30 November 2014

School Wars Volume 1 Pewaris Takhta - Prolog : Peri yang Hilang



Light Novel original karangan saya sendiri ^_^. Segala kritik dan saran saya terima.



Sinopsis :
2025
Dunia Parallel

Tawuran sudah menjadi kegiatan legal di Kota Buitenzorg. Daerah khusus di negeri Indonesia, satu-satunya negeri damai di tengah Perang Dunia. Yuuki adalah pengungsi dari Negeri Jepang yang ikut bereperang. Nasib buruk menimpa adiknya saat masih di Jepang. Sekarang ia tinggal di Kota Buitenzorg dan bersekolah di SMA lokal.

Di bawah panji 5 legiun penguasa Kota Buitenzorg, petualangan Yuuki dimulai. Bertemu dengan banyak orang dan banyak masalah. Begitu pula banyak misteri yang terpendam di kota ini. Akankah Yuuki sanggup melewatinya?


School Wars Volume 1
Pewaris Takhta
Prolog : Peri yang Hilang


Karangan : MEsato Ariq

Hidaka, Hokkaido, Jepang
Sore hari
04.00 waktu setempat

“Onii-chan... jangan tinggakan aku!”

Suara desahan nafas dua anak yang sedang berlari melawan derasnya badai salju terdengar.

Terlihat seorang pemuda berusia lima belas tahun sedang berlari diikuti seorang gadis kecil yang langkahnya lebih pendek.

Mereka tidak seimbang. Si pemuda itu malah makin jauh meninggalkan gadis kecil yang mengikutinya.

Dia sama sekali tidak membalas teriakan si gadis kecil yang sepertinya merupakan adiknya.

“Onii-chan... aku sudah tidak kuat lagi.......”

*sfx jatuh

Seolah-olah tak mendengar adiknya pingsan. Dia terus saja sibuk berlari dan melihat sekelilingnya, meskipun badai salju menerjang tubuh dan wajahnya.

“Sial... sebegitu malang kah nasib kami...”

Pemuda itu menggerutu dalam kebingungan. Dia seperti sedang mencari sesuatu di tengah daratan tertutup salju ini.

Tapi, apa yang bisa kau harapkan dari daratan penuh salju sepanjang mata memandang? Jawabannya adalah tidak ada.

“An-chan......”

Dia membalikkan badannya untuk melihat kondisi adiknya, tapi suara dia berhenti seketika.

“An-chan..... !! Di mana kamu? Sial.... mengapa aku tidak memperhatikan dia tadi. Kakak macam apa aku ini??”

Pemuda itu tidak menemukan adiknya saat membalikkan badan.

Lalu, dia berlari ke arah sebaliknya untuk mencari adiknya. Dia terus-terusan mengutuk keteledoran dirinya sendiri.

“An-chan!! An-chan bertahanlah! Aku akan menyelematkanmu!”

“Onii-chan... ke...na..naa..pa.. la..ma... se..ka..ka..li..? An-chan... ke..di..ngi......”

“Sudah jangan berbicara lagi. Bertahanlah, onii-chan akan mengeluarkanmu dari sini.”

Suara kecil gemetar yang terputus-putus dari gadis bernama An-chan itu menambah pilu hati kakaknya. Kakaknya hampir menangis melihat kondisi adiknya sekarang.

An-chan sedang terkubur dalam tumpukan salju. Posisinya tengkurap menghadap tumpukan salju. Sebagian tubuhnya telah tertutup oleh salju. Akan tetapi, kepalanya masih terlihat meskipun banyak salju bertebaran di rambutnya.

Pemuda itu langsung menyingkirkan salju di tubuh adiknya secepat yang ia bisa. Dia melakukannya secepat mungkin. Wajahnya ketakutan setengah mati.

*sfx rudal jatuh

Ledakkan sebuah rudal beberapa kilometer dari tempat mereka berdua terdengar. Suaranya sangat mengerikan untuk didengar di tengah badai salju seperti ini.

Tak hanya satu, rudal berikutnya kembali jatuh dari langit senja. Dua, tiga, bahkan puluhan rudal menghantam daerah sekitar situ.

Pemuda itu sudah selesai menyingkirkan salju dari tubuh adiknya. Kemudian, dia langsung menggendong adiknya yang lemas dan kedinginan di pangkuannya.

“Rudal musuh sudah menyerang desa itu... Aku harus cepat-cepat mencari tempat berlindung.”

Kakaknya An-chan itu kemudian berlari menjauhi desa setempat yang telah dibombardir. Padahal, jarak antara posisi mereka dan desa itu sangatlah jauh. Namun, api berwarna merah tua dan asap hitam tebal menandakan di mana desa itu berada.

Ya... sepertinya yang kalian lihat. Sekarang, sedang di tengah situasi perang. Pemuda yang sedang tergesa-gesa berlari membawa adiknya itu bernama Yuuki.

Mereka berdua kabur dari desanya. Tidak, bukan desa itu desa mereka. Desa mereka jauh beratus-ratus kilometer dari tempat ini. Bahkan mungkin bukan di Hidaka.

Keduanya telah berpindah-pindah dari desa ke desa selama beberapa tahun lamanya. Mereka hanyalah dua orang yatim piatu. Ayah mereka meninggal saat kelahiran Yuuki. Lalu ibunya, meninggal saat An-chan berumur 3 tahun karena suatu insiden. Insiden yang tidak pernah diberitahukan kepada mereka berdua.

“Itu dia! Ada sebuah rumah kosong! Terima kasih... akhirnya kamu bisa beristirahat An-chan.”

Ekspresi berseri di wajah Yuuki tak terbendung lagi kala melihat secercah harapan di pelupuk matanya. Ada sebuah rumah kayu tua yang ditinggalkan pemiliknya berdiri di tengah daratan salju ini.

*decitan pintu terbuka

“Permisi... ada orang di sini?”

Rumah itu hanya berisikan satu ruangan luas. Ada perapian di pojok ruangan berhadapan dengan pintu masuk. Di sebelah kananya ada sebuah meja dan kursi tua beserta buku-buku usang berdiri di atas meja dengan rapi.

Di sebelah kanannya ada kasur berangka kayu lengkap dengan bantal, bantal guling, dan selimut. Kasur itu terlihat rapi, tapi banyak debu yang bertebaran di permukaannya.

Ada beberapa figura yang menggantung di ruangan. Figura itu memajangkan beberapa potret pemandangan yang indah. Sepertinya, tempat yang dipotret masih di sekitaran sini. Terlihat jelas dari tumpukan salju yang ada.

Kondisi ruangan rumah ini sepertinya baru ditinggalkan beberapa bulan oleh pemiliknya. Karena kondisinya masih rapi. Debu-debu yang bertebaran di perlengkapan rumah menyiratkan rumah ini kesepian untuk beberapa waktu yang lama.

Yuuki membersihkan kasur yang penuh debu untuk dijadikan tempat berbaringnya An-chan. Dengan sigap dia melepaskan jaket adiknya yang penuh salju dan membaringkannya dalam pelukkan selimut.

Yuuki kemudian berdiri dan beranjak ke perapian. Dia hendak menyalakan perapiannya agar udara menjadi lebih hangat. Dia mulai menyalakannya dengan korek api yang dia temukan di meja kecil samping kasur tadi.

Setelah apinya menyala, ia sejenak menghangatkan tangan dan tubuhnya dekat perapian. Lalu, ia kembali ke tempat An-chan berada. Ia duduk di samping An-chan yang terkulai lemas.

Wajah An-chan putih pucat karena kedinginan. Matanya tertutup, dan kepalanya tak berhenti bergerak seolah-olah bermimpi buruk.

Yuuki hanya tersenyum lemah ketika melihat itu. Dia sudah jadi kakak yang tidak bertanggung jawab, itu yang dia pikirkan.

Saat kembali menyadarkan diri dari alam lamunan. Yuuki melihat kedua mata An-chan perlahan terbuka.

“Onii-chan... apakah itu kamu onii-chan??”

“Ya... ini aku, An-chan. Maafkan aku sudah membiarkanmu menderita seperti ini sejak dulu sampai sekarang...”

Wajah Yuuki gemetaran ketika mengatakan itu. Seperti ada penyesalan mendalam pada dirinya karena telah membawa An-chan, adik tercintanya masuk ke situasi kejam ini.

“Eeemmm... Ini bukan salah onii-chan... An-chan yang ingin bersama onii-chan terus selamanya. Jadi... onii-chan jangan bersedih. An-chan tetap sayang onii-chan apapun yang terjadi.”

Senyum lemah tulusnya sangat menyentuh hati terdalam Yuuki. Sangat tulus bahkan kata-kata tak dapat mengungkapkan seberapa tulusnya hati gadis kecil tak berdosa ini.

Cintanya terhadap kakaknya selalu menjadi motivasi kakaknya dalam bertahan hidup. Selama ini, sampai saat ini. Siapapun akan gemetar dalam keharuan ketika melihat ekspresi gadis kecil ini.

Yuuki menitikan air mata, ia langsung memeluk tubuh An-chan yang terbaring. Dipegang erat-erat olehnya An-chan, seolah-olah ia satu-satunya harta berharga di dunia Yuuki. Dua orang  saudara kakak beradik ini telah menlintasi berbagai macam cobaan yang mendera.

An-chan balas memeluk kakaknya. Bagi Yuuki, tubuh An-chan yang kecil ini terlalu lemah untuk ikut berkelana bersamanya melawan hantaman salju.

Namun mau bagaimana lagi, ini kemauan An-chan. Tubuh An-chan dingin... dingin sekali... Yuuki mengerutkan alisnya kesal atas apa yang telah ia perbuat.

Kakak macam apa aku ini... meninggalkan adiknya ditumpuk salju sendirian... Aku tak mau lagi kehilangannya... membuat dia menderita seperti ini...

Sementara bagi An-chan, kehangatan dari tubuh kakaknya sangatlah berarti dalam kedinginan yang mencengkram tubuhnya. Senyum kecilnya terus bertahan walaupun beberapa kali terganggu bersin.

Hangat dan bau tubuh Onii-chan... aku tak mau melepaskannya...

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa jam kemudian...

Sekarang langit sudah gelap gulita. Badai sudah mereda, begitupun hujan rudal yang menghujani daratan ini tadi sore. Kelihatannya, para tentara musuh sedang beristirahat sejenak. Ya... sejenak, bagi mereka pengambilalihan wilayah adalah yang nomor satu.

Perang Dunia III telah pecah antara negara komunis dan liberalis. Penyebabnya merupakan hal yang tidak diduga-duga. Bukan sebuah penyerangan ke negara lain. Tapi karena pertarungan teknologi.

Sekarang tahun 2055. Seharusnya sekarang sudah jadi tahun di mana dunia menjadi tempat seperti science fiction pada abad awal 21-an. Namun di tengah abad ini, justru kemunduran yang kami dapatkan.

Penyebab utamanya adalah pertarungan neonuklir yang berhasil dikembangkan oleh kedua ideologis. Meskpun sama-sama neonuklir, komposisi dan pembuatannya berbeda. Tapi jelas bagi kami warga sipil, itu sama saja, sama-sama mengancam nyawa kami.

Seluruh dunia jadi medan perang. Banyak negara yang berperang dengan pegangan ideologi mereka sendiri. Namun, ada satu negara yang masih damai dan aman di tengah pecahnya perang dunia III ini.

Sebuah negeri yang sangat indah kata orang-orang dari berbagai belahan dunia yang mengunjunginya, bahkan yang hanya melihatnya saja lewat internet. Negara dengan ideologinya tersendiri. Negara yang disebut bumi ibu pertiwi.

Nama negara tersebut adalah Indonesia. Dulu mereka dianggap tidak akan mampu bertahan, jika ada perang dunia yang pecah untuk ketiga kalinya. Namun, fakta berkata lain. Mereka tetap kokoh berdiri dengan ideologi pancasilnya.

Negara dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” ini masih bertahan dan bahkan menerima warga sipil negeri lain dari seluruh dunia, jika ingin berlindung dan hidup tenteram.

Karena itu, negara Indonesia sekarang disebut “Negara Dunia”.

Konon katanya, suasana di sana nyaman tenteram. Orang-orangnya ramah. Dan negeri itu selalu menjadi harapan dalam hati kecil Yuuki dan An-chan.

Mereka berharap suatu saat bisa tinggal di sebuah rumah di Indonesia. Tak usah rumah bagus, rumah sederhana seperti gubug pun mereka sudah senang. Apalah nilai sebuah rumah jika dibandingkan rasa takut dibombardir di tengah perang.

Yuuki mulai terbangun dari tidurnya. Ia menggosok-gosok matanya dan meguap sebentar.

Ia melihat ke sekelilingnya. Ia mengumpulkan kembali ingatannya yang sempat hilang saat tidur.

“Oh... iya. Sekarang aku sedang di rumah entah punya siapa.”

Lalu, ia melihat kondisi An-chan yang sedang tertidur dengan senyum di wajahnya. Yuuki menaruh tangannya di dahi dan pipi An-chan.

“Hemm.... An-chan sepertinya baik-baik saja. Aku biarkan dulu seperti ini. Kasihan An-chan, sudah lama tidak tidur nyenyak seperti ini.”

Yuuki beranjak dari kasur, kemudian melihat-lihat sekitar. Namun, belum sempat ia berdiri, dia melihat sebuah figur landscape di atas meja kecil dekat kasur.

“Aku tidak menyadarinya tadi, saat mengambil korek api... Hmm... siapa ya mereka?”

Di figura itu terlihat sebuah keluarga yang bahagia berdiri di depan rumah. Ada seorang ayah, ibu, dan dua orang anak. Ayah di figur itu mengenakan sebuah rompi seperti pasukan.

“T...P..R..D ? Apa itu? Dan ada bendera Indonesia dibordir di rompinya...”

Yuuki terus berpikir apa kepanjangan dari TPRD yang terletak di kiri rompi tersesbut. Namun, seketika dia ingat tentang bendera Indonesia di samping kanan rompi tersebut.

“Ah!! Mungkin ini salah satu rumah orang Indonesia itu! Tapi apa itu TPRD? Sebuah pasukan militer? Mungkin aku bisa cari petunjuk di rumah ini.”

Yuuki bergegas mencari-cari petunjuk di rumah ini. Dia melihat-lihat sekitarnya. Di sekitar perapian, kasur, pintu masuk, bahkan mencari di balik figur yang terpajang di dinding. Dia berpikir, mungkin ada pesan atau petunjuk rahasia yang disembunyikan.

“Tapi, tunggu dulu..... Nah! Kenapa gak kepikiran dari tadi...”

Yuuki berlari ke arah yang berlawanan dengan kasur dan tiba di sebuah meja dengan buku-buku di atasnya.

“Mungkin buku-buku ini punya petunjuk tentang pemilik rumah ini dan TPRD...”

Yuuki melihat-lihat judul buku yang ada di situ. Dan menemukan sebuah buku berjudul “Manual for TPRD”.

“Ma..nu..al... arrggghh... bahasa apa ini? Huu... andaikan aku sekolah.”

“Tapi kata ini sama seperti yang ada di buku petunjuk motor. Untungnya, ada dalam bahasa Jepang isinya."

Yuuki membaca halaman pertama tentang penjelasan TPRD.

“              TPRD atau Tim Penyelamat Rakyat Dunia adalah tim penyelamat yang dibentuk oleh pemerintahan Indonesia untuk mengevakuasi seluruh rakyat sipil yang masuk kriteria untuk diungsikan ke negeri tercinta kami, Indonesia. Sehubungan dengan itu ...”

“Haa....!! Serius ??”

Seolah-olah baru saja mendapat undian ke Okinawa. Yuuki langsung berhenti membaca dan menutup buku manual itu. Wajahnya sekarang bahagia bahkan jadi terlalu bodoh untuk dilihat.

Dia kemudian loncat dari kursinya dan lari ke arah An-chan.

“An-chan... !! Onii-chan menemukan ini!! Ini seperti mimpi!!”

Yuuki yang kegirangan membangunkan An-chan yang tertidur. Tubuh An-chan digoyangkan oleh Yuuki sambil berteriak kegirangan.

An-chan membuka matanya perlahan seperti baru bangun dari tidur panjang. Dia dengan setengah mata terbuka melihat ke arah kakaknya yang girang. Menyadari An-chan telah bangun, Yuuki kemudian menunjuk ke arah buku manual itu.

“Onii-chan... kalau mau ganggu jangan sekarang! Onii-chan aneh... cuma nemu buku aja girang... hoamm.”

An-chan yang setengah tidur membalas perkataan Yuuki. Yuuki kemudian syok mendengar balasan adiknya itu.

“Serius!! Buku ini bisa mengubah kondisi malang kita jadi damai seperti di surga!”

“Hoamm... onii-chan berisik...!!! Ini bukan dunia dongeng onii-chan. Onii-chan tidur dulu, masih ngigau kayaknya.”

Makin syok mendengar adiknya mengatakan dirinya sedang mengigau. Yuuki kemudian menenangkan diri. An-chan kembali tidur beranggapan kakaknya sedang mengigau karena kelelahan.

Akan tetapi, Yuuki tersenyum dan kemudian mendekatkan bibirnya ke wajah adiknya. Tidak, tepatnya telinga kirinya.

“Ini rumah seorang pasukan penyelamat warga sipil dunia dari Indonesia...”

Yuuki berbisik seperti itu. Dia sangat yakin An-chan akan terbangun tiba-tiba dan memeluknya. Namun...

Onii-chan baka!! Jangan ganggu An-chan tidur kalau Onii-chan ngelindur!”

Yuuki makin syok, syok yang mendalam. Karena perkataanya tidak dianggap serius oleh adiknya. Dia memojokkan diri di pojok ruangan dengan wajah pucat membiru karena depresi.

“To...long.. de..de..ngarkan aku.. An-chan..”

An-chan yang merasa kasihan kepada kakaknya bangun dari kasurnya.

“An-chan gak terlalu mengerti maksud onii-chan. Tapi kalau itu benar, An-chan ikut-ikut saja sama onii-chan. Kemana pun itu.”

Wajah kelelahan dan kesal An-chan seketika berubah menjadi senyuman yang manis saat mengatakan kalimat terakhirnya....

An-chan ikut-ikut saja sama onii-chan. Kemana pun itu

“An-chan.....”

Sementara, wajah Yuuki kembali semangat ketika mendengar kata-kata itu.

“Tapi onii-chan. Coba tidur lebih lama, supaya gak ngelindur.”

“Hnghh”

Yuuki terkejut dan kembali depresi mendengar perkataan adiknya.

An-chan masih gak percaya aku bangun. Hiks...hiks...

“I-iya... adikku...”

An-chan kembali ke tidur lelapnya. Sementara Yuuki, dia berdiam diri sejenak untuk merenung.

Sudah lewat beberapa tahun aku bersama An-chan. Semua cobaan selalu kami hadapi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kilas Balik ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Waktu itu malam juga, aku sedang menunggu An-chan yang sedang mencari makanan di pedeseaan sekitar.

Aku menunggunya di sebuah persinggahan penduduk yang biasanya digunakan untuk bersenda gurau. Namun karena saat itu malam, suasananya sepi tak seorang pun ada di sini.

Setelah menit tiap menit, jam demi jam berlalu, An-chan tak kunjung datang. Aku mulai merasa cemas. Aku khawatir sesuatu terjadi pada An-chan.

Aku kemudian berdiri, beranjak dari persinggahan itu menuju pedesaan sekitar. Aku terus mencari An-chan dalam perasaan gelisah.

“An-chan... di mana kamu?”

Aku mencari ke sana ke mari sampai-sampai menanyakan pada warga desa. Tak seorang pun dari mereka melihatnya.

Tapi akhirnya, ada seorang wanita tua yang melihat adikku melintasi daerah situ. Dia menunjuk ke arah sebuah rumah makan sederhana di pojok desa. Aku berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau.

Aku lari ke rumah makan itu. Kemudian, aku mendengar sebuah jeritan.

“Aaa..... jangan sakiti aku!”

“Keparat... kau membuatku kesal!! Tak ada ampun bagimu!”

Suara itu suara An-chan, berasal dari belakang rumah makan itu. Aku bergegas ke belakang rumah makan itu.

Saat aku tiba, aku melihat An-chan memegang sebuah ranjang berisikan roti. Wajahnya berlinang air mata ketakutan. Tangannya ditaruh di mulutnya seperti tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu, ada lelaki umur 18-an yang berada di hadapannya. Dia tampak kesal sekali. Dia mengenakan seragam putih dan sebuah topi aneh yang tinggi.

Dia hendak memberi perhitungan kepada An-chan. Melihatnya dalam situasi seperti itu. Aku dengan refleks langsung lari ke arah An-chan dan menutupinya dengan tubuh dan tangan melebar menghadap laki-laki itu.

“Siapa kau?!!”

“Jangan menyakiti adikku. Kalau tidak, kau akan tau akibatnya.”

“Kau tidak tahu, keparat? Dia sudah mencuri roti dari dapurku!! Mau ku ajak berantem kau?”

“Aku terima.”

Tanpa pikir panjang, aku langsung menerima tawaran itu dan mengambil kuda-kuda. Laki-laki itu melihatku sambil tersenyum. Sepertinya dia berpikir bahwa ternyata aku serius juga.

Laki-laki itu meladeniku dengan ikut ambil kuda-kuda. Kemudian, ia menyiapkan sekepal tinju di tangannya.

Aku bersiap untuk menangkapnya... tidak.. itu terlalu tidak mungkin. Mungkin, aku harus menghindarinya dengan membawa An-chan kabur dari sini.

Kami berdua sudah siap bertarung... tinju sudah diluncurkan... akan tetapi...

“Saito-kun!! Apa yang kamu lakukan!”

“Onii-chan jangan!!”

Dua suara perempuan dari arah berbeda menghentikan kami. Jelas salah satunya adalah adikku, An-chan. Dia sedang memeluk erat pinggangku seolah-olah ingin menahanku berkelahi.

Dan satu lagi... seorang wanita seumuran laki-laki yang dipanggil Saito ini. Saito kemudian berbalik dengan wajah tegang.

“A-a-ada apa.... Kira-chan?”

“Ya ampun... Apa yang kamu sudah lakukan dengan kedua anak ini sampai-sampai mereka ketakutan?”

“Ki-Kira-chan! Mereka mengambil roti dari dapur kita! Kita harus menghukum mereka, karena telah mencuri.”

Wanita bernama Kira itu menghiraukan Saito dan berjalan ke arah kami. Aku dan An-chan sempat mundur beberapa langkah karena takut apa yang akan diperbuat wanita ini kepada kami. Apalagi setelah mendengar apa yang telah kami perbuat.

“Benarkah itu, kalian berdua?”

“I-i-iya kami... tidak... aku yang mencuri roti dari dapurmu.”

“An-chan...! Ti-tidak! Aku juga! Ta-tapi kami hanyalah yatim piatu, kami bu-butuh makanan.”

Ara...ara... Kenapa kalian tidak bilang saja dari tadi?? Onee-chan akan memberikannya. Silakan kalian ambil, kalau mau, masih banyak makanan di dalam rumah.”

Senyum dari wanita muda ini sangat menenangkan hati kami. Dia kelihatannya baik dan ingin menolong kami.

Kami hendak menerima tawaran itu. Tapi... setelah melihat hawa berapi-api orang yang berada di belakang kakak ini, Saito yang kami maksud. Kami tak jadi menerima tawarannya itu.

“Kira-chan! Kenapa kau harus baik-baik dengan gelandangan seperti mereka!”

“Hush!! Gak boleh begitu... Kita seharusnya membantu mereka bukan membuat mereka dalam masalah! Sekarang kamu ikut aku ke dapur, melanjutkan pekerjaan. Hayo!!”

Wanita bernama Kira itu menarik telinga Saito, menyeretnya ke dalam dapur kembali. Terdengar suara Saito yang meringis kesakitan. Sesampainya di depan pintu dapur, Kira melambaikan tangan kepada kami berdua. Dengan senyumannya, menyiratkan ia berharap kita berjumpa lagi.

Aku kembalikan perhatianku ke An-chan yang sedari tadi memegangi pinggangku. Dia sedang menatap ke arah Kira yang hendak masuk dengan wajah berseri.

“Kenapa kamu tersenyum An-chan? Sudah menyusahkan onii-chan, malah senyum-senyum. Dasar aneh.”

“Maaf atuh... kalau An-chan menyusahkan onii-chan. Tapi An-chan gak aneh!!”

An-chan langsung mengigit tangan kananku yang kehilangan penjagaan. Dia mengigit tanganku seperti belum makan berhari-hari. Ya... bener sih... belum makan berhari-hari.. yare..yare.

“An-chan! Sakit tau!! Lepaskan!”

An-chan kemudian melepaskan gigitannya. Namun, tangannya masih menggenggam tangan kananku seolah-olah tak mau kehilangan makanan berharga yang selama ini ia cari.

“Itta...ta..ta... Sakit tau. Ngomong-ngomong... An-chan. Tadi kenapa kamu menghentikanku?”

“An-chan gak mau membuat onii-chan berkelahi. Jika onii-chan berkelahi, aku akan mengigit tangan onii-chan lagi.”

“Hngh..!!”

Sedikit terkejut dengan perkataan An-chan, tanganku memberontak sedikit. Namun, An-chan menggenggamnya erat dan menaruh tanganku di pipinya sambil tersenyum.

Meskipun dia masih kecil, dia sudah mengkhawatirkanku. Mungkin karena kondisi kami yang tidak beruntung. Memaksa kami dewasa lebih awal agar bisa bertahan hidup.

An-chan hanya ingin agar aku tidak larut dalam emosi. Beranggapan semua masalah dapat diselesaikan dengan perkelahian bukanlah solusi. Itu mungkin yang tersirat di balik perhatian An-chan saat ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Akhir Kilas Balik~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan dia selalu mengisi kekuranganku. Aku pun begitu, ingin membalas kebaikannya dengan apa yang aku bisa lakukan. Takdir kami yang...

*sfx boomm!!

“A...!! Apa barusan??”

Yuuki langsung berdiri dan melihat kondisi luar lewat jendela rumah. Sebuah bom baru saja didaratkan di dekat posisi mereka.

Detak jantung Yuuki mulai terpompa cepat. Adrenalinnya meningkat seketika. Dia kembali ke arah An-chan yang tertidur.

“An-chan bangun! Bangun! Musuh sudah kembali menyerang!”

An-chan terbangun, namun masih setengah tertidur. Yuuki tak berpikir panjang, dia langsung memakaikan jaket tebal adiknya. Tidak lupa syal dan topi hangat di kepalanya. Dia kemudian menggendong An-chan.

“Onii-chan... Aku masih ngantuk.”

Mungkin karena kondisi badannya yang memburuk, ia butuh tidur yang lebih lama dari biasanya. Tapi, waktu berkata lain, musuh sudah kembali menyerang. Dengan membawa adiknya dan menaruh buku yang ia temukan ke dalam jaketnya. Ia ke luar rumah.

Yuuki berlarian menjauhi rumah itu. Mencari tempat yang lebih aman dibanding daerah itu. Akan tetapi, hujanan rudal malah makin menggila. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.

“Sial... apa yang mereka pikirkan? Membombardir daerah kosong seperti ini? Apa yang mereka dapatkan dari itu?”

Sambil menggerutu, Yuuki terus menerjang tumpukan salju yang menebal karena badai tadi. Dinginnya sudah mulai berkurang. Tapi untuk An-chan, ini masih terlalu dingin bagi tubuh lemahnya.

Setelah beberapa puluh meter menjauh dari rumah itu. Yuuki mulai melambatkan langkah kakinya. Seperti kehilangan tenaga.

“Aahhh... perutku kosong dua hari ini... aku mulai lapar.”


Yuuki mulai roboh, namun ia masih bisa duduk sambil menahan adiknya agar tidak jatuh ke permukaan salju.


Pandangannya mulai samar. Dalam remang-remangnya penglihatan Yuuki, ia melihat sebuah helikopter terbang mendekat. Di ekor helikopter itu terdapat bendera merah dan putih.


“Haa..!! Itu sama persis seperti bendera di cover buku tadi! Apa itu helikopter TPRD? Terima kasih Tuhan, ya kan An-chan?”


Dengan senyum lemah penuh harap, ia menatap wajah An-chan yang lemas. Helikopter itu mendekat. Hembusan anginnya makin kencang menerbangkan butiran-butiran salju ke segala penjuru.


Beberapa orang berompi hitam, turun dari helikopter. Ada sekitar 8 orang laki-laki. Terlihat di dalam helikopter, ada anak-anak seumuran An-chan tertidur nyenyak di dalam kabin.


“Kalian baik-baik saja? Kami dari Indonesia. Maukah kalian ikut dengan kami?”


Mata Yuuki melebar ketika melihat kumpulan orang berbahasa Jepang dengan logat asing datang. Ya... mereka asli dari Indonesia.


Yuuki menangis menitikan air mata terharu. Akhirnya, setelah sekian lama penantian yang panjang, Yuuki dan An-chan dapat hidup tenang, bebas dari suasana perang ini.


“Ya... aku ikut. Aku bersama adikku yang sedang sakit. Bisakah kalian memberinya tempat yang layak?”


Yuuki menganggukan kepala ketika mengatakan itu. Wajahnya senang bukan kepalang. Dia lalu memindahkan adiknya kepada salah satu personel pasukan itu. Ia menitipkan An-chan agar dirawat di tempat yang lebih baik.


Ketika An-chan dipindah dari pangkuan Yuuki, mendadak ia terbangun dan memberontak.


 “Onii-chan....! Kenapa kamu menyerahkanku ke orang asing! Jahaaat...!”


 “Aa..ano... An-chan... mereka ini dari Indonesia. Akan menyelamatkan kita! An-chan tenang saja!”


“Tapi... An-chan ingin bersama onii-chan! Bukan mereka! Aaa moo... onii-chan!!”


“Gak apa-apa An-chan. Kamu akan baik-baik saja bersama mereka.”


An-chan menangis karena sedih diserahkan begitu saja oleh kakaknya. Sementara Yuuki, sedang kikuk menghadapi tingkah An-chan. Namun, ia berhasil meyakinkan An-chan.


An-chan mengusap air matanya. Ia menenangkan dirinya. Ya... itu wajar bagi seorang anak kecil yang sedang sakit dibawa oleh kakaknya keluar rumah dan tiba-tiba diserahkan kepada orang asing. Apa yang dapat kamu pikirkan selain dia diperdagangkan?


Ketika mengusap air matanya, An-chan menyadari sesuatu.  Ia terpaku menatap tangan kirinya yang polos saat lengan jaketnya melonggar dan turun. Dia merasakan suatu benda hilang.


“Hee..... Di mana gelangku?? Gelangku.... gelang dari onii-chan... hilang? Huahh...huahh... onii-chan.”


An-chan mendadak kembali menangis, ketika menyadari gelang di tangan kirinya hilang. Tapi kali ini, menangisnya lebih kencang dari sebelumnya. Tangisan An-chan membuat Yuuki panik.


“Ehh?? Beneran? E...etooo... onii-chan akan mencarinya di rumah itu! Ya!! Onii-chan mungkin lupa memasangkannya kembali saat melepaskan jaketmu! Ya! Benar! Tunggu ya!!”


“Ehh? Onii-chan...!!”


Yuuki dengan segera berlari tergesa-gesa ke arah rumah yang tadi ia singgahi. Rumahnya beberapa puluh meter. Mungkin butuh beberapa puluh menit dengan berlari.


Yuuki sudah terbiasa berlari di atas gundukan salju. Dia juga sudah terbiasa berlari puluhan meter demi menghindari ledakan rudal di dekatnya. An-chan biasanya digendong. Tapi saat itu... Yuuki terlalu fokus mencari tempat berlindung sampai-sampai melupakan An-chan.


“Semoga ketemu...”


Gelang yang dicari adalah gelang sederhana dari metal dengan ornamen indah di atasnya. Ada gantungan kecil di gelangnya, seekor anak beruang salju yang lucu. Yuuki tak sengaja mendapatkannya ketika mereka ikut sebuah festival.

*pintu berdecit


Yuuki bergegas mencari gelang itu di sana-sini.


“Hemm.... di mana ya? Aku harus cepat. Atau aku akan menyusahkan para TPRD.”


Kemudian, Yuuki menemukan gelang itu di atas perapian.


“Nah.. ini! Mungkin tadi aku taruh di sini sama seperti jaketnya agar hangat.”


*langkah kaki dari luar


“Siapa di dalam? Keluarlah!!”


“Haa... musuh kak? Gawat. Mana gak ada tempat sembunyi lagi.”


Yuuki panik ketika mendengar suara laki-laki dari arah luar rumah. Suaranya lumayan keras, cocok bagi seorang prajurit. Yuuki mencari-cari tempat bersembunyi... Namun...


*brakk!!


Horraa!! Siapa yang di dalam!!!.... Ehh?”


“Kamu ini...! Jangan keras-keras buka pintunya dong! Ini kan rumah kita!”


Suara laki-laki itu diikuti suara seorang wanita. Aku yang hendak bersembunyi membeku dalam pose hendak menyumput di bawah kasur. Aku melihat ke arah mereka, mereka berdua juga.


“Kamu... anak yang waktu itu?”


“Ehh?? Onee-chan dan kakak galak waktu itu?”


“Bilang apa kau?? Galak?? Hah!!”


“Ett... Saito-kun. Kamu tidak boleh pakai kekerasan. Mereka tidak bersalah. Eh... mereka... hmmm... di mana adikmu?”


“Adikku... sedang bersama pasukan TPRD di dekat sini.”


“Pasukan TPRD? Kau bercanda nak?? TPRD tidak beroperasi di sini. Mereka sedang beroperasi di sekitar desa seberang yang baru dibom musuh.”


“Hee...?? Terus adikku bersama siapa?”


“Bagaimana penampilan mereka, dik?”


“Mereka menggunakan helikopter hitam dengan bendera merah putih di ekor helikopter. Dan para personelnya menggunakan rompi hitam polos, One-chan.”


“Jangan-jangan..... orang-orang itu...”


“Rompi polos.... ha...! Keparat!! Mereka sudah datang ke sini! Sial!! Kita harus bergegas!”


Dua orang itu langsung menarik Yuuki keluar rumah dan berlari. Yuuki diminta menunjukkan arah di mana adiknya berada. Namun Yuuki masih bingung dengan apa yang terjadi.


Ketika dipaksa ikut berlari bersama kedua kakak itu. Yuuki mulai bertanya apa yang terjadi.


“Kakak-kakak!! Apa yang sebenarnya terjadi!”


“Ini berita buruk... dik. Rompi hitam memang seragam kami. Akan tetapi, kami juga punya bendera merah putih di kanan rompi kami.”


Yuuki teringat figura di rumah itu. Ya... benar, ada bendera merah putih di kanan rompi.

Mengapa aku tidak menyadarinya? Arrghhh... mungkin aku menyakinkan diri sendiri, mereka TPRD karena lambang merah putih di ekor helikopternya saja. Bodoh... Aku bodoh sekali.


“Mereka adalah komplotan kelas kakap yang berkeliaran di atas langit dunia. Mereka menghampiri setiap negara yang sedang berperang untuk mengambil keuntungan...”


“Mereka adalah komplotan PERDAGANGAN ANAK-ANAK SEDUNIA. Mereka melakukan pemancingan di daerah perang. Sungguh busuk perilaku mereka!”


“An-chan.... An-chan...!!”


Setelah mendengar perkataan terakhir dari Saito. Yuuki terkaget dan mempercepat larinya sampai-sampai menyusul Kira dan Saito. Wajahnya sekarang penuh kegelisahan dan rasa bersalah.

Sesampainya mereka di tempat...

Suara helikopter terbang di atas terdengar...

“An-chan...”

“Maafkan kami...”

“An-chan.....”

“Sial!! Coba kami lebih cepat...”

“AN-CHAAAANNNNN!!!”

Yuuki tak bisa membendung air matanya yang membeludak. Dia berteriak sekeras yang ia bisa. Emosinya sudah mencapi batas tertinggi. Ia terus-menerus memukul salju yang berada di bawahnya. Tubuhnya tertunduk, kepalanya menghadap salju.

Ia... tak bisa berhenti menangis. Melihat adiknya menjauh darinya. Dan lebih parahnya lagi, yang sangat...sangat... membuat Yuuki menyesal adalah karena dia lah An-chan terbawa komplotan itu.

Ia kembali mengingat perkataan An-chan yang sangat membekas di hatinya saat hendak meninggalkannya.


“Onii-chan....! Kenapa kamu menyerahkanku ke orang asing! Jahat...!”

“Aa..ano... An-chan... mereka ini dari Indonesia. Akan menyelamatkan kita! An-chan tenang saja!”

“Tapi... An-chan ingin bersama onii-chan! Bukan mereka! Aaa moo... onii-chan!!”

“Gak apa-apa An-chan. Kamu akan baik-baik saja bersama mereka.”

Ingin bersamaku ya? Ha... Hiks...hiks... maafkan aku An-chan, kakakmu yang bodoh ini tak mengerti perasaan dan keinginanmu. Bahkan keinginan kecil darimu tak bisa kuwujudkan. Aku...A...ku... manusia yang hina

“HAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Yuuki berteriak menjerit sekuat yang ia bisa. Ini penyesalan terbesar dalam hidupnya. Saito dan Kira menenangkan Yuuki yang bersedih. Mereka sengaja diam agar Yuuki bisa tenang.

Dari wajah Saito ada dendam yang sepertinya ia tanamkan Adam hatinya. Sedangkan Kira, menampilkan wajah kasihan seperti seorang ibu. Mereka berdua masih muda berumur sekitar 18-an. Namun, mereka tetap mencoba menjadi tempat pangkuan bagi Yuuki yang berduka.

Duniaku seakan gelap seketika. Gelap gulitanya malam bahkan takluk oleh gelapnya duniaku. Dunia tak berujung yang entah di mana akhirnya. An-chan adalah hartaku. Tanpa dia, mau bagaimanapun dunia ini, aku tak butuh lagi kehidupan ini.

Prologue END...

MEsato Ariq

Bogor, 4 Agustus 2014

School Wars Volume 1 Pewaris Takhta - Prolog : Peri yang Hilang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Fariq Farhan Ariq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.