan gerakan hendak dudukku.

Pelajaran berlangsung kembali. Aku hanya melewati hari pertama sekolahku ini dengan aktivitas sendirian. Entah mengapa teman seisi kelas tak satupun yang menghampiri. Menurutku, itu karena mereka masih memikirkan insiden penembakan tadi. Dalam hati mereka pasti masih tersisa sedikit gairah untuk membalas perbuatan melanggar perjanjian itu.

Ya... kata beberapa orang, sendirian saat pertama kali menjadi siswa baru itu hal yang tabuh. Kita harus bisa menyesuaikan diri.

Aku mulai bergumam di tempatku yang jauh dari pandangan guru. Tangan kananku dipakai untuk menyangga dagu. Aku melamun ke arah luar jendela. Mataku seolah memandang jauh tanpa batas.


"Hmmm... Kemana ya si Gadis itu?"


Aku mengambil suatu benda dari saku kiri celanaku. Aku perhatikan benda tersebut terus-menerus. Diputar benda itu agar aku bisa melihat keseluruhan bagiannya. Ada beberapa uang di sana. Kalau bukan aku, pasti sudah raib uang ini. Lalu aku mulai tertarik untuk melihat isinya.


"Alee... ta? Aleetia? Tidak, ini mungkin semacam nama orang luar negeri. Mungkin dibaca Alisa Alisia?"

"Apa ini? Tidak... tidak mungkin. Kenapa bisa? Gawat, benar-benar gawat. Aku harus segera mengembalikan ini. Di-dia bukan pelajar Legiun Hijau. Dia pelajar Legiun..."


Tiba-tiba ada suara teriakan dari luar kelas. Tepatnya di halaman sekolah samping kelas.


"Serangan legiun merah!! Izin sudah diberikan! Keluarkan senjata kalian. Kita pertahankan wilayah kita!"


Legiun Merah menyerang? Ini makin memburuk...

School Wars Volume 1 Pewaris Takhta - Bab 2 : Kota Lima Legiun Rating: 4.5 Diposkan Oleh: MEsato Dev

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.